Home / Historical / Pendekar Titisan Naga Langit / Bab 2 : Si Kambing Liar

Share

Bab 2 : Si Kambing Liar

Author: Backin_parade
last update publish date: 2026-01-29 20:42:43

"Guru..."

"Guru... kami pulang."

"Kakak tertua ingin mencongkel mataku."

Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya.

Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya.

"Sudah datang?"

Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka.

"Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu.

"Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh.

"Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu.

Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda penunggu batu yang berdiri di hadapan mereka seperti layaknya pimpinan bandit tapi terkesan seperti gelandangan, dialah pelakunya.

"Berhenti bicara omong kosong. Kalian dapat sedikit karena kalian hanya bermalas-malasan. Masih saja banyak bicara," sinis pemuda penunggu batu tersebut sembari menaiki tangga kayu dan hendak melangkah menuju pintu. Akan tetapi suara pria paruh baya itu menghentikan langkahnya.

"Apa yang kau makan?"

"Rumput," ujar pemuda penunggu batu dengan suara datar dan tatapan malas yang ditujukan pada pria paruh baya di sampingnya.

"Kau makan daging?"

"Tidak!" ucap pemuda penunggu batu, tak terima.

"Kau pikir aku bisa percaya begitu saja denganmu?"

Pria paruh baya tersebut tiba-tiba meninggikan nada bicaranya dan membuat pemuda penunggu batu tersebut semakin terlihat malas untuk menanggapinya.

"Kau kira siapa yang akan percaya dengan tampang bandit sepertimu, huh?" ujar si pria paruh baya.

"Eih ... pak tua satu ini," gerutu pemuda penunggu batu sembari memalingkan wajahnya. Bahkan mulutnya seperti tak terbuka saat mengucapkannya. Dia kemudian melihat kembali pria paruh baya tersebut dan langsung menyemburkan napasnya ke wajah pria paruh baya tersebut.

"Sudah percaya sekarang?"

Dia berjalan masuk ke dalam rumah sembari menggerutu, "kenapa setiap hari menanyakan hal yang sama? Memangnya aku sudah pikun?"

"Hei, Bai Yuxuan... jika sampai kau makan daging, aku putuskan lehermu," teriak pria paruh baya tersebut sembari melihat ke arah pintu yang terbuka.

"Aku tidak butuh daging untuk bertahan hidup, aku hanya akan makan rumput seperti kambing. Kau puas sekarang, Ayah?" suara pemuda penunggu batu menyahuti dari dalam.

"Kakak selalu makan rumput setiap kali naik gunung. Kenapa Guru tidak membiarkan Kakak makan daging? Selama bukan daging mentah, kan tidak masalah," tanya Bao Wei dengan wajah polosnya, membuatnya mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya.

"Hey! Kau pikir kakak itu apa? Kenapa dia harus memakan daging mentah? Itu sama saja kau sudah mengatai bahwa kakak bukan manusia," ujar Chang Pu membela si pemuda penunggu batu.

Pria paruh baya tersebut kemudian terkekeh ringan melihat tingkah dua muridnya tersebut. Dia kemudian berkata, "biarkan saja anak itu. Tidak perlu ribut hanya karena kambing liar itu. Dia bisa mengurus dirinya sendiri."

Pria paruh baya tersebut menuruni anak tangga dan memeriksa keranjang yang baru saja dibawa oleh Chang Pu dan Bao Wei. Mereka terlihat memiliki waktu yang menyenangkan ketika berbincang sembari sesekali tertawa. Mengabaikan keberadaan satu orang lagi yang bersembunyi di dalam rumah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 66 : Jenderal Zhao Jin'an, Jangan Mengganggu!

    Menjelang siang hari, kedua anak muda itu berbaur bersama para bangsawan di tempat yang mungkin bisa disebut dengan pasar karena di saat malam hari sering di adakan festival pasar malam di sana. Terlihat begitu banyak penjual di sisi jalan dan jangan lupakan kedai makanan bertingkat dua yang selalu sesak oleh pengunjung. Bai Yuxuan tak lagi asing dengan tempat itu karena sebelumnya dia pernah membuat keributan di sana, lebih tepatnya di dalam kedai berlantai dua tersebut. Saat itu dia kehabisan uang dan terpaksa mengikuti perjudian di sana dengan mempertaruhkan kepalanya sebagai pengganti uang, namun naas justru kekalahan yang ia dapat. Tapi bukannya menyerahkan kepalanya kepada para penjudi tersebut, dia justru meraup beberapa koin dan segera melarikan diri hingga pada akhirnya dia yang harus berakhir duduk di bebatuan aliran sungai yang kemudian mempertemukannya dengan Putri Dinasti Xia yang begitu kejam menurutnya. Kenangan yang baru kemarin dan tak mungkin ia lupakan, dan hal

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 65 :

    Pagi itu, sesuai rencana sebelumnya bahwa Fang Jianglan akan membawa Bai Yuxuan berkeliling Ibukota sebelum kembali lagi ke Istana sembari menunggu lukanya sembuh total. Setelah berjalan cukup jauh dari rumah, Jianglan membimbing langkah Yuxuan mengelilingi perumahan di mana para menteri tinggal dan tentu saja tangannya yang masih setia menggandeng lengan Yuxuan yang tak merasa risih lagi jika gadis itu menggandengnya sepanjang hari. Asal Jianglan bisa mengendalikan mulutnya saja saat berucap. Jianglan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan secara otomatis Yuxuan pun ikut berhenti. Jianglan kemudian memutar kakinya dan membuat keduanya menghadap salah satu pagar rumah di sana. "Ini adalah rumah dari Menteri Zhang," ucap Jianglan sembari menunjuk papan di atas gerbang rumah. "Aku dengar dari ayah jika Kakak Xuan buta huruf," lanjut Jianglan. Sudut bibir Yuxuan tersungging. Dia memalingkan wajahnya dan bergumam, "Pak tua itu selalu bicara seenaknya." "Tidak masalah, lain kali aku a

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 64 : Keluarga Baru Si Kambing Liar

    Bai Yuxuan terlihat duduk manis di anak tangga yang berada tepat di depan kamar Daxian yang sekarang sudah resmi menjadi kamarnya karena sejak kepergiannya dua hari yang lalu, Daxian sama sekali belum menampakkan diri di hadapannya. Dan sejak dua hari itu pula, kehidupan Yuxuan tidak pernah terlepas dari gadis muda bernama Fang Jianglan yang selalu mengekorinya bahkan di saat ia ingin pergi ke kamar mandi sekalipun. "Aku bisa gila jika dia terus mengekoriku," gumam Yuxuan di saat ia menggunakan tangan kirinya untuk menyangga dagunya, sedangkan tangan kanannya masih terikat seperti sebelumnya. "Kakak Xuan ..." Seketika mata Yuxuan terpejam untuk beberapa saat, berharap matanya tidak akan terbuka lagi sebelum pemilik dari suara itu menghilang dari hadapannya. Baru satu detik dia mengeluh dan gadis itu muncul secara tiba-tiba dari dalam kamarnya sendiri. Helaan napas beratnya yang kemudian mengiringi langkah gadis itu untuk menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya di saat mat

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 63 : Mereka Sudah Berbaikan

    "Kakak Bai..." "Kakak Bai...." "Kakak Xuan............" Suara yang terus mengikuti langkah Bai Yuxuan bagaikan sebuah bayangan sejak pagi tadi dan pemilik suara itu tidak lain adalah Fang Jianglan. Entah apa yang telah terjadi pada gadis itu. Yuxuan bahkan bergidik ketika gadis itu terus menempel padanya, terlebih mengingat insiden pagi tadi. Bukannya merasa senang karena perubahan sikap Jianglan yang tiba-tiba terlampau baik padanya, dia justru merasa ngeri. Bagaimana gadis sekejam itu bisa berubah hanya ditinggal selama dua hari. Dan yang paling membuat Yuxuan merasa risih adalah ketika melihat Jianglan tersenyum manis padanya dengan sesekali menggandeng lengannya yang tak terluka. Hingga hembusan napas beratnya yang menyapu ruangan kosong di saat ia kembali terduduk di kamar Fang Daxian, dengan tangan kanan yang di ikat di depan tubuhnya menggunakan kain yang di kalungkan di lehernya. Merasa lega setelah gadis sinting itu tidak mengikutinya lagi. Namun semua itu segera ber

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 62 : Percikan Asmara Di Kediaman Fang

    Fang Jianglan dan Guozhi duduk berdampingan dengan kepala yang sedikit menunduk di saat Daxian sendiri duduk di samping Yuxuan yang juga dalam posisi duduk dan mengarahkan tatapan kesalnya kepada dua orang yang sudah membuat onar di kamarnya, atau lebih tepatnya kamar milik Daxian. "Apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini?" Daxian membuka suara dan membuat Jianglan serta Guozhi saling bertukar pandang. "Yuxuan sedang sakit, akan lebih baik jika kalian bisa bersikap lebih tenang sedikit." Daxian kemudian beranjak dari duduknya dan menarik perhatian ketiganya. "Kakak ingin ke mana?" celetuk Jianglan yang membuat pandangan Daxian jatuh padanya. "Aku akan melihat keadaan di istana, aku mungkin tidak pulang untuk beberapa hari. Pastikan kalian tidak menyulitkannya." Daxian pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dan tepat setelah pintu itu tertutup dari luar, keduanya segera mendekati Yuxuan dengan cara merangkak dan membuat Yuxuan sedikit menarik mundur kepalanya. Menatap heran ke

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 61 : Musuh Bebuyutan Di Kediaman Fang

    Malam yang sempat datang telah berlalu, pagi itu Fang Jianglan melangkahkan kakinya dengan hati-hati setelah melihat Daxian keluar dari kamarnya sendiri dan tepat saat Daxian menghilang di ujung teras, dia keluar dari kamarnya lalu kemudian berjalan menuju kamar sang kakak yang berada di sebelah kamarnya. Perlahan Jianglan membuka pintu di hadapannya. Mula-mula dia melongokkan kepalanya terlebih dulu, mencoba mengecek keadaan di dalam kamar sang kakak dan sebelah alisnya terangkat ketika melihat Bai Yuxuan masih dalam posisi yang sama sejak kemarin. Dia pun melangkahkan kakinya masuk dan menutup pintu dari dalam dengan pelan sebelum akhirnya mendekati Yuxuan dengan langkah yang terlihat begitu berhati-hati. Jianglan menghentikan langkahnya tepat di samping tubuh Yuxuan, sejenak memperhatikan Yuxuan dengan matanya yang tiba-tiba memicing. "Apa dia belum sadar dari kemarin?" monolog Jianglan yang juga menyiratkan rasa penasarannya karena sepertinya Yuxuan memang belum sadarkan dir

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 7 : Bertemu Si Tabib Gila Dan Kambing Liar

    Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekar

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

    "Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, di

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

    Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tan

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 4 : Si Penguasa Pegunungan

    "Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan. Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status