Masuk"Guru..."
"Guru... kami pulang." "Kakak tertua ingin mencongkel mataku." Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya. Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya. "Sudah datang?" Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu. "Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh. "Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda penunggu batu yang berdiri di hadapan mereka seperti layaknya pimpinan bandit tapi terkesan seperti gelandangan, dialah pelakunya. "Berhenti bicara omong kosong. Kalian dapat sedikit karena kalian hanya bermalas-malasan. Masih saja banyak bicara," sinis pemuda penunggu batu tersebut sembari menaiki tangga kayu dan hendak melangkah menuju pintu. Akan tetapi suara pria paruh baya itu menghentikan langkahnya. "Apa yang kau makan?" "Rumput," ujar pemuda penunggu batu dengan suara datar dan tatapan malas yang ditujukan pada pria paruh baya di sampingnya. "Kau makan daging?" "Tidak!" ucap pemuda penunggu batu, tak terima. "Kau pikir aku bisa percaya begitu saja denganmu?" Pria paruh baya tersebut tiba-tiba meninggikan nada bicaranya dan membuat pemuda penunggu batu tersebut semakin terlihat malas untuk menanggapinya. "Kau kira siapa yang akan percaya dengan tampang bandit sepertimu, huh?" ujar si pria paruh baya. "Eih ... pak tua satu ini," gerutu pemuda penunggu batu sembari memalingkan wajahnya. Bahkan mulutnya seperti tak terbuka saat mengucapkannya. Dia kemudian melihat kembali pria paruh baya tersebut dan langsung menyemburkan napasnya ke wajah pria paruh baya tersebut. "Sudah percaya sekarang?" Dia berjalan masuk ke dalam rumah sembari menggerutu, "kenapa setiap hari menanyakan hal yang sama? Memangnya aku sudah pikun?" "Hei, Bai Yuxuan... jika sampai kau makan daging, aku putuskan lehermu," teriak pria paruh baya tersebut sembari melihat ke arah pintu yang terbuka. "Aku tidak butuh daging untuk bertahan hidup, aku hanya akan makan rumput seperti kambing. Kau puas sekarang, Ayah?" suara pemuda penunggu batu menyahuti dari dalam. "Kakak selalu makan rumput setiap kali naik gunung. Kenapa Guru tidak membiarkan Kakak makan daging? Selama bukan daging mentah, kan tidak masalah," tanya Bao Wei dengan wajah polosnya, membuatnya mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya. "Hey! Kau pikir kakak itu apa? Kenapa dia harus memakan daging mentah? Itu sama saja kau sudah mengatai bahwa kakak bukan manusia," ujar Chang Pu membela si pemuda penunggu batu. Pria paruh baya tersebut kemudian terkekeh ringan melihat tingkah dua muridnya tersebut. Dia kemudian berkata, "biarkan saja anak itu. Tidak perlu ribut hanya karena kambing liar itu. Dia bisa mengurus dirinya sendiri." Pria paruh baya tersebut menuruni anak tangga dan memeriksa keranjang yang baru saja dibawa oleh Chang Pu dan Bao Wei. Mereka terlihat memiliki waktu yang menyenangkan ketika berbincang sembari sesekali tertawa. Mengabaikan keberadaan satu orang lagi yang bersembunyi di dalam rumah.Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekarangan rumah Tabib Bai. Ting ... Suara teriakan Bao Wei dan Chang Pu yang saling bersahutan tak mampu sampai di telinga Tabib Bai yang saat ini tegah menimpa besi di gudang samping rumahnya. Dan suara itu pula yang berhasil menarik perhatian Menteri Fang yang berjalan tidak jauh di belakang. Sedangkan Bai Yuxuan, ke mana perginya anak itu? Tepat jauh di belakang Menteri Fang, Yuxuan berjalan seperti biasa. Namun kali ini dia seperti tengah menjaga jarak aman dari orang asing yang datang dari Yangcheng tersebut. Chang Pu dan Bao Wei menurunkan keranjang dari bahu mereka dan berjalan menuju gudang, diikuti oleh Menteri Fang setelahnya. "Guru ..." Chang Pu membuka pintu dan berhasil me
"Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, dia masih saja merasa kesal terlebih lagi melihat wajah santai Yuxuan yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Sebenarnya bagaimana Paman bisa sampai jatuh? Bukannya jalan di sekitar sini cukup rata?" heran Bao Wei yang langsung diangguki oleh Chang Pu. "Tanyakan saja pada teman kalian itu, kenapa dia menendang orang tua yang sedang bertanya padanya," ujar Menteri Fang sembari mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang tengah duduk bersandar pada pohon yang melindungi mereka dari sinar matahari. Dan satu persatu dari semua orang di sana ikut mengarahkan pandangan mereka pada Yuxuan, tak terkecuali para bandit yang juga masih berkumpul di sana. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu, hah?!"
Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tanaman obat. Kami benar-benar minta maaf," ujar pimpinan bandit tersebut yang tiba-tiba merendah di hadapan Yuxuan. Wajah para bandit itu sudah babak belur saat ini. "Hei! Kami sudah mengatakannya sejak awal!" sahut Bao Wei tak terima. "Dan kalian tidak peduli!" Chang Pu menimpali. "Eih ... waktu itu aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau mengatakannya sekali lagi, pasti aku mendengarnya." Si pimpinan bandit memberikan pembelaan dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang babak belur dan tidak berbeda dengan anak buahnya. Dia kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan dengan tatapan memohon. "Bagaimana? Kakak sudah membuat kami babak belur seperti ini, jadi bisakah Kakak memb
"Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan. Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya dan matanya menyipit ketika bertemu dengan matahari pagi yang belum terlalu panas. "Sudah sampai!" seru Bao Wei kembali dengan penuh semangat. "Kakak ... apa benar ini tempatnya?" teriak Chang Pu. "Hmm..." sahut Yuxuan tak kalah lantang, namun dengan suaranya yang seperti orang yang sedang malas untuk berbicara. Chang Pu dan Bao Wei pun menurunkan keranjang dari punggung mereka lalu mengeluarkan peralatan mereka untuk menggali. "Cari di bagian yang tidak terlalu curam. Jika kalian terjatuh, aku tidak akan menolong kalian," ujar Yuxuan ketika menjangkau tempat mereka. "Kakak selalu mengatakannya setiap hari. Katakanlah hal yang manis sekali saja." Chang Pu yang berjongkok mendon
Ting ... Ting ... Ting ... Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya. Ting ... Ting ... "Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kembali dengan posisi tidurnya yang tengkurap. Ting ... Namun lagi-lagi suara itu terus berputar di telinganya seakan tengah memanggil namanya. Dia pun segera bangkit dan menguap secara berlebihan, diakhiri dengan gelengan kepala. "Pak tua satu ini. Tidak bisakah membiarkanku hidup dengan tenang? Menganggu saja," gerutu Yuxuan dan beranjak berdiri. Meski begitu dia tetap saja menggerutu saat berjalan keluar. "Dia selalu melakukannya setiap hari. Setidaknya berikan satu untukku." Yuxuan keluar dari dalam rumah dan menuruni tangga kayu, kemudian berjalan ke gudang samping rumah di mana suara nyaring yang terus terngiang di kepalanya tersebut berasal. Begitu sampai di depan pintu, Yuxuan l
"Guru..." "Guru... kami pulang." "Kakak tertua ingin mencongkel mataku." Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya. Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya. "Sudah datang?" Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu. "Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh. "Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda







