Beranda / Historical / Pendekar Titisan Naga Langit / Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

Share

Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

Penulis: Backin_parade
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 19:23:05

"Paman, kau baik-baik saja?"

Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, dia masih saja merasa kesal terlebih lagi melihat wajah santai Yuxuan yang sama sekali tidak merasa bersalah.

"Sebenarnya bagaimana Paman bisa sampai jatuh? Bukannya jalan di sekitar sini cukup rata?" heran Bao Wei yang langsung diangguki oleh Chang Pu.

"Tanyakan saja pada teman kalian itu, kenapa dia menendang orang tua yang sedang bertanya padanya," ujar Menteri Fang sembari mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang tengah duduk bersandar pada pohon yang melindungi mereka dari sinar matahari.

Dan satu persatu dari semua orang di sana ikut mengarahkan pandangan mereka pada Yuxuan, tak terkecuali para bandit yang juga masih berkumpul di sana.

"Apa? Kenapa melihatku seperti itu, hah?!" ujar Yuxuan dengan suara malasnya.

"Kakak, apa kau benar-benar menendang paman ini," tanya Bao Wei.

"Kapan aku pernah melakukannya?" sangkal Yuxuan yang terdengar seperti suara lebah saat ia memalingkan wajahnya. Namun hal itu juga lah yang semakin menyulut kemarahan Menteri Fang.

Menteri Fang tiba-tiba berdiri dan menghardik, "anak tidak tahu diri! Kau masih mau menyangkal?"

Yuxuan kembali melihat ke arah Menteri Fang dan kali ini wajahnya terlihat lebih malas dibandingkan sebelumnya hanya karena mendengar bentakan pria itu. Bagaimanapun juga Menteri Fang masih sangat asing baginya, tapi pria itu langsung mengingatkan Yuxuan pada sosok ayahnya yang hampir setiap waktu meneriakinya.

"Aku datang baik-baik padamu dan bertanya, tapi kau malah menendangku hingga aku terjatuh. Jika sampai terjadi sesuatu padaku, bagaimana? Di mana otakmu, hah?!" tandas Menteri Fang.

Semua orang terkecuali Yuxuan tercengang dengan apa yang baru saja mereka lihat. Terlebih lagi Bao Wei dan Chang Pu, karena dari semua penduduk desa hanya Tabib Bai lah yang berani meneriaki Yuxuan seperti itu. Jika pun ada orang asing yang meneriaki Yuxuan, mereka pasti akan berakhir seperti bandit-bandit gunung yang masih berada di sana.

"Eih ... jika Paman mati, tinggal dikubur saja. Kenapa harus repot-repot memikirkannya?"

Dan jawaban yang diberikan oleh Yuxuan jauh lebih ampuh dari pada bentakan Menteri Fang sebelumnya. Pernyataan yang terucap dengan santai dengan kalimat yang sakartis seketika membuat Menteri Fang murka dengan ucapan yang tergagap.

"A-apa? Coba ulangi sekali lagi. Apa yang baru saja kau katakan? Hei!!! Anak setan!"

Chang pu dan Bao wei sontak berdiri dan menahan bahu Menteri Fang. Berusaha menenangkan pria malang yang mungkin akan lebih malang lagi jika sampai berhadapan dengan si kambing liar.

"Paman ... jangan berteriak seperti itu."

Bao Wei menyahut, "jika Paman gegabah, Paman akan berakhir seperti mereka."

Berkat ucapan Bao Wei, Menteri Fang menemukan para bandit yang babak belur. Dia sedikit terkejut, menatap tak percaya pada pemuda asing yang kembali menyulut kemarahannya hanya karena melihat wajah pemuda itu.

"Bocah kurang ajar! Kau juga memukul orang tua?" hardik Menteri Fang.

"Tergantung suasana hatiku," sahut Yuxuan tak acuh.

"Anak kurang ajar!"

"Apa lagi ... bukankah itu salah Paman sendiri? Kenapa tiba-tiba mengagetkan aku?" balas Yuxuan dan bergumam pada kalimat terakhirnya.

"Eih ... aku bisa gila jika seperti ini." Menteri Fang memalingkan wajahnya sembari menghembuskan napas kasar seakan ingin meluapkan semua kekesalanya.

"Aku datang jauh jauh dari Yangcheng dan mengalami hal buruk seperti ini," keluhnya dan kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan. Kali ini dia berusaha bersikap lebih lembut.

"Hey! Kau, siapa orang tuamu?"

"Tabib gila," sahut Yuxuan dengan santai.

Raut wajah Menteri Fang seketika berubah menjadi datar ketika mendengar jawaban dari Yuxuan. Bagaimana pemuda itu bisa memanggil orang tuanya sendiri dengan sebuatan 'tabib gila' hal itu semakin meyakinkan Menteri Fang bahwa Yuxuan benar-benar pemuda bermasalah.

"Aku bertanya dengan serius. Siapa ayahmu?"

"Hoho ... aku sudah menjawabnya, kenapa aku harus menjawab pertanyaan yang sama dua kali?" sahut Yuxuan, bernada menantang.

Chang Pu mengusap pelan dada Menteri Fang. Dia kemudian bergumam, "kita harus tetap waras jika ingin selamat, Paman."

Sedangkan Menteri Fang yang sudah menyerah akhirnya memalingkan wajahnya sembari menghela napasnya dan sekilas menggelengkan kepala sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali duduk, begitupun dengan kedua pemuda yang sempat menahannya. Menteri Fang kemudian hanya memperhatikan Bao Wei dan Chang Pu yang sepertinya terlihat lebih normal dibandingkan dengan semua orang yang berada di sana.

"Di mana kalian tinggal?"

"Desa di bawah gunung ini," jawab Bao Wei.

"Kalau begitu apa kalian mengenal seorang tabib bernama Bai Yuhang ? Aku dengar beberapa tahun yang lalu dia datang dan menetap di daerah sekitar sini."

Yuxuan yang mendengar pertanyaan Menteri Fang sekilas melihat ke arah sang Menteri Pertahanan dan memperhatikan penampilan pria itu. Jika tidak salah, sebelumnya Yuxuan mendengar bahwa Menteri Fang datang dari Yangcheng. Terlintas pertannyaan di benak Yuxuan, untuk apa orang Yangcheng datang jauh-jauh ke sana hanya untuk mencari ayahnya—si tabib gila. Menepis semua pikiran tersebut, Yuxuan perlahan beranjak agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

"Bai Yuhang?" ujar Chang Pu yang terlihat tengah berpikir. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."

Melihat kebodohan Chang Pu, Bao Wei langsung memukul bahu rekannya itu. "Nama gurumu sendiri saja, kau tidak ingat, dasar bodoh!" cibir Bao Wei dan kemudian mengarahkan pandangannya pada Menteri Fang.

"Paman mencari Tabib Bai?" tanya Bao Wei kemudian.

"Ya, benar. Apa kalian mengenalnya?"

"Kakak itu adalah putra dari Tabib Bai." Bao Wei menunjuk ke arah Yuxuan yang hampir berhasil melarikan diri.

Menteri Fang menolehkan kepalanya ke arah yang d tunjuk oleh Bao Wei dan hanya mendapati satu pemuda yang tengah berjalan menjauh dari mereka. Hal itu sontak membuat Menteri Fang tercengang, tampak tak percaya jika yang di maksud Bao Wei adalah Yuxuan.

"Jangan bercanda." Tersenyum tak percaya, Menteri Fang kembali melihat ke arah Bao Wei untuk memastikan sembari menunjuk ke arah Yuxuan yang selangkah lebih jauh dari mereka.

"Maksudmu anak itu? Apa Tabib Bai tidak mempunyai anak yang lain?"

Bao Wei menggeleng dan tampak tak bingung.

"Penduduk desa mengatakan bahwa guru hanya membawa kakak saat datang ke desa kami," terang Chang Pu dan membuat Menteri Fang tertawa pelan. Tampak tak percaya. Dia bahkan sudah jauh-jauh datang dari Yangcheng hanya untuk menemui anak kurang ajar seperti Yuxuan.

"Apa kau yakin tidak ada yang lain?" Menteri Fang kembali memastikan. Setidaknya dia berharap bahwa salah satu dari dua anak di hadapannya akan menggeleng. Namun kenyataannya petir yang datang dari antah brantah telah menyambarnya tanpa diketahui seorang pun ketika dua anak di hadapannya mengangguk secara bersamaan.

Sepertinya Menteri Fang terlalu berlebihan ketika membayangkan bagaimana sosok Yuxuan yang sudah dewasa ketika melangkahkan kakinya meninggalkan Yangcheng. Dia kemudian mengarahkan tatapan kesalnya pada punggung Yuxuan. Sepertinya pria itu mengetahui bahwa Yuxuan tengah mencoba melarikan diri.

"Hey! Bai Yuxuan, kemari kau!" hardik Menteri Fang.

Yuxuan sontak berhenti dan berbalik ketika Menteri Fang memanggil namanya. Dari mana pria itu mengetahui nama Yuxuan bahkan sebelum adanya perkenalan, itulah yang dipikirkan semua orang di sana yang tampak terkejut setelah Menteri Fang memanggil Yuxuan.

"Oh? Kakak, kau mengenal paman ini?" seru Chang Pu.

"Tidak, tidak. Dia hanya asal bicara. Suruh saja dia pergi!" bantah Yuxuan dengan malas. Sejujurnya dia tidak suka menerima orang asing yang tiba-tiba datang mencari ayahnya. Terlebih lagi jika dilihat dari pakaiannya, sepertinya Menteri Fang bukanlah orang sembarangan.

Yangcheng, itulah yang digaris bawahi oleh Yuxuan. Karena yang ia dengar rakyat jelata tidak diizinkan masuk ke sana selama masa perang dan hanya bangsawan-bangsawan kelas atas lah yang boleh tinggal di sana. Jika benar Menteri Fang berasal dari Yangcheng, sudah bisa dipastikan bahwa dia adalah seorang bangsawan dan akan sangat masuk akal jika Menteri Fang berasal dari pemerintahan dengan penampilannya saat ini.

"Tapi paman ini tahu nama Kakak dan juga guru," ujar Bao Wei, melihat ke arah Yuxuan dan Menteri Fang secara bergantian. Mempertimbangkan mana yang harus mereka percaya.

"Tentu saja dia tidak mengenalku, dulu Tabib Bai membawanya pergi dari Yangcheng saat masih bayi," celetuk Menteri Fang.

"Hah?!" seru Chang Pu dan Bao Wei bersamaan.

"Woah ... rupanya Kakak adalah orang dari Yangcheng," seru salah satu bandit yang mengundang perhatian semua orang. Namun hanya sekilas karena satu-satunya pusat perhatian di sana tampak tak peduli.

"Kemarilah, aku sudah lelah mencarimu. Sekarang duduklah di sini!" ujar Menteri Fang dengan malas. Entah merasa lelah karena baru saja menempuh perjalanan jauh atau karena lagi-lagi harus menghadapi Yuxuan.

Menteri Fang menjadi sedikit bimbang untuk menjadikan Yuxuan sebagai menantu di keluarganya. Setidaknya dibandingkan dengan iba kepada putrinya dia lebih merasa iba pada dirinya sendiri karena harus memiliki anak menantu seperti Yuxuan. Sepertinya Menteri Pertahanan itu harus mencari bangsawan lain untuk menjadi pendamping putrinya.

Yuxuan menggaruk lehernya yang tidak gatal sembari menghela napas pelan dengan dahi yang mengernyit sebelum akhirnya kembali berjalan mendekati kerumunan orang-orang yang sempat ingin ia tinggalkan. Dia kembali duduk di bawah pohon seperti sebelumnya. Namun kali ini dia duduk bersila dengan tangan yang bersedekap menghadap ke arah Menteri Fang.

"Jangan tanyakan apapun tentang tabib gila itu padaku karena aku tidak tahu apapun," ujar Yuxuan memperingatkan terlebih dulu dan lagi, kata-kata yang masih sama seperti sebelumnya seakan itu adalah cara terhalus Yuxuan saat berbicara.

"Ikutlah denganku ke Yangcheng. Aku akan menjadikanmu seorang panglima," ujar Menteri Fang dengan nada serius.

"Panglima?!" seru Bao Wei yang tampak terkejut. "Apakah mungkin Kakak bisa menjadi seorang panglima?"

"Otak Paman sudah tidak beres, bagaimana mungkin menjadikan rakyat jelata sebagai panglima?" ujar Yuxuan dengan santai dan menyandarkan tubuhnya pada pohon. Dia melanjutkan dengan sebuah cibiran, "apa Paman ingin menginjak-injak harga diri para bangsawan berparas cantik itu dengan membawa rakyat jelata ke istana mereka?"

"Ya ampun, mulutmu kasar sekali," gumam Menteri Fang seakan mentalnya benar-benar terguncang saat ini. Dia bertanya-tanya dalam hati bagaimana cara Tabib Bai mendidik putra tunggalnya selama ini. Karena jika dibandingkan dengan kedua putranya, sifat dan sikap Yuxuan justru tidak bisa disandingkan dengan mereka.

"Ibuku pernah mengatakan bahwa sebenarnya wajah Kakak lebih cantik dari perempuan," celetuk Chang Pu dan membuat Bao Wei serta para bandit di sana melihat ke arah Yuxuan. Lebih tepatnya mereka memperhatikan wajah Yuxuan untuk memastikan kebenaran dari ucapan ibu Chang Pu.

"Tutup mulutmu! Kehidupanmu hanya seputar apa yang dikatakan oleh ibumu," sinis Yuxuan. Dan sudah biasa untuk Bao Wei dan Chang Pu, tapi tidak untuk Menteri Fang. Dia bahkan mulai kehilangan kesadarannya dan bertanya-tanya kenapa dia bisa ada di sina.

"Tapi ... bukankah bagus jika Kakak bisa menjadi seorang panglima? Setidaknya kami bisa menjadi prajuritnya," ujar si bandit Dong Mae yang langsung mendapatkan dukungan dari anak buahnya.

"Kau sudah gila!" ketus Yuxuan dan menghentikan tawa dari para bandit yang sempat bersahutan.

"Tutup mulutmu jika tidak tahu apa-apa. Xia sedang dalam masa perang sekarang. Menyuruhku menjadi panglima, sama saja dengan menyuruhku mati."

Yuxuan kemudian mengarahkan tatapan sinisnya kepada Menteri Fang dan berbicara seperti orang yang tengah menggerutu. "Lagi pula mereka sudah mempunyai banyak panglima, untuk apa aku harus susah-susah berperang?"

"Di mana ayahmu?" tandas Menteri Fang, menjadi pilihan terakhirnya karena ingin menculik Yuxuan pun rasanya akan mustahil. Jalan satu-satunya adalah dengan memintanya langsung dari ayahnya yang dijuluki sebagai tabib gila.

Mungkin Menteri Fang mundur untuk menjadikan Yuxuan sebagai menantunya. Tapi dia tidak bisa mundur untuk menjadikan Yuxuan sebagai panglima. Meski dia sendiri tidak tahu akan jadi panglima seperti apa Yuxuan nantinya. Untuk saat ini tugasnya hanyalah membawa anak itu ke Yangcheng, dan untuk sisanya sepenuhnya dia serahkan pada langit.

"Dia tidak menerima orang asing."

Sebuah penolakan yang benar-benar membuat Menteri Fang kehabisan kesabarannya. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan pikiran liarnya yang sudah membayangkan saat ia memiting leher Yuxuan dan melemparnya dari gunung. Namun semua itu hanya sekedar bayangan yang muncul dari kekesalannya karena yang dia lakukan hanyalah menghela napas pasrahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 7 : Bertemu Si Tabib Gila Dan Kambing Liar

    Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekarangan rumah Tabib Bai. Ting ... Suara teriakan Bao Wei dan Chang Pu yang saling bersahutan tak mampu sampai di telinga Tabib Bai yang saat ini tegah menimpa besi di gudang samping rumahnya. Dan suara itu pula yang berhasil menarik perhatian Menteri Fang yang berjalan tidak jauh di belakang. Sedangkan Bai Yuxuan, ke mana perginya anak itu? Tepat jauh di belakang Menteri Fang, Yuxuan berjalan seperti biasa. Namun kali ini dia seperti tengah menjaga jarak aman dari orang asing yang datang dari Yangcheng tersebut. Chang Pu dan Bao Wei menurunkan keranjang dari bahu mereka dan berjalan menuju gudang, diikuti oleh Menteri Fang setelahnya. "Guru ..." Chang Pu membuka pintu dan berhasil me

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

    "Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, dia masih saja merasa kesal terlebih lagi melihat wajah santai Yuxuan yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Sebenarnya bagaimana Paman bisa sampai jatuh? Bukannya jalan di sekitar sini cukup rata?" heran Bao Wei yang langsung diangguki oleh Chang Pu. "Tanyakan saja pada teman kalian itu, kenapa dia menendang orang tua yang sedang bertanya padanya," ujar Menteri Fang sembari mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang tengah duduk bersandar pada pohon yang melindungi mereka dari sinar matahari. Dan satu persatu dari semua orang di sana ikut mengarahkan pandangan mereka pada Yuxuan, tak terkecuali para bandit yang juga masih berkumpul di sana. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu, hah?!"

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

    Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tanaman obat. Kami benar-benar minta maaf," ujar pimpinan bandit tersebut yang tiba-tiba merendah di hadapan Yuxuan. Wajah para bandit itu sudah babak belur saat ini. "Hei! Kami sudah mengatakannya sejak awal!" sahut Bao Wei tak terima. "Dan kalian tidak peduli!" Chang Pu menimpali. "Eih ... waktu itu aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau mengatakannya sekali lagi, pasti aku mendengarnya." Si pimpinan bandit memberikan pembelaan dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang babak belur dan tidak berbeda dengan anak buahnya. Dia kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan dengan tatapan memohon. "Bagaimana? Kakak sudah membuat kami babak belur seperti ini, jadi bisakah Kakak memb

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 4 : Si Penguasa Pegunungan

    "Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan. Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya dan matanya menyipit ketika bertemu dengan matahari pagi yang belum terlalu panas. "Sudah sampai!" seru Bao Wei kembali dengan penuh semangat. "Kakak ... apa benar ini tempatnya?" teriak Chang Pu. "Hmm..." sahut Yuxuan tak kalah lantang, namun dengan suaranya yang seperti orang yang sedang malas untuk berbicara. Chang Pu dan Bao Wei pun menurunkan keranjang dari punggung mereka lalu mengeluarkan peralatan mereka untuk menggali. "Cari di bagian yang tidak terlalu curam. Jika kalian terjatuh, aku tidak akan menolong kalian," ujar Yuxuan ketika menjangkau tempat mereka. "Kakak selalu mengatakannya setiap hari. Katakanlah hal yang manis sekali saja." Chang Pu yang berjongkok mendon

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 3 : Kambing Liar Tidak Makan Daging

    Ting ... Ting ... Ting ... Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya. Ting ... Ting ... "Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kembali dengan posisi tidurnya yang tengkurap. Ting ... Namun lagi-lagi suara itu terus berputar di telinganya seakan tengah memanggil namanya. Dia pun segera bangkit dan menguap secara berlebihan, diakhiri dengan gelengan kepala. "Pak tua satu ini. Tidak bisakah membiarkanku hidup dengan tenang? Menganggu saja," gerutu Yuxuan dan beranjak berdiri. Meski begitu dia tetap saja menggerutu saat berjalan keluar. "Dia selalu melakukannya setiap hari. Setidaknya berikan satu untukku." Yuxuan keluar dari dalam rumah dan menuruni tangga kayu, kemudian berjalan ke gudang samping rumah di mana suara nyaring yang terus terngiang di kepalanya tersebut berasal. Begitu sampai di depan pintu, Yuxuan l

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 2 : Si Kambing Liar

    "Guru..." "Guru... kami pulang." "Kakak tertua ingin mencongkel mataku." Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya. Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya. "Sudah datang?" Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu. "Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh. "Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status