Beranda / Historical / Pendekar Titisan Naga Langit / Bab 4 : Si Penguasa Pegunungan

Share

Bab 4 : Si Penguasa Pegunungan

Penulis: Backin_parade
last update Tanggal publikasi: 2026-01-30 06:56:42

"Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan.

Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya dan matanya menyipit ketika bertemu dengan matahari pagi yang belum terlalu panas.

"Sudah sampai!" seru Bao Wei kembali dengan penuh semangat.

"Kakak ... apa benar ini tempatnya?" teriak Chang Pu.

"Hmm..." sahut Yuxuan tak kalah lantang, namun dengan suaranya yang seperti orang yang sedang malas untuk berbicara.

Chang Pu dan Bao Wei pun menurunkan keranjang dari punggung mereka lalu mengeluarkan peralatan mereka untuk menggali.

"Cari di bagian yang tidak terlalu curam. Jika kalian terjatuh, aku tidak akan menolong kalian," ujar Yuxuan ketika menjangkau tempat mereka.

"Kakak selalu mengatakannya setiap hari. Katakanlah hal yang manis sekali saja." Chang Pu yang berjongkok mendongakkan kepalanya untuk melihat Yuxuan sembari tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya, sedangkan Yuxuan hanya menatapnya tak peduli.

"Kau ini banyak bicara sekali. Pergi sana! Aku tinggal sebentar, jika ada sesuatu jangan panggil aku." Yuxuan kemudian berjalan meninggalkan keduanya.

"Oh! Kakak, kau mau ke mana?" teriak Bao Wei.

"Mencari udara segar," sahut Yuxuan tanpa menoleh sedikitpun.

"Bukankah di sini juga sudah segar?" ujar Chang Pu, menyahuti dengan senyum lebar seakan dia tengah menggoda Yuxuan.

"Tutup mulutmu. Jika sampai kau jatuh dari lereng, aku akan membunuhmu."

"Ya ampun, kenapa mulutnya selalu kejam seperti itu? Lagi pula jika jatuh ke lereng, aku belum tentu sudah mati," gumam Chang Pu ketika senyum lebarnya memudar.

Bao Wei yang berada di samping Chang Pu langsung memukul bahu Chang Pu. "Hei! Apa kau baru saja mengatakan bahwa kakak adalah orang yang kejam?"

"Tidak ... bukan itu maksudku!" seru Chang Pu dengan lantang untuk membela diri. "Aku tidak bilang bahwa kakak itu orang jahat. Meski kelakuannya seperti bandit, dia memiliki hati yang baik."

"Woah ... sejak kapan kau jadi sebijak itu?"

"Apa maksudmu?"

"Tidak, bukan apa apa. Lebih baik kita segera menemukan ginseng-ginseng itu sebelum kakak kembali dan menjatuhkanmu ke lereng."

....

Setelah berjalan cukup jauh, langkah Yuxuan terhenti tepat di tepi aliran sungai kecil yang mengalir ke bawah menyusuri gunung, di mana terdapat batu dengan berbagai ukuran yang berada di sekitar aliran sungai yang hanya berdiameter kurang lebih dua meter tersebut.

Yuxuan melangkahkan kakinya mendekati air dan membiarkan air sungai menenggelamkan kakinya. Dia kemudian duduk di batu yang sebagian terendam air, merasakan dinginnya air yang menyegarkan melalui kakinya.

Suara gemericik air yang jatuh di bebatuan, burung-burung kecil yang kadang hinggap di bebatuan sekitarnya. Terasa begitu menangkan. Di sanalah tempat persembunyian Bai Yuxuan jika dia tengah ingin merenung. Bukan untuk merenungkan dosa ataupun kehidupannya, melainkan hanya terdiam dan menjadi pendengar yang baik. Merenungkan apa saja yang sudah didengarkan oleh telinganya ketika berbaur dengan para penduduk.

Yuxuan menjatuhkan pandangannya ke dalam air dan melihat bayangannya yang tercipta di dalam air. Tidak ada yang istimewa, itulah yang ada dalam pikiran Yuxuan ketika melihat bayangannya sendiri di dalam air.

Tidak ada yang berubah dari wajahnya. Bahkan setelah ia tak melihatnya selama seminggu pun, dia tidak merasa ada yang berbeda dengan wajahnya. Tapi kenapa orang-orang menganggapnya istimewa. Bukan hanya sekali, Yuxuan kerap tidak sengaja mendengar para penduduk membicarakannya. Bukan berbicara hal-hal yang buruk, melainkan seperti tengah mengasihani dan dalam waktu bersamaan mengaguminya. Sesuatu yang masih menjadi misteri baginya. Ingin bertanya pun harus bertanya pada siapa, sementara dia sendiri tidak pernah terlibat pembicaraan serius dengan ayahnya.

"Kau membawanya pergi karena takut jika kelak saat ia dewasa, dia akan dijadikan seorang prajurit. Dia sudah dewasa, sudah waktunya untuk berkata jujur padanya ..."

Pikiran Yuxuan memutar kembali percakapan antara Kepala Desa dan ayahnya beberapa hari yang lalu saat dia tidak sengaja lewat di belakang mereka. Seakan ia bisa menyaksikan kejadian itu kembali di dalam air.

"Prajurit," gumam Yuxuan.

"Kakak ..."

Yuxuan perlahan menolehkan kepalanya ke arah ia datang sebelumnya ketika mendengar suara dari salah satu murid ayahnya. Entah itu Chang Pu atau Bao Wei, yang jelas suara yang menggema tersebut berhasil menghancurkan keheningannya. Sepertinya kedua murid ayahnya tersebut masih belum mengerti arti dari kata 'jika terjadi sesuatu jangan panggil aku' yang sebelumnya sempat diucapkan oleh Yuxuan sebelum dia pergi meninggalkan mereka.

"Selamatkan kami ..."

"Kakak ..."

"Eih ..." keluh YuXuan sembari menghela nafas dan beranjak dari duduknya. Kembali berjalan menyusuri jalan setapak yang ia lewati sebelumnya.

"Baru ditinggal sebentar, kenapa sudah ribut-ribut?"

"Kakak ... akh! Akh!!!"

"Kakak ..." teriak Chang Pu ketika salah satu dari beberapa bandit gunung di sekitar mereka menarik bajunya dan sempat memukulnya. Hal itu tak berbeda dengan Bao Wei, akan tetapi mungkin suara Chang Pu lebih keras jika dibandingkan dengan suara Bao Wei.

"Apa yang kau lakukan? Siapa yang sedang kau panggil, hah? Apa ada orang lain selain kalian di sini, hah? Jawab!" Si bandit kembali menggertak. Bukan bandit gadungan seperti Bai Yuxuan, tapi bandit gunung sungguhan.

Chang Pu memalingkan wajahnya dengan kening yang mengernyit. "Aduh! Aku, kan sudah bilang kami hanya mencari tanaman obat. Kenapa kalian malah memukuli kami?"

"Jika kakak kami ke sini, dia pasti akan menghabisi kalian semua. Sebaiknya kalian pergi saja sebelum kakak datang!"

Niat baik Bao Wei berujung pada kesialannya sendiri karena bandit di hadapannya tidak terima dan langsung memukulnya dan bahkan kesialannya menular pada Chang Pu. Keduanya meringkuk di tanah saat para bandit tersebut menginjak-injak tubuh mereka secara tidak manusiawi.

"Apa-apaan ini?" gumam Yuxuan seakan tengah menahan rasa kesalnya ketika melihat keributan di tempat ia meninggalkan Chang Pu dan Bao Wei sebelumnya. Tapi meski begitu, hal itu belum cukup membuatnya untuk mempercepat langkahnya dan lebih memilih untuk tetap berjalan dengan santai.

"Mati saja kau! Anak sialan! Makan ini!"

"Hei!!!"

Pergerakan mereka semua terhenti ketika mendengar suara teguran Yuxuan yang terdengar cukup buas dan membuat mereka serempak melihat ke sumber suara. Chang Pu dan Bao Wei yang mendengarnya pun sedikit mengangkat kepala mereka dan tersenyum lebar ketika mendapati Yuxuan berjalan ke arah mereka.

"Kakak ... selamatkan kami ..."

Pimpinan bandit tersebut sekilas melihat ke arah Chang Pu saat pemuda itu bergumam dan kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang semakin mendekat dan berhenti beberapa langkah dari mereka. Yuxuan sekilas melihat keadaan Bao Wei dan Chang Pu sebelum akhirnya berhenti pada wajah para bandit tersebut.

"Siapa pimpinannya?" tanya Yuxuan dengan suara beratnya yang selalu terdengar seperti orang yang baru bangun tidur.

Salah seorang dari mereka kemudian maju ke depan, seseorang yang tidak lain adalah pimpinan para bandit gunung tersebut.

"Aku pimpinannya," ujar pria itu, penuh percaya diri.

Yuxuan sejenak mengamati pimpinan bandit tersebut dari ujung kaki hingga kepala seperti tengah mengintimidasinya dengan tatapannya.

Yuxuan kemudian bergumam, "tidak ada satupun otot yang terlihat di lengannya. Bagaimana bisa dia menyebut dirinya sebagai seorang pemimpin? Dia membuatku malu saja."

"Bos, dia sedang menggunjingmu," bisik salah satu anak buah si pimpinan bandit.

Si pimpinan bandit balik berbisik. "Kau mendengar apa yang dia katakan?"

Pria itu menggeleng.

"Kalau begitu bagaimana kau bisa tahu jika dia mengatakan hal buruk tentang aku?"

"Bos lihat sendiri. Tampangnya benar-benar tidak diragukan lagi bahwa dia pandai berbicara buruk. Lihatlah tatapan matanya. Dia seperti ingin menghinamu, Bos."

Si pimpinan bandit termakan oleh pengaduan anak buahnya. Dia berdehem, bersikap lebih tegas guna menunjukkan siapa yang paling berkuasa di sana sebelum pada akhirnya menegur Yuxuan.

"Hei! Apa yang baru saja kau katakan? Kau pikir aku tidak bisa mendengarmu?"

"Kau belum terlalu tua, tentu saja pendengaranmu masih bagus," sahut Yuxuan dengan malas.

"Kau bilang apa?"

"Bawa anak buahmu pergi dari sini," ucap Yuxuan dengan nada yang sama.

"Apa? Kau baru mengatakan sesuatu? Kau pikir kau itu siapa?" sinis si pimpinan bandit.

"Kakak, Kakak tidak boleh melepaskan mereka begitu saja. Mereka sudah memukul kami habis-habisan. Kakak harus membuat mereka menyesal sudah hidup di dunia ini," protes Chang Pu, namun salah satu dari mereka justru menginjak kepalanya dan membuat wajahnya bersentuhan dengan tanah.

"Kalian semua kemarilah," ujar Yuxuan sembari menggerakkan tangannya ke udara yang mengisyaratkan agar para bandit tersebut datang padanya.

Dan setelah mendapat isyarat dari pimpinan mereka. Bukan hanya satu, melainkan semuanya berjalan ke arah Yuxuan dan hendak mengeroyoknya. Namun naas, belum sempat mereka menyentuh Yuxuan, sang target lebih dulu menumbangkan satu orang dengan satu pukulan ke atas yang tepat mengenai dagu korbannya.

"Berani-beraninya kalian mengganggu pekerjaanku, akan aku habisi kalian semua!" murka Yuxuan, menunjukkan seberapa gilanya dia sampai dijuluki sebagai kambing liar.

Yuxuan tiba-tiba saja menyerang mereka secara brutal dengan kosong, bahkan pimpinan bandit tersebut harus turun tangan sendiri. Yuxuan menendang satu orang yang kemudian terpental dan jatuh ke tanah, tapi meski sudah jatuh berkali-kali, mereka tetap bangun dan kembali menyerang Yuxuan.

Chang Pu dan Bao Wei yang sudah terbebas kemudian bangun dan berkumpul, menyaksikan Yuxuan yang menghajar para bandit gunung tersebut.

"Apa yang kalian lakukan? Melawan gelandangan saja tidak becus, dasar tidak berguna!" maki si pimpinan bandit, namun perkataannya segera terhenti ketika seseorang mendorong wajahnya.

"Mulutmu sangat bau, berhentilah bicara!"

Yuxuan mendorong wajah si pimpinaan bandit tersebut dan memberikan sebuah tendangan sebagai bonus yang membuat pimpinan bandit tersebut jatuh tepat di hadapan Chang Pu dan Bao Wei yang sempat terkejut karena hal itu.

"Dia milik kalian," ujar Yuxuan sembari menghalau pukulan yang datang ke arahnya dan menyingkirkannya seperti tengah menyingkirkan ranting daun yang menghalangi jalannya.

Chang Pu dan Bao Wei yang mengerti maksud dari Yuxuan, mengarahkan pandangan mereka pada pimpinan bandit di hadapan mereka dan bertukar pandang dengan seulas senyum simpul sebelum keduanya menginjak-injak si pimpinan bandit seperti para bandit itu menginjak-injak mereka sebelumnya.

"Hei!!! Apa-apaan ini? Hentikan! Kalian ingin mati!" teriak pimpinan bandit itu tidak terima.

"Kau yang akan mati kali ini," ujar Bao Wei.

"Rasakan ini," Chang Pu menyambung.

"Rasakan pembalasan dari kami," Bao Wei menginjak lebih keras.

"Habisi saja orang ini, orang tidak tahu diri!" Chang Pu menginjak tak kalah keras.

"Bagaimana rasanya? Bukankah kau sering melakukannya, hah?!"

"Rasakan ini, rasakan ini!"

Sebuah pembalasan dendam yang tidak akan berakhir dalam waktu singkat ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 66 : Jenderal Zhao Jin'an, Jangan Mengganggu!

    Menjelang siang hari, kedua anak muda itu berbaur bersama para bangsawan di tempat yang mungkin bisa disebut dengan pasar karena di saat malam hari sering di adakan festival pasar malam di sana. Terlihat begitu banyak penjual di sisi jalan dan jangan lupakan kedai makanan bertingkat dua yang selalu sesak oleh pengunjung. Bai Yuxuan tak lagi asing dengan tempat itu karena sebelumnya dia pernah membuat keributan di sana, lebih tepatnya di dalam kedai berlantai dua tersebut. Saat itu dia kehabisan uang dan terpaksa mengikuti perjudian di sana dengan mempertaruhkan kepalanya sebagai pengganti uang, namun naas justru kekalahan yang ia dapat. Tapi bukannya menyerahkan kepalanya kepada para penjudi tersebut, dia justru meraup beberapa koin dan segera melarikan diri hingga pada akhirnya dia yang harus berakhir duduk di bebatuan aliran sungai yang kemudian mempertemukannya dengan Putri Dinasti Xia yang begitu kejam menurutnya. Kenangan yang baru kemarin dan tak mungkin ia lupakan, dan hal

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 65 :

    Pagi itu, sesuai rencana sebelumnya bahwa Fang Jianglan akan membawa Bai Yuxuan berkeliling Ibukota sebelum kembali lagi ke Istana sembari menunggu lukanya sembuh total. Setelah berjalan cukup jauh dari rumah, Jianglan membimbing langkah Yuxuan mengelilingi perumahan di mana para menteri tinggal dan tentu saja tangannya yang masih setia menggandeng lengan Yuxuan yang tak merasa risih lagi jika gadis itu menggandengnya sepanjang hari. Asal Jianglan bisa mengendalikan mulutnya saja saat berucap. Jianglan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan secara otomatis Yuxuan pun ikut berhenti. Jianglan kemudian memutar kakinya dan membuat keduanya menghadap salah satu pagar rumah di sana. "Ini adalah rumah dari Menteri Zhang," ucap Jianglan sembari menunjuk papan di atas gerbang rumah. "Aku dengar dari ayah jika Kakak Xuan buta huruf," lanjut Jianglan. Sudut bibir Yuxuan tersungging. Dia memalingkan wajahnya dan bergumam, "Pak tua itu selalu bicara seenaknya." "Tidak masalah, lain kali aku a

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 64 : Keluarga Baru Si Kambing Liar

    Bai Yuxuan terlihat duduk manis di anak tangga yang berada tepat di depan kamar Daxian yang sekarang sudah resmi menjadi kamarnya karena sejak kepergiannya dua hari yang lalu, Daxian sama sekali belum menampakkan diri di hadapannya. Dan sejak dua hari itu pula, kehidupan Yuxuan tidak pernah terlepas dari gadis muda bernama Fang Jianglan yang selalu mengekorinya bahkan di saat ia ingin pergi ke kamar mandi sekalipun. "Aku bisa gila jika dia terus mengekoriku," gumam Yuxuan di saat ia menggunakan tangan kirinya untuk menyangga dagunya, sedangkan tangan kanannya masih terikat seperti sebelumnya. "Kakak Xuan ..." Seketika mata Yuxuan terpejam untuk beberapa saat, berharap matanya tidak akan terbuka lagi sebelum pemilik dari suara itu menghilang dari hadapannya. Baru satu detik dia mengeluh dan gadis itu muncul secara tiba-tiba dari dalam kamarnya sendiri. Helaan napas beratnya yang kemudian mengiringi langkah gadis itu untuk menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya di saat mat

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 63 : Mereka Sudah Berbaikan

    "Kakak Bai..." "Kakak Bai...." "Kakak Xuan............" Suara yang terus mengikuti langkah Bai Yuxuan bagaikan sebuah bayangan sejak pagi tadi dan pemilik suara itu tidak lain adalah Fang Jianglan. Entah apa yang telah terjadi pada gadis itu. Yuxuan bahkan bergidik ketika gadis itu terus menempel padanya, terlebih mengingat insiden pagi tadi. Bukannya merasa senang karena perubahan sikap Jianglan yang tiba-tiba terlampau baik padanya, dia justru merasa ngeri. Bagaimana gadis sekejam itu bisa berubah hanya ditinggal selama dua hari. Dan yang paling membuat Yuxuan merasa risih adalah ketika melihat Jianglan tersenyum manis padanya dengan sesekali menggandeng lengannya yang tak terluka. Hingga hembusan napas beratnya yang menyapu ruangan kosong di saat ia kembali terduduk di kamar Fang Daxian, dengan tangan kanan yang di ikat di depan tubuhnya menggunakan kain yang di kalungkan di lehernya. Merasa lega setelah gadis sinting itu tidak mengikutinya lagi. Namun semua itu segera ber

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 62 : Percikan Asmara Di Kediaman Fang

    Fang Jianglan dan Guozhi duduk berdampingan dengan kepala yang sedikit menunduk di saat Daxian sendiri duduk di samping Yuxuan yang juga dalam posisi duduk dan mengarahkan tatapan kesalnya kepada dua orang yang sudah membuat onar di kamarnya, atau lebih tepatnya kamar milik Daxian. "Apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini?" Daxian membuka suara dan membuat Jianglan serta Guozhi saling bertukar pandang. "Yuxuan sedang sakit, akan lebih baik jika kalian bisa bersikap lebih tenang sedikit." Daxian kemudian beranjak dari duduknya dan menarik perhatian ketiganya. "Kakak ingin ke mana?" celetuk Jianglan yang membuat pandangan Daxian jatuh padanya. "Aku akan melihat keadaan di istana, aku mungkin tidak pulang untuk beberapa hari. Pastikan kalian tidak menyulitkannya." Daxian pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dan tepat setelah pintu itu tertutup dari luar, keduanya segera mendekati Yuxuan dengan cara merangkak dan membuat Yuxuan sedikit menarik mundur kepalanya. Menatap heran ke

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 61 : Musuh Bebuyutan Di Kediaman Fang

    Malam yang sempat datang telah berlalu, pagi itu Fang Jianglan melangkahkan kakinya dengan hati-hati setelah melihat Daxian keluar dari kamarnya sendiri dan tepat saat Daxian menghilang di ujung teras, dia keluar dari kamarnya lalu kemudian berjalan menuju kamar sang kakak yang berada di sebelah kamarnya. Perlahan Jianglan membuka pintu di hadapannya. Mula-mula dia melongokkan kepalanya terlebih dulu, mencoba mengecek keadaan di dalam kamar sang kakak dan sebelah alisnya terangkat ketika melihat Bai Yuxuan masih dalam posisi yang sama sejak kemarin. Dia pun melangkahkan kakinya masuk dan menutup pintu dari dalam dengan pelan sebelum akhirnya mendekati Yuxuan dengan langkah yang terlihat begitu berhati-hati. Jianglan menghentikan langkahnya tepat di samping tubuh Yuxuan, sejenak memperhatikan Yuxuan dengan matanya yang tiba-tiba memicing. "Apa dia belum sadar dari kemarin?" monolog Jianglan yang juga menyiratkan rasa penasarannya karena sepertinya Yuxuan memang belum sadarkan dir

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 7 : Bertemu Si Tabib Gila Dan Kambing Liar

    Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekar

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

    "Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, di

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

    Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tan

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 3 : Kambing Liar Tidak Makan Daging

    Ting ... Ting ... Ting ... Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya. Ting ... Ting ... "Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kemba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status