Beranda / Historical / Pendekar Titisan Naga Langit / Bab 3 : Kambing Liar Tidak Makan Daging

Share

Bab 3 : Kambing Liar Tidak Makan Daging

Penulis: Backin_parade
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 23:19:58

Ting ...

Ting ...

Ting ...

Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya.

Ting ...

Ting ...

"Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kembali dengan posisi tidurnya yang tengkurap.

Ting ...

Namun lagi-lagi suara itu terus berputar di telinganya seakan tengah memanggil namanya. Dia pun segera bangkit dan menguap secara berlebihan, diakhiri dengan gelengan kepala.

"Pak tua satu ini. Tidak bisakah membiarkanku hidup dengan tenang? Menganggu saja," gerutu Yuxuan dan beranjak berdiri. Meski begitu dia tetap saja menggerutu saat berjalan keluar.

"Dia selalu melakukannya setiap hari. Setidaknya berikan satu untukku."

Yuxuan keluar dari dalam rumah dan menuruni tangga kayu, kemudian berjalan ke gudang samping rumah di mana suara nyaring yang terus terngiang di kepalanya tersebut berasal. Begitu sampai di depan pintu, Yuxuan langsung membukanya dengan kasar seakan ingin mendobraknya dan membuat palu yang berada di tangan Tabib Bai tertahan di udara karena dia harus melihat si bar-bar yang selalu mendobrak pintu gudang setiap kali datang.

"Ayah... tidak bisakah melakukannya nanti saja? Kau mengganggu tidur penduduk desa," protes Yuxuan dengan suara beratnya yang terdengar sedikit serak.

"Tidak ada orang yang masih tidur di jam segini kecuali kau," jawab Tabib Bai tak peduli dan kembali menghantamkan palunya pada sebilah pedang yang masih belum sempurna di hadapannya.

Yuxuan kemudian masuk dan menutup pintu menggunakan kakinya. Berjalan dengan malas mendekati Tabib Bai dan berhenti ketika sesuatu menarik perhatiannya. Pandangan Yuxuan mengarah pada beberapa bilah pedang yang sudah sempurna tergantung di dinding kayu yang menutupi gudang tersebut. Dengan ringannya tangan Yuxuan terangkat untuk mengambil salah satu dari pedang tersebut. Tapi sedetik kemudian dia menarik kembali tangannya dan memeganginya dengan tangan yang lain saat sebuah pisau tiba-tiba melesat tepat di depan tangannya dan menancap di dinding kayu. Sedetik saja Yuxuan terlambat menarik tangannya, mungkin pisau tersebut sudah merobek pembuluh darahnya dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya.

Yuxuan menggertakkan giginya sembari membuang napas ke udara. Dengan raut wajah yang kesal, dia menatap tajam ke arah Tabib Bai, seseorang yang baru saja ingin merobek nadinya yang saat ini melihatnya tanpa rasa bersalah.

Yuxuan kemudian menghardik, "Ayah sudah tidak waras! Bagaimana jika itu tadi mengenaiku?"

Tabib Bai memalingkan wajahnya sembari memasukkan jari kelingkingnya ke dalam telinga dan tampak tak peduli. Dia kemudian bergumam dengan suara menyerupai suara lebah. "Jika itu mengenaimu, berarti kau yang bodoh. Lagi pula kau menutup pintu dengan kaki, bukan dengan tangan. Sebaiknya mulai hari ini kau makan saja dengan kaki."

"Apa?!" pekik Yuxuan tak terima.

"Apa? Apa? Kau mau apa?" balas Tabib Bai tak kalah keras. "Bukankah sudah aku peringatkan untuk tidak menyentuh barangku! Bukankah kau sudah menolaknya ketika aku memberikannya padamu?"

Yuxuan mencibir, "cih! Orang tua satu ini."

Yuxuan memalingkan wajahnya sembari berkacak pinggang dan tersenyum tidak percaya. Dia kembali mencibir, "apanya yang diberikan? Aku meminta pedang, bukannya jarum akupuntur. Lagi pula siapa yang ingin menjadi tabib seperti Ayah?"

Tabib Bai tersenyum tidak percaya. Dia kemudian mengangkat sebilah pedang yang sebelumnya ia kerjakan ke udara seakan ingin melemparkannya pada Yuxuan yang membuat pemuda itu sempat membulatkan mata.

"Lama-lama akan aku tebas kepalamu!" Kesal Tabib Bai yang sudah kembali menurunkan pedangnya, begitupun Yuxuan yang sudah menurunkan tangannya.

"Berani kau menyentuhnya, aku putuskan tanganmu," ancam Tabib Bai.

Mendengar ancaman ayahnya, Yuxuan memalingkan wajahnya sembari menggaruk bagian bawah dagunya dengan dahi yang sedikit berkerut. "Ya ampun, sebenarnya aku ini anaknya atau bukan? Kejam sekali."

"Kau bilang apa?"

Yuxuan menatap malas ke arah ayahnya. "Tidak, Ayah mungkin salah dengar."

"Berhenti berdiri di sana dan nyalakan apinya!"

"Aku belum makan, mana kuat meniup api."

"Jika belum makan, kenapa datang kemari?"

"Ayah yang berisik, maka dari itu aku ke sini."

Keduanya semakin meninggikan suara masing-masing dan para penduduk desa yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala mereka seakan itu adalah rutinitas Tabib Bai dan Yuxuan setiap hari.

"Apa?! Kau sudah bosan hidup! Kemari kau! Akan aku penggal kepalamu, anak kurang ajar!"

Yuxuan berlari keluar dan langsung masuk ke dalam rumah setelah Tabib Bai si tabib gila benar-benar murka.

....

Chang Pu terlihat keluar dari rumahnya seperti tengah melarikan diri. Dia menerobos kerumunan para penduduk yang memenuhi jalanan sembari membawa sesuatu di tangannya. Setelah berlari cukup jauh dari rumahnya, senyum tipisnya mengembang dengan sempurna setelah matanya menangkap siluet yang tidak asing lagi baginya berada tidak jauh dari tempatnya.

"Kakak..."

Yuxuan yang saat itu tengah membantu para penduduk untuk menimba air di sumur yang berada di tengah-tengah pemukiman sempat menghentikan pergerakannya dan mengarahkan pandangannya ke asal mula suara. Dan di sana lah Chang Pu berlari dengan antusias menuju ke arahnya.

"Yuxuan... kau sudah makan?"

Perhatian Yuxuan teralihkan oleh seorang bibi yang tiba-tiba bersuara di sampingnya.

"Sudah," jawab Yuxuan, singkat.

"Ya ampun, kau pasti sangat bekerja keras. Jika kau lelah istirahatlah, kami juga masih bisa jika hanya mengambil air dari dalam sumur."

"Jika aku berhenti, tabib gila itu akan membunuhku," gumam Yuxuan.

Ucapan Yuxuan sontak berhasil membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya tertawa ringan. Sedangkan dia hanya memasang wajah datarnya. Apanya yang lucu, bahkan dia tidak sedang bergurau karena memang benar yang dikatakan olehnya sebelumnya. Tabib Bai ayahnya sering mengancam akan memperpendek umurnya jika sampai ia melanggar peraturan yang diberikan oleh sang ayah. Bahkan beberapa hari yang lalu Tabib Bai sempat mengatakan akan memberi racun pada makanannya setelah ia tertangkap basah tengah menangkap ikan di sungai. Padahal waktu itu ia tidak benar-benar ingin menangkap ikan, melainkan hanya sekadar bermain-main untuk mengusir kebosanan.

"Kakak ... Aduh! Akhirnya sampai juga." Chang Pu sudah sampai di tempat Yuxuan.

Yuxuan hanya sekilas melihat Chang Pu yang berhenti di sampingnya dengan napas terputus-putus. Sedangkan dia kembali menimba air karena itu adalah rutinitasnya setiap pagi dan setelah ini biasanya dia akan mengantarkan Chang Pu dan Bao Wei naik gunung untuk mengumpulkan tanaman obat.

"Kakak, kau sudah makan?"

"Hmm ..." gumam Yuxuan tanpa melihat ke arah Chang Pu.

"Aku membawakan sesuatu untuk Kakak."

Yuxuan menolehkan kepalanya ke arah Chang Pu dengan sebelah alis yang terangkat ketika melihat sesuatu yang saat ini berada di tangan Chang Pu.

"Apa itu?"

"Hari ini ibuku memasak ubi rebus. Ibu menyuruhku membawakannya untuk Kakak."

Chang Pu kemudian mendekati Yuxuan dan memberikan beberapa ubi rebus yang ia bawa dari rumahnya. "Kakak makan dulu, biar aku yang gantikan."

Tanpa mendapat izin terlebih dulu, Chang Pu langsung mengambil alih timba di tangan Yuxuan yang pada akhirnya duduk di kursi kayu di dekat sumur dan memakan ubi yang dibawakan oleh Chang Pu.

"Kakak." Chang Pu kembali membuka pembicaraan.

"Hmm..."

"Apa Kakak tidak lelah melakukannya setiap hari?"

"Apanya?"

"Menimba air setiap hari, memotong kayu setiap hari dan menyalakan api setiap hari."

"Jika aku lelah, aku akan tidur di malam hari. Apa susahnya?" jawab Yuxuan, tak acuh.

"Ya ampun, Kakak memang yang terbaik."

Chang Pu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. Sedangkan Yuxuan sudah tidak peduli lagi dengan pemuda itu. Entah apa saja kalimat yang keluar dari mulut Chang Pu, dia sudah tidak memperhatikannya ketika dia tidak sengaja melihat Tabib Bai yang tengah memeriksa seseorang tidak jauh dari tempatnya sekarang. Dia melihat ayahnya seperti tengah mengawasinya seakan tidak ingin melewatkan sedikitpun pergerakan yang dilakukan oleh Tabib Bai.

Meski Yuxuan selalu bersikap tidak peduli, dalam hati kecilnya dia selalu bertanya-tanya. Ayahnya adalah seorang tabib yang menyelamatkan nyawa seseorang dengan menggunakan jarumnya, tapi ayahnya tidak pernah memaksanya untuk menjadi seorang tabib. Selain itu ayahnya juga seorang pembuat pedang, tapi kenapa dia tidak pernah mengizinkannya untuk memiliki satu dari sekian banyak pedang yang telah ia buat.

Dalam hati kecil Yuxuan, dia juga merasa heran dan bingung. Bingung akan jalan yang dilaluinya. Tabib Bai yang tidak mengekangnya, namun juga tak membebaskannya. Apa sebenarnya yang tengah di pikirkan oleh ayahnya. Hati kecil Yuxuan selalu ingin tahu jawabannya.

"Kakak."

Yuxuan perlahan menolehkan kepalanya ke arah Chang Pu.

"Sudah penuh," ujar Chang Pu, menunjuk beberapa wadah air yang sudah terisi penuh.

"Panggil Bao wei, kita naik gunung sekarang," ujar Yuxuan sembari beranjak dari duduknya dan berjalan pergi.

"Sekarang?" tanya Chang Pu.

"Tidak! Tunggu sampai matahari di atas kepala kalian dan akan aku panggang kalian di lereng gunung," sahut Yuxuan tanpa menghentikan langkahnya atau sekadar sekilas melihat ke arah Chang Pu.

"Kakak tertua..."

"Aku tunggu di tempat biasa, jangan lama-lama!"

Yuxuan berjalan melewati Tabib Bai tanpa berniat menolehkan kepalanya seakan ia tidak mengenal sang ayah dan berlalu begitu saja. Tabib Bai yang menyadari kehadiran Yuxuan, menolehkan kepalanya dan melihat punggung sang putra yang berjalan menjauh dengan tatapan seorang ayah yang tengah melihat anaknya dengan penuh ketulusan. Bukan seperti yang ia tunjukkan di hadapan Yuxuan selama ini.

"Kau terlalu berlebihan dengan putramu sendiri."

Perhatian Tabib Bai teralihkan oleh seorang pria yang tampak lebih tua darinya yang tiba-tiba bersuara dan membuatnya kembali melihat ke arahnya yang duduk di sampingnya.

"Apa yang Kakak bicarakan? Anak itu masih baik-baik saja sampai sekarang." Tabib Bai tersenyum tipis dengan pandangan yang mengarah ke bawah.

"Putramu itu memiliki wajah yang rupawan. Jika diperhatikan lebih teliti, wajahnya mirip sekali dengan mendiang ibunya."

"Kakak terlalu berlebihan memuji anak itu."

"Tidak, putramu berbeda dengan anak-anak lainnya. Bukankah kau juga merasakan hal itu?"

Tabib Bai sempat terdiam mendengar penuturan pria yang dipanggilnya dengan sebutan 'kakak' tersebut.

"Mengaku saja, kau takut kehilangannya. Oleh sebab itu kau berusaha untuk menyembunyikannya."

"Apa yang sedang Kakak bicarakan sebenarnya?" Tabib Bai tersenyum lebar dan tampak canggung. Dia memalingkan wajahnya, sama halnya dia yang ingin melarikan diri dari perbincangan mereka.

"Sejauh apapun kau membawa anak itu pergi, cepat atau lambat takdir itu akan datang dengan sendirinya padanya. Akan lebih baik kau memperlakukannya dengan baik sebelum dia benar-benar pergi. Kau harus berterimakasih pada langit karena istrimu pergi dengan meninggalkan seorang putra yang sangat istimewa seperti Bai Yuxuan."

"Anak itu tidak akan pergi kemana-mana. Lagi pula dia tidak memiliki keahlian apapun untuk jauh-jauh dari ayahnya," tandas Tabib Bai seakan ingin meyakinkan dirinya sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 7 : Bertemu Si Tabib Gila Dan Kambing Liar

    Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekarangan rumah Tabib Bai. Ting ... Suara teriakan Bao Wei dan Chang Pu yang saling bersahutan tak mampu sampai di telinga Tabib Bai yang saat ini tegah menimpa besi di gudang samping rumahnya. Dan suara itu pula yang berhasil menarik perhatian Menteri Fang yang berjalan tidak jauh di belakang. Sedangkan Bai Yuxuan, ke mana perginya anak itu? Tepat jauh di belakang Menteri Fang, Yuxuan berjalan seperti biasa. Namun kali ini dia seperti tengah menjaga jarak aman dari orang asing yang datang dari Yangcheng tersebut. Chang Pu dan Bao Wei menurunkan keranjang dari bahu mereka dan berjalan menuju gudang, diikuti oleh Menteri Fang setelahnya. "Guru ..." Chang Pu membuka pintu dan berhasil me

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

    "Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, dia masih saja merasa kesal terlebih lagi melihat wajah santai Yuxuan yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Sebenarnya bagaimana Paman bisa sampai jatuh? Bukannya jalan di sekitar sini cukup rata?" heran Bao Wei yang langsung diangguki oleh Chang Pu. "Tanyakan saja pada teman kalian itu, kenapa dia menendang orang tua yang sedang bertanya padanya," ujar Menteri Fang sembari mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang tengah duduk bersandar pada pohon yang melindungi mereka dari sinar matahari. Dan satu persatu dari semua orang di sana ikut mengarahkan pandangan mereka pada Yuxuan, tak terkecuali para bandit yang juga masih berkumpul di sana. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu, hah?!"

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

    Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tanaman obat. Kami benar-benar minta maaf," ujar pimpinan bandit tersebut yang tiba-tiba merendah di hadapan Yuxuan. Wajah para bandit itu sudah babak belur saat ini. "Hei! Kami sudah mengatakannya sejak awal!" sahut Bao Wei tak terima. "Dan kalian tidak peduli!" Chang Pu menimpali. "Eih ... waktu itu aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau mengatakannya sekali lagi, pasti aku mendengarnya." Si pimpinan bandit memberikan pembelaan dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang babak belur dan tidak berbeda dengan anak buahnya. Dia kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan dengan tatapan memohon. "Bagaimana? Kakak sudah membuat kami babak belur seperti ini, jadi bisakah Kakak memb

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 4 : Si Penguasa Pegunungan

    "Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan. Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya dan matanya menyipit ketika bertemu dengan matahari pagi yang belum terlalu panas. "Sudah sampai!" seru Bao Wei kembali dengan penuh semangat. "Kakak ... apa benar ini tempatnya?" teriak Chang Pu. "Hmm..." sahut Yuxuan tak kalah lantang, namun dengan suaranya yang seperti orang yang sedang malas untuk berbicara. Chang Pu dan Bao Wei pun menurunkan keranjang dari punggung mereka lalu mengeluarkan peralatan mereka untuk menggali. "Cari di bagian yang tidak terlalu curam. Jika kalian terjatuh, aku tidak akan menolong kalian," ujar Yuxuan ketika menjangkau tempat mereka. "Kakak selalu mengatakannya setiap hari. Katakanlah hal yang manis sekali saja." Chang Pu yang berjongkok mendon

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 3 : Kambing Liar Tidak Makan Daging

    Ting ... Ting ... Ting ... Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya. Ting ... Ting ... "Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kembali dengan posisi tidurnya yang tengkurap. Ting ... Namun lagi-lagi suara itu terus berputar di telinganya seakan tengah memanggil namanya. Dia pun segera bangkit dan menguap secara berlebihan, diakhiri dengan gelengan kepala. "Pak tua satu ini. Tidak bisakah membiarkanku hidup dengan tenang? Menganggu saja," gerutu Yuxuan dan beranjak berdiri. Meski begitu dia tetap saja menggerutu saat berjalan keluar. "Dia selalu melakukannya setiap hari. Setidaknya berikan satu untukku." Yuxuan keluar dari dalam rumah dan menuruni tangga kayu, kemudian berjalan ke gudang samping rumah di mana suara nyaring yang terus terngiang di kepalanya tersebut berasal. Begitu sampai di depan pintu, Yuxuan l

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 2 : Si Kambing Liar

    "Guru..." "Guru... kami pulang." "Kakak tertua ingin mencongkel mataku." Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya. Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya. "Sudah datang?" Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu. "Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh. "Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status