LOGINTing ...
Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekarangan rumah Tabib Bai. Ting ... Suara teriakan Bao Wei dan Chang Pu yang saling bersahutan tak mampu sampai di telinga Tabib Bai yang saat ini tegah menimpa besi di gudang samping rumahnya. Dan suara itu pula yang berhasil menarik perhatian Menteri Fang yang berjalan tidak jauh di belakang. Sedangkan Bai Yuxuan, ke mana perginya anak itu? Tepat jauh di belakang Menteri Fang, Yuxuan berjalan seperti biasa. Namun kali ini dia seperti tengah menjaga jarak aman dari orang asing yang datang dari Yangcheng tersebut. Chang Pu dan Bao Wei menurunkan keranjang dari bahu mereka dan berjalan menuju gudang, diikuti oleh Menteri Fang setelahnya. "Guru ..." Chang Pu membuka pintu dan berhasil menghentikan pergerakan Tabib Bai. "Oh? Kalian sudah pulang?" "Ya," jawab Chang Pu. "Kami membawa tamu dari Yangcheng" Pernyataan Bao Wei membuat batin Tabib Bai tersentak. Bukan karena mereka membawa seorang tamu, melainkan kata Yangcheng lah yang membuatnya tersentak. Dia kemudian menurunkan palu di tangannya dan beranjak berdiri. "Siapa yang kalian bawa?" "Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Sebelum kedua muridnya sempat menjawab, suara berat terdengar dari arah belakang mereka. Membuat Chang Pu dan Bao Wei menyingkir seakan ingin membuka jalan untuk Menteri Fang yang kemudian menampakkan diri di pintu dan sukses membuat mata Tabib Bai membulat sempurna, tampak begitu terkejut. "Lama tidak melihatmu, Kakak." Menteri Fang memberi penekanan pada kata panggilannya yang sempat ia ucapkan ketika pandangannya bertemu dengan Tabib Bai. Berhenti dari keterkejutannya karena kedatangan Menteri Fang, Tabib Bai langsung berjalan menuju pintu dan melewati tiga orang yang berada di sana. "Apa yang dilakukan kambing liar itu? Bisa-bisanya dia membawa orang asing pulang," gerutu Tabib Bai yang menyertai langkahnya yang terlihat seperti orang yang tengah kesal. Hal itu sempat membuat sebelah alis Menteri Fang terangkat. Bukan karena sikap Tabib Bai di pertemuan pertama mereka, melainkan karena siapa yang baru saja dia sebut sebagai kambing liar dan semuanya segera terjawab ketika Tabib Bai meneriakkan nama si kambing liar. "Hey! Bai Yuxuan! Kau sudah kehilangan akal sehatmu!" hardik Tabib Bai di halaman rumahnya. "Ya ampun, Tabib Bai marah-marah lagi," gumam salah seorang tetangga mereka yang mendengar teriakan Tabib Bai. Yuxuan yang waktu itu hanya beberapa langkah saja untuk bisa menjangkau halaman rumahnya, seketika berhenti ketika Tabib Bai keluar dari gudang dan berhenti di halaman rumah dengan raut wajah yang telah siap untuk mengamuknya. "Apa-apaan orang itu? Apakah dia salah makan tanaman obat lagi?" gumam Yuxuan ketika perasaannya menjadi tidak enak. "Kenapa? Ada apa lagi ..." sahut Yuxuan dengan lantang kemudian sebagai jawaban atas teriakan Tabib Bai sebelumnya. "Di mana otakmu?! Bisa-bisanya kau membawa orang asing pulang ke rumah! Apa kau sudah gila, hah?!!" Yuxuan sejenak menggaruk leher bagian depannya. Dia kemudian memberikan pembelaan. "Berhenti bicara sembarangan. Siapa juga yang membawanya pulang. Tanyakan saja pada dua muridmu itu, kenapa selalu berteriak padaku?" "Apa? Hey! Berani kau membentakku? Dasar kambing gila tidak tahu diri. Aku sudah membesarkanmu selama ini, berani-beraninya kau melawanku, hah!!!" "Hoho ..." Yuxuan tak mau kalah, turut mengeraskan suaranya. "Jika Ayah tidak mau, kenapa masih membawaku? Lemparkan saja aku ke sungai. Begitu saja sudah beres, kenapa malah merengek padaku?" "Apa? Kau! Jika tahu akan begini, sudah aku lempar kau ke sungai sejak dulu!" "Benar, itu memang benar ... harusnya Ayah melemparkan aku ke sungai sejak dulu," balas Yuxuan dengan santai. Di saat para penduduk desa setempat hanya melihat ke arah mereka sembari tersenyum sebelum akhirnya berlalu, terdapat satu orang yang masih tampak tercengang di tempatnya. Dia berharap bahwa dia hanya bermimpi. Tapi sekalipun mimpi, dia sendiri tidak pernah memimpikan hal sekonyol ini. Meninggalkan Yangcheng, menempuh perjalanan jauh sebelum akhirnya berguling-guling di lereng gunung, dan sekarang dia melihat perang mulut antara tabib gila dengan kambing liar. Menteri Fang benar-benar sudah tidak tahan lagi. Dia ingin segera kembali ke Yangcheng dan kembali menjadi Menteri Pertahanan yang disegani, bukannya berada di negeri antah brantah dengan dua makhluk aneh yang masih saja meneruskan perang mulut mereka. "Apa mereka selalu melakukannya?" ujar Menteri Fang yang masih tidak dapat percaya. "Setiap hari." "Setiap waktu." Jawab Chang Pu dan Bao Wei yang saling bersahutan benar-benar telah melenyapkan harapan Menteri Fang akan kehidupan damainya di waktu yang akan datang.. "Mereka ayah dan anak yang sama-sama gila!" •••• Setelah keributan berakhir, Menteri Fang dan Tabib Bai duduk berhadapan berseberangan dengan meja kecil di dalam rumah Tabib Bai. Sedangkan Yuxuan terduduk di tangga teras rumahnya. Meski keduanya telah duduk berhadapan, tapi sepertinya sikap dingin Tabib Bai seakan ingin memulai perang dingin dengan Menteri Fang. "Kakak," Menteri Fang membuka suara. "Pergilah, akan aku anggap tidak pernah melihatmu di sini," ketus Tabib Bai sebelum Menteri Fang meneruskan perkataannya. Menteri Fang memalingkan wajahnya sembari menghela napas yang terlihat sengaja di buat-buat. "Ya ampun ... aku sudah datang jauh-jauh, seharusnya aku mendapatkan segelas air." Brakk! Menteri Fang sedikit terlonjak ketika Tabib Bai tiba-tiba menaruh sebuah cawan di atas meja seperti tengah membantingnya. Bahkan dia hanya meminta segelas air, tapi Tabib Bai terlalu bermurah hati. Mungkin jika dia meminta Yuxuan, Tabib Bai juga pasti akan menyerahkan pemuda itu dengan suka rela. Sebuah pemikiran konyol yang kemudian menerangi pikirannya yang sempat menggelap. "Setelah ini, pergilah!" ucap Tabib Bai, masih dengan cara bicara yang sama. "Eih ... kau ini. Setidaknya tanyakan sesuatu padaku. Apa tujuanku dan bagaimana kabarku. Kenapa kau selalu sekaku ini?" Brakkk ... Menteri Fang kembali terlonjak karena kali ini Tabib Bai benar-benar memukul meja. "Aku tidak mengenalmu, aku tidak peduli dari mana asalmu. Kenapa aku harus tahu tujuanmu?" Sebuah kalimat panjang yang terdengar begitu datar membuat Menteri Fang membutuhkan sedikit waktu untuk mencerna maksud dari perkataan Tabib Bai yang meski dipahami ribuan kali pun, intinya tetap sama yaitu mengusir dirinya. "Sudahlah, aku menyerah. Jangan menyulitkan aku lagi, sudah cukup anakmu itu yang menyusahkan aku," keluh Menteri Fang yang sama sekali tak mendapat respon dari Tabib Bai. Menteri Fang kemudian menatap Tabib Bai dengan lebih serius. Dia sedikit memajukan tubuhnya ke arah Tabib Bai dengan tangan yang berada di atas meja. "Aku datang untuk menjemputnya, sudah waktunya dia untuk pergi," ujar Menteri Fang yang terdengar seperti gumaman. Plak! Satu pukulan di kepala Menteri Fang yang kemudian menyadarkan si Menteri Pertahanan. "K-kenapa? Kenapa?!" protes Menteri Fang sembari memegangi kepalanya yang sebelumnya dipukul oleh Tabib Bai. Plak!! Dua pukulan atas karma dari keluhan sebelumnya. "Apanya yang mau kau bawa? Apanya yang sudah waktunya? Kau ingin main-main denganku, hah?!" Yuxuan sempat tersentak ketika tiba-tiba mendengar teriakan ayahnya dari dalam rumah. Dia pun menoleh ke belakang sembari menggerutu,"apa dia ingin membunuh orang? Kenapa tidak bisa bicara baik-baik." "Hey! Apa Kakak sudah lupa dengan apa yang pernah aku katakan sebelum kau pergi?" "Apa? Apa? Tidak usah bicara dan tinggalkan rumahku," ujar Kim Tabib Bai sembari memukul Menteri Fang beberapa kali sebelum kembali duduk dengan tenang. Mendengarkan helaan napas Menteri Fang yang terdengar begitu menderita, tapi siapa yang peduli. "Aku!" Menteri Fang memberi jeda pada ucapannya yang penuh dengan penekanan seakan ingin menunjukkan keseriusannya. "Akan menjadikannya seorang panglima!" tandasnya. "Matamu sudah tidak benar," gumam Yuxuan. Tapi setelah dia berbicara seperti sebelumnya. "Kau ingin menjadikan anak buruk rupa itu sebagai panglima? Apa perlu aku congkel dulu matamu baru bisa membedakan mana manusia dan mana kambing, hah?!" Yuxuan yang mendengarnya dengan jelas sekilas melihat ke belakang dengan ekor matanya. Dia kemudian menggerutu, "ya ampun, anak sendiri disebut kambing. Jika aku kambing, lalu dia apa?" Sementara Menteri Fang yang sedari tadi bertatap muka dengan Tabib Bai hingga pria itu menyelesaikan teriakannya yang seakan ingin memakan seseorang tersebut, berpikir bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan saat ini. Bagaimanapun juga dia mengalami hal yang lebih sulit dibandingkan dengan turun ke medan perang melawan Beiling, karena saat perang berlangsung kau hanya perlu menarik pedangmu dan menghunuskannya ke arah lawanmu, lalu kemudian kau menang. Tapi situasi yang ia hadapi saat ini berbeda. Dia harus lebih, lebih dan lebih merendah agar bisa membawa seorang anak bernama Bai Yuxuan menginjakkan kakinya di tanah Yangcheng. "Kalau begitu berapa harga anak kambingmu itu? Aku akan membayarnya," celetuk Menteri Fang. "Kau sudah bosan hidup!!!" "Eih ... ayah dan anak sama saja ..." Helaan napas panjang Menteri Fang terbawa angin dan memudar ke udara. Menyatu dengan udara yang menerpa para rombongan prajurit Xia yang kini tengah dalam perjalanan kembali ke negeri mereka setelah kekalahan yang mereka alami.Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekarangan rumah Tabib Bai. Ting ... Suara teriakan Bao Wei dan Chang Pu yang saling bersahutan tak mampu sampai di telinga Tabib Bai yang saat ini tegah menimpa besi di gudang samping rumahnya. Dan suara itu pula yang berhasil menarik perhatian Menteri Fang yang berjalan tidak jauh di belakang. Sedangkan Bai Yuxuan, ke mana perginya anak itu? Tepat jauh di belakang Menteri Fang, Yuxuan berjalan seperti biasa. Namun kali ini dia seperti tengah menjaga jarak aman dari orang asing yang datang dari Yangcheng tersebut. Chang Pu dan Bao Wei menurunkan keranjang dari bahu mereka dan berjalan menuju gudang, diikuti oleh Menteri Fang setelahnya. "Guru ..." Chang Pu membuka pintu dan berhasil me
"Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, dia masih saja merasa kesal terlebih lagi melihat wajah santai Yuxuan yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Sebenarnya bagaimana Paman bisa sampai jatuh? Bukannya jalan di sekitar sini cukup rata?" heran Bao Wei yang langsung diangguki oleh Chang Pu. "Tanyakan saja pada teman kalian itu, kenapa dia menendang orang tua yang sedang bertanya padanya," ujar Menteri Fang sembari mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang tengah duduk bersandar pada pohon yang melindungi mereka dari sinar matahari. Dan satu persatu dari semua orang di sana ikut mengarahkan pandangan mereka pada Yuxuan, tak terkecuali para bandit yang juga masih berkumpul di sana. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu, hah?!"
Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tanaman obat. Kami benar-benar minta maaf," ujar pimpinan bandit tersebut yang tiba-tiba merendah di hadapan Yuxuan. Wajah para bandit itu sudah babak belur saat ini. "Hei! Kami sudah mengatakannya sejak awal!" sahut Bao Wei tak terima. "Dan kalian tidak peduli!" Chang Pu menimpali. "Eih ... waktu itu aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau mengatakannya sekali lagi, pasti aku mendengarnya." Si pimpinan bandit memberikan pembelaan dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang babak belur dan tidak berbeda dengan anak buahnya. Dia kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan dengan tatapan memohon. "Bagaimana? Kakak sudah membuat kami babak belur seperti ini, jadi bisakah Kakak memb
"Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan. Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya dan matanya menyipit ketika bertemu dengan matahari pagi yang belum terlalu panas. "Sudah sampai!" seru Bao Wei kembali dengan penuh semangat. "Kakak ... apa benar ini tempatnya?" teriak Chang Pu. "Hmm..." sahut Yuxuan tak kalah lantang, namun dengan suaranya yang seperti orang yang sedang malas untuk berbicara. Chang Pu dan Bao Wei pun menurunkan keranjang dari punggung mereka lalu mengeluarkan peralatan mereka untuk menggali. "Cari di bagian yang tidak terlalu curam. Jika kalian terjatuh, aku tidak akan menolong kalian," ujar Yuxuan ketika menjangkau tempat mereka. "Kakak selalu mengatakannya setiap hari. Katakanlah hal yang manis sekali saja." Chang Pu yang berjongkok mendon
Ting ... Ting ... Ting ... Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya. Ting ... Ting ... "Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kembali dengan posisi tidurnya yang tengkurap. Ting ... Namun lagi-lagi suara itu terus berputar di telinganya seakan tengah memanggil namanya. Dia pun segera bangkit dan menguap secara berlebihan, diakhiri dengan gelengan kepala. "Pak tua satu ini. Tidak bisakah membiarkanku hidup dengan tenang? Menganggu saja," gerutu Yuxuan dan beranjak berdiri. Meski begitu dia tetap saja menggerutu saat berjalan keluar. "Dia selalu melakukannya setiap hari. Setidaknya berikan satu untukku." Yuxuan keluar dari dalam rumah dan menuruni tangga kayu, kemudian berjalan ke gudang samping rumah di mana suara nyaring yang terus terngiang di kepalanya tersebut berasal. Begitu sampai di depan pintu, Yuxuan l
"Guru..." "Guru... kami pulang." "Kakak tertua ingin mencongkel mataku." Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya. Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya. "Sudah datang?" Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu. "Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh. "Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda







