Home / Historical / Pendekar Titisan Naga Langit / Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

Share

Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

Author: Backin_parade
last update Last Updated: 2026-02-21 09:52:46

Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya.

"Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tanaman obat. Kami benar-benar minta maaf," ujar pimpinan bandit tersebut yang tiba-tiba merendah di hadapan Yuxuan. Wajah para bandit itu sudah babak belur saat ini.

"Hei! Kami sudah mengatakannya sejak awal!" sahut Bao Wei tak terima.

"Dan kalian tidak peduli!" Chang Pu menimpali.

"Eih ... waktu itu aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau mengatakannya sekali lagi, pasti aku mendengarnya." Si pimpinan bandit memberikan pembelaan dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang babak belur dan tidak berbeda dengan anak buahnya. Dia kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan dengan tatapan memohon.

"Bagaimana? Kakak sudah membuat kami babak belur seperti ini, jadi bisakah Kakak membiarkan kami pergi sekarang. Kami berjanji tidak akan mengganggu orang-orang desa setelah ini. Bagaimana?" Pimpinan bandit itu menyatukan telapak tangannya di depan muka dan menggosoknya beberapa kali untuk menyampaikan permintaan maafnya.

"Cih! Enak saja ... kalian babak belur karena kalian yang bodoh," gumam Yuxuan.

"Benar itu," Chang Pu memberikan dukungan penuh.

"Ya, benar sekali. Kalian memang bodoh, padahal kami sudah memperingatkan tapi tidak mau dengar," Bao Wei tak mau ketinggalan. Memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin ketika si kambing liar berada di depannya.

Para bandit tersebut terlihat gemas ingin segera memukul kepala Bao Wei dan Chang Pu yang selalu menyela ucapan pimpinan mereka.

"Kau, siapa namamu?" tegur Yuxuan pada pimpinan bandit.

"Aku?"

"Tentu saja kau! Memangnya aku sedang berbicara dengan siapa?" Yuxuan tiba-tiba meninggikan suaranya.

"Habisi saja mereka, Kakak. Selama ini mereka pasti membuat penduduk desa sebelah kesulitan," Chang Pu memprovokasi Yuxuan.

Bao Wei mengangguk setuju. Mendukung penuh teman baiknya.

"Siapa namamu?" tegur Yuxuan kembali.

Si pimpinan bandit menyahut dengan gugup, "T-Tong Wei , namaku adalah Tong Wei, Kakak."

"Nama ayahmu?"

"Eh?" Pimpinan bandit bernama Tong Wei itu tertegun, terlihat kebingungan.

"Aku bertanya siapa nama ayahmu." Yuxuan hampir kehilangan kesabarannya lagi.

Si bandit Tong Wei menjawab dengan lebih gugup, "a-aku ... aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu."

"Nama kakekmu?"

"Aku tidak tahu."

"Nama bibimu?"

"Aku tidak tahu ..."

"Nama sepupumu?"

"Aku tidak tahu ..."

"Hei!!!" Yuxuan tiba-tiba berteriak.

"Kenapa ..." sahut si bandit Tong Wei dengan putus asa.

"Kau sedang mempermainkanku? Memangnya kalian tidak punya leluhur?!" Yuxuan bertanya sembari menggertak.

Si bandit Tong Wei menjawab dengan lebih putus asa, "aku benar-benar tidak tahu, sungguh ... jika aku tahu, aku tidak akan hidup di gunung seperti ini. Kenapa leluhurku menjadi hal yang penting?"

"Kakak," tegur Chang Pu dengan suara berbisik.

"Ada apa?"

"Benar apa yang dia katakan. Jika dia memiliki keluarga, dia tidak akan hidup menjadi bandit gunung."

"Dilihat dari penampilan mereka, mereka benar-benar terlihat seperti gelandangan," sahut Bao Wei.

Yuxuan dan Chang Pu langsung memandang Bao Wei dengan tatapan menghakimi. Sudah jelas-jelas bahwa pakaian mereka hampir tidak ada bedanya dengan pakaian yang dikenakan oleh para bandit itu.

Bao Wei tiba-tiba merasa tertekan. "K-kenapa? Kenapa melihatku seperti itu?"

"Tidak tahu diri," gumam Yuxuan yang kembali fokus pada para bandit itu. Sedangkan Chang Pu sempat memukul bahu Bao Wei.

"Kalian semua ingin pergi?" ujar Yuxuan kemudian yang langsung diangguki dengan antusias oleh para bandit di hadapannya.

"Kakak ... tidak bisa begitu. Bagaimana mungkin Kakak melepaskan mereka begitu saja?" Bao Wei melayangkan protes.

"Benar ... Kakak melihatnya sendiri bukan? Mataku memar karena dipukul oleh mereka," Chang Pu menimpali sembari menunjuk lebam di matanya.

"Berisik! Menyingkir lah dari telingaku!" gertak Yuxuan dan membuat keduanya langsung mundur seakan ingin memberi jarak antara mereka dengan Yuxuan.

"Pergilah ..." ujar Yuxuan dengan malas.

"Ya, baik, terima kasih ..." Para bandit tersebut menundukkan kepala mereka berkali-kali sebagai ucapan terima kasih.

"Setelah kalian mengumpulkan ginseng untuk kami," tandas Yuxuan.

"Eh?"

"Hahh?"

"Apa?!!"

"Tidak ..."

Untuk beberapa menit ke depan kesenangan menjadi milik Chang Pu dan Bao Wei, mereka tidak perlu susah-susah lagi untuk menggali dan hanya mengarahkan para bandit tersebut agar menuruti perkataan mereka meski itu pun tidak benar karena mereka melakukannya untuk balas dendam.

"Hei! Hei! Kau! Gali yang benar, jika sampai hancur bagaimana?"

"Hei! Bukankah sudah aku katakan bahwa itu bukan ginseng? Berapa kali aku harus menunjukkannya padamu?"

"Hei! Hei! Kau! Hei!!! Bukan begitu caranya, astaga... lihatlah betapa bodohnya kalian."

"Inilah akibatnya jika kalian terlalu sering memakan rumput."

Memisahkan diri, Yuxuan kini duduk di dataran tinggi yang berada tidak jauh di atas mereka, tepat di bawah pohon yang menyembunyikan sosoknya dari matahari. Seulas senyum sinis tercipta di bibir Yuxuan ketika melihat Chang Pu dan Bao Wei tampak tengah bersenang-senang di bawah sana. Dia kemudian hendak berbaring, namun pergerakannya terhenti di tengah jalan.

"Anak muda, ada yang ingin aku tanyakan padamu."

Yuxuan mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang berada tepat di samping ia duduk. Seorang pria memakai topi jerami. Dilihat dari suaranya sepertinya dia sudah berumur. Yuxuan tiba-tiba mengangkat kakinya dan menggunakannya untuk mendorong tubuh pria asing yang sempat membuatnya terkejut meski wajahnya biasa-biasa saja tanpa menunjukkan reaksi terkejut sama sekali.

"Mengagetkan saja," gumam Yuxuan dengan wajah tertegunnya.

Mungkin karena Yuxuan terlalu keras mendorong atau karena dia memang sengaja melakukannya. Pria itu tidak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga dia terpental dan berguling-guling menuruni lereng gunung yang tidak terlalu curam. Namun teriakannya yang menggema berhasil mengundang seluruh perhatian semua orang.

"Aarghhhhhhhh"

"Apa itu? Suara apa itu?" gumam Chang Pu.

"Oh!!!" seru Bao Wei ketika melihat seseorang jatuh dari atas.

Satu persatu dari mereka pun berdiri dan menyaksikan kejadian tersebut dengan mulut yang terbuka. Lalu serempak mengarahkan pandangan mereka pada asal mula pria itu jatuh dan menemukan Yuxuan yang duduk dengan santai seperti sebelumnya meski menyaksikan seseorang yang jatuh dan mungkin saja bisa mati karena ulahnya.

"Apa yang sedang orang itu lakukan?" gumam Bao Wei, masih tertegun.

"Apakah dia masih bisa hidup?" sahut Chang Pu. "Hei! Siapkan pemakaman, kakak bisa dibunuh guru jika ketahuan membunuh orang."

"Bicara sembarangan," sinis Bao Wei.

"Apa dia tidak memakai mata saat berjalan?" ujar si bandit Tong Wei.

"Hei! Oang berjalan dengan kaki, bukannya mata!" ralat Chang Pu.

"Akh! Akh!!! Aduh! Akh ..." Beberapa kata pendek yang berhasil keluar dari mulut si topi jerami.

Topi jerami pria asing tersebut terlempar jauh darinya ketika ia jatuh dan bisa dilihat dengan jelas bahwa pria asing tersebut tidak lain adalah Menteri Pertahanan Fang yang berakhir tragis ketika ia mencoba untuk bertanya arah pada pemuda asing bernama Bai Yuxuan. Naasnya dia bertanya pada orang yang salah. Seharusnya dia bertanya pada manusia, bukannya pada kambing liar milik si tabib gila.

Setelah terlempar cukup jauh, Menteri Pertahanan Fang berhenti berguling ketika berhasil berpegangan pada batu kecil yang sebagian terkubur tanah. Dia menghela nafas leganya. Akan tetapi perasaan kesal tiba-tiba muncul ketika ia teringat akan alasan kenapa dia sampai harus mengalami hal seperti itu setelah melewati perjalanan jauh.

Menteri Pertahanan Fang mendongakkan kepalanya. Melihat ke arah Yuxuan yang masih saja duduk tenang di atas sana padahal bisa saja pria berumur itu mati jika terus berguling di sana. Namun jika Menteri Pertahanan Fang mati hari itu, itu akan menjadi kematian paling memalukan seorang Menteri Pertahanan dalam sejarah Dinasti Xia. Sebuah umpatan lantas tak bisa lagi disimpan dalam hati.

"Anak setan! Awas kau!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 7 : Bertemu Si Tabib Gila Dan Kambing Liar

    Ting ... Ting ... Suara nyaring yang memekakkan telinga berasal dari gudang di samping rumah Yuxuan kembali terdengar. Suara yang bahkan selalu menjadi panggilan alam untuk Yuxuan sebelum fajar menyingsing. "Guru ..." "Kami pulang ..." Chang Pu dan Bao Wei bersahutan ketika memasuki pekarangan rumah Tabib Bai. Ting ... Suara teriakan Bao Wei dan Chang Pu yang saling bersahutan tak mampu sampai di telinga Tabib Bai yang saat ini tegah menimpa besi di gudang samping rumahnya. Dan suara itu pula yang berhasil menarik perhatian Menteri Fang yang berjalan tidak jauh di belakang. Sedangkan Bai Yuxuan, ke mana perginya anak itu? Tepat jauh di belakang Menteri Fang, Yuxuan berjalan seperti biasa. Namun kali ini dia seperti tengah menjaga jarak aman dari orang asing yang datang dari Yangcheng tersebut. Chang Pu dan Bao Wei menurunkan keranjang dari bahu mereka dan berjalan menuju gudang, diikuti oleh Menteri Fang setelahnya. "Guru ..." Chang Pu membuka pintu dan berhasil me

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 6 : Menemukan Permata Yang Tersembunyi

    "Paman, kau baik-baik saja?" Chang Pu membuka pembicaraan dengan Menteri Fang terlebih dulu yang berada tepat di hadapannya yang tengah duduk berjongkok berdampingan dengan Bao Wei, seakan tengah menginterogasi pria berwajah masam itu. Pasalnya sampai dia kembali ke tempat ia jatuh sebelumnya, dia masih saja merasa kesal terlebih lagi melihat wajah santai Yuxuan yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Sebenarnya bagaimana Paman bisa sampai jatuh? Bukannya jalan di sekitar sini cukup rata?" heran Bao Wei yang langsung diangguki oleh Chang Pu. "Tanyakan saja pada teman kalian itu, kenapa dia menendang orang tua yang sedang bertanya padanya," ujar Menteri Fang sembari mengarahkan pandangannya pada Yuxuan yang tengah duduk bersandar pada pohon yang melindungi mereka dari sinar matahari. Dan satu persatu dari semua orang di sana ikut mengarahkan pandangan mereka pada Yuxuan, tak terkecuali para bandit yang juga masih berkumpul di sana. "Apa? Kenapa melihatku seperti itu, hah?!"

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 5 : Percobaan Pembunuhan Si Kambing Liar

    Setelah perkelahian yang tidak berlangsung lama, para bandit gunung tersebut berakhir dengan berlutut di hadapan Bai Yuxuan dan juga Bao Wei serta Chang Pu yang sudah pasti bersembunyi di balik punggungnya. "Kakak, kami benar-benar minta maaf. Kami tidak tahu jika anak-anak itu sedang mencari tanaman obat. Kami benar-benar minta maaf," ujar pimpinan bandit tersebut yang tiba-tiba merendah di hadapan Yuxuan. Wajah para bandit itu sudah babak belur saat ini. "Hei! Kami sudah mengatakannya sejak awal!" sahut Bao Wei tak terima. "Dan kalian tidak peduli!" Chang Pu menimpali. "Eih ... waktu itu aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau mengatakannya sekali lagi, pasti aku mendengarnya." Si pimpinan bandit memberikan pembelaan dengan seulas senyum tipis di wajahnya yang babak belur dan tidak berbeda dengan anak buahnya. Dia kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Yuxuan dengan tatapan memohon. "Bagaimana? Kakak sudah membuat kami babak belur seperti ini, jadi bisakah Kakak memb

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 4 : Si Penguasa Pegunungan

    "Aduh... langitnya cerah sekali," seru Bao Wei yang berjalan berdampingan dengan Chang Pu ketika mereka menginjakkan kaki mereka di pegunungan. Sementara Yuxuan berjalan tidak jauh di belakang mereka seperti biasanya. Yuxuan mengarahkan pandangannya ke langit yang dimaksud oleh Bao Wei sebelumnya dan matanya menyipit ketika bertemu dengan matahari pagi yang belum terlalu panas. "Sudah sampai!" seru Bao Wei kembali dengan penuh semangat. "Kakak ... apa benar ini tempatnya?" teriak Chang Pu. "Hmm..." sahut Yuxuan tak kalah lantang, namun dengan suaranya yang seperti orang yang sedang malas untuk berbicara. Chang Pu dan Bao Wei pun menurunkan keranjang dari punggung mereka lalu mengeluarkan peralatan mereka untuk menggali. "Cari di bagian yang tidak terlalu curam. Jika kalian terjatuh, aku tidak akan menolong kalian," ujar Yuxuan ketika menjangkau tempat mereka. "Kakak selalu mengatakannya setiap hari. Katakanlah hal yang manis sekali saja." Chang Pu yang berjongkok mendon

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 3 : Kambing Liar Tidak Makan Daging

    Ting ... Ting ... Ting ... Bai Yuxuan tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan mata yang setengah terbuka ketika suara nyaring seperti besi yang berbenturan mengganggu tidurnya. Ting ... Ting ... "Hahh ..." Helaan napas beratnya yang terdengar malas mengiringi kepalanya yang terjatuh kembali dengan posisi tidurnya yang tengkurap. Ting ... Namun lagi-lagi suara itu terus berputar di telinganya seakan tengah memanggil namanya. Dia pun segera bangkit dan menguap secara berlebihan, diakhiri dengan gelengan kepala. "Pak tua satu ini. Tidak bisakah membiarkanku hidup dengan tenang? Menganggu saja," gerutu Yuxuan dan beranjak berdiri. Meski begitu dia tetap saja menggerutu saat berjalan keluar. "Dia selalu melakukannya setiap hari. Setidaknya berikan satu untukku." Yuxuan keluar dari dalam rumah dan menuruni tangga kayu, kemudian berjalan ke gudang samping rumah di mana suara nyaring yang terus terngiang di kepalanya tersebut berasal. Begitu sampai di depan pintu, Yuxuan l

  • Pendekar Titisan Naga Langit   Bab 2 : Si Kambing Liar

    "Guru..." "Guru... kami pulang." "Kakak tertua ingin mencongkel mataku." Teriakan Bao Wei dan Chang Pu bersahutan ketika menjangkau halaman salah satu rumah penduduk di sana. Sedangkan si pemuda penunggu batu tersebut berjalan dengan santai tidak jauh di belakang mereka dan masih memegang sebuah tanaman dengan daun yang cukup banyak di ujung tangkainya. Chang Pu dan Bao Wei menaruh keranjang mereka dan duduk di teras rumah yang tampak sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Dan setelahnya dari dalam rumah, keluar pria paruh baya. "Sudah datang?" Chang Pu dan Bao Wei serempak menoleh ke belakang dan sedikit mendongak, melihat seseorang yang baru saja menegur mereka dan berjalan mendekati mereka. "Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?" tanya pria itu. "Tidak sebanyak kemarin," ucap Bao Wei bernada mengeluh. "Mungkin tidak mau tumbuh karena kita mencabutinya setiap hari," sahut Chang Pu. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepala mereka dan sudah bisa dipastikan siapa pelakunya. Pemuda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status