Share

Bab 3

Penulis: Goldhour
Setibanya di kamar asrama, dia meletakkan aku di atas ranjang, lalu menutup tirai ranjang dan pergi mandi.

Aku memeluk bantalnya sambil menggeliat kegirangan, merasa sangat bahagia, hingga rasanya ingin meledak.

Dari balik tirai yang kubuka sedikit, aku memperhatikan punggungnya yang tinggi dan tegap. Aroma maskulin yang kental seolah menusuk masuk ke dalam hidungku.

Hasrat di bagian bawah tubuhku semakin menjadi-jadi. Tanpa sadar aku mencengkeram jari kaki, berusaha menahan rasa geli yang hampir membuatku gila.

Karena sudah tak tahan lagi, aku menyentuhnya, hanya sekali saja, tapi diriku langsung kehilangan kendali dan membasahi ranjang dalam sekejap.

Tolong! Bagaimana ini, aku malah membasahi sprei Simon. Mungkinkah dia menghukumku dengan keras karena hal ini? Lalu menyuruhku menungging dan menjambak rambutku, lalu….

Semakin dipikirkan, pikiranku semakin liar.

Meski sudah mengapit kedua kaki erat-erat, seluruh tubuhku tetap saja gemetaran.

Dari dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air. Aku mengulurkan kepala keluar seperti seorang maling.

Teman-teman sekamarnya tertidur lelap dengan suara dengkur yang seperti guntur. Setelah memastikan mereka semua sudah tidur, aku merayap keluar dari kasur dan membungkuk di depan pintu kamar mandi.

Melalui celah pintu, terlihat punggung Simon yang kekar, otot-ototnya terbentuk sempurna, dadanya tegap, serta perutnya rata dan berotot.

Tetesan air dari ujung rambutnya mengalir perlahan menyusuri bahu menuju lekukan otot perutnya. Aura hormon yang begitu pekat memenuhi seluruh ruangan.

Terutama bagian bawah tubuhnya… astaga! Meski sudah tahu dia punya kelebihan alami, melihatnya secara langsung tetap membuatku terkejut hingga kehabisan kata-kata karena ukurannya yang begitu luar biasa.

Pikiranku dipenuhi imajinasi liar untuk bercinta dengannya, membuatku berulang kali menelan ludah.

Sebuah ide nekat dan gila terlintas di kepala. Aku sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera bercinta dengannya saat ini juga, ingin dihajar dengan kasar tanpa ampun olehnya.

Untuk memastikan semuanya berjalan mulus, aku mengeluarkan beberapa butir obat tidur dan satu butir perangsang dari dalam saku.

Tadinya obat ini disiapkan untuk kuli bangunan itu, sayangnya malah gagal. Untungnya, akhirnya obat ini berguna sekarang.

Setelah diam-diam mencampurkannya ke dalam gelas minumnya, aku menahan detak jantung yang berdebar kencang, lalu kembali masuk ke dalam selimut.

Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih meneteskan air, tubuh bagian atasnya telanjang dan hanya memakai celana pendek.

Tonjolannya begitu besar hingga terlihat seperti bisa menyembul keluar kapan saja.

Aku menelan ludah, rasanya ingin langsung menerjang dan melucuti celananya saat itu juga.

Melihat aku menatapnya dengan mata berbinar, dia agak terkejut dan bertanya, “Masih belum tidur?”

Seolah kerasukan, aku spontan menjawab sedang menunggunya.

Kilatan gairah terpancar dari matanya dan napasnya terdengar semakin berat.

Aku menyodorkan gelas padanya, lalu berkata, “Pasti haus, ‘kan? Aku sudah tuangkan air untukmu.”

“Terima kasih,” jawabnya dengan wajah merona sambil menerima gelas itu.

Melihatnya meneguk habis air itu, barulah aku menghela napas lega.

Mengenai sprei yang basah, aku berbohong bahwa airnya tak sengaja tumpah saat aku menuangkannya tadi. Dia tak menyalahkanku, malah mengambil sprei baru untuk diganti.

Kemudian, dia berbaring di sampingku. Aku menahan napas, menunggu dengan sangat gugup sampai reaksi obatnya bekerja.

Penjualnya bilang obat ini bisa bereaksi hanya dalam 30 detik dan efeknya luar biasa kuat, bahkan seorang biksu pun tak akan sanggup menahannya.

Namun, setelah menunggu selama 3 menit, tetap tidak ada reaksi apa pun. Bahkan tak lama kemudian, aku malah mendengar deru napasnya yang teratur.

Dia malah tertidur?!

Melihat wajahnya yang luar biasa tampan, mana mungkin aku bisa menahannya? Setelah bergulat dalam batin cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk beraksi.

Aku merayap perlahan ke bagian bawah tubuhnya, lalu dengan tangan gemetaran melucuti celana dalamnya.

Astaga, dari jarak sedekat ini, napasku sampai terasa terhenti.

Aku menyibakkan rambut ke satu sisi, baru saja bersiap untuk menikmati hidangan lezat ini, tiba-tiba terasa ada tatapan mata dari arah atas.

Aku mendongak dan mata hitam Simon sedang melototiku, dia bertanya, “Kamu… kamu lagi apain?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penderitaan Tersembunyi Gadis Berkelainan   Bab 7

    Steve dan Stevan adalah sepasang saudara kembar. Ibu mereka meninggal karena bunuh diri.Siapa sangka, ternyata alasan di balik bunuh diri itu adalah ibuku.Bertahun-tahun lalu, ayah Steve dan Stevan yang bernama Haris menggoda ibuku yang saat itu masih polos, bahkan menghamilinya.Karena hamil di luar nikah, ibuku menuntut Haris untuk menikahinya. Namun, Haris malah menghilang seperti ditelan bumi. Ibuku pun mengerahkan segala cara, hingga akhirnya berhasil menemukan rumahnya.Saat ibuku datang menuntut tanggung jawab, barulah ibu Steve dan Stevan tahu bahwa suaminya telah berselingkuh hingga menghamili wanita lain. Wanita itu bahkan datang menuntut pertanggungjawaban.Awalnya, ibuku mengira Haris hanya seorang pria bajingan yang tak bertanggung jawab. Setelah itu baru menyadari bahwa alasannya karena pria itu sudah menikah dan punya anak.Ibuku pun pergi dengan perasaan yang hancur.Sementara itu, ibu Steve dan Stevan sangat terpukul dan tak sanggup menerimanya. Hingga akhirnya neka

  • Penderitaan Tersembunyi Gadis Berkelainan   Bab 6

    Namun, rasa ketagihannya benar-benar terlalu besar. Setiap hari, tanpa kenal tempat, tanpa peduli situasi maupun kondisi.Kemudian, karena sudah tak tahan lagi, dia memilih mengundurkan diri dari kampus dan memintaku untuk ikut juga.Awalnya aku menolak. Aku tak mau merusak masa depan hanya demi berpacaran.Di zaman sekarang, tidak lulus kuliah itu sungguh memalukan. Sampai akhirnya dia menyodorkan sebuah kartu hitam berisi saldo 4 miliar padaku.Siapa sangka, selain tampan dan bertubuh kekar, ternyata dia juga kaya raya.Ya sudah, mengundurkan diri saja kalau begitu.Tak lama setelah mengundurkan diri dari kampus, kami pun menggelar pesta pernikahan.Hanya saja di malam pernikahan, setelah sesi bercinta yang hebat, aku baru saja tertidur dan malah terbangunkan oleh suara aneh di belakangku.Aku membalikkan badan, lalu memeluk lengan di sampingku dengan mata mengantuk dan bertanya, “Sayang, kamu lagi apain? Berisik sekali.”“Sayang, nggak apa-apa.” Dia merangkulku, lalu mengelus punggu

  • Penderitaan Tersembunyi Gadis Berkelainan   Bab 5

    Dia sangat mengerti wanita. Bisikan nakalnya terus mengalun di telinga, berpadu dengan gerakannya yang kasar dan bertenaga. Kenikmatan di tengah rasa malu itu terasa berkali-kali lipat lebih dahsyat.Dia pun terlihat sangat menikmati. Tak butuh waktu lama, suara decitan ranjang mulai bergema di asrama.Aku yang takut langsung mengingatkannya untuk agak pelankan suaranya. Namun, pria yang sudah dikuasai hasrat tak ada bedanya dengan seekor binatang buas. Bukannya memelankan gerakan, dia malah semakin liar tanpa kendali.Suaranya begitu nyaring, seolah-olah dunia hanya milik kami berdua.Alhasil, teman-teman sekamarnya terbangun dan langsung menyibak tirai ranjang kami dengan kasar.Aku menjerit ketakutan, lalu buru-buru menarik selimut untuk menutupi bagian intimku.Akhirnya, Simon panik juga. Dia menatapku dengan raut wajah bersalah.Teman-teman sekamarnya mulai bersorak, “Astaga! Simon, kamu hebat sekali! Kukira kamu itu pria dingin yang nggak mau pacaran sama siapa pun, ternyata mal

  • Penderitaan Tersembunyi Gadis Berkelainan   Bab 4

    Ah! Kok dia bisa bangun?Jantungku rasanya mau melompat keluar dari tenggorokan, tubuhku langsung membeku.Tolong! Aku siap mati, tapi tidak siap menanggung malu seperti ini.Tertangkap basah sedang berusaha mencicipinya, aku benar-benar tak bisa mencari alasan lagi.Kakak idaman ini pasti akan menganggapku wanita nakal yang liar.Meski kelainannya membuat orang tak ada yang mau bersamanya, dia tetap terlihat sangat dingin dan tenang, apalagi dia merupakan ketua himpunan mahasiswa. Dia pasti seorang pria sejati yang tak suka wanita murahan.Melihat aku melakukan hal tak tahu malu saat dirinya tertidur, dia pasti merasa sangat jijik denganku.Aku sangat menyesal, bisa-bisanya seburu-buru ini. Kok tak bisa pelan-pelan saja mengikuti alurnya?Padahal kalau pelan-pelan, mungkin saja aku bisa menjadi pacarnya. Pria yang begitu serasi denganku seperti ini tidak akan pernah bisa kutemukan lagi.Membayangkan kesempatan emas yang sangat langka ini hancur begitu saja, rasanya aku ingin membentu

  • Penderitaan Tersembunyi Gadis Berkelainan   Bab 3

    Setibanya di kamar asrama, dia meletakkan aku di atas ranjang, lalu menutup tirai ranjang dan pergi mandi.Aku memeluk bantalnya sambil menggeliat kegirangan, merasa sangat bahagia, hingga rasanya ingin meledak.Dari balik tirai yang kubuka sedikit, aku memperhatikan punggungnya yang tinggi dan tegap. Aroma maskulin yang kental seolah menusuk masuk ke dalam hidungku.Hasrat di bagian bawah tubuhku semakin menjadi-jadi. Tanpa sadar aku mencengkeram jari kaki, berusaha menahan rasa geli yang hampir membuatku gila.Karena sudah tak tahan lagi, aku menyentuhnya, hanya sekali saja, tapi diriku langsung kehilangan kendali dan membasahi ranjang dalam sekejap.Tolong! Bagaimana ini, aku malah membasahi sprei Simon. Mungkinkah dia menghukumku dengan keras karena hal ini? Lalu menyuruhku menungging dan menjambak rambutku, lalu….Semakin dipikirkan, pikiranku semakin liar. Meski sudah mengapit kedua kaki erat-erat, seluruh tubuhku tetap saja gemetaran.Dari dalam kamar mandi terdengar suara geme

  • Penderitaan Tersembunyi Gadis Berkelainan   Bab 2

    Menghadapi sikap pria itu yang terus memaksa, wanita itu pun kehabisan kata-kata. Detik berikutnya, matanya langsung berbinar begitu melihatku. Dia pun berlari menghampiriku.“Sebenarnya aku ini lesbi, suka sesama wanita. Aku janjian denganmu hanya karena mengira kamu itu sedang membual. Lihat, pacarku sudah datang menjemput!”Wanita itu berbisik pelan di telingaku, “Kak, tolong aku.”Tanpa diduga, detik berikutnya dia langsung mengecup pipiku dengan keras, “Kamu sudah lihat sendiri, ‘kan? Cih!”Setelah itu, dia menggandeng tanganku dan langsung lari, meninggalkan pria itu membeku di tempatnya. Setelah berlari cukup jauh, wanita itu menceritakan kejadian sebenarnya.Sudah setengah tahun dirinya tak melakukan hubungan intim. Lalu di aplikasi kencan, dia melihat seorang pria dengan nama ‘Dewa Dua Batang’.Dia mengira pria itu hanya punya ukuran yang lebih besar dari orang biasa, jadi mereka janjian di area semak-semak untuk bercinta.Tak disangka begitu bertemu, ternyata pria itu benar-

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status