Home / Romansa / Pengacara Itu Mantan Suamiku / Luka Lama Bernama Perceraian

Share

Luka Lama Bernama Perceraian

Author: Queeny
last update Last Updated: 2026-01-22 10:45:37

Aku tidak tahu kapan tepatnya ingatan itu mulai menyerang lagi. Mungkin saat malam terlalu sunyi. Atau ketika tubuhku terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat.

Yang jelas, di balik jeruji besi ini, masa lalu datang tanpa permisi.

Aku terbangun dengan dada sesak. Nafasku pendek, seperti baru saja berlari jauh. Untuk beberapa detik, aku lupa di mana aku berada. 

Yang terbayang justru wajah Raka, tersenyum canggung di balik jas pengantinnya, di hari yang dulu kupikir adalah awal bahagia.

Aku menutup mata.

Terlambat.

Kenangan itu sudah terlanjur membuka pintunya sendiri.

***

Aku masih sangat muda saat itu. Terlalu polos untuk memahami bahwa cinta saja tidak cukup untuk menghadapi dunia orang dewasa.

Raka datang ke hidupku seperti angin tenang. Tidak meledak-ledak, tidak menjanjikan surga. Hanya lelaki mapan yang membuatku merasa aman. 

Raka bukan tipe yang pandai merayu, tapi matanya selalu jujur. Ketika ia melamarku, aku benar-benar percaya bahwa hidup akan baik-baik saja.

Aku lupa satu hal penting: aku tidak menikahi Raka saja. Aku menikahi seluruh dunianya.

Hari pertama aku melangkah ke rumah mereka sebagai istri sah, tatapan itu sudah terasa berbeda. Bukan kebencian terang-terangan, tapi dingin yang menusuk tulang.

Mamanya menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu berkata pelan, "Kamu kelihatan... sederhana sekali."

Kalimat itu terdengar sopan, tapi maknanya menusuk.

Aku tersenyum, menunduk. Sejak hari itu, aku belajar menelan banyak hal sendirian.

Setiap gerakku selalu salah.

Masakanku kurang pas.

Caraku berpakaian dianggap kampungan.

Cara bicaraku dinilai terlalu lembut, tidak pantas untuk istri laki-laki seperti Raka.

Aku berusaha berubah.

Belajar masak menu kesukaan mereka.

Berusaha berbicara lebih percaya diri.

Menahan air mata saat dibandingkan dengan perempuan lain.

Perempuan yang katanya lebih "pantas".

Sekeras apa pun aku mencoba, mereka tetap melihatku sebagai beban. Yang paling menyakitkan bukan perlakuan mereka, tapi diamnya Raka. Awalnya, ia masih membelaku. 

Pelan-pelan. 

Setengah hati.

"Sudahlah, Ma. Selira sudah berusaha."

Lama-lama, suaranya semakin jarang terdengar. Raka mulai memilih diam. Menghindar. Pulang makin larut.

Aku sering menunggunya di ruang tamu dengan perasaan campur aduk... rindu, takut, dan berharap. 

Lampu sengaja kubiarkan menyala meski malam semakin larut, seolah cahaya itu bisa menjadi tanda bahwa aku masih menunggunya pulang. 

Di meja, teh yang kuseduh sudah dingin sejak lama, tapi aku tak beranjak. Aku ingin dia melihatku di sana. 

Menunggu. 

Masih bertahan.

Pintu akhirnya terbuka dengan bunyi pelan. Raka masuk tanpa menoleh, hanya meletakkan tasnya di kursi dan menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah. Namun entah kenapa, kelelahan itu selalu terasa lebih berat bagiku.

"Kenapa pulang malam terus?" tanyaku pelan, berusaha menjaga nada agar tak terdengar menuduh.

"Kerja," jawabnya singkat, tanpa menatapku.

Aku menelan ludah. "Setiap hari? Gak ada hari libur?"

Raka terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Aku menarik napas panjang, menahan sesuatu yang terasa menyesak di dada.

"Kenapa Mama selalu menyalahkanku?" tanyaku akhirnya. Suaraku bergetar meski berusaha tegar. 

"Apa pun yang kulakukan selalu salah di matanya."

Raka mengusap wajahnya lelah. "Jangan dibesar-besarkan, Lira. Mereka cuma belum terbiasa."

Aku berdiri dari kursi, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. 

"Aku sudah berusaha. Aku masak, aku belajar, aku jaga sikap. Tapi kenapa selalu aku yang kurang?"

Raka terdiam. Dan keheningan itu terasa seperti pengakuan.

"Aku istrimu, Raka," ucapku lirih, nyaris berbisik. "Aku bukan orang asing di rumah ini."

Raka menunduk, menghindari tatapanku. Ia terdiam. Dan diamnya itu... lebih menyakitkan dari kata-kata kasar mana pun.

Di saat itulah aku sadar. Aku sedang berjuang sendirian di pernikahan yang seharusnya kami jaga berdua.

Hari demi hari, tekanan itu menggerogoti pernikahan kami. Aku menjadi lebih pendiam. Raka menjadi lebih jauh. 

Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, berubah seperti ruang sidang yang setiap hari menghakimiku.

***

Malam itu Raka baru pulang dari luar kota. Aku yang ditinggal lama merasa kesepian.

Aku berharap dia akan memelukku, melepas rindu walaupun rasanya tak sama seperti dulu. Namun, kata-katanya sungguh menyayat hati. 

"Kamu sudah ke dokter kandungan?"

Aku mengeleng. Rasanya aku lelah mengunjungi rumah sakit. Sudah beberapa bulan ini, aku mengabaikanya. 

"Sudah empat tahun dan mama menunggu."

"Kita berdua sehat dan normal. Mungkin memang belum waktunya," ucapku menjelaskan. 

"Kata Mama, mungkin ini tanda," ucapnya pelan.

"Tanda apa?" tanyaku dengan suara bergetar.

Raka menatapku lama. Lalu berkata, "Mungkin kamu memang bukan yang tepat buat jadi istriku."

Kalimat itu menghancurkanku lebih dari apa pun.

Aku mencoba bertahan. Meminta waktu. Meminta kesempatan, tapi keluarganya sudah bulat.

Dan Raka... memilih diam.

Perceraian kami berjalan cepat. Terlalu cepat untuk sesuatu yang dulu terasa sakral. 

Aku menandatangani surat itu dengan tangan gemetar. Sementara ia duduk di seberang meja tanpa menatap mataku.

Saat aku berdiri hendak pergi, aku sempat menoleh.

"Raka... aku pernah bahagia sama kamu. Aku cuma ingin kamu tahu itu."

Raka tidak menjawab. Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menoleh ke belakang.

Aku baru menyadari segalanya beberapa minggu kemudian.

Tubuhku sering mual. Kepalaku pusing. Aku mengira hanya kelelahan. Sampai suatu pagi, aku pingsan di kamar mandi. 

Aku terbangun di klinik, bau obat menusuk hidung. Seorang bidan menatapku dengan ekspresi lembut tetapi serius.

"Ibu... sudah berapa lama tidak haid?"

Pertanyaan itu membuat dadaku bergetar.

Aku tidak menjawab. Hanya menggeleng pelan. Beberapa menit kemudian, dunia seperti berhenti berputar.

"Ibu hamil," katanya lembut. "Sekitar enam minggu."

Aku membeku.

Enam minggu.

Aku menghitung cepat di kepala. Menghitung hari, tanggal, kenangan.

Itu berarti...

Aku menutup wajah, tubuhku gemetar hebat. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan.

Aku hamil.

Aku mengandung anak Raka. Di saat pernikahan kami sudah berakhir. Di saat ia memilih meninggalkanku.

Aku menekan perut, merasakan sesuatu yang belum bisa kurasakan tapi sudah begitu nyata. 

Takut, bingung, tapi anehnya terasa hangat.

"Maaf," bisikku pada diriku sendiri. "Aku gak tau harus gimana."

Sejak hari itu, aku memutuskan satu hal: aku akan melindungi anak ini, apa pun risikonya. Bahkan jika itu berarti aku harus menyembunyikannya dari dunia.

Termasuk dari ayahnya.

Dan kini, di dalam sel sempit ini, ingatan itu kembali menghantamku tanpa ampun.

Aku menarik selimut tipis menutupi tubuh, berusaha menahan isak yang tak bisa keluar.

"Kenapa sekarang?" bisikku pada diri sendiri. "Kenapa kamu muncul lagi di hidupku... setelah aku hancur?"

Aku memejamkan mata kuat-kuat.

Di luar sana, entah bagaimana, Raka kini berdiri di sisi yang berbeda. 

Bukan sebagai mantan suami. Bukan sebagai orang yang mencintaiku, tapi sebagai seseorang yang ingin membelaku. 

Dan itu... justru membuat lukanya terasa lebih dalam.

Aku menggigit bibir hingga perih.

Karena aku tahu.... 

Jika aku masih mencintainya, maka inilah hukuman terberat yang bisa Tuhan berikan padaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Memilih Tinggal

    Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.Dunia di sekeliling kami seolah memudar. Apartemen yang baru, pagi yang masih menggantung, dan aroma makanan yang masih ada. Semuanya kalah oleh satu kenyataan sederhana.Ada seseorang yang berdiri di hadapanku, tidak meminta, tidak menuntut, hanya menawarkan ruang.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih menempel di dadanya.Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang tenang dan stabil. Tidak tergesa. Tidak memaksa."Aku takut," kataku dengan suara yang serak dan kecil. "Takut kalau ini hanya akan menyakitkan kita lagi."Raka tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di punggungku, tidak bergerak. Dia memberiku waktu untuk menyelesaikan kalimat yang bahkan be

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Jika Itu yang Kamu Mau

    PoV SeliraHari ini hari libur. Arsa tidak sekolah dan aku juga off bekerja.Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Udara terasa ringan, seperti sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin bernapas sedikit lebih lama dari biasanya.Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel apartemen berbunyi.Arsa yang lebih dulu bereaksi. Ia berlari kecil dari ruang tengah. Kausnya sedikit terangkat, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur."Om Raka!" serunya begitu pintu kubuka.Raka berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja tipis berlengan pendek dan celana gelap. Tanpa jas, tanpa wajah serius yang biasa kulihat di ruang sidang.Tangannya membawa satu kantong kertas cokelat."Hari ini kan Arsa libur," katanya ringan. "Jadi... Om bawain roti cokelat kesukaan Arsa.""Beneran? Yang ada cokelatnya banyak?" mata Arsa langsung berbinar."Banyak," jawab Raka. "Kalau Om bohong, Om siap dimarahin."Arsa tertawa kecil, lalu menarik tangan Raka lebih kuat. "Masuk, Om! Mama lagi masak

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Pelukan Terakhir

    Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu."Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui."Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas.Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan.Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Raka memastikan aku memahaminya sejak awal."Tinggallah di sini. Tenang saja, ini bukan hutang."Aku menarik napas panjang begitu pintu tertutup sempurna.Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran hidup yang

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kehilangan yang Paling Jujur

    Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur.Gedung itu akhirnya ada di belakang kami.Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya.Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang.Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perempuan merdeka, aku sudah mengambil satu keputusan penting.Keputusan yang tak pernah kuceritakan padanya.Aku yang menghubungi Bu Rini.Aku yang memintanya datang hari ini, tapi tidak masuk ke ruang sidang.

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Sidang Putusan

    "Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras.Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing.Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim.Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk dada yang terasa sempit.Ketika hakim duduk, aku ikut duduk. Tanganku terlipat di pangkuan, kuku-kukuku menekan kulit sendiri.Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul, menyakiti diri sendiri dalam diam.Hanya untuk memastikan

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Nama yang Terlalu Sering Disebut

    Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman.Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing.Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh.Sampai satu nama muncul.Rendra.Aku menegakkan punggung tanpa sadar.Sekali.Dua kali.Lalu berkali-kali.Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama.Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya.Dadaku terasa hampa.Bukan sakit.Bukan marah.Kosong.Aku menoleh ke arah kursi pengunjung.Rendra duduk tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret hidupnya ke hadapan hukum.Tangannya terlipat rapi, punggungnya tegak, dengan raut wajah datar.Tidak membela diri.Tidak membantah.Tidak juga memohon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status