LOGINAku sudah tak tahu lagi ini hari ke berapa sejak aku berada di tempat ini.
Waktu di penjara tidak berjalan seperti di luar sana.Ia tidak berdetak.
Ia menggenang.
Diam, berat, dan menyesakkan.
Pagi selalu datang tanpa matahari. Yang membangunkanku bukan cahaya, melainkan suara besi beradu. Pintu sel dibuka dengan kasar. Disusul teriakan petugas yang menyuruh kami bangun.
"Bangun! Semua bangun!"
Suara itu menusuk telinga seperti cambuk.
Aku bangkit perlahan dari lantai dingin yang menjadi alas tidur. Tubuhku pegal, punggung terasa seperti diremas sepanjang malam.
Aku sudah hafal ritmenya.
Bangun.
Berbaris.
Cuci muka dengan air dingin yang baunya aneh. Lalu kembali ke dalam sel untuk menunggu waktu makan.
Aku bukan tahanan baru lagi, tapi bukan juga bagian dari mereka. Di sini, itu posisi paling berbahaya.
Para napi lama memandangku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan marah, bukan benci. Lebih seperti... meremehkan. Seolah keberadaanku adalah gangguan kecil yang bisa mereka injak kapan saja.
Aku sering mendengar bisikan.
"Katanya bandar."
"Ah, paling cuma kurir."
"Kelihatan lugu, tapi paling licik."
Aku memilih diam. Diam adalah satu-satunya tameng yang kupunya.
Setiap pagi aku kebagian tugas membersihkan lorong depan blok.Mengepel lantai, mengangkat ember, mengelap dinding yang lembap.
Tanganku kasar, kuku-kuku mulai menghitam. Bau sabun bercampur keringat dan karat besi menempel di kulitku, tak mau hilang walau sudah berkali-kali dicuci.
Kadang ada yang sengaja menyenggol emberku sampai airnya tumpah.
"Makanya kalau jalan tuh lihat-lihat," kata salah satu dari mereka sambil terkekeh.
Aku hanya menunduk dan mengulang dari awal.
Saat jam makan tiba, aku selalu duduk di sudut paling ujung. Piring logam di tanganku sering kali dingin sebelum sempat kusentuh.
Nafsu makanku hilang sejak lama. Bukan karena tidak lapar, tapi karena setiap suapan terasa seperti beban.
Tatapan itu lagi.
Tatapan yang menilai. Menghakimi. Menguliti.
Ada yang sengaja duduk berhadapan denganku, menatap tanpa berkedip sambil mengunyah pelan. Seolah ingin melihat seberapa kuat aku bertahan.
Kadang seseorang menyenggol piringku "tak sengaja".
Kadang sendokku hilang.
Aku sudah belajar untuk tidak bereaksi.
Aku menelan semuanya. Makanan, hinaan, air mata... sendirian.
Namun di tengah semua itu, ada satu wajah yang berbeda.Ratna.
Perempuan itu selalu muncul dengan langkah tenang, rambutnya diikat asal, matanya tajam tapi tidak kejam. Usianya mungkin sepuluh tahun di atasku.
Tubuhnya kurus, tapi sikapnya tegap.
Ia tidak pernah ikut mencemooh. Tidak ikut menatap sinis.Hari pertama Ratna duduk di sebelahku saat makan, aku hampir berdiri dan pergi. Tapi ia justru mendorong piringnya sedikit ke arahku.
"Makan yang banyak," katanya datar. "Kamu kelihatan mau tumbang."
Aku menggeleng cepat. "Nggak apa-apa."
Ratna menatapku lama. "Di sini, yang sok kuat biasanya mati pelan-pelan."
Kalimatnya dingin, tapi anehnya... jujur. Sejak itu, ia sering berada di dekatku. Tidak banyak bicara.
Hanya memastikan aku makan. Kadang memberiku sisa sabun. Kadang mengingatkanku untuk tidak memancing perhatian.
"Jangan berdiri terlalu tegak," katanya suatu kali. "Tapi jangan juga terlalu menunduk. Mereka bisa mencium rasa takut."
Aku menuruti.
Sedikit demi sedikit, aku belajar bertahan. Namun bukan berarti aku kebal.
Malam adalah saat terburuk. Saat lampu dipadamkan, dan suara tangisan lirih terdengar dari berbagai sudut.
Aku sering memeluk lutut, menatap gelap, dan bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana hidupku bisa berakhir di sini?
Bayangan masa lalu datang tanpa diundang.
Wajah Raka.
Hari-hari biasa yang dulu terasa membosankan, kini terasa seperti surga.
Aku membenci diriku sendiri karena masih mengingatnya. Tapi lebih dari itu, aku membenci kenyataan bahwa ia tak ada di sini.
Malam itu, saat aku hampir terlelap, suara Ratna membangunkanku.
"Selira."
Aku membuka mata.
"Kamu jangan patah," katanya pelan. "Aku tau kamu bukan orang jahat."
Dadaku menghangat, perih.
"Aku nggak tau kenapa semua ini terjadi," bisikku.
Ia menatap langit-langit sel yang gelap. "Kadang hidup nggak butuh alasan buat menghancurkan orang baik."
Aku memejamkan mata, menahan air mata, lalu menarik napas panjang yang terasa berat di dada. Suara-suara di blok tahanan mulai mereda, digantikan dengusan napas para penghuni yang terlelap kelelahan.
Lampu redup di lorong menyala setengah, membuat bayangan jeruji jatuh miring di lantai seperti garis-garis penjara yang tak berujung.
Aku memeluk lutut, mencoba menghangatkan diri. Namun justru di saat sunyi itu, pikiranku semakin bising.
Wajah Raka kembali muncul. Bukan yang marah, bukan yang dingin, tapi wajahnya yang menatapku dan tak sempat kuartikan. Campuran antara bersalah... dan tekad.
Aku menelan ludah.
Apa yang sebenarnya ia cari?
Apakah ia datang hanya karena rasa bersalah?
Atau... karena sesuatu yang belum kuketahui?
Pikiranku melayang pada satu ingatan yang sejak tadi berusaha kutepis.
Wajah perempuan itu.
Perempuan yang sering datang ke rumah mertuaku dengan senyum manis dan langkah percaya diri. Dia selalu berpakaian rapi, wangi, dan terlihat begitu... pantas.
Dia atang bukan sebagai tamu asing. Melainkan seperti seseorang yang sudah diterima sepenuhnya.
Aku ingat betul pertama kali melihatnya duduk di ruang tamu, tertawa kecil bersama ibu mertua. Tangannya memegang cangkir teh seolah itu rumahnya sendiri.
Sementara aku, sang istri sah, hanya berdiri di dapur... menyuguhkan minuman, lalu kembali menghilang.
"Ini anaknya teman lama Mama," kata mertuaku waktu itu, sambil tersenyum penuh arti. "Namanya Livia."
Raka hanya mengangguk. Namun matanya tak pernah lepas dari perempuan itu.
Sejak hari itu, Livia sering datang. Kadang sendiri, kadang bersama keluarga.
Mereka pergi bersama. Ke acara keluarga, ke rumah saudara, bahkan sekadar makan di luar.
Aku jarang diajak. Kalau pun ikut, aku lebih sering berjalan beberapa langkah di belakang, seperti bayangan yang tak ingin dilihat.
Yang paling menyakitkan bukan kehadirannya, tapi caranya diterima.
Aku ingat suatu sore, saat aku baru pulang dari pasar dan mendengar suara dari ruang tengah.
Aku berhenti di balik pintu, tidak berniat menguping. Sampai namaku disebut.
"Raka itu kasihan," suara ibu mertuaku terdengar jelas. "Istrinya begitu-begitu saja. Sudah lama menikah, tapi belum juga hamil."
Aku menahan napas.
"Nak, Livia itu cocok sekali sama kamu," lanjutnya. "Pendidikannya bagus, pembawaannya pantas. Kalau kamu mau, mama bisa atur semuanya."
Ada jeda. Lalu suara Raka, pelan tapi tegas.
Terlalu pelan untuk dibantah, terlalu jelas untuk diabaikan.
"Kita lihat nanti, Ma."
Hatiku runtuh saat itu. Bukan karena Raka setuju, tapi karena dia tidak menolak.
Aku berdiri di balik pintu, tangan gemetar, dan dada terasa sesak. Di momen itulah aku sadar.
Aku sedang disisihkan, perlahan tapi pasti.
Aku, istrinya, mulai dianggap sebagai kesalahan yang bisa diperbaiki.
Dan sekarang, di balik jeruji besi ini, kenangan itu kembali menghantamku tanpa ampun. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, napasku tercekat.
Jika benar semua ini berawal dari sana...
Jika benar aku disingkirkan demi membuka jalan bagi perempuan itu...
Maka mungkin aku tidak hanya dikhianati.
Aku dikorbankan.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki di lorong. Bukan langkah petugas ronda malam.
Terlalu pelan.
Terlalu hati-hati.
Langkah itu berhenti tepat di depan sel kami.
Aku menahan napas. Suara seseorang berdehem pelan di balik jeruji.
"Selira..." panggilnya nyaris tak terdengar.
Aku menegakkan badan. Jantungku berdegup keras, seperti ingin menerobos dada.
"Besok kamu akan menjalani sidang pertama," lanjut suara itu, datar tetapi mengandung tekanan.
"Siap-siap saja."
Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.Dunia di sekeliling kami seolah memudar. Apartemen yang baru, pagi yang masih menggantung, dan aroma makanan yang masih ada. Semuanya kalah oleh satu kenyataan sederhana.Ada seseorang yang berdiri di hadapanku, tidak meminta, tidak menuntut, hanya menawarkan ruang.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih menempel di dadanya.Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang tenang dan stabil. Tidak tergesa. Tidak memaksa."Aku takut," kataku dengan suara yang serak dan kecil. "Takut kalau ini hanya akan menyakitkan kita lagi."Raka tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di punggungku, tidak bergerak. Dia memberiku waktu untuk menyelesaikan kalimat yang bahkan be
PoV SeliraHari ini hari libur. Arsa tidak sekolah dan aku juga off bekerja.Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Udara terasa ringan, seperti sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin bernapas sedikit lebih lama dari biasanya.Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel apartemen berbunyi.Arsa yang lebih dulu bereaksi. Ia berlari kecil dari ruang tengah. Kausnya sedikit terangkat, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur."Om Raka!" serunya begitu pintu kubuka.Raka berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja tipis berlengan pendek dan celana gelap. Tanpa jas, tanpa wajah serius yang biasa kulihat di ruang sidang.Tangannya membawa satu kantong kertas cokelat."Hari ini kan Arsa libur," katanya ringan. "Jadi... Om bawain roti cokelat kesukaan Arsa.""Beneran? Yang ada cokelatnya banyak?" mata Arsa langsung berbinar."Banyak," jawab Raka. "Kalau Om bohong, Om siap dimarahin."Arsa tertawa kecil, lalu menarik tangan Raka lebih kuat. "Masuk, Om! Mama lagi masak
Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu."Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui."Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas.Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan.Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Raka memastikan aku memahaminya sejak awal."Tinggallah di sini. Tenang saja, ini bukan hutang."Aku menarik napas panjang begitu pintu tertutup sempurna.Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran hidup yang
Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur.Gedung itu akhirnya ada di belakang kami.Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya.Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang.Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perempuan merdeka, aku sudah mengambil satu keputusan penting.Keputusan yang tak pernah kuceritakan padanya.Aku yang menghubungi Bu Rini.Aku yang memintanya datang hari ini, tapi tidak masuk ke ruang sidang.
"Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras.Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing.Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim.Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk dada yang terasa sempit.Ketika hakim duduk, aku ikut duduk. Tanganku terlipat di pangkuan, kuku-kukuku menekan kulit sendiri.Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul, menyakiti diri sendiri dalam diam.Hanya untuk memastikan
Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman.Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing.Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh.Sampai satu nama muncul.Rendra.Aku menegakkan punggung tanpa sadar.Sekali.Dua kali.Lalu berkali-kali.Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama.Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya.Dadaku terasa hampa.Bukan sakit.Bukan marah.Kosong.Aku menoleh ke arah kursi pengunjung.Rendra duduk tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret hidupnya ke hadapan hukum.Tangannya terlipat rapi, punggungnya tegak, dengan raut wajah datar.Tidak membela diri.Tidak membantah.Tidak juga memohon.







