Home / Romansa / Pengacara Itu Mantan Suamiku / Mantan yang Kini Berpihak

Share

Mantan yang Kini Berpihak

Author: Queeny
last update Last Updated: 2026-01-22 10:45:08

Pagi itu datang tanpa membawa kelegaan apa pun.

Cahaya matahari menembus jeruji kecil di dinding sel, jatuh tepat di wajahku yang belum sepenuhnya terjaga. 

Mataku perih, kepalaku berat. Tubuh ini terasa lengket oleh keringat dan lelah yang tak pernah benar-benar pergi. 

Malam tadi aku hampir tak tidur. Bukan karena suara, tapi karena pikiranku sendiri.

Aku duduk di ranjang bawah, memeluk lutut, menatap lantai kusam yang mulai kuhafal setiap retaknya. 

Bau apek bercampur sabun murahan masih menggantung di udara. Di tempat ini, waktu seperti berjalan lambat, tapi rasa takut justru berlari tanpa henti.

"Selira."

Aku menoleh saat suara sipir memanggil dari balik jeruji.

"Siap-siap. Ada yang mau ketemu."

Jantungku langsung berdebar. Kata-kata itu seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa dadaku terasa mendadak sesak.

"Siapa?" tanyaku pelan.

Sipir itu menatapku sebentar, lalu berkata singkat, "Pengacaramu."

Langkah kakiku terasa berat saat berjalan menyusuri lorong sempit menuju ruang kunjungan. Ada perasaan aneh yang menggelitik di dada.

Campuran cemas, takut, dan... firasat yang tak bisa kujelaskan.

Begitu pintu dibuka, aku langsung berhenti melangkah.

Dia.

Raka.

Duduk di kursi besi itu, rapi seperti biasa, wajahnya tenang tetapi tampak lebih kurus dari terakhir kali kulihat. Jasnya tampak mahal, kontras dengan ruangan kumuh yang memisahkan kami.

Untuk sesaat, aku lupa bernapas.

Dia menoleh. Tatapan kami bertemu.

Dan luka yang kupikir sudah mulai mengering, kembali terbuka.

"Kamu..." Suaraku nyaris tak keluar. "Kenapa kamu datang lagi?"

Raka berdiri perlahan. "Selira..."

Nada suaranya masih sama. Tenang. Dalam. Membuat dada ini terasa semakin sesak.

"Aku sudah bilang," kataku cepat, sebelum ia sempat bicara lebih jauh. "Aku gak butuh bantuan. Terutama dari kamu."

Raka menghela napas. "Aku tau kamu marah."

"Aku bukan marah," potongku, suara bergetar. "Aku lelah. Dan aku gak butuh kamu muncul lagi seolah-olah semuanya baik-baik saja."

Raka mendekat satu langkah. Aku refleks mundur.

"Jangan," kataku tegas. "Jangan dekati aku."

Raka berhenti. Wajahnya mengeras, tapi matanya... penuh sesuatu yang tak bisa kusebutkan.

"Aku datang bukan untuk menyakiti kamu, Selira."

"Lalu untuk apa?" tanyaku, getir. "Untuk menghilangkan rasa bersalahmu? Untuk merasa jadi pahlawan setelah membiarkan aku jatuh sendirian?"

Raka terdiam.

"Aku salah," katanya lirih. "Aku seharusnya berdiri di sampingmu waktu itu."

"Ya," balasku dingin. "Tapi kamu gak melakukannya."

Kami terdiam cukup lama. Suara kipas tua di langit-langit berdecit pelan. Dari luar, terdengar suara teriakan dan langkah sepatu para sipir.

"Aku ke sini bukan untuk mengulang masa lalu," katanya akhirnya. "Aku ke sini karena kamu butuh pengacara."

Aku menatapnya tajam. "Aku gak minta."

"Aku tau, tapi aku tetap datang."

"Kenapa?" tanyaku lirih, hampir putus asa. "Kenapa kamu selalu muncul saat semuanya sudah terlambat?"

Raka menatapku lama, seolah menimbang setiap kata. "Karena kali ini aku gak mau lari."

Hatiku bergetar.

"Kamu pikir dengan datang ke sini semuanya akan selesai?" 

Suaraku meninggi tanpa sadar. 

"Aku dituduh bandar narkoba! Aku dipermalukan, diperlakukan seperti sampah. Apa kamu pikir satu tanda tanganmu bisa menghapus semua itu?"

Raka menggeleng perlahan. "Gak. Tapi aku bisa berjuang agar kebenaran terungkap."

"Aku gak butuh belas kasihanmu."

"Ini bukan belas kasihan."

"Lalu apa?" tanyaku tajam.

Raka menarik napas panjang. "Ini tanggung jawab."

Kata itu menghantamku keras.

"Terlambat," bisikku. "Kamu baru ingat tanggung jawab saat aku sudah hancur."

Raka menatapku dalam-dalam. "Aku tau, aku gak bisa mengubah masa lalu. Tapi izinkan aku memperbaiki yang sekarang."

Aku memalingkan wajah. Dadaku terasa sesak, panas, seperti ada sesuatu yang ingin pecah dari dalam.

"Aku gak yakin bisa mempercayaimu lagi," kataku jujur.

"Aku gak minta kamu percaya sekarang." Suaranya lebih pelan. "Aku hanya minta satu kesempatan."

Aku terdiam lama. Di kepalaku, bayangan Arsa muncul. Wajah kecilnya, tangan yang dulu menggenggam bajuku sambil menangis. 

Demi dia, aku butuh seseorang yang kuat, tapi apakah orang itu harus Raka?

Aku duduk di kursi besi itu dengan kedua tangan saling menggenggam, berusaha menahan gemetar yang masih belum sepenuhnya pergi. 

Raka duduk di seberangku. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Sikapnya tenang.

Terlalu tenang, seolah takut satu gerakan salah bisa membuatku kembali menutup diri.

Kami terdiam cukup lama.

"Oke," jawabku setuju. Lalu aku melihat senyum tipis di bibirnya.

"Maaf... tapi aku mau dengar dari kamu langsung," katanya akhirnya. 

Nada suara Raka terdengar rendah dan hati-hati. "Tanpa tekanan. Tanpa tuduhan."

Aku menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa, kali ini aku tidak langsung menolak. Mungkin karena lelah. Mungkin karena terlalu lama memendam semuanya sendirian.

"Aku gak tahu harus mulai dari mana," ujarku pelan.

"Dari mana saja," jawabnya lembut. "Aku dengar."

Aku menunduk, menatap jemariku sendiri. "Hari itu... kelihatannya biasa. Nggak ada yang aneh. Aku di rumah seharian. Capek, berantakan, tapi biasa saja."

Raka mengangguk, mempersilakanku lanjut.

"Ada orang datang," kataku pelan. "Laki-laki. Dia bilang cuma mau numpang ke kamar mandi. Kontrakanku di pinggir jalan. Orang sering berhenti."

Raka menegang sedikit, tapi tak menyela.

"Aku sempat ragu," lanjutku. "Tapi... aku lagi nggak fokus. Aku pikir, dia cuma sebentar. Jadi aku izinkan."

Aku menarik napas panjang, mengingat-ingat perasaan saat itu. "Dia kelihatannya biasa. Sopan. Nggak lama di dalam. Setelah itu langsung pergi."

Aku mengangkat wajah, menatap Raka. "Dan aku benar-benar nggak kepikiran apa-apa setelahnya. Aku bahkan lupa wajahnya."

Raka menyandarkan punggung ke kursi. "Lalu?"

"Beberapa hari kemudian... polisi datang." Suaraku bergetar. "Mereka bilang ada laporan yang mengatakan bahwa barang terlarang di rumahku."

Aku tertawa kecil, pahit. "Di laci itu."

Aku manarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi. 

"Lucu, ya? Tempat yang bahkan jarang kusentuh, tapi isinya bisa menghancurkan hidupku."

Raka menunduk, rahangnya mengeras. "Kamu yakin itu bukan milikmu?"

Aku menatapnya lurus. "Aku bersumpah demi apa pun. Aku nggak pernah menyentuh barang seperti itu."

Hening sejenak.

"Aku cuma... heran," lanjutku pelan. "Kenapa di hari itu? Kenapa orang itu datang? Kenapa semuanya terasa... terlalu kebetulan."

Raka menghela napas panjang. "Kamu mencurigai orang itu?"

Aku mengangguk pelan. "Aku nggak punya bukti. Tapi sejak di sel... aku terus kepikiran. Aku merasa... dijebak."

Raka terdiam lama. Matanya tak lepas dari wajahku, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi.

"Aku akan cari tau," katanya akhirnya, suaranya lebih tegas. "Siapa pun dia, aku akan temukan."

Aku menatapnya lama. "Kenapa kamu mau sejauh ini?"

Raka terdiam. Lalu suaranya melembut. "Karena aku menyesal. Dan karena... aku nggak bisa tinggal diam lihat kamu hancur untuk sesuatu yang bukan salahmu."

Aku menarik napas panjang. Ada bagian dalam diriku yang ingin percaya. Tapi juga ada bagian lain yang masih takut.

"Raka..." ucapku pelan. "Kalau kamu gagal menemukannya... aku yang menanggung semuanya."

Ia menatapku mantap. "Aku gak akan berhenti."

Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih penuh ragu.

"Aku akan pikirkan," kataku akhirnya, lelah.

Raka mengangguk pelan. "Itu sudah cukup."

Petugas mengetuk pintu, memberi tanda waktu kunjungan habis. Raka melangkah mundur, tapi sebelum pergi, ia berhenti.

"Selira..."

Suara itu terdengar lagi. Lebih rendah. Lebih dalam. Seolah ia menimbang setiap kata sebelum keluar dari mulutnya.

Aku masih membelakanginya dengan debar di dada, juga kepala yang riuh. 

"Aku... gak datang hanya untuk urusan hukum," lanjutnya pelan.

Aku menutup mata.

"Lalu untuk apa?" tanyaku serak, nyaris berbisik.

Aku mendengar dia menarik napas panjang.

"Ada hal lain yang harus aku pastikan."

Aku menoleh perlahan.

"Apa?" tanyaku, datar. Terlalu datar untuk menyembunyikan getar di dalam dada.

Raka menatapku. Pandangannya berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi hanya penuh rasa bersalah, tapi juga... kecurigaan. 

Kekhawatiran. Sesuatu yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup tak beraturan.

"Waktu aku datang ke kontrakanmu untuk melihat TKP," katanya pelan, "aku lihat ada mainan anak di teras. Sepatu kecil. Botol susu."

Napas di dadaku tercekat.

Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang.

"Itu... bukan urusanmu."

"Selira," suaranya mengeras sedikit. "Aku cuma mau tau satu hal."

Aku menatapnya, dan dalam detik itu, aku sadar... dia sudah mencium sesuatu. Sesuatu yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat.

"Waktu aku menceraikanmu..." katanya perlahan, setiap kata seperti menghantam dada, "apa kamu sedang hamil?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Memilih Tinggal

    Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.Dunia di sekeliling kami seolah memudar. Apartemen yang baru, pagi yang masih menggantung, dan aroma makanan yang masih ada. Semuanya kalah oleh satu kenyataan sederhana.Ada seseorang yang berdiri di hadapanku, tidak meminta, tidak menuntut, hanya menawarkan ruang.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih menempel di dadanya.Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang tenang dan stabil. Tidak tergesa. Tidak memaksa."Aku takut," kataku dengan suara yang serak dan kecil. "Takut kalau ini hanya akan menyakitkan kita lagi."Raka tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di punggungku, tidak bergerak. Dia memberiku waktu untuk menyelesaikan kalimat yang bahkan be

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Jika Itu yang Kamu Mau

    PoV SeliraHari ini hari libur. Arsa tidak sekolah dan aku juga off bekerja.Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Udara terasa ringan, seperti sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin bernapas sedikit lebih lama dari biasanya.Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel apartemen berbunyi.Arsa yang lebih dulu bereaksi. Ia berlari kecil dari ruang tengah. Kausnya sedikit terangkat, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur."Om Raka!" serunya begitu pintu kubuka.Raka berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja tipis berlengan pendek dan celana gelap. Tanpa jas, tanpa wajah serius yang biasa kulihat di ruang sidang.Tangannya membawa satu kantong kertas cokelat."Hari ini kan Arsa libur," katanya ringan. "Jadi... Om bawain roti cokelat kesukaan Arsa.""Beneran? Yang ada cokelatnya banyak?" mata Arsa langsung berbinar."Banyak," jawab Raka. "Kalau Om bohong, Om siap dimarahin."Arsa tertawa kecil, lalu menarik tangan Raka lebih kuat. "Masuk, Om! Mama lagi masak

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Pelukan Terakhir

    Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu."Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui."Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas.Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan.Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Raka memastikan aku memahaminya sejak awal."Tinggallah di sini. Tenang saja, ini bukan hutang."Aku menarik napas panjang begitu pintu tertutup sempurna.Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran hidup yang

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kehilangan yang Paling Jujur

    Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur.Gedung itu akhirnya ada di belakang kami.Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya.Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang.Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perempuan merdeka, aku sudah mengambil satu keputusan penting.Keputusan yang tak pernah kuceritakan padanya.Aku yang menghubungi Bu Rini.Aku yang memintanya datang hari ini, tapi tidak masuk ke ruang sidang.

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Sidang Putusan

    "Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras.Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing.Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim.Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk dada yang terasa sempit.Ketika hakim duduk, aku ikut duduk. Tanganku terlipat di pangkuan, kuku-kukuku menekan kulit sendiri.Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul, menyakiti diri sendiri dalam diam.Hanya untuk memastikan

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Nama yang Terlalu Sering Disebut

    Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman.Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing.Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh.Sampai satu nama muncul.Rendra.Aku menegakkan punggung tanpa sadar.Sekali.Dua kali.Lalu berkali-kali.Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama.Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya.Dadaku terasa hampa.Bukan sakit.Bukan marah.Kosong.Aku menoleh ke arah kursi pengunjung.Rendra duduk tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret hidupnya ke hadapan hukum.Tangannya terlipat rapi, punggungnya tegak, dengan raut wajah datar.Tidak membela diri.Tidak membantah.Tidak juga memohon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status