Home / Romansa / Pengacara Itu Mantan Suamiku / Luka yang Tak Pernah Sembuh

Share

Luka yang Tak Pernah Sembuh

Author: Queeny
last update Last Updated: 2026-01-14 22:08:09

Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Terlalu nyata. Terlalu menyakitkan untuk dilupakan.

Hujan turun sejak sore, membasahi atap seng rumah kontrakan kecil kami. Angin berdesir lewat celah jendela yang tak pernah benar-benar rapat. 

Aku baru saja menidurkan Arsa, setelah ia rewel sejak sore. Demamnya belum sepenuhnya turun. Aku masih menempelkan handuk basah di dahinya, ketika suara gedoran keras mengguncang pintu depan.

“Buka! Polisi!”

Aku tersentak. Jantungku seolah berhenti berdetak.

“Ma, ada apa?” Arsa menggeliat, matanya setengah terbuka.

“Gak apa-apa, Nak. Tidur lagi,” bisikku, berusaha setenang mungkin meski tanganku gemetar hebat.

Gedoran itu semakin keras. Disusul suara beberapa orang yang saling berteriak. 

Aku berdiri dengan kaki lemas, melangkah menuju pintu dengan napas tercekat. Saat pintu kubuka, beberapa pria berseragam sudah berdiri di depanku. 

Wajah mereka tegas, dingin, tanpa ekspresi.

“Selira Wulandari?” tanya salah satu dari mereka.

“I-iya. Ada apa, Pak?”

Tanpa banyak bicara, mereka langsung masuk. Satu orang mengeluarkan surat, satu lagi mulai menggeledah rumah. 

Aku terpaku, tak paham apa yang sedang terjadi.

“Ini ada apa? Tolong jelaskan!” Suaraku mulai meninggi, panik merayap ke dada.

“Kami mendapat laporan dan bukti awal terkait dugaan kepemilikan narkotika di rumah ini.”

Dunia seakan runtuh di kakiku.

“Apa? Itu gak mungkin! Saya nggak pernah—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, salah satu dari mereka mengeluarkan bungkusan plastik kecil dari laci dapur. 

Isinya putih, mencurigakan.

“Kami temukan ini.”

Aku terhuyung. “Itu bukan milik saya! Saya gak tau itu apa!”

Tapi kata-kataku terdengar seperti angin lewat. Mereka tak peduli. Tak ada yang mau mendengar.

“Bu, mohon ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan.”

“Gak mau! Tolong… saya gak bersalah!” 

Suaraku bergetar. Air mata mulai jatuh. 

“Saya punya anak kecil. Tolong….”

Aku berlari ke arah Arsa, memeluk tubuh kecilnya erat-erat. Ia menangis ketakutan, memanggilku dengan suara lirih yang menghancurkan hatiku.

“Mama… jangan pergi… jangan tinggalin Arsa…”

Tanganku gemetar memeluknya. “Mama di sini, Nak. Mama di sini…”

Namun detik berikutnya, tangan-tangan asing menarikku menjauh darinya.

“Jangan sentuh anak saya!” teriakku histeris.

Tangisan Arsa semakin kencang. Ia berusaha mengejarku, tapi tubuh kecilnya dihalangi oleh salah satu petugas.

“Mama… Mama!”

Jeritannya menembus dadaku seperti pisau.

Aku berontak. Menangis. Memohon. Tapi semua sia-sia.

Borgol dingin melingkar di pergelangan tanganku.

Klik.

Suara itu seperti vonis mati.

Aku diseret keluar rumah, masih menoleh ke belakang, melihat Arsa berdiri di ambang pintu. Wajahnya basah oleh air mata, tangan kecilnya terulur padaku.

Di halaman, beberapa tetangga sudah berkumpul. Ada yang menatap iba. Ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang hanya menonton dengan wajah penasaran.

“Mama! Jangan pergi!”

Aku menjerit histeris. 

“Arsa! Mama di sini! Mama gak akan pergi! Ibu janji!”

Aku sudah hampir menyerah ketika dari balik kerumunan aku melihat sosok yang kukenal.

Bu Rini.

Tetangga depan rumah yang sering meminjamkan gula, yang kadang menggendong Arsa saat aku harus ke warung, yang sering tersenyum hangat meski hidupnya sendiri tak mudah. 

Dia berdiri terpaku di dekat pintu. Wajahnya pucat dengan kedua tangan yang gemetar saat melihatku diborgol.

Dan di pelukannya… Arsa. Anakku.

Aku berhenti meronta. Nafasku tercekat. Pandanganku mengabur oleh air mata.

“Bu Rini!” teriakku dengan sisa tenaga. 

“Bu… tolong…”

Ia menoleh, matanya berkaca-kaca. Arsa meronta dalam gendongannya, tangannya terulur ke arahku.

“Mama! Mama jangan pergi!” jeritnya, suaranya pecah.

Dadaku seperti diremas kuat-kuat.

“Bu Rini!” suaraku pecah. “Tolong… tolong jagain Arsa. Tolong ya… jangan tinggalin dia sendirian. Dia masih kecil, dia masih butuh aku…”

Aku tak lagi peduli siapa yang melihat. Air mataku mengalir deras, tubuhku gemetar hebat. Aku hampir berlutut di hadapannya.

Bu Rini mengangguk cepat tanpa berkata. Namun, justru itu menghantam dadaku lebih keras dari borgol di pergelangan tangan.

“Makasi… makasih, Bu.” Suaraku patah. “Tolong bilang ke Arsa… bilang mamanya nggak ninggalin dia. Bilang mama cuma pergi sebentar…”

Aku menangis tersedu-sedu. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan lagi.

Arsa meronta lebih keras. Tangisnya menusuk jantungku seperti ribuan jarum.

Aku berusaha mendekat, tapi dua polisi menahanku. Aku hanya bisa mengulurkan tangan sejauh yang kubisa.

“Ibu di sini, Nak. Ibu di sini…” Suaraku hancur. 

“Jadi anak baik ya. Dengar kata Bu Rini. Jangan nakal… Mama pasti pulang…”

Pintu mobil terbuka. Aku didorong masuk.

Sebelum pintu tertutup, pandanganku bertemu sekali lagi dengan mata Arsa yang sembab, tangan kecilnya masih terulur, mulutnya memanggil namaku tanpa suara.

“Ma… ”

Pintu ditutup. 

Bunyi besi itu seperti palu yang menghantam dadaku.

Mobil mulai berjalan.

Dan di balik kaca yang buram oleh air mata, aku melihat sosok kecil itu semakin menjauh, dipeluk oleh tetangga yang berusaha menenangkannya.

Sementara aku, ibunya, dibawa pergi tanpa bisa berbuat apa-apa.

Saat itulah aku sadar… bukan hanya kebebasanku yang direnggut malam itu. Tapi juga separuh dari jiwaku.

***

Di kantor polisi, aku diinterogasi berjam-jam. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan seperti peluru.

Sejak kapan kau memakai? 

Dari mana barang itu? 

Siapa pemasokmu? 

Sudah berapa lama kau mengedarkannya?

Aku menjawab semuanya dengan satu kalimat yang sama.

Aku tidak tahu.

“Tolong, saya gak tau apa-apa,” kataku berkali-kali. Suaraku serak, tenggorokan perih.

Mereka saling pandang. Ada yang mencatat, ada yang mendesah bosan.

“Kami punya bukti,” kata salah satu penyidik dingin. “Dan saksi.”

“Saksi?” Aku tertawa pahit. “Siapa? Siapa yang bilang itu milik saya?”

Tak ada jawaban. Yang ada hanya tatapan yang seolah sudah memvonisku bersalah.

Saat malam menjelang, aku duduk sendirian di sel sementara. Dingin. Bau lembap. Lantai keras menusuk tulang. 

Aku memeluk lutut, membiarkan air mata jatuh tanpa suara.

Aku mencoba mengingat setiap detail hidupku beberapa hari terakhir. Siapa yang datang ke rumah. Siapa yang menitipkan barang. Siapa yang mungkin membenciku.

Dan tiba-tiba, satu nama melintas di benakku.

Nama yang membuat dadaku sesak.

Seseorang yang belakangan ini sering datang… terlalu sering.

Seseorang yang tahu kebiasaanku.

Seseorang yang pernah menawarkan “bantuan”.

Hatiku berdebar keras.

Tidak… tidak mungkin.

Aku menggeleng kuat, menolak pikiran itu. Namun satu hal yang pasti: aku dijebak.

Dan kini, aku sendirian.

Tak ada suami. Tak ada keluarga. Tak ada siapa-siapa. Hanya tembok dingin dan masa depan yang gelap.

Aku memeluk tubuhku sendiri, berusaha menahan tangis yang kembali naik.

“Ya Allah…” bisikku lirih. “Kalau memang ini ujian-Mu… tolong, jangan ambil anakku.”

Air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Di luar sana, dunia terus berjalan. Namun di dalam sel sempit itu, hidupku seperti berhenti.

Dan aku belum tahu… bahwa ini baru permulaan dari mimpi buruk yang jauh lebih kejam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Memilih Tinggal

    Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.Dunia di sekeliling kami seolah memudar. Apartemen yang baru, pagi yang masih menggantung, dan aroma makanan yang masih ada. Semuanya kalah oleh satu kenyataan sederhana.Ada seseorang yang berdiri di hadapanku, tidak meminta, tidak menuntut, hanya menawarkan ruang.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih menempel di dadanya.Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang tenang dan stabil. Tidak tergesa. Tidak memaksa."Aku takut," kataku dengan suara yang serak dan kecil. "Takut kalau ini hanya akan menyakitkan kita lagi."Raka tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di punggungku, tidak bergerak. Dia memberiku waktu untuk menyelesaikan kalimat yang bahkan be

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Jika Itu yang Kamu Mau

    PoV SeliraHari ini hari libur. Arsa tidak sekolah dan aku juga off bekerja.Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Udara terasa ringan, seperti sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin bernapas sedikit lebih lama dari biasanya.Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel apartemen berbunyi.Arsa yang lebih dulu bereaksi. Ia berlari kecil dari ruang tengah. Kausnya sedikit terangkat, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur."Om Raka!" serunya begitu pintu kubuka.Raka berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja tipis berlengan pendek dan celana gelap. Tanpa jas, tanpa wajah serius yang biasa kulihat di ruang sidang.Tangannya membawa satu kantong kertas cokelat."Hari ini kan Arsa libur," katanya ringan. "Jadi... Om bawain roti cokelat kesukaan Arsa.""Beneran? Yang ada cokelatnya banyak?" mata Arsa langsung berbinar."Banyak," jawab Raka. "Kalau Om bohong, Om siap dimarahin."Arsa tertawa kecil, lalu menarik tangan Raka lebih kuat. "Masuk, Om! Mama lagi masak

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Pelukan Terakhir

    Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu."Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui."Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas.Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan.Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Raka memastikan aku memahaminya sejak awal."Tinggallah di sini. Tenang saja, ini bukan hutang."Aku menarik napas panjang begitu pintu tertutup sempurna.Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran hidup yang

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kehilangan yang Paling Jujur

    Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur.Gedung itu akhirnya ada di belakang kami.Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya.Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang.Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perempuan merdeka, aku sudah mengambil satu keputusan penting.Keputusan yang tak pernah kuceritakan padanya.Aku yang menghubungi Bu Rini.Aku yang memintanya datang hari ini, tapi tidak masuk ke ruang sidang.

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Sidang Putusan

    "Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras.Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing.Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim.Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk dada yang terasa sempit.Ketika hakim duduk, aku ikut duduk. Tanganku terlipat di pangkuan, kuku-kukuku menekan kulit sendiri.Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul, menyakiti diri sendiri dalam diam.Hanya untuk memastikan

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Nama yang Terlalu Sering Disebut

    Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman.Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing.Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh.Sampai satu nama muncul.Rendra.Aku menegakkan punggung tanpa sadar.Sekali.Dua kali.Lalu berkali-kali.Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama.Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya.Dadaku terasa hampa.Bukan sakit.Bukan marah.Kosong.Aku menoleh ke arah kursi pengunjung.Rendra duduk tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret hidupnya ke hadapan hukum.Tangannya terlipat rapi, punggungnya tegak, dengan raut wajah datar.Tidak membela diri.Tidak membantah.Tidak juga memohon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status