Share

Pengacara Itu Mantan Suamiku
Pengacara Itu Mantan Suamiku
Author: Queeny

Wajah Dari Masa Lalu

Author: Queeny
last update Last Updated: 2026-01-14 08:26:58

"Selira... ada tamu."

Suara petugas lapas itu terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Namun bagiku, kalimat itu seperti palu yang menghantam dada. 

Tanganku yang sejak tadi memeluk lutut langsung gemetar. Aku mengangkat wajah perlahan, menatap pintu besi yang setengah terbuka.

Tamu?

Tak pernah ada yang menjengukku. Sejak hari pertama aku ditahan, tak satu pun wajah yang kukenal datang. 

Tidak keluarga. 

Tidak teman. 

Tidak siapa-siapa.

Aku berdiri dengan langkah ragu. Sandal tipis di kakiku berbunyi pelan menyentuh lantai dingin. Jantungku berdetak semakin cepat seiring langkah yang semakin dekat ke ruang tamu lapas.

Dan saat pintu itu dibuka, dunia seolah berhenti berputar. Dia berdiri di sana, tegap dan rapi.

Wajah yang dulu begitu kukenal, kini terasa asing sekaligus menyakitkan. Tatapannya tajam, tetapi menyimpan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.

Raka Wiratama.

Nama itu seperti pisau yang mengiris ingatanku tanpa ampun.

"Selira..."

Suaranya masih sama, dalam juga tenang. Dan berhasil membuat dadaku terasa sesak.

Aku mematung. Kaki seakan menolak melangkah lebih jauh. Aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Bukan karena rindu, tapi karena luka yang belum sembuh tiba-tiba disobek lagi.

"Kenapa kamu di sini?" tanyaku dengan suara bergetar, bahkan nyaris tak keluar.

Raka menatapku lama, terlalu lama. Seolah dia sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam dada.

"Aku... aku ke sini untuk menemui kamu."

Aku terkekeh kecil, getir. "Menemui aku? Setelah semua yang terjadi?"

Raka menghela napas, lalu menunduk sejenak sebelum kembali menatapku. "Aku dengar kamu ditahan."

"Hebat. Kabar itu cepat sekali sampai ke telingamu," sindirku pahit.

Aku ingin terlihat kuat. Ingin tampak tak peduli, tapi tubuhku berkhianat. Tanganku bergetar. Kakiku terasa lemas.

Aku masih bisa merasakan dinginnya borgol di pergelangan tangan beberapa hari lalu. Masih terngiang suara anakku yang menangis histeris saat mereka menarikku pergi.

Dan sekarang... orang yang dulu meninggalkanku, berdiri di depanku seolah-olah dia punya hak untuk peduli.

"Kamu gak seharusnya datang," ucapku lirih. "Pergilah."

Raka menggeleng pelan. "Aku nggak bisa."

Aku tertawa kecil, getir. "Lucu. Dulu kamu juga bilang begitu, tapi nyatanya kamu pergi."

Raka terdiam. Tatapannya berubah. Ada sesuatu di sana. Penyesalan, mungkin. Atau rasa bersalah yang selama ini dia kubur rapi.

"Aku nggak tau kamu akan... sejauh ini," katanya akhirnya.

"Sejauh apa?" aku menantang. "Dipenjara? Dituduh bandar narkoba?"

Napasnya tercekat.

Aku melangkah mendekat, menahan emosi yang sejak tadi bergejolak. 

"Kamu tau apa yang paling menyakitkan, Raka? Bukan borgol ini. Bukan jeruji besi. Tapi kenyataan bahwa saat hidupku hancur, orang yang dulu bersumpah melindungiku justru nggak ada."

Raka memejamkan mata sesaat.

"Aku nggak tau semuanya akan seperti ini," katanya pelan.

"Nggak," potongku. "Kamu memang gak pernah tau. Karena kamu nggak pernah mau tau."

Aku memalingkan wajah, menahan air mata yang mendesak keluar. Aku tidak mau menangis di depannya. 

Tidak sekarang. 

Tidak lagi.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lalu Raka berkata dengan suara rendah, "Aku datang bukan sebagai mantan suamimu."

Aku menoleh tajam.

"Lalu sebagai apa?" tanyaku sinis.

"Sebagai orang yang akan membelamu."

Kata-kata itu membuatku terdiam.

"Apa maksudmu?"

"Aku akan jadi kuasa hukummu, Selira."

Darahku seakan berhenti mengalir.

Aku menatapnya tak percaya. "Ah ya, aku lupa, Pak Pengacara."

"Aku serius."

Aku tertawa pelan, tapi kali ini terdengar rapuh. 

"Setelah semua yang terjadi. Setelah keluargamu menghinaku. Setelah kau menceraikanku tanpa bertanya. Sekarang kamu mau jadi pahlawan?"

"Ini bukan tentang itu."

"Lalu tentang apa?" Suaraku meninggi.

"Tentang rasa bersalahmu? Atau tentang citra dirimu sebagai pengacara hebat yang menolong mantan istrinya?"

Raka terdiam lama. Terlalu lama.

"Aku tau kamu nggak akan langsung percaya," katanya akhirnya. "Tapi aku yakin... kamu dijebak."

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Aku menoleh tajam. "Kamu pikir aku nggak tau itu?"

"Kalau begitu, biarkan aku membuktikannya."

Aku menggeleng pelan. "Gak! Aku nggak butuh. Aku bisa menghadapi semuanya."

"Kamu sendirian, Selira," katanya lirih. "Kamu nggak punya siapa-siapa."

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan.

Mataku panas. Tenggorokanku tercekat.

"Pergi," bisikku. "Pergi sebelum aku benar-benar hancur di depanmu."

Raka berdiri diam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang berat, dia berkata, 

"Aku nggak akan pergi. Bukan kali ini."

Aku menatapnya dengan mata basah, campuran marah, sakit, dan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang selama ini kupendam.

"Kalau begitu," kataku lirih, "bersiaplah melihat sisi hidupku yang paling gelap."

Pintu ruang tamu itu terbuka setengah. Bunyi engselnya berderit pelan, seperti ikut menahan napas bersamaku.

"Waktu kunjungan habis." Suara petugas terdengar datar.

Aku berdiri. Kakiku terasa kaku, tapi aku memaksa melangkah. Di belakangku, aku bisa merasakan tatapan Raka masih melekat, seolah ingin menahanku tanpa berani menyentuh.

Aku berjalan dua langkah lalu berhenti.

Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Ada sesuatu yang belum tuntas. Sesuatu yang harus keluar, atau akan membusuk selamanya di dalam dadaku.

Aku berbalik.

Raka masih di sana dengan wajah yang tegang. Mata itu, mata yang dulu selalu menatapku penuh janjinkini terlihat ragu, bersalah, dan takut.

"Selira..." Suaranya parau.

Aku mengangkat tangan, menghentikannya.

"Jangan panggil namaku dengan suara seperti itu."

Raka terdiam.

Aku melangkah mendekat, cukup dekat hingga dia bisa melihat jelas bagaimana mataku tak lagi menyimpan harapan.

"Kamu tau kenapa aku bisa setenang ini sekarang?" tanyaku pelan.

Raka menggeleng.

"Karena aku sudah berhenti berharap padamu sejak lama."

Raka menelan ludah. Rahangnya mengeras.

Aku tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan daripada tangis.

"Dulu, saat mamamu mulai terang-terangan menjodohkanmu. Saat perempuan itu mulai sering datang ke rumah, duduk di ruang tamu seolah-olah aku nggak ada...." 

Suaraku bergetar sebentar, tapi kutahan. "Aku menunggu kamu bicara. Satu kalimat saja. Tapi kamu diam."

Raka menunduk.

Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, lebih dingin.

"Jadi, sampaikan salamku padanya."

Raka mengangkat kepala, menatapku.

"Perempuan yang diam-diam merencanakan hidupmu. Perempuan yang direstui keluargamu untuk menggantikan posisiku." 

Aku tersenyum miris. 

"Bilang padanya... dia menang."

Raka tampak ingin menyangkal, tapi tak satu pun kata keluar.

"Dan bilang juga," lanjutku. Suaraku kini nyaris berbisik, "bahwa perempuan yang dia singkirkan ini... sudah nggak punya apa-apa lagi untuk direbut."

Aku melangkah mundur.

"Kecuali harga diri."

Aku berbalik, melangkah pergi. Kali ini tanpa ragu.

Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan. Namun di dadaku, sesuatu runtuh dengan suara yang jauh lebih keras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Memilih Tinggal

    Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.Dunia di sekeliling kami seolah memudar. Apartemen yang baru, pagi yang masih menggantung, dan aroma makanan yang masih ada. Semuanya kalah oleh satu kenyataan sederhana.Ada seseorang yang berdiri di hadapanku, tidak meminta, tidak menuntut, hanya menawarkan ruang.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih menempel di dadanya.Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang tenang dan stabil. Tidak tergesa. Tidak memaksa."Aku takut," kataku dengan suara yang serak dan kecil. "Takut kalau ini hanya akan menyakitkan kita lagi."Raka tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di punggungku, tidak bergerak. Dia memberiku waktu untuk menyelesaikan kalimat yang bahkan be

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Jika Itu yang Kamu Mau

    PoV SeliraHari ini hari libur. Arsa tidak sekolah dan aku juga off bekerja.Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Udara terasa ringan, seperti sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin bernapas sedikit lebih lama dari biasanya.Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel apartemen berbunyi.Arsa yang lebih dulu bereaksi. Ia berlari kecil dari ruang tengah. Kausnya sedikit terangkat, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur."Om Raka!" serunya begitu pintu kubuka.Raka berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja tipis berlengan pendek dan celana gelap. Tanpa jas, tanpa wajah serius yang biasa kulihat di ruang sidang.Tangannya membawa satu kantong kertas cokelat."Hari ini kan Arsa libur," katanya ringan. "Jadi... Om bawain roti cokelat kesukaan Arsa.""Beneran? Yang ada cokelatnya banyak?" mata Arsa langsung berbinar."Banyak," jawab Raka. "Kalau Om bohong, Om siap dimarahin."Arsa tertawa kecil, lalu menarik tangan Raka lebih kuat. "Masuk, Om! Mama lagi masak

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Pelukan Terakhir

    Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu."Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui."Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas.Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan.Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Raka memastikan aku memahaminya sejak awal."Tinggallah di sini. Tenang saja, ini bukan hutang."Aku menarik napas panjang begitu pintu tertutup sempurna.Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran hidup yang

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kehilangan yang Paling Jujur

    Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur.Gedung itu akhirnya ada di belakang kami.Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya.Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang.Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perempuan merdeka, aku sudah mengambil satu keputusan penting.Keputusan yang tak pernah kuceritakan padanya.Aku yang menghubungi Bu Rini.Aku yang memintanya datang hari ini, tapi tidak masuk ke ruang sidang.

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Sidang Putusan

    "Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras.Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing.Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim.Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk dada yang terasa sempit.Ketika hakim duduk, aku ikut duduk. Tanganku terlipat di pangkuan, kuku-kukuku menekan kulit sendiri.Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul, menyakiti diri sendiri dalam diam.Hanya untuk memastikan

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Nama yang Terlalu Sering Disebut

    Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman.Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing.Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh.Sampai satu nama muncul.Rendra.Aku menegakkan punggung tanpa sadar.Sekali.Dua kali.Lalu berkali-kali.Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama.Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya.Dadaku terasa hampa.Bukan sakit.Bukan marah.Kosong.Aku menoleh ke arah kursi pengunjung.Rendra duduk tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret hidupnya ke hadapan hukum.Tangannya terlipat rapi, punggungnya tegak, dengan raut wajah datar.Tidak membela diri.Tidak membantah.Tidak juga memohon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status