Share

Jeruji dan Luka Baru

Author: Queeny
last update Last Updated: 2026-01-14 22:09:06

Malam di dalam sel tidak pernah benar-benar gelap, tapi juga tidak pernah terang.

Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, seolah kelelahan menjaga cahaya yang tak pernah benar-benar berguna. Bau pengap bercampur keringat, sabun murahan, dan sesuatu yang apek.

Bau putus asa, mungkin.

Aku duduk di pojok ranjang susun bawah, memeluk lutut. Baju tahanan berwarna kusam itu mulai terasa lembap, menempel di kulitku. 

Rambutku lengket, lengket oleh keringat dan ketakutan yang tak sempat kering sejak hari pertama. Sudah tiga hari aku berada di sini.

Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun.

Suara-suara di dalam sel tak pernah benar-benar berhenti. Ada tawa kasar, ada umpatan, ada suara sandal diseret malas di lantai semen. Di tempat ini, sunyi justru terasa lebih menakutkan daripada kebisingan.

Aku tahu, di sini, menjadi tahanan baru berarti menjadi mangsa.

"Eh, yang kasus narkoba itu, ya?"

Suara itu datang dari sudut ruangan. Aku tak menoleh, tapi tubuhku menegang. Napasku tertahan.

"Katanya ketangkep bawa barang banyak. Gila juga ya, mukanya polos begitu."

"Halah, tampang polos justru paling licik," sahut yang lain disusul tawa mengejek.

Aku menggigit bibir, menahan gemetar. 

Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa aku bahkan tak pernah menyentuh barang haram itu seumur hidupku. Namun di sini, kebenaran tak punya tempat.

"Katanya dulu istri orang kaya, ya?" suara lain menimpali. "Sekarang jatuhnya kayak gini."

Aku memejamkan mata. Setiap kata seperti tusukan kecil yang perlahan melubangi pertahananku.

Aku tidak membunuh siapa pun.

Aku tidak mengedarkan apa pun.

Tapi siapa yang peduli?

"Eh, itu dia yang baru itu, kan?"

Langkah kaki mendekat. Aku bisa merasakan bayangan seseorang menutupi cahaya di depanku. Perlahan, aku mengangkat kepala.

Seorang perempuan bertubuh besar berdiri di hadapanku. Rambutnya pendek, ada tato samar di lehernya.

Tatapannya dingin, penuh penilaian.

"Kamu Selira?" tanyanya datar.

"I-iya," jawabku pelan.

Dia mengangguk pelan, lalu tersenyum miring. "Katanya kamu ketangkep karena narkoba. Hebat juga ya, kelihatannya alim."

Aku menelan ludah. "Aku gak--"

"Ssst." 

Perempuan itu mengangkat tangan, menghentikanku. "Santai. Aku cuma mau kenalan."

Dua perempuan lain berdiri di belakangnya, menyeringai seolah menikmati ketakutanku.

"Di sini," lanjutnya, "yang baru harus tau aturan. Supaya hidupnya nggak susah."

Aku menunduk. "Saya nggak mau masalah."

Dia tertawa kecil. "Bagus. Karena masalah itu mahal di sini."

Tangannya menyentuh daguku sebentar. Cukup ringan, tapi membuat bulu kudukku meremang. 

"Nama gue Wulan. Ingat baik-baik."

Aku mengangguk cepat.

"Kalau mau aman," lanjutnya santai, "kamu bantu-bantu kami. Nyuci, beresin, apa aja. Anggap aja bayar perlindungan."

Aku ragu. "Aku... aku bisa coba."

Wulan tersenyum puas. 

"Pinter."

Wulan melangkah pergi bersama dua anak buahnya. Saat mereka menjauh, aku baru menyadari napasku gemetar hebat.

Aku kembali duduk, memeluk lutut. Tanganku dingin, tubuhku bergetar meski udara pengap. Di tempat ini, kebaikan dianggap kelemahan. 

Aku... terlalu rapuh untuk dunia seperti ini.

Malam itu aku hampir tak tidur. Setiap suara kecil membuatku terlonjak. Aku memeluk diri sendiri, menahan isak yang terus mendesak keluar.

Pikiranku melayang pada satu malam yang terasa seperti mimpi buruk.

Malam ketika semuanya berubah.

Suara gedoran keras di pintu rumah. Lampu menyala. 

Arsa menangis ketakutan. 

Polisi masuk tanpa ragu. Menggeledah setiap sudut. Lalu plastik bening itu ditemukan.

Di laci dapur yang bahkan jarang kugunakan.

Aku masih bisa merasakan dinginnya borgol di pergelangan tangan. Masih bisa mendengar jeritan anakku memanggil namaku saat aku diseret pergi.

"Aku gak tau... aku gak tau itu apa..."

Tapi tak ada yang percaya.

Dan sekarang, aku di sini.

Dianggap pengedar. Dicap kriminal. Dijauhi bahkan oleh sesama tahanan.

Mataku terpejam, tapi pikiranku tak pernah benar-benar bisa diam.

Aku mencoba mengingat.

Mengais satu per satu potongan hari sebelum semuanya hancur.

Siapa...

Siapa yang terakhir datang ke rumahku?

Aku menarik napas panjang, mencoba menyusun ingatan seperti kepingan kaca yang berserakan.

***

Hari itu sebenarnya biasa saja. Siang yang panas, jalan di depan kontrakan ramai oleh kendaraan yang lewat. 

Kontrakanku memang persis di pinggir jalan besar. Ada puluhan rumah petak dengan model yang sama di kawasan ini.

Truk, motor, angkot, semuanya berlalu-lalang. 

Aku sudah terbiasa dengan orang berhenti sebentar. Entah bertanya alamat, entah sekadar minta izin numpang ke kamar mandi.

Dan saat itu... seseorang memang datang.

Aku terdiam, napasku tercekat.

Aku ingat sekarang.

Ada ketukan di pintu, tidak keras tapi cukup sopan. Aku membuka, di depanku berdiri seorang pria. 

Wajahnya biasa saja, tak asing, tapi juga tak terlalu kuingat. Mungkin karena sering melihat orang berlalu-lalang di depan rumah, wajah-wajah seperti itu mudah terlupakan.

"Permisi, Bu," katanya waktu itu, nadanya sopan. "Boleh numpang ke kamar kecil sebentar? Saya dari tadi di jalan, sudah nggak tahan."

Aku sempat ragu karena Arsa sedang demam. Aku lelah dan lelaki itu tampak biasa saja. 

Tidak menyeramkan. 

Tidak mencurigakan.

"Sebentar saja ya, Pak," kataku waktu itu. "Silakan."

Aku bahkan masih ingat aku sempat menunjukkan arah ke kamar mandi di belakang dapur. Lalu aku kembali ke kamar Arsa, mengelap kening dan membenarkan selimutnya.

Aku tidak tahu berapa lama pria itu di dalam. Rasanya tidak lama. Beberapa menit saja.

Aku ingat suara pintu kamar mandi dibuka, lalu langkah kaki menjauh. Ia sempat mengucapkan terima kasih. Aku hanya mengangguk sambil menggendong Arsa yang mulai rewel.

Dan setelah itu... tidak ada yang aneh.

Atau setidaknya, aku tidak menyadarinya.

Sekarang, duduk di lantai dingin penjara ini, ingatan itu berubah menjadi pisau yang perlahan menusuk kesadaranku.

Bagaimana kalau...

Bagaimana kalau saat itu dia tidak hanya ke kamar mandi?

Bagaimana kalau ia masuk ke dapur?

Bagaimana kalau ia membuka laci itu?

Dadaku sesak. Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

"Gak... Itu gak mungkin..." gumamku dengan suara bergetar.

Terlalu kebetulan.

Aku teringat kembali bagaimana polisi menemukan bungkusan itu. Di laci dapur, tepat di tempat yang hampir tak pernah kubuka. Tempat yang bahkan aku sendiri jarang sentuh.

Dan aku... aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali membukanya.

Kepalaku berdenyut.

"Ya Allah..." bisikku, nyaris menangis. "Kalau memang dia... kenapa? Kenapa harus aku?"

Aku menekan dada, berusaha menenangkan napas yang mulai tak beraturan.

Mungkinkah dia bagian dari semua ini?

Mungkinkah ada seseorang yang sengaja memanfaatkan kebaikanku... kebiasaanku percaya pada orang?

Tiba-tiba rasa dingin menjalar di punggungku.

Aku teringat satu hal lagi.

Setelah hari itu, aku memang merasa ada yang aneh. Seperti ada mata yang mengawasiku. Seperti ada sesuatu yang bergeser dari tempatnya, meski aku tak pernah yakin apa.

Dan sekarang... sekarang semuanya terasa masuk akal dengan cara yang paling menyakitkan.

Aku menutup mata, air mata menetes pelan.

"Kalau memang kamu yang melakukannya...." bisikku lirih di antara isak, "gimana bisa kamu setega itu?"

Hening menjawabku.

Tak ada suara selain napasku sendiri dan gema langkah para sipir di kejauhan.

Aku menarik napas panjang, menahan gemetar di seluruh tubuh.

Satu hal kini jelas bagiku... aku tidak dijebak secara acak.

Seseorang telah merencanakannya.

Dan orang itu... pernah berdiri di depan pintu rumahku, berpura-pura menjadi orang biasa. 

Sementara aku, dengan bodohnya, membukakan pintu tanpa curiga.

Aku mengusap wajah, air mata jatuh membasahi lantai sel.

Jika aku ingin bertahan...

aku harus mengingat segalanya.

Karena satu-satunya cara untuk keluar dari neraka ini... adalah menemukan siapa yang telah mendorongku masuk ke dalamnya.

***

Pagi datang tanpa belas kasihan.

Aku mencuci pakaian Wulan dan teman-temannya di bak semen kecil. 

Airnya keruh, dingin. Tanganku perih, kulitku mengelupas. Namun, aku tetap mengucek, menunduk, menelan semua hinaan.

"Yang bersih, ya. Jangan asal," kata salah satu dari mereka sambil mengunyah roti.

Aku mengangguk.

Saat kembali ke sel, seorang sipir melirikku sekilas. 

"Kamu yang baru itu, ya? Hati-hati di sini. Jangan cari masalah."

Aku hanya mengangguk. Seandainya dia tahu... aku bahkan tak tahu bagaimana caranya mencari masalah.

Malam berikutnya, saat semua terlelap, aku duduk memeluk lutut di ranjang bawah. Lampu redup memantul di dinding kusam. Nafasku berat, dadaku sesak.

Aku teringat wajah Arsa. Senyumnya. Tangannya yang kecil menggenggam bajuku waktu aku ditarik pergi.

"Mama janji akan pulang, Nak," bisikku lirih. "Tunggu Mama."

Tiba-tiba suara langkah mendekat.

Aku menegang.

Bayangan seseorang jatuh di lantai. Aku mendongak perlahan. Wulan berdiri di sana.

"Belum tidur?" katanya pelan, tapi nadanya mengandung ancaman.

Aku menggeleng. "Belum."

Ia mendekat, terlalu dekat. "Kamu cepat belajar, ya. Tapi jangan lupa, di sini yang kuat yang bertahan."

Aku menunduk, berusaha menahan gemetar.

Wulan tersenyum kecil. "Besok, bangun lebih pagi. Banyak kerjaan."

Setelah Wulan pergi, aku menghembuskan napas panjang. Dadaku terasa sesak, seperti ditekan beban tak kasat mata.

Aku berbaring, menatap langit-langit gelap. Air mata menetes tanpa suara.

"Ya Allah..." bisikku. "Aku gak tau sampai kapan aku kuat."

Dalam kegelapan itu, satu nama tiba-tiba terlintas di benakku.

Raka.

Entah kenapa, memikirkan namanya membuat dadaku sedikit menghangat... dan sekaligus perih.

"Kalau kamu benar-benar akan menolongku..." bisikku pelan, hampir seperti doa, "datanglah sebelum aku benar-benar hancur."

Di kejauhan, terdengar langkah kaki mendekat. 

Berat. 

Pelan.

Seolah sengaja.

Aku menahan napas.

Bayangan seseorang berhenti tepat di depan ranjangku.

"Masih bangun?" suara itu terdengar rendah, berbahaya.

Aku menelan ludah.

Lampu berkedip satu kali... lalu padam.

Dan di dalam gelap itu, jantungku berdegup seolah hendak pecah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Memilih Tinggal

    Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.Dunia di sekeliling kami seolah memudar. Apartemen yang baru, pagi yang masih menggantung, dan aroma makanan yang masih ada. Semuanya kalah oleh satu kenyataan sederhana.Ada seseorang yang berdiri di hadapanku, tidak meminta, tidak menuntut, hanya menawarkan ruang.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih menempel di dadanya.Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang tenang dan stabil. Tidak tergesa. Tidak memaksa."Aku takut," kataku dengan suara yang serak dan kecil. "Takut kalau ini hanya akan menyakitkan kita lagi."Raka tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di punggungku, tidak bergerak. Dia memberiku waktu untuk menyelesaikan kalimat yang bahkan be

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Jika Itu yang Kamu Mau

    PoV SeliraHari ini hari libur. Arsa tidak sekolah dan aku juga off bekerja.Langit cerah, tapi tidak menyilaukan. Udara terasa ringan, seperti sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin bernapas sedikit lebih lama dari biasanya.Aku sedang menyiapkan sarapan ketika bel apartemen berbunyi.Arsa yang lebih dulu bereaksi. Ia berlari kecil dari ruang tengah. Kausnya sedikit terangkat, rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur."Om Raka!" serunya begitu pintu kubuka.Raka berdiri di depan pintu dengan pakaian santai. Kemeja tipis berlengan pendek dan celana gelap. Tanpa jas, tanpa wajah serius yang biasa kulihat di ruang sidang.Tangannya membawa satu kantong kertas cokelat."Hari ini kan Arsa libur," katanya ringan. "Jadi... Om bawain roti cokelat kesukaan Arsa.""Beneran? Yang ada cokelatnya banyak?" mata Arsa langsung berbinar."Banyak," jawab Raka. "Kalau Om bohong, Om siap dimarahin."Arsa tertawa kecil, lalu menarik tangan Raka lebih kuat. "Masuk, Om! Mama lagi masak

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Pelukan Terakhir

    Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar.Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah.Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu."Ini hak kamu, Selira," katanya waktu itu, tanpa nada menggurui."Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu."Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas.Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan.Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Raka memastikan aku memahaminya sejak awal."Tinggallah di sini. Tenang saja, ini bukan hutang."Aku menarik napas panjang begitu pintu tertutup sempurna.Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran hidup yang

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Kehilangan yang Paling Jujur

    Pov RakaAku berdiri beberapa langkah di belakang Selira.Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku.Tanganku terlipat di depan dada, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur.Gedung itu akhirnya ada di belakang kami.Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya.Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang.Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perempuan merdeka, aku sudah mengambil satu keputusan penting.Keputusan yang tak pernah kuceritakan padanya.Aku yang menghubungi Bu Rini.Aku yang memintanya datang hari ini, tapi tidak masuk ke ruang sidang.

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Sidang Putusan

    "Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras.Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing.Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim.Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk dada yang terasa sempit.Ketika hakim duduk, aku ikut duduk. Tanganku terlipat di pangkuan, kuku-kukuku menekan kulit sendiri.Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu muncul, menyakiti diri sendiri dalam diam.Hanya untuk memastikan

  • Pengacara Itu Mantan Suamiku   Nama yang Terlalu Sering Disebut

    Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman.Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing.Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh.Sampai satu nama muncul.Rendra.Aku menegakkan punggung tanpa sadar.Sekali.Dua kali.Lalu berkali-kali.Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama.Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya.Dadaku terasa hampa.Bukan sakit.Bukan marah.Kosong.Aku menoleh ke arah kursi pengunjung.Rendra duduk tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diseret hidupnya ke hadapan hukum.Tangannya terlipat rapi, punggungnya tegak, dengan raut wajah datar.Tidak membela diri.Tidak membantah.Tidak juga memohon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status