เข้าสู่ระบบMalam di dalam sel tidak pernah benar-benar gelap, tapi juga tidak pernah terang.
Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, seolah kelelahan menjaga cahaya yang tak pernah benar-benar berguna. Bau pengap bercampur keringat, sabun murahan, dan sesuatu yang apek.
Bau putus asa, mungkin.
Aku duduk di pojok ranjang susun bawah, memeluk lutut. Baju tahanan berwarna kusam itu mulai terasa lembap, menempel di kulitku.
Rambutku lengket, lengket oleh keringat dan ketakutan yang tak sempat kering sejak hari pertama. Sudah tiga hari aku berada di sini.
Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun.
Suara-suara di dalam sel tak pernah benar-benar berhenti. Ada tawa kasar, ada umpatan, ada suara sandal diseret malas di lantai semen. Di tempat ini, sunyi justru terasa lebih menakutkan daripada kebisingan.
Aku tahu, di sini, menjadi tahanan baru berarti menjadi mangsa.
"Eh, yang kasus narkoba itu, ya?"
Suara itu datang dari sudut ruangan. Aku tak menoleh, tapi tubuhku menegang. Napasku tertahan.
"Katanya ketangkep bawa barang banyak. Gila juga ya, mukanya polos begitu."
"Halah, tampang polos justru paling licik," sahut yang lain disusul tawa mengejek.
Aku menggigit bibir, menahan gemetar.
Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa aku bahkan tak pernah menyentuh barang haram itu seumur hidupku. Namun di sini, kebenaran tak punya tempat.
"Katanya dulu istri orang kaya, ya?" suara lain menimpali. "Sekarang jatuhnya kayak gini."
Aku memejamkan mata. Setiap kata seperti tusukan kecil yang perlahan melubangi pertahananku.
Aku tidak membunuh siapa pun.
Aku tidak mengedarkan apa pun.
Tapi siapa yang peduli?
"Eh, itu dia yang baru itu, kan?"
Langkah kaki mendekat. Aku bisa merasakan bayangan seseorang menutupi cahaya di depanku. Perlahan, aku mengangkat kepala.
Seorang perempuan bertubuh besar berdiri di hadapanku. Rambutnya pendek, ada tato samar di lehernya.
Tatapannya dingin, penuh penilaian.
"Kamu Selira?" tanyanya datar.
"I-iya," jawabku pelan.
Dia mengangguk pelan, lalu tersenyum miring. "Katanya kamu ketangkep karena narkoba. Hebat juga ya, kelihatannya alim."
Aku menelan ludah. "Aku gak--"
"Ssst."
Perempuan itu mengangkat tangan, menghentikanku. "Santai. Aku cuma mau kenalan."
Dua perempuan lain berdiri di belakangnya, menyeringai seolah menikmati ketakutanku.
"Di sini," lanjutnya, "yang baru harus tau aturan. Supaya hidupnya nggak susah."
Aku menunduk. "Saya nggak mau masalah."
Dia tertawa kecil. "Bagus. Karena masalah itu mahal di sini."
Tangannya menyentuh daguku sebentar. Cukup ringan, tapi membuat bulu kudukku meremang.
"Nama gue Wulan. Ingat baik-baik."
Aku mengangguk cepat.
"Kalau mau aman," lanjutnya santai, "kamu bantu-bantu kami. Nyuci, beresin, apa aja. Anggap aja bayar perlindungan."
Aku ragu. "Aku... aku bisa coba."
Wulan tersenyum puas.
"Pinter."
Wulan melangkah pergi bersama dua anak buahnya. Saat mereka menjauh, aku baru menyadari napasku gemetar hebat.
Aku kembali duduk, memeluk lutut. Tanganku dingin, tubuhku bergetar meski udara pengap. Di tempat ini, kebaikan dianggap kelemahan.
Aku... terlalu rapuh untuk dunia seperti ini.
Malam itu aku hampir tak tidur. Setiap suara kecil membuatku terlonjak. Aku memeluk diri sendiri, menahan isak yang terus mendesak keluar.
Pikiranku melayang pada satu malam yang terasa seperti mimpi buruk.
Malam ketika semuanya berubah. Suara gedoran keras di pintu rumah. Lampu menyala.Arsa menangis ketakutan.
Polisi masuk tanpa ragu. Menggeledah setiap sudut. Lalu plastik bening itu ditemukan.
Di laci dapur yang bahkan jarang kugunakan.
Aku masih bisa merasakan dinginnya borgol di pergelangan tangan. Masih bisa mendengar jeritan anakku memanggil namaku saat aku diseret pergi.
"Aku gak tau... aku gak tau itu apa..."
Tapi tak ada yang percaya.
Dan sekarang, aku di sini. Dianggap pengedar. Dicap kriminal. Dijauhi bahkan oleh sesama tahanan.Mataku terpejam, tapi pikiranku tak pernah benar-benar bisa diam.
Aku mencoba mengingat.
Mengais satu per satu potongan hari sebelum semuanya hancur.Siapa...
Siapa yang terakhir datang ke rumahku?
Aku menarik napas panjang, mencoba menyusun ingatan seperti kepingan kaca yang berserakan.
***
Hari itu sebenarnya biasa saja. Siang yang panas, jalan di depan kontrakan ramai oleh kendaraan yang lewat.
Kontrakanku memang persis di pinggir jalan besar. Ada puluhan rumah petak dengan model yang sama di kawasan ini.
Truk, motor, angkot, semuanya berlalu-lalang.
Aku sudah terbiasa dengan orang berhenti sebentar. Entah bertanya alamat, entah sekadar minta izin numpang ke kamar mandi.
Dan saat itu... seseorang memang datang.
Aku terdiam, napasku tercekat.
Aku ingat sekarang.
Ada ketukan di pintu, tidak keras tapi cukup sopan. Aku membuka, di depanku berdiri seorang pria.
Wajahnya biasa saja, tak asing, tapi juga tak terlalu kuingat. Mungkin karena sering melihat orang berlalu-lalang di depan rumah, wajah-wajah seperti itu mudah terlupakan.
"Permisi, Bu," katanya waktu itu, nadanya sopan. "Boleh numpang ke kamar kecil sebentar? Saya dari tadi di jalan, sudah nggak tahan."
Aku sempat ragu karena Arsa sedang demam. Aku lelah dan lelaki itu tampak biasa saja.
Tidak menyeramkan.
Tidak mencurigakan.
"Sebentar saja ya, Pak," kataku waktu itu. "Silakan."
Aku bahkan masih ingat aku sempat menunjukkan arah ke kamar mandi di belakang dapur. Lalu aku kembali ke kamar Arsa, mengelap kening dan membenarkan selimutnya.
Aku tidak tahu berapa lama pria itu di dalam. Rasanya tidak lama. Beberapa menit saja.
Aku ingat suara pintu kamar mandi dibuka, lalu langkah kaki menjauh. Ia sempat mengucapkan terima kasih. Aku hanya mengangguk sambil menggendong Arsa yang mulai rewel.
Dan setelah itu... tidak ada yang aneh.
Atau setidaknya, aku tidak menyadarinya.
Sekarang, duduk di lantai dingin penjara ini, ingatan itu berubah menjadi pisau yang perlahan menusuk kesadaranku.
Bagaimana kalau...
Bagaimana kalau saat itu dia tidak hanya ke kamar mandi?Bagaimana kalau ia masuk ke dapur?
Bagaimana kalau ia membuka laci itu?Dadaku sesak. Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
"Gak... Itu gak mungkin..." gumamku dengan suara bergetar.
Terlalu kebetulan.
Aku teringat kembali bagaimana polisi menemukan bungkusan itu. Di laci dapur, tepat di tempat yang hampir tak pernah kubuka. Tempat yang bahkan aku sendiri jarang sentuh.
Dan aku... aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali membukanya.
Kepalaku berdenyut.
"Ya Allah..." bisikku, nyaris menangis. "Kalau memang dia... kenapa? Kenapa harus aku?"
Aku menekan dada, berusaha menenangkan napas yang mulai tak beraturan.
Mungkinkah dia bagian dari semua ini?
Mungkinkah ada seseorang yang sengaja memanfaatkan kebaikanku... kebiasaanku percaya pada orang?
Tiba-tiba rasa dingin menjalar di punggungku.
Aku teringat satu hal lagi.
Setelah hari itu, aku memang merasa ada yang aneh. Seperti ada mata yang mengawasiku. Seperti ada sesuatu yang bergeser dari tempatnya, meski aku tak pernah yakin apa.
Dan sekarang... sekarang semuanya terasa masuk akal dengan cara yang paling menyakitkan.
Aku menutup mata, air mata menetes pelan.
"Kalau memang kamu yang melakukannya...." bisikku lirih di antara isak, "gimana bisa kamu setega itu?"
Hening menjawabku.
Tak ada suara selain napasku sendiri dan gema langkah para sipir di kejauhan.
Aku menarik napas panjang, menahan gemetar di seluruh tubuh.
Satu hal kini jelas bagiku... aku tidak dijebak secara acak.
Seseorang telah merencanakannya.
Dan orang itu... pernah berdiri di depan pintu rumahku, berpura-pura menjadi orang biasa.
Sementara aku, dengan bodohnya, membukakan pintu tanpa curiga.
Aku mengusap wajah, air mata jatuh membasahi lantai sel.
Jika aku ingin bertahan...
aku harus mengingat segalanya.Karena satu-satunya cara untuk keluar dari neraka ini... adalah menemukan siapa yang telah mendorongku masuk ke dalamnya.
***
Pagi datang tanpa belas kasihan.
Aku mencuci pakaian Wulan dan teman-temannya di bak semen kecil.Airnya keruh, dingin. Tanganku perih, kulitku mengelupas. Namun, aku tetap mengucek, menunduk, menelan semua hinaan.
"Yang bersih, ya. Jangan asal," kata salah satu dari mereka sambil mengunyah roti.
Aku mengangguk.
Saat kembali ke sel, seorang sipir melirikku sekilas.
"Kamu yang baru itu, ya? Hati-hati di sini. Jangan cari masalah."
Aku hanya mengangguk. Seandainya dia tahu... aku bahkan tak tahu bagaimana caranya mencari masalah.
Malam berikutnya, saat semua terlelap, aku duduk memeluk lutut di ranjang bawah. Lampu redup memantul di dinding kusam. Nafasku berat, dadaku sesak.
Aku teringat wajah Arsa. Senyumnya. Tangannya yang kecil menggenggam bajuku waktu aku ditarik pergi.
"Mama janji akan pulang, Nak," bisikku lirih. "Tunggu Mama."
Tiba-tiba suara langkah mendekat.
Aku menegang.
Bayangan seseorang jatuh di lantai. Aku mendongak perlahan. Wulan berdiri di sana.
"Belum tidur?" katanya pelan, tapi nadanya mengandung ancaman.
Aku menggeleng. "Belum."
Ia mendekat, terlalu dekat. "Kamu cepat belajar, ya. Tapi jangan lupa, di sini yang kuat yang bertahan."Aku menunduk, berusaha menahan gemetar.
Wulan tersenyum kecil. "Besok, bangun lebih pagi. Banyak kerjaan."
Setelah Wulan pergi, aku menghembuskan napas panjang. Dadaku terasa sesak, seperti ditekan beban tak kasat mata.
Aku berbaring, menatap langit-langit gelap. Air mata menetes tanpa suara.
"Ya Allah..." bisikku. "Aku gak tau sampai kapan aku kuat."
Dalam kegelapan itu, satu nama tiba-tiba terlintas di benakku.
Raka.
Entah kenapa, memikirkan namanya membuat dadaku sedikit menghangat... dan sekaligus perih.
"Kalau kamu benar-benar akan menolongku..." bisikku pelan, hampir seperti doa, "datanglah sebelum aku benar-benar hancur."
Di kejauhan, terdengar langkah kaki mendekat.
Berat.
Pelan.
Seolah sengaja.
Aku menahan napas.
Bayangan seseorang berhenti tepat di depan ranjangku."Masih bangun?" suara itu terdengar rendah, berbahaya.
Aku menelan ludah.
Lampu berkedip satu kali... lalu padam.
Dan di dalam gelap itu, jantungku berdegup seolah hendak pecah.
Musim gugur mulai menguasai Istanbul.Daun-daun menguning berguguran di sepanjang trotoar. Angin dari Selat Bosphorus bertiup lebih dingin dibanding minggu-minggu sebelumnya.Orang-orang mulai mengenakan mantel yang lebih tebal, sementara aku masih berusaha membiasakan diri dengan cuaca yang sama sekali berbeda dari Jakarta.Sudah hampir satu bulan aku tinggal di kota ini.Rutinitasku nyaris tidak berubah. Sore berangkat bekerja. Malam menjaga supermarket. Dini hari pulang ke apartemen kecil.Pagi tidur dengan mimpi buruk yang selalu sama.Aku mulai hafal wajah para pelanggan tetap. Seorang nela
Minggu pertamaku di Istanbul berlalu tanpa sesuatu yang layak disebut kehidupan.Aku hanya bertahan.Pagi kugunakan untuk tidur beberapa jam. Siang untuk menghafal jalan-jalan di sekitar apartemen. Sore aku berjalan kaki menuju supermarket tempatku bekerja. Malam kuhabiskan berdiri di balik rak-rak barang sampai toko tutup menjelang dini hari.Rutinitas itu terasa membosankan. Namun justru kebosanan itulah yang membuatku tetap hidup.Orang yang terlalu menonjol akan mudah ditemukan.nOrang biasa tidak.Aku sekarang harus menjadi orang biasa.Supermarket tempatku bekerja berada tidak jauh dari kawasan pelabuhan Karakoy. Bangunannya tidak besar, hanya terdiri
Sudah hampir enam bulan aku tinggal di Istanbul.Aku mulai hafal suara trem yang melintas setiap pagi, aroma roti simit yang dijual di sudut jalan, dan azan yang menggema dari berbagai arah ketika matahari mulai tenggelam.Kota ini perlaan menjadi tempatku bersembunyi, meski tidak pernah benar-bena terasa seperti rumah.Rumah tanpa rasa takut.Sedangkan aku masih terbangun dengan mimpi buruk hampir setiap malam.Aku mengusap wajah kasar yang kini dipenuhi janggut.nKalau bercermin, aku sendiri nyaris tidak mengenali pria yang menatap balik dari balik kaca.Rambutku lebih panjang, kulitku lebih gelap karena sering ke gudang, bahkan mataku terlihat jauh lebih
“Sayın yolcularımız, İstanbul Havalimanı’na iniş yapıyoruz. Lütfen kemerlerinizi bağlayınız.”“Para penumpang yang terhormat, kita akan mendarat di Bandara Istanbul. Mohon kenakan sabuk pengaman Anda.”Suara pilot menggema dari pengeras suara pesawat tepat saat roda mulai turun perlahan.Bahasa Turki itu terdengar asing di telingaku, berat dan cepat, tetapi aku masih menangkap beberapa katanya dari brosur penerbangan yang kubaca sejak tadi.Kami akan mendarat di Istanbul.Aku menatap keluar jendela kecil di samping kursi. Lampu kota terlihat seperti lautan kuning keemasan di tengah gelap malam.Istanbul membentang luas di bawah sana, dipenuhi bangunan rapat, jalan panjang, dan cahaya yang terasa hidup bahkan menjelang dini hari.Orang-orang mulai bersiap. Suara sabuk pengaman dibuka terdengar di sana-sini. Seorang ibu Turki di sampingku membantu anak kecilnya mengenakan jaket tebal sambil berbicara cepat dalam bahasa mereka.Aku tetap diam.Tanganku dingin bukan karena suhu kabin. Rap
Pov RendraSore itu Jakarta sedang ramai-ramainya. Langit berwarna jingga kusam, jalanan penuh suara klakson, dan udara terasa berat oleh debu serta sisa panas matahari. Aku berdiri beberapa meter dari minimarket tempat Selira bekerja sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.Sudah hampir dua puluh menit aku di sana.Dua puluh menit hanya untuk memastikan aku benar-benar siap masuk.Lucu. Aku pernah menghadapi orang bersenjata tanpa rasa takut, pernah duduk satu meja dengan bandar yang bisa membunuh seseorang hanya karena nada bicara yang salah. Namun, sekarang, untuk melangkah masuk menemui satu perempuan saja, lututku terasa lebih lemah dari seharusnya.Aku mengangkat kepala dan melihat pantulan diriku di kaca depan minimarket.Wajahku memang berubah.Lebih kurus. Lebih lelah.Beberapa minggu terakhir hidupku seperti lorong sempit yang perlahan menutup dari segala arah. Setelah sidang itu, semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang mulai bicara. Nama-nama mulai disebut. Jal
Mobil melaju pelan di bawah langit yang mulai berubah warna. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di kaca depan. Jalanan di perbatasan itu sepi.Kami sudah menyelesaikan semuanya.Keluarga saksi sudah aman. Identitas baru, tempat tinggal baru, dan pekerjaan baru.Dunia lama mereka perlahan ditinggalkan, meski luka itu jelas tidak akan pernah benar-benar hilang.Aku bersandar di kursi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa tidak sesak.Reva duduk di sampingku. Diam seperti biasanya kalau pikirannya sedang penuh. Namun kali ini, diamnya berbeda.Aku meliriknya. “Capek?”Dia menggeleng pelan. “Bukan capek, cuma lagi mikir.”“Mikir apa?”Reva menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, lebih lembut dan lebih terbuka.“Kita udah sejauh ini ya.”Aku tersenyum tipis. “Iya. Dari yang awalnya hampir saling bunuh tiap briefing.”Dia mendengus kecil. “Itu karena lo nyebelin.”“Sekarang?”Reva tidak langsung jawab. Dia just
Pov Selira"Aku di sini," katanya pelan tapi tegas. "Aku gak akan ke mana-mana. Jika itu yang kamu mau..."Kalimat itu tidak selesai. Tidak perlu. Karena di antara jeda itulah dadaku bergetar paling keras.Aku terdiam lama. Hanya suara napasku yang tersengal dan detak jantungku yang terlalu bising.
"Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama."Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu.Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama.Tidak ada sidik jarimu.Aku mengulangnya dalam hati, seperti mant
Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya.Aku tahu, bahkan sebelum mataku terbuka, hari ini bukan hari biasa. Ada sesuatu yang menekan dada, seperti firasat yang tak bisa dijelaskan.Di luar, langkah sepatu para sipir terdengar lebih ramai. Suara pintu besi dibuka-tutup bergema lebih sering
Aku sudah tak tahu lagi ini hari ke berapa sejak aku berada di tempat ini.Waktu di penjara tidak berjalan seperti di luar sana.Ia tidak berdetak.Ia menggenang.Diam, berat, dan menyesakkan.Pagi selalu datang tanpa matahari. Yang membangunkanku bukan cahaya, melainkan suara besi beradu. Pintu se







