Share

Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi
Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi
Author: Deni A. Arafah

Hanya pengamat

last update publish date: 2024-12-08 12:18:13

Aku gak pernah ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Satu hari dunia baik-baik saja—jalanan macet, orang-orang sibuk scroll I*******m sambil ngeluh soal cuaca panas. Terus, entah dari mana asalnya, langit retak. Bintang-bintang gerak sendiri kayak ada yang narik-narik dari atas, dan orang mulai ilang satu-satu.

Aku gak paham kenapa, dan sejujurnya, males mikirin juga. Aku cuma pegawai minimarket di Jakarta. Buka toko, layani pelanggan, tutup toko. Sekarang tokonya berantakan, pelanggan gak ada, dan aku duduk di belakang meja kasir nunggu—nunggu apa, aku sendiri gak tau.

"Setiap orang punya perannya dalam Skenario."

Itu kalimat terakhir yang masih kuinget dari siaran TV sebelum layarnya mati. Skenario, peran—kayak istilah teater. Tapi gak ada yang ngasih tau perananku apa. Gak ada bisikan aneh, gak ada kekuatan yang tiba-tiba muncul. Aku ya aku aja, sama kayak sebelumnya.

Rokok tinggal satu batang di saku celana. Air masih ada beberapa botol di rak belakang. Itu doang modalku sekarang.

Dari kursi kayu yang udah reyot, aku merhatiin kaca minimarket yang retak. Jalanan sepi, cuma ada kabut tipis siang yang bikin gedung-gedung di kejauhan keliatan buram. Lagi mikirin itu, kedengeran langkah kaki. Berat, teratur—kayak orang yang tau persis mau ke mana. Aku berdiri pelan, ngintip dari balik kaca.

Seorang pria, tinggi, mantelnya kotor kena debu sama darah kering, ada pedang gede nyangkut di punggungnya. Dia berhenti di depan toko, nengok ke arahku.

"Hei," katanya. Berat, tapi ada capek di baliknya. "Ada air di sini?"

Aku nunjuk ke rak minuman. Dia masuk, ambil satu botol, minum sampai habis tanpa basa-basi. Gak bilang terima kasih. Cuma orang asing yang lewat.

Botol kosongnya dia taruh di meja. Diem sebentar, kayak lagi mikir perlu ngomong lebih apa nggak.

"Kau tau soal Skenario?"

Aku geleng.

Dia manggut, kayak emang udah nebak jawabannya bakal gitu. "Bagus. Tetep begitu." Jalan ke pintu, berhenti sebentar tanpa nengok balik. "Yang gak tau perannya, biasanya yang paling lama bertahan."

Aku mau nanya maksudnya, tapi tenggorokan keburu kering.

"Jangan lama-lama di sini," lanjutnya, lebih pelan. "Sesuatu bakal datang."

Dia udah jalan sebelum aku sempet buka mulut, ilang di kabut. Aku gak tau siapa dia, gak tau soal Skenario itu apa. Tapi baru kali itu aku ngerasa bener-bener sendirian sejak semua ini mulai.


Jam tanganku mati tiga hari lalu, dan aku udah berhenti peduli soal waktu. Tapi badan masih bisa bedain siang malam. Malam itu dingin datang lebih cepet dari biasa, dan kabut yang tadi siang masih bisa ditembus pandangan sekarang udah kayak tembok putih yang diem aja, gak gerak.

Aku masih di belakang meja kasir, mikirin kata-kata pria tadi. Sesuatu bakal datang—apa maksudnya? Monster? Orang gila? Aku gak tau, dan sebenernya gak pengen tau juga.

Kunyalain rokok terakhir pake korek yang gasnya udah mau abis. Tarikan pertamanya biasa aja, cuma buat ngalihin pikiran.

Kedengeran langkah lagi. Kali ini lebih pelan. Aku berhenti narik napas, ngintip ke pintu depan, tapi kabut udah kelewat tebal buat keliatan jelas. Kalau orang biasa, ngapain jalannya sesunyi itu?

Aku mundur, tangan kanan meraba bawah meja nyari apa aja yang bisa dipegang. Ketemu tongkat pel yang ujungnya patah. Gak ideal, tapi mending daripada kosong.

Langkahnya makin deket. Ada bayangan tinggi, kurus, gerakannya lambat—dan pas aku perhatiin lagi, kayaknya kakinya gak sepenuhnya napak lantai. Genggaman di tongkat pel makin erat.

Bayangan itu berhenti di depan pintu.

Sekarang keliatan jelas: tinggi hampir dua meter, kurus kering, dan matanya nyala merah. Senyumnya kelebaran buat ukuran mulut manusia.

Rokok jatuh dari jariku sendiri. Aku mundur, punggung nabrak rak belakang. Makhluk itu melangkah masuk—dan aku baru sadar dia gak bener-bener jalan, cuma melayang pelan beberapa senti dari lantai.

Dia berhenti beberapa meter dari kasir.

"Bukan kau," katanya. Suaranya kayak dua nada ngomong bareng, satu tinggi satu rendah. "Bukan kau yang kucari." Jeda sebentar. "Tapi kau akan menarik untuk dimakan nanti."

Gak sempet mikir panjang, aku lempar tongkat pel itu ke arah wajahnya—bukan buat ngena, cuma buat dapet satu detik jeda—terus lari ke belakang toko.

Di belakang cuma ada tembok beton sama pintu besi ke gudang. Aku dorong masuk, kunci dari dalam. Tanganku gemeteran, dua kali coba baru kuncinya kekunci bener.

Gudang itu sempit, penuh kardus bekas sama rak-rak yang hampir roboh. Aku duduk merosot ke lantai, napas masih kenceng. Sunyi sebentar. Terus kedengeran langkah lagi—makhluk itu udah di depan pintu gudang.

Dua kali ketukan pelan di pintu besi.

"Kau tidak bisa sembunyi dariku, manusia kecil. Tapi jangan khawatir—aku akan memberimu waktu sedikit lebih lama untuk hidup."

Terus langkahnya menjauh, ilang.

Aku tetep gak berani buka pintu. Duduk di situ, meluk lutut, sambil mikirin tongkat pel yang masih ketinggalan di deket kasir, di luar sana. Kalau bener kata pria bermantel tadi soal peran dalam Skenario, mungkin peranku belum ada. Atau mungkin baru mulai.

Aku gak tau. Tapi malem itu, buat pertama kalinya, aku gak cuma diem nunggu mati. Aku lari.

Dan itu keputusan pertama yang aku ambil sendiri sejak dunia ini berantakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
deniardiansyah05
Lu jadi Nfc di dunia yang hancur, menarik...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (8)

    Dunia kembali bergerak.Seakan tersedot dari pusaran kehampaan, aku terhempas ke realitas. Nafasku terputus-putus, dadaku naik turun tak terkendali. Keringat dingin mengalir di pelipisku, dan jari-jariku mati rasa saat aku mencoba menggenggam trisulaku lebih erat. Tubuhku seakan dipaksa menerima beban yang bukan milikku—resonansi antara aku dan Chronarkis masih terasa, mengalir seperti arus tak kasat mata yang menghubungkan kami.Brak!Lututku menghantam tanah. Tanah yang dingin dan kasar merambat di sela jari, seakan menegaskan bahwa aku masih ada di sini, masih hidup. Suara napasku bercampur dengan desir angin yang membawa serpihan debu dan abu di udara. Cahaya redup dari langit yang koyak oleh kekuatan yang tak kasat mata perlahan memudar, seolah takut mengungkap rahasia yang baru saja terkuak."Apa kau baik-baik saja?"Suara Revan membelah keheningan. Aku mendongak, melihatnya bergegas ke arahku, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran. Ia tak perlu bertanya dua kali. Dengan susah payah

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (7)

    Kegelapan berdenyut di sekeliling Ariel, nyala api hitam berputar liar seperti ular ganas yang hendak memangsa segalanya. Napasnya berat, langkahnya menyeret, tetapi matanya—mata merah menyala yang menjadi simbol kekuasaan Barong—tetap terkunci padaku. Aku bersiap menghindar, otakku bekerja cepat mencari celah dalam serangannya.Tapi tiba-tiba—WUSHH!Sebuah cahaya emas meledak dari tubuh Ariel. Sejenak, seolah-olah waktu tersendat, lalu berhenti total. Angin yang tadinya menggila kini membeku di udara, debu yang beterbangan pun mengapung tanpa arah. Bahkan api yang menari di sekeliling Ariel berhenti, nyaris seperti lukisan yang dipaksa diam dalam satu momen abadi.Aku menegang. Eternal Flow Manipulation-ku? Tidak. Ini bukan aku yang mengaktifkannya.Sebuah tekanan luar biasa membanjiri ruang di sekelilingku, membuat bulu kudukku berdiri. Dari bayanganku sendiri, sesuatu merayap keluar. Aku bisa merasakan keberadaannya bahkan sebelum melihat sosoknya.Kemudian, ia muncul.Sosok itu m

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (6)

    Udara di sekitar kami bergetar, panas yang menyengat merayap di kulit, membuat napas terasa berat. Debu-debu hangus melayang, terbawa oleh angin panas yang entah berasal dari serangan Ariel sebelumnya atau dari dirinya sendiri.Mata Revan menyipit, keringat mengalir di pelipisnya. "Sepertinya dia kehilangan kontrol atas tubuhnya," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru api yang mengamuk. Dengan cepat, dia mengangkat tangannya. "Zephyr Suppression."Raungan angin terdengar nyaring saat pusaran udara terbentuk di sekitar Ariel, membelit tubuhnya seperti rantai tak kasat mata. Namun sebelum cengkeraman angin bisa menahan gerakannya, Ariel mengangkat pedang reliknya tinggi-tinggi. Mata keemasannya berkilat sesaat sebelum berubah menjadi merah."Divine Reflection."Kilatan cahaya meledak dari tubuhnya, memantulkan energi angin yang seharusnya membelenggunya. Seakan tak tersentuh, ia melangkah maju tanpa kesulitan sedikit pun.Revan terhuyung ke belakang, tangannya masih terangkat de

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (5)

    Kilatan cahaya menyambar cakrawala. Petir menggelegar, suaranya menggema seperti raungan raksasa yang marah. Langit yang tadinya cerah kini berubah kelam, seakan ditelan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar awan mendung. Udara menjadi berat, seperti ribuan ton besi menekan dada.Aku berdiri di tengah padang yang luas, trisula sudah dalam genggamanku. Angin bertiup liar, merontokkan dedaunan dan menerbangkan debu hingga membentuk pusaran kecil di sekeliling kami. Di sampingku, Revan berdiri dengan tenang, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah. Di sisi lain, Ariel tampak gelisah, matanya menari-nari di antara kami dan langit yang mulai retak."Sebentar lagi dia akan muncul," ucapku, suaraku tenggelam dalam riuhnya gemuruh yang terus beresonansi.Revan mengangguk pelan. Dia tahu. Sepertinya dia sudah melihat ini sebelumnya. Namun Ariel… Ariel tidak. Tangannya mencengkeram relik pedang yang kuberikan, jemarinya gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya."Apa yang akan mu

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (4)

    Udara dingin menerpa kulitku seperti pisau tipis yang menggores perlahan. Di hadapanku, Ariel terkunci dalam pusaran angin yang menderu seperti raungan serigala lapar, seakan mencoba menelan tubuhnya bulat-bulat. Keringat dingin mengalir di pelipisku saat melihat tubuhnya bergetar hebat di dalam lingkaran udara yang melingkupinya."Sial..." gumamku, mengepalkan tangan dengan gelisah. Suara angin yang berputar kencang membuat sekeliling terasa seperti badai yang mengamuk. Aku melirik pria itu, sosok misterius yang baru saja muncul dari reruntuhan. Tangannya terulur, mengendalikan barrier angin yang menekan Ariel.Aku meneguk ludah, lalu melangkah mendekatinya. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanyaku, suaraku nyaris tenggelam dalam deru angin.Pria itu tak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Ariel, dingin dan tajam, seperti burung pemangsa yang mengamati mangsanya. "Entahlah," jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh ketegangan. "Yang bisa aku lakukan hanya menahan kek

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (3)

    Suasana berat mencekam saat kami melangkah meninggalkan reruntuhan yang kini hanya menyisakan puing-puing dan bayangan kematian. Bau anyir darah bercampur dengan aroma karat besi, menguar tajam di udara malam yang dingin. Setiap tarikan napas serasa mencengkram paru-paru, berat, pengap, seakan dunia sendiri mencoba menahan kami untuk tidak pergi.Srek.Butiran pasir bergeser di bawah sepatu kami. Angin menderu, melolong di antara bebatuan, berbisik lirih seperti suara mereka yang telah gugur.Aku melirik ke samping. Ariel berjalan di sebelahku, langkahnya tetap tegas, namun ada sesuatu yang berbeda. Bahunya tegang, napasnya pendek dan tersendat. Biasanya, mata emasnya selalu berkilat penuh keyakinan. Tapi kini, sorot itu meredup—seperti api yang kehilangan bahan bakarnya.Srek.Kami terus berjalan. Tapi lalu—Ariel berhenti.Satu tangannya menekan pelipis, napasnya tertahan. Aku melihatnya menarik napas dalam-dalam, tapi ada getaran halus di jemarinya, begitu samar, nyaris tak terliha

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Para penyintas

    Mobil tua kami akhirnya berhenti di ujung jalan berbatu, asap tipis mengepul dari kap mesin. Mirna mengumpat pelan, memukul setir dengan frustrasi. “Sial, mobil ini sudah tidak bisa jalan lagi,” gumamnya, matanya menatap nanar ke depan. Kami turun dari mobil, kaki-kaki kami terasa lemah setelah p

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat (8)

    Setelah kejadian di jembatan, kami menemukan sebuah gua di tebing berbatu sebagai tempat perlindungan sementara. Gua itu gelap dan lembap, tapi cukup luas untuk menampung kami berlima. Dengan sisa tenaga, kami menyusun barikade seadanya di mulut gua, menggunakan batu-batu besar dan ranting pohon un

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat (7)

    Kami melangkah hati-hati di atas jembatan yang rapuh, angin dingin terus menerpa wajah, membuat kakiku gemetar. Di bawah jembatan, jurang gelap itu terasa seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang terjatuh. Gatra memimpin di depan, langkahnya mantap meskipun jembatan berde

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat (6)

    Ruangan itu kembali sunyi setelah kepergian Raka dan dua orang misterius lainnya. Namun, kesunyian itu terasa lebih berat daripada ketegangan sebelumnya. Aku, Mirna, dan yang lain hanya berdiri diam, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Apa kita cuma nunggu mati sekarang?" tanya Mirna, na

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status