Share

Bab 4

Penulis: Deni A. Arafah
last update Tanggal publikasi: 2024-12-08 12:24:51

Kabut di luar jendela hotel masih bergerak pelan waktu Raka akhirnya berdiri.

"Kita gak bisa diem di sini terus," katanya, ngeliat ke arah tangga spiral yang runtuh sebagian. "Aku harus balik ke tempat aku ninggalin sesuatu. Kau ikut, tapi..."

Dia belum selesai ngomong waktu lantai di bawah kami bergetar pelan. Bukan gemuruh besar kayak sebelumnya—lebih kayak detak, jauh tapi berat, kayak sesuatu yang gede lagi jalan di suatu tempat yang gak terlalu jauh.

Raka diem sebentar, kepalanya miring dikit, kayak lagi dengerin sesuatu yang gak bisa kudengar.

"Itu bukan buat kita," katanya akhirnya. "Tapi kalau kita masih di sini pas dia lewat, kita bakal kena juga."

"Jadi kita harus ke mana?"

Dia menarik semacam peta kecil dari kantong mantelnya—kertas lecek, coretan tangan, bukan peta beneran. "Waktu aku lewat sini tadi, aku lihat cahaya di ujung jalan sebelah timur. Lampu minyak, bukan Voidborn. Kemungkinan orang." Dia menunjuk arah di kertas itu. "Ke sana. Aku nyusul begitu urusan ini beres."

"Kau mau aku pergi sendirian?"

"Kau sudah keluar dari ventilasi bunker sendirian," katanya, natap aku sekilas. "Ini gak beda jauh."

Aku gak bisa bantah itu. Aku ngangguk, meskipun perutku masih kenceng.

"Satu lagi," katanya, waktu aku udah di ambang pintu. "Kalau kau ketemu orang di sana, jangan sebut namaku duluan. Biar mereka yang mulai."

Aku gak sempet nanya kenapa. Dia udah jalan ke arah berlawanan, ke arah suara detak berat itu, pedangnya udah di tangan.

Aku jalan sendirian ngikutin arah yang ditunjuk Raka, ngelewatin reruntuhan yang makin lama makin asing. Kabut di sini lebih tipis, cukup buat aku liat lampu kecil berkedip di ujung jalan—kayak yang Raka bilang.

Waktu aku dekat, aku baru sadar itu bukan bangunan, tapi kendaraan besar yang sudah diubah jadi semacam tempat perlindungan. Ada lampu minyak menggantung di bagian depan, suara pelan orang ngobrol dari dalam.

Aku ingat kata-kata Raka. Aku ketuk sisi kendaraan pelan, coba gak bikin panik.

Suara di dalam langsung berhenti. Pintu kecil kebuka, dan seorang pria muncul—lebih tua dariku, rambut beruban, wajah penuh kerutan. Dia bawa semacam senjata rakitan, pipa besi dengan kabel yang nyala redup.

"Sendirian?" tanyanya, curiga, natap aku dari atas ke bawah.

"Ya," jawabku, angkat tangan. "Aku cuma nyari tempat buat sembunyi sebentar."

Dia natap aku beberapa detik, terus narik aku masuk. "Cepat, sebelum ada yang liat."

Di dalam, ada tiga orang lain. Seorang wanita muda dengan jaket lusuh, langsung berdiri waspada begitu aku masuk. Seorang pria seumuranku, duduk mepet ke dinding, megang tongkat kayu erat-erat kayak itu satu-satunya hal yang bisa dia kontrol malam ini—belakangan aku tau namanya Dika, dan cara dia terus ngitung sesuatu di jarinya, kayak lagi ngitung berapa lama lagi dia bisa tahan, bikin aku ngerasa dia gak sekuat yang dia coba tunjukin. Di sudut, ada anak kecil, mungkin delapan tahun, meringkuk sambil meluk boneka lusuh—namanya Ayu, dan dia gak ngomong sepatah kata pun, tapi matanya ngikutin tiap gerakan orang dewasa di ruangan kayak dia lagi belajar siapa yang aman dan siapa yang enggak.

"Siapa kau?" tanya wanita muda itu, tangan terlipat.

"Ardi," jawabku. "Aku pegawai minimarket, sebelumnya. Sekarang... aku gak tau aku apa." Aku berhenti sebentar. "Aku lari dari sesuatu di hotel dekat sini. Makhluk."

"Voidborn," kata pria tua itu, bukan pertanyaan.

Aku ngangguk. "Ada yang lawan mereka."

Wanita muda itu—namanya Mirna, aku tau belakangan—natap aku lama, kayak nyari sesuatu di wajahku. "Kau ketemu Hero," katanya pelan. Bukan pertanyaan juga.

"Gimana kau tau?"

"Karena kau masih hidup," jawab pria tua itu, duduk di kursi lipat deket lampu minyak. "Orang biasa yang jalan sendirian di luar sana biasanya gak nyampe jauh."

"Kalian tau soal semua ini?" tanyaku akhirnya. "Skenario, Voidborn?"

Mirna dan pria tua itu saling liat sebentar.

"Kami tau secukupnya buat tetep hidup," kata pria tua itu. "Namaku Rusdi. Dulu aku kerja di pos radio darurat kelurahan—sebelum semua ini, pekerjaanku ya cuma nyatet laporan banjir, pemadaman listrik, hal-hal gitu." Dia natap pipa besi rakitannya, kayak lagi ngenang sesuatu. "Radio itu masih hidup beberapa hari pertama sebelum sinyalnya ilang. Tapi sebelum ilang, ada siaran yang keulang terus. Bukan dari stasiun manapun yang aku kenal. Ngasih tau soal Skenario, soal peran, cara ngenalin yang aman sama yang enggak."

"Siapa yang siaran?"

"Gak tau," kata Pak Rusdi. "Suaranya gak kayak manusia normal juga. Tapi informasinya benar. Yang dia bilang bakal kejadian, kejadian beneran." Dia berhenti sebentar. "Sejak itu, orang-orang kaya kami mulai nyari satu sama lain. Nandain tempat aman pake kapur di tembok. Tukar informasi. Kami bukan Hero, bukan apa-apa dalam Skenario itu—tapi kami punya satu hal yang gak dipunya orang-orang berperan: kami tau cara sembunyi."

Itu informasi baru, dan itu bikin aku mikir ulang. Selama ini aku pikir cuma ada dua jenis orang—yang punya peran kayak Raka, dan yang kayak aku, kosong. Tapi ternyata ada jaringan orang-orang kosong yang sudah lebih dulu ngumpulin cara buat bertahan.

"Kalian bilang gak ada peran," kataku, "tapi kalian ngerti dunia ini lebih dari aku."

"Bertahan hidup bukan peran," kata Mirna, nadanya agak tajam. "Itu cuma... yang tersisa buat kami lakuin."

Getaran kecil di lantai kendaraan bikin kami semua diem.

"Itu dia?" bisikku.

Pak Rusdi gelengkan kepala pelan, tapi wajahnya gak yakin. "Bukan yang tadi. Yang ini lebih dekat."

"Kenapa mereka nyariin kita?" tanyaku. "Aku pikir Voidborn cuma peduli sama orang yang punya peran."

"Itu yang orang-orang percaya," kata Mirna, "tapi aku gak yakin itu sepenuhnya benar. Aku pernah dengar cerita—orang yang deket sama Hero, kena imbasnya. Bukan karena Skenario ngincer mereka langsung, tapi karena mereka ada di jalur yang sama pas Voidborn ngejar Hero itu." Dia natap aku. "Kau abis jalan bareng salah satu dari mereka. Mungkin bukan kau yang dicari. Tapi kau ada di jalurnya."

Itu masuk akal, dan itu juga cocok sama apa yang Raka bilang—dia gak dicari karena "relevan," tapi itu gak bikin dia aman, karena bahaya di sekitar Hero tetep nyerempet siapa aja yang kebetulan ada di dekat situ. Dua hal itu, sekarang, kerasa kayak potongan yang nyambung, bukan kontradiksi.

Getaran itu makin deket, terus berhenti tepat di luar kendaraan.

Pak Rusdi matiin lampu minyak. "Diem," bisiknya. "Jangan gerak."

Kami semua nunduk, nafas ketahan. Ayu meluk bonekanya lebih erat, tapi gak nangis—matanya cuma ngeliat ke arah Mirna, kayak nyari tau apa harus takut atau enggak.

Suara di luar itu berhenti sebentar, terus—pelan-pelan—menjauh lagi. Gak ada dentuman, gak ada cakaran di atap. Cuma langkah berat yang perlahan hilang ditelan kabut, kayak makhluk itu emang lagi nyari sesuatu yang lain, bukan kami.

Kami nunggu lama sebelum ada yang berani napas normal lagi.

"Itu bukan buat kita," kata Pak Rusdi akhirnya, ngulang kata-kata yang persis sama kayak yang Raka bilang di hotel tadi. Aku gak certain dia denger, tapi entah kenapa itu bikin aku sedikit lega—kayak ada pola yang mulai bisa aku pegang di tengah semua ini.

Mirna nyalain lagi lampu minyak, cahayanya kecil tapi cukup buat bikin ruangan terasa manusiawi lagi.

"Kau boleh tinggal malam ini," katanya ke aku. "Besok, kalau Hero-mu itu gak balik, kau ikut kami. Kami tau tempat yang lebih aman dari sini."

Aku ngangguk, meskipun aku belum tau apa aku bakal nunggu Raka atau ikut mereka. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku punya pilihan buat dipikirin—bukan cuma cara buat lolos dari detik berikutnya.

Ayu, dari sudut ruangan, akhirnya buka suara—pelan, hampir gak kedengeran. "Namamu kak Ardi, kan?"

"Iya."

Dia mengangguk kecil, kayak lagi nyimpen nama itu di suatu tempat. Terus dia balik meluk bonekanya, dan gak ngomong apa-apa lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (8)

    Dunia kembali bergerak.Seakan tersedot dari pusaran kehampaan, aku terhempas ke realitas. Nafasku terputus-putus, dadaku naik turun tak terkendali. Keringat dingin mengalir di pelipisku, dan jari-jariku mati rasa saat aku mencoba menggenggam trisulaku lebih erat. Tubuhku seakan dipaksa menerima beban yang bukan milikku—resonansi antara aku dan Chronarkis masih terasa, mengalir seperti arus tak kasat mata yang menghubungkan kami.Brak!Lututku menghantam tanah. Tanah yang dingin dan kasar merambat di sela jari, seakan menegaskan bahwa aku masih ada di sini, masih hidup. Suara napasku bercampur dengan desir angin yang membawa serpihan debu dan abu di udara. Cahaya redup dari langit yang koyak oleh kekuatan yang tak kasat mata perlahan memudar, seolah takut mengungkap rahasia yang baru saja terkuak."Apa kau baik-baik saja?"Suara Revan membelah keheningan. Aku mendongak, melihatnya bergegas ke arahku, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran. Ia tak perlu bertanya dua kali. Dengan susah payah

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (7)

    Kegelapan berdenyut di sekeliling Ariel, nyala api hitam berputar liar seperti ular ganas yang hendak memangsa segalanya. Napasnya berat, langkahnya menyeret, tetapi matanya—mata merah menyala yang menjadi simbol kekuasaan Barong—tetap terkunci padaku. Aku bersiap menghindar, otakku bekerja cepat mencari celah dalam serangannya.Tapi tiba-tiba—WUSHH!Sebuah cahaya emas meledak dari tubuh Ariel. Sejenak, seolah-olah waktu tersendat, lalu berhenti total. Angin yang tadinya menggila kini membeku di udara, debu yang beterbangan pun mengapung tanpa arah. Bahkan api yang menari di sekeliling Ariel berhenti, nyaris seperti lukisan yang dipaksa diam dalam satu momen abadi.Aku menegang. Eternal Flow Manipulation-ku? Tidak. Ini bukan aku yang mengaktifkannya.Sebuah tekanan luar biasa membanjiri ruang di sekelilingku, membuat bulu kudukku berdiri. Dari bayanganku sendiri, sesuatu merayap keluar. Aku bisa merasakan keberadaannya bahkan sebelum melihat sosoknya.Kemudian, ia muncul.Sosok itu m

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (6)

    Udara di sekitar kami bergetar, panas yang menyengat merayap di kulit, membuat napas terasa berat. Debu-debu hangus melayang, terbawa oleh angin panas yang entah berasal dari serangan Ariel sebelumnya atau dari dirinya sendiri.Mata Revan menyipit, keringat mengalir di pelipisnya. "Sepertinya dia kehilangan kontrol atas tubuhnya," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam dalam deru api yang mengamuk. Dengan cepat, dia mengangkat tangannya. "Zephyr Suppression."Raungan angin terdengar nyaring saat pusaran udara terbentuk di sekitar Ariel, membelit tubuhnya seperti rantai tak kasat mata. Namun sebelum cengkeraman angin bisa menahan gerakannya, Ariel mengangkat pedang reliknya tinggi-tinggi. Mata keemasannya berkilat sesaat sebelum berubah menjadi merah."Divine Reflection."Kilatan cahaya meledak dari tubuhnya, memantulkan energi angin yang seharusnya membelenggunya. Seakan tak tersentuh, ia melangkah maju tanpa kesulitan sedikit pun.Revan terhuyung ke belakang, tangannya masih terangkat de

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (5)

    Kilatan cahaya menyambar cakrawala. Petir menggelegar, suaranya menggema seperti raungan raksasa yang marah. Langit yang tadinya cerah kini berubah kelam, seakan ditelan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar awan mendung. Udara menjadi berat, seperti ribuan ton besi menekan dada.Aku berdiri di tengah padang yang luas, trisula sudah dalam genggamanku. Angin bertiup liar, merontokkan dedaunan dan menerbangkan debu hingga membentuk pusaran kecil di sekeliling kami. Di sampingku, Revan berdiri dengan tenang, tatapannya tajam seperti pisau yang baru diasah. Di sisi lain, Ariel tampak gelisah, matanya menari-nari di antara kami dan langit yang mulai retak."Sebentar lagi dia akan muncul," ucapku, suaraku tenggelam dalam riuhnya gemuruh yang terus beresonansi.Revan mengangguk pelan. Dia tahu. Sepertinya dia sudah melihat ini sebelumnya. Namun Ariel… Ariel tidak. Tangannya mencengkeram relik pedang yang kuberikan, jemarinya gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya."Apa yang akan mu

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (4)

    Udara dingin menerpa kulitku seperti pisau tipis yang menggores perlahan. Di hadapanku, Ariel terkunci dalam pusaran angin yang menderu seperti raungan serigala lapar, seakan mencoba menelan tubuhnya bulat-bulat. Keringat dingin mengalir di pelipisku saat melihat tubuhnya bergetar hebat di dalam lingkaran udara yang melingkupinya."Sial..." gumamku, mengepalkan tangan dengan gelisah. Suara angin yang berputar kencang membuat sekeliling terasa seperti badai yang mengamuk. Aku melirik pria itu, sosok misterius yang baru saja muncul dari reruntuhan. Tangannya terulur, mengendalikan barrier angin yang menekan Ariel.Aku meneguk ludah, lalu melangkah mendekatinya. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanyaku, suaraku nyaris tenggelam dalam deru angin.Pria itu tak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Ariel, dingin dan tajam, seperti burung pemangsa yang mengamati mangsanya. "Entahlah," jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh ketegangan. "Yang bisa aku lakukan hanya menahan kek

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Bali yang berbeda (3)

    Suasana berat mencekam saat kami melangkah meninggalkan reruntuhan yang kini hanya menyisakan puing-puing dan bayangan kematian. Bau anyir darah bercampur dengan aroma karat besi, menguar tajam di udara malam yang dingin. Setiap tarikan napas serasa mencengkram paru-paru, berat, pengap, seakan dunia sendiri mencoba menahan kami untuk tidak pergi.Srek.Butiran pasir bergeser di bawah sepatu kami. Angin menderu, melolong di antara bebatuan, berbisik lirih seperti suara mereka yang telah gugur.Aku melirik ke samping. Ariel berjalan di sebelahku, langkahnya tetap tegas, namun ada sesuatu yang berbeda. Bahunya tegang, napasnya pendek dan tersendat. Biasanya, mata emasnya selalu berkilat penuh keyakinan. Tapi kini, sorot itu meredup—seperti api yang kehilangan bahan bakarnya.Srek.Kami terus berjalan. Tapi lalu—Ariel berhenti.Satu tangannya menekan pelipis, napasnya tertahan. Aku melihatnya menarik napas dalam-dalam, tapi ada getaran halus di jemarinya, begitu samar, nyaris tak terliha

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat (5)

    Pintu di belakang kami berderit pelan, tapi anehnya tidak ada yang masuk. Kami semua terdiam, tubuh tegang seperti senar gitar yang siap putus. Aku mencoba mengatur napas, tapi udara terasa berat di paru-paruku. “Kenapa gak langsung masuk?” bisik Mirna, matanya terpaku pada pintu yang setengah ter

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat (3)

    Aku terus berlari tanpa arah, meninggalkan pria itu dan suara pedangnya yang menggema di dalam gedung. Setiap langkah terasa berat, setiap tarikan napas terasa menyakitkan, tapi aku gak berani berhenti. Kata-katanya masih terngiang di kepalaku: "Jika kau ingin hidup, jangan pernah berhenti bergerak.

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat (2)

    Aku gak tahu berapa lama aku duduk di gudang itu. Mungkin sejam. Mungkin dua. . Atau bisa aja cuma lima menit, tapi rasanya kayak seumur hidup. Jantungku masih berdebar kencang, telingaku tegang menangkap setiap suara. Tapi gak ada apa-apa. Hening. Hanya satu pertanyaan yang terus muncul di kepala

  • Pengamat Takdir: Pemegang Kendali Tersembunyi   Hanya pengamat

    Aku gak pernah ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Satu hari dunia baik-baik aja—jalanan macet, orang-orang sibuk scroll Instagram sambil ngeluh soal cuaca panas. Lalu tiba-tiba, semuanya berubah. Langit retak, bintang-bintang mulai bergerak kayak ada yang mainin puzzle di atas sana, dan orang-oran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status