/ Romansa / Pengantin Bangsawan Yang Kubenci / Rasa Pertama dari Dendam

공유

Rasa Pertama dari Dendam

last update 최신 업데이트: 2025-10-12 19:11:47

Kamar itu terlalu besar. Dindingnya menjulang tinggi dengan lukisan wajah-wajah bangsawan yang menatap tajam, seolah mata mereka mengawasi setiap gerakan. Lilin di meja hanya memberi cahaya kuning redup, sementara sudut-sudut ruangan tenggelam dalam bayangan pekat.

Avelinne duduk di tepi ranjang kanopi, jemarinya meremas lipatan gaun. Setiap derit lantai kayu di lorong terdengar seperti bisikan rahasia.

Ia menarik napas panjang; aroma kayu tua bercampur dupa menusuk indera.

Kastil ini seperti perut monster, pikirnya, dan aku baru saja menyalakan api di dalamnya.

Ketukan pelan terdengar dari luar pintu.

“Avelinne… ini aku.” Suara lirih, nyaris berbisik.

Avelinne hampir meloncat berdiri. Pintu berderit terbuka, dan dari celahnya menyembul kepala Elowen. Gadis kecil itu masuk dengan kucing gendutan di pelukannya.

“Aku berhasil! Mereka pikir aku pelayan baru. Lihat—aku dapat celemek!” bisiknya penuh kemenangan sambil menunjuk kain putih kebesaran yang menjuntai di tubuh mungilnya.

Avelinne memejamkan mata, perasaan lega bercampur gemas.

“Elowen… kau gila. Kalau mereka tahu—”

“Tenang saja,” potong Elowen cepat. “Tak ada yang perhatikan. Semua sibuk dengan gaun dan cermin mereka sendiri.”

Avelinne menatapnya lama. Di wajah polos itu ada keberanian yang terlalu besar untuk usianya. Ia menghela napas, lalu tersenyum tipis.

“Kalau begitu, pastikan kau tak pernah ketahuan. Kalau sampai tertangkap… kita berdua akan berakhir di luar tembok ini. Atau lebih buruk.”

Elowen mengangguk mantap. Ia mengangkat kucingnya tinggi-tinggi.

“Dan kau butuh bala bantuan, bukan? Kita beri nama kucing ini… Mocha. Mulai sekarang, Mocha akan jadi mata dan telinga kita. Meong.”

Avelinne terkekeh, bahunya bergoyang ringan.

“Sebelum jadi mata-mata, Mocha sudah menagih tulang duluan, kan?”

Tawa kecil meletup sesaat di ruangan itu, memecah keheningan mencekam. Aveline kemudian merebahkan diri, menatap tirai ranjang yang bergoyang perlahan.

Ia tahu malam-malam berikutnya tak akan pernah benar-benar sunyi. Di balik dinding batu kastil, ada mata yang selalu mengawasi. Dan permainan ini… baru saja dimulai.

*******

Matahari baru menembus kaca tinggi aula timur kastil, memantul di marmer putih yang dingin. Lonjakan suara sepatu para pelayan yang sibuk mengisi kendi anggur, menyalakan lilin, dan merapikan meja panjang terdengar jelas—seolah seluruh rumah ini tidak pernah benar-benar tidur.

Avelinne duduk di tepi ranjang besar berhias ukiran emas. Ia menatap gaun hijaunya yang kini tergantung lusuh di kursi. Ada rasa asing di dadanya: perasaan kecil, nyaris terkubur oleh kemegahan ruangan.

Pintu kamarnya berderit. Elowen menyelinap masuk sambil membawa nampan roti dan buah. Wajahnya setengah bersemangat, setengah cemas.

“Avelinne, kau harus lihat… para tamu lain sarapan dengan sendok perak yang lebih mengkilap dari cermin kita di rumah. Kalau aku melirik terlalu lama, mungkin aku bisa melihat wajahku jadi lebih cantik di situ.”

Aveline menghela napas, menahan senyum.

“Elowen, kau seharusnya tidak berkeliaran. Kalau ketahun—”

“hei, kau lupa? aku sedang menyamar jadi pelayan di kastil ini”

Aveline berdiri, merapikan rambutnya ke belakang.

“Baiklah.Hari ini mereka akan mulai menilai, Elowen. Bukan soal cantik atau tidak, tapi soal siapa yang bisa bertahan di bawah tatapan mereka.”

Elowen meletakkan nampan dengan sedikit bunyi, lalu menatap kakaknya dengan keseriusan yang jarang ia tunjukkan.

“kalau mereka menilai dengan mata yang penuh kebencian, apa kau masih yakin ingin terus menatap balik?”

Avelinne menunduk sebentar, lalu meraih tangan adiknya.

“Aku tidak datang untuk mencari persetujuan mereka. Aku datang untuk mengambil sesuatu yang sudah dirampas dari kita.”

Suara denting lonceng kastil tiba-tiba menggema, memanggil semua kandidat ke ruang pertemuan.

Elowen buru-buru merapikan gaun lusuh kakaknya.

“Cepat, Avelinne. Kalau terlambat, mereka akan langsung menyingkirkanmu. Dan kalau mereka menyingkirkanmu, lalu siapa yang akan kupelototi diam-diam dari balik tirai?”

Keduanya saling menatap. Satu dengan tekad yang tegang, yang lain dengan humor getir yang hanya bisa lahir dari ketakutan.

Di aula bawah, suara para gadis lain sudah terdengar, bercampur bisik-bisik dan tawa palsu.

Hari pertama di Kastil Devereux telah dimulai.

******

Meja makan panjang di aula timur berkilau oleh perak dan kristal. Porselen tertata sempurna; di ujung meja Lady Verenne duduk tegak, tak perlu mahkota untuk memancarkan wibawa.

Di sisi kirinya Marcus dan Lucienne, sementara Sebastian memilih kursi lebih jauh, seolah jarak itu bagian dari pernyataannya sendiri.

Para kandidat wanita mengambil tempat. Gaun-gaun berdesis pelan, tatapan beradu cepat—menimbang, menghitung, menunggu siapa yang lebih dulu menonjol.

Pelayan menuangkan kopi, menyajikan roti hangat. Lady Verenne mengangkat cangkir, lalu memecah hening.

“Di meja ini, bukan hanya rasa yang diuji. Seorang istri bangsawan harus tahu kapan berbicara… dan kapan diam.”

Seorang gadis langsung membuka percakapan tentang puisi Paris terbaru, suaranya jelas dibuat-buat.

Sylvette menyusul, suaranya manis namun tajam:

“Saya percaya, hanya keluarga besar seperti Devereux yang mampu melindungi seni dan budaya kita.”

Lady Verenne mengangguk samar, beberapa kepala cepat mengikutinya.

Avelinne masih diam. Jemarinya menggenggam cangkir hingga hangatnya menusuk kulit. Semua mata seakan menunggu ia tergagap atau bungkam. Lalu, pelan tapi tegas:

“Perlindungan tak selalu datang dari nama besar. Kadang justru dari orang kecil—dengan kerja dan keringatnya.”

Sejenak meja senyap. Beberapa gadis menyembunyikan tawa.

Lucienne bersuara, lengking manis namun beracun.

“Indah sekali nona Rosse. Tapi kerja dan keringat tak cukup menjaga warisan sebesar Devereux, bukan? Itu sebabnya… kita di sini.”

Tawa ringan pecah. Sylvette melirik Avelinne, penuh sindir setuju.

Lady Verenne mengangkat tangan halusnya. Pelayan masuk membawa dua botol anggur tanpa label. Gelas kristal segera dipenuhi cairan merah, berkilau di bawah cahaya lilin.

“Cicipilah,” ucap Lady Verenne datar. “Seorang calon pendamping Devereux harus tahu anggur mana yang pantas untuk meja ini.”

Sylvette menyesap lebih dulu, senyum percaya diri mengembang.

“Yang pertama. Manis, lembut—jelas yang terbaik.”

Gadis lain ikut menebak, kebanyakan hanya mengulang.

Avelinne mengangkat gelas tanpa tergesa. Ia memutar perlahan, memperhatikan kilau warnanya, lalu menghirup dalam sebelum menyesap tipis.

“Yang kedua,” ucapnya tenang. “Lebih pekat, lebih matang. Ada aroma tanah basah… hanya kebun tua yang bisa memberikannya. Yang pertama manis, ya—tapi karena dipetik terlalu cepat.”

Keheningan turun. Bahkan Lucienne berhenti tersenyum.

Sylvette tertawa tipis, kaku.

“Oh? Lidah seorang ahli, rupanya?”

Beberapa gadis saling melirik, menahan senyum. Aveline tak menanggapi, hanya meneguk sisa anggur dengan tenang.

Sebastian mengangkat kepala, pandangannya beralih dari gelas ke wajah Avelinne. Abu-abu matanya menyipit, dingin, penuh hitungan yang tak diucapkan.

Hening di meja itu terasa lebih panjang daripada seharusnya. Bahkan lilin di atas meja seolah menahan nyala.

Lady Verenne meletakkan cangkirnya perlahan, bunyinya nyaring dalam keheningan.

“Menarik,” ucapnya datar. “Sangat… menarik.”

Barulah suara langkah para pelayan terdengar, masuk membersihkan meja. Gesekan porselen dan denting sendok mengisi udara yang masih menegang. Gadis-gadis bangkit dengan senyum sopan, tapi tatapan mereka saling berkilat—sarapan barusan hanyalah ronde pertama; pertarungan sesungguhnya baru dimulai.

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pengantin Bangsawan Yang Kubenci   Yang Bertahan

    Lalu terdengar suara. Tangisan kecil. Rapuh. Nyata. Di balik pintu, Osric dan Elowen saling berpandangan—lega, nyaris runtuh. Dokter tersenyum tipis, kelelahan jelas tergurat di wajahnya. “Putramu hidup.” Sebastian membeku sesaat. Seolah dunia membutuhkan waktu untuk kembali ke tempatnya. Avelinne terisak—lega, gemetar. Dokter meletakkan bayi itu di dadanya. Kecil. Hangat. Bergerak lemah, namun bernapas. Sebastian menatap makhluk kecil itu lama sekali. Tangannya gemetar saat akhirnya menyentuhnya—seolah takut kenyataan ini akan menghilang jika disentuh terlalu cepat. “Avelinne…” suaranya pecah. “Dia—” “Aku tahu,” jawab Avelinne lirih. “Aku tahu.” Elowen masuk perlahan, matanya membesar. “Tuhan… dia lucu sekali.” Ia menyentuh jemari kecil yang mengepal itu. “Kita memanggilnya siapa?” Avelinne menoleh pada Sebastian—memberinya ruang, memberinya hak. “Elio,” kata Sebastian akhirnya. “Elio Devereux. Kurasa itu cocok.” Elowen mendengus pela

  • Pengantin Bangsawan Yang Kubenci   Yang Tersisa Setelah Semua Terbakar

    Mobil Sebastian meluncur perlahan melewati gerbang gudang anggur. Lampu depannya menyapu tanah berkerikil yang masih lembap, memantulkan sisa cahaya malam yang belum sepenuhnya reda. Beberapa detik kemudian, kereta kuda Osric menyusul dan berhenti dengan bunyi kayu yang tertahan—seolah enggan mengganggu keheningan yang tersisa. Avelinne turun lebih dulu. Pakaiannya kotor, abu melekat di lipatan gaun dan rambutnya. Langkahnya sedikit kaku, namun punggungnya tetap tegak, seakan tubuhnya menolak menunjukkan betapa lelah ia sebenarnya. Elowen sudah menghampiri, wajahnya tegang. “Kalian pulang? Apa yang terjadi?” “Aku baik-baik saja,” jawab Avelinne cepat—nyaris otomatis, seperti kalimat yang diucapkan sebelum rasa sakit sempat menyusul. Sebastian turun menyusul. Memar jelas terlihat di wajahnya, kemejanya kusut dan berjelaga. Ia tidak berhenti untuk menjelaskan. “Kita bicara di dalam,” katanya singkat. Ia melangkah pergi. Osric mengikutinya tanpa suara. Elowen m

  • Pengantin Bangsawan Yang Kubenci   Darah dan Api Memilih

    Ia melangkah cepat. Tangannya mencengkeram kerah Sebastian, lalu menghantamnya tanpa peringatan. Tubuh Sebastian terhempas ke lantai. Beberapa bangsawan mundur refleks. Sebagian berbalik, memilih keluar—tak ingin menjadi saksi ketika darah keluarga mulai tertumpah. Marcus tetap mencengkeram kerah itu, wajahnya merah, napasnya berat. “Kau pikir aku akan percaya?” Sebastian menatapnya datar, meski darah mulai merembes di sudut bibirnya. “Aku tak butuh kau percaya.” Marcus meninju lagi. Avelinne maju setengah langkah. Napasnya tertahan. “Sebastian!” Lady Vareen akhirnya bergerak. Tatapannya menusuk Marcus. “Cukup, Marcus!” Lucianne mundur perlahan. Wajahnya memucat, matanya berkilat panik. Ia menoleh sekali ke arah Henry—ambisi yang selama ini ia banggakan runtuh seketika—lalu pergi tanpa menoleh lagi. Sebastian berbalik. Ia membalas menghantam Marcus. Benturan itu mendorong tubuh mereka ke arah lemari penyimpanan. Botol-botol anggur jatuh, pecah beruntun

  • Pengantin Bangsawan Yang Kubenci   Keheningan Menjadi Vonis

    Keheningan di ruangan itu tidak lahir dari keterkejutan. Ia lahir dari kesalahan hitung. Lampu gantung menggantung rendah, terlalu putih untuk disebut ramah. Meja kayu panjang membelah ruangan, dipenuhi peta distribusi, catatan rak pasar, dan botol-botol anggur yang dibiarkan tertutup. Tidak ada yang berniat mencicipi. Lady Vareen menoleh lebih dulu. Gerakannya halus, namun sorot matanya berubah. “Sebastian… kau—” Marcus bangkit setengah dari kursinya. Suaranya lebih cepat dari pikirannya. “Kau tidak diundang.” Sebastian melangkah masuk sepenuhnya. Ia menutup pintu di belakangnya—perlahan, tanpa suara keras—seolah memastikan tak ada jalan mundur bagi siapa pun di ruangan itu. “Laporan tentang gudangku,” katanya tenang, “tidak pernah menungguku untuk dipersilakan.” Ia meletakkan map kulit cokelat di atas meja. Tepat di tengah. Dorongannya ringan, nyaris sopan—namun cukup untuk membuat botol-botol di sekitarnya bergetar tipis. Henry menyipitkan mata. “Ini

  • Pengantin Bangsawan Yang Kubenci   Konfrontasi Tanpa Jalan Mundur

    Ia menyeret petugas itu keluar. “Ini pelanggaran—” Sebastian tidak menoleh lagi. Mereka melewati koridor gudang dengan langkah cepat. Osric tersentak, lalu menyusul. Di ujung lorong, Avelinne dan Elowen melihat pemandangan itu. “Ada apa?” tanya Avelinne, suaranya tertahan. Sebastian sudah terlalu jauh untuk menjawab. Avelinne menoleh ke Osric. “Osric—apa yang terjadi?” Osric berhenti sejenak. “Pemalsuan sampel,” katanya rendah. “Laporan palsu. Penyalahgunaan wewenang.” “Ke mana mereka pergi?” Osric menggeleng. “Aku tidak tahu.” Avelinne menarik napas cepat. “Kita harus ikut. Aku takut dia akan—” “Aku siapkan kereta,” potong Osric. Terlambat. Di luar, mesin mobil Sebastian sudah menyala. Pintu dibanting. Roda berputar. Mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman gudang. Avelinne dan Osric saling pandang—cukup lama untuk menyadari satu hal: Sebastian tidak menuju klarifikasi. Ia menuju konfrontasi. Kereta bergerak menyus

  • Pengantin Bangsawan Yang Kubenci   Tekanan Menyentuh Tanah

    Pagi belum sepenuhnya hangat ketika gudang anggur Sebastian mulai bergerak. Bukan hiruk-pikuk. Hanya ritme yang terjaga—peti dibuka, botol dipindahkan, segel diperiksa dua kali. Label Rosse Vineyard kini terpasang rapi, tidak mencolok, namun jelas. Nama itu berdiri tenang di kaca, seolah tidak menyadari kegaduhan yang ia bangkitkan di luar dinding batu ini. Sebastian berdiri di antara rak, memeriksa daftar pengiriman. Ia tidak mempercepat apa pun. Tidak pula menunda. Setiap instruksi pendek, setiap anggukan pekerja dibalas dengan ketenangan yang sama. Osric datang dari pintu samping. Langkahnya cepat, mantel masih belum dilepas. Ia berhenti beberapa langkah dari Sebastian, menurunkan suaranya meski gudang nyaris kosong. “Pasar bergerak,” katanya singkat. “Bukan cuma laku. Mereka membicarakannya.” Sebastian tidak menoleh. “Selalu begitu.” “Tidak seperti ini.” Osric mendekat, suaranya makin rendah. “Para pedagang tidak hanya menjual—mereka mengingat. Dan bangsawan mu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status