Home / Rumah Tangga / Pengantin Kecil Tuan Xavier / Pengantin Kecil Tuan Xavier - BAB 3

Share

Pengantin Kecil Tuan Xavier - BAB 3

Author: Karlinanovi
last update Petsa ng paglalathala: 2023-05-31 20:39:22

Pengantin Kecil Tuan Xavier - BAB 3

"Tuan Awas!" teriak Nandini dari belakang tubuh kekar Xavier kala dia melihat seorang pria membawa pisau dan akan menusuk pria itu.

Nandini pun berlari dan mendorong tubuh Xavier dengan sekuat tenaga. Xavier terjatuh, terhuyung dan Nandini menahan pisau dari pria itu. Hingga darahnya menetes mengenai wajah Xavier. Bodyguard Xavier langsung bergerak meringkus pria itu, mereka kecolongan.

Karena yang akan menusuk Xavier adalah anak buahnya sendiri. Tangan Nandini terluka, dan sepertinya luka di tangan mungil itu cukup dalam. Xavier beranjak, dia mengusap wajahnya yang terkena tetesan darah Nandini.

"Apa yang kau lakukan!" suara pri itu terdengar menggelegar ketika membentak Nandini.

Gadis yang di bentaknya itu langsung menundukkan kepala. Tubuh itu bergetar mendengar bentakan yang keluar dari mulut Xavier. Orang-orang yang mendengar keributan di depan pun langsung berlari menghampiri mereka. Mereka kaget begitu melihat gadis itu berdarah.

"Kau mau berlagak jadi pahlawan hah," bentak Xavier sambil mencengkram tangan Nandini.

Gadis itu semakin ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar. Seorang pria menghampiri mereka. Dia melepas kasar tangan yang sedang mencengkram tangan gadis itu.

"Jangan pernah membentaknya," desis Abrian menatap tajam Xavier pria yang berstatus sahabat, ipar, dan juga bosnya itu.

Xavier diam, lama dia menatap pria yang sekarang berani menatapnya dengan tajam. Bahkan dengan beraninya, pria itu menghempaskan dengan kasar tangannya. Sungguh tidak tahu malu.

"Pergilah, sekarang dia bukan tanggung jawabmu!Hidupnya ada di genggaman tanganku!" ucap Xavier tak kalah dingin dan menatap nyalang pria itu.

Laki-laki tersebut pun menatap tajam Xavier,dengan terpaksa dia mengalah. Dirinya tidak bisa menolong gadis kecil itu. "Semua sudah terlambat Abrian, kau dan Ibumu yang mengantarkannya pada penderitaan yang tak bertepi, tak puaskah kalian menyiksanya, menyisakan sebuah trauma yang mendalam. Merusak mentalnya. Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Menolongnya? TERLAMBAT!" Batinnya bersenandika.

Pria itu menatap nanar mobil yang kini perlahan meninggalkan halaman rumahnya. Bahkan tenda-tenda pun masih berdiri dengan gagahnya. Tangan pria tampan itu mengepal, menahan rasa sesak dan juga sakit.

"MEYLAN DI MANA KAU BERADA!" geram Abrian sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

Laki-laki itu melihat ibunya sedang membuka hantaran yang di bawa oleh Xavier. Tersungging senyuman di bibirnya, tidak ada raut sedih atau menyesal dalam raut mukanya. Hanya ada kesenangan, perempuan itu sama sekali tidak khawatir terhadap keadaan sang putri.

Pria itu melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas tanpa menyapa ibunya. Kini dia menatap sebuah poto dimana dalam pigura itu ada sebuah senyuman yang tulus terukir di wajah sang ibu. Sejak kejadian itu berhasil merenggut semua kebahagiaan keluarga kecilnya. Tapi, sekali lagi dia bertanya, apakah patut Nandini di salahkan sedangkan gadis kecil itu tidak tahu apapun.

"Maafkan aku Ayah, aku tidak bisa menjaga adik kecilku. Aku sudah membuatnya hancur yah, ya secara tidak langsung aku juga ikut andil dalam penderitaannya," lirih pria itu.

****

Sepanjang perjalanan menuju Mansion Xavier, pria itu hanya diam menatap tajam jalanan. Dia juga sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki latar belakang salah satu bodyguard yang sudah berkhianat padanya. Sedangkan Nandini, dia meremas tangan yang terus berdarah, tidak ada rintihan atau air mata. Karena baginya, ini sudah biasa, bahkan dia pernah mendapatkan siksaan yang lebih dari ini.

Xavier sesekali melirik gadis di samping dia dengan ekor matanya. "Kenapa gadis ini sama sekali tidak merasa kesakitan?" tanya Xavier dalam hati.

Gadis kecil itu menahan rasa sakit di tangannya. "Tuhan, bolehkah aku meminta, tolong beritahu aku kehidupan seperti apa yang akan aku jalani. Apakah hidupku hanya akan terus menderita?" batin gadis itu menangis.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah Mansion yang sangat megah. Mansion yang mempunyai halaman yang sangat luas. Bahkan rumah Nandini saja kalah.

"Turun!"

Gadis kecil itu pun turun, dan melangkah perlahan mengikuti langkah lebar pria di depannya. Kaki kecil itu bahkan berjalan dengan cepat, terseok-seok hingga hampir terjatuh. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan Tuannya bersama sang istri.

"Selamat Datang Tuan," ucapnya sembari menundukkan kepala.

"Hmm," jawab Xavier singkat.

Dia pun kembali berjalan, namun tak lama berhenti dan membalikkan tubuh kekarnya itu. Pria itu menatap tajam gadis yang masih memakai baju pengantin, baju yang sudah berubah warna. Laki-laki itu pun menatap pria paruh baya yang masih setia mengekorinya.

"Bawa dia, dan obati tangannya. Tunjukkan gudang yang akan dia tempati di paviliun belakang!" suara datar itu mengalun di pendengaran Nandini.

"Baik, Tuan," jawab pria paruh baya.

"Dan, berikan dia seragam maid. Beritahu juga tugasnya apa saja! Ah dan dia hanya akan bertugas mengurusku!" ucapnya kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamar yang berada di lantai atas Mansion itu.

Lalu pria paruh baya itu menatap gadis kecil yang penampilannya sudah kacau. Namun, kecantikannya masih terpancar meski baju pengantin itu sudah tidak berbentuk. Pria paruh baya itu menatap iba, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

"Mari Nona, saya akan obati lukamu dan menunjukkan kamar milikmu," ucapnya sopan.

Nandini hanya mengangguk dan melangkah mengikuti langkah kaki pria itu. Sepanjang perjalanan menuju gudang yang berada di paviliun yang letaknya jauh di belakang, Nandini hanya diam saja. Tak mengeluarkan suaranya barang sedikit pun.

"Mari Nona, maaf ini gudang yang akan anda tempati . Dan saya akan meminta bantuan salah satu maid untuk membantu Anda mengobati luka Anda," tutur pria itu.

"Baik Paman, dan panggil saja saya Nandini Paman, tidak perlu memanggil saya Nona," jawab Nandini lembut.

Pria paruh baya itu pun tersenyum tipis dan berlalu dari sana. Nandini memperhatikan gudang yang akan dia tempati. Gudang itu masih kotor dan terlihat berdebu.

"Permisi Nona," sapa seorang wanita.

Nandini pun mengalihkan atensinya dan menatap seorang wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Lalu mempersilahkannya masuk. Wanita itu pun masuk, dan sedikit meringis kala melihat tempat kotor itu.

"Saya mau mengobati luka Anda," ucap wanita paruh baya itu.

Nandini tersenyum, dan mengangguk lalu mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam gudang. Lalu wanita itu membantunya melepaskan gaun yang sudah kotor akibat darah. Nandini hanya diam saja ketika perempuan itu membantunya.

"Kenapa anda menahan luka ini, kenapa anda tidak meminta Tuan untuk mengobati anda terlebih dahulu sebelum menuju ke Mansion," ucap wanita itu ketika melihat luka di tangan mungil Nandini.

Nandini hanya tersenyum. Tidak menjawab apapun. Wanita paruh baya itu pun ikut tersenyum.

"Istirahatlah Nona, nanti bila waktunya makan malam tiba, saya akan membangunkan Anda," ucapnya lembut.

"KASIHAN SEKALI DIA, AKAN ISTIRAHAT DI MANA DIA? SEDANG TEMPAT INI BEGITU KOTOR," batin wanita itu menatap iba gadis kecil tersebut.

Nandini pun mengangguk dan mencoba mencari alas yang akan di pakainya untuk sekedar merebahkan tubuhnya yang lelah. Tubuh kecil nan kurus itu sekarang terduduk di lantai dingin itu. Perlahan mata lelah itu menutup, menjemput sang mimpi.

Byurrr

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   S3-Bab 2

    Bab 2 "Aku kotor, aku ... aku sudah tidak suci lagi." Keyna berlari keluar dari hotel dengan air mata yang tak mampu lagi ia bendung. Tangannya terus gemetar, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Semua terasa seperti mimpi buruk, apa yang terjadi barusan sama sekali tidak pernah Keyna bayangkan. Semuanya terjadi begitu cepat. "Apa yang harus aku lakukan," lirih Keyna. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa seorang pria asing bisa masuk ke kamar itu. Yang ia tahu jika penghuni sebelumnya sudah keluar dan ia di suruh untuk membersihkan kamar tersebut. Setelah itu, semuanya terjadi begitu cepat. Pria asing itu menarik lengannya. Dan memaksanya mengambil kesuciannya. "Keyna!" Suara supervisor membuat langkahnya terhenti. "Kamu dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi." Keyna buru-buru mengusap air mata. "Maaf, Bu, saya kurang enak badan. Tadi ... tadi saya beristirahat di tan

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   S3- Bab 1

    Hujan turun begitu deras, membasahi jalanan kota yang masih dipenuhi lampu-lampu kendaraan. Di lantai paling atas sebuah hotel berbintang lima, pesta kerja sama bisnis baru saja berakhir. Musik mulai berhenti, para tamu satu per satu meninggalkan ballroom dengan wajah puas. Di tengah keramaian itu, Samudera Romanov berdiri tegak sambil menerima uluran tangan beberapa rekan bisnis. Sebagai CEO muda yang dikenal cerdas dan dingin, ia selalu mampu menjaga sikap di hadapan siapa pun. "Selamat atas kesepakatan kerja samanya,Tuan Samudera. Saya berharap kerja sama ini bisa membuat perusahaan kita semakin maju," ucap salah seorang pengusaha. "Sama-sama, amin semoga saja," jawab Samudera datar. Samudera mengangkat segelas minuman yang disodorkan pelayan, ia tidak meminum alkohol. Maka dari itu ia hanya mengambil segelas jus orange, tanpa ia sadari jika jus orange itu sudah tercampur sesuatu. Ia hanya menyesap sedikit sebelum kembali berbincang. Tak

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   Bab 97 - S2 - Malam Pertama 2 (21+)

    Bab 97 - S2 - Malam Pertama 2 ( 21+) “Sayang.” Alarich menatap punggung mulus milik sang istri dengan nafas tertahan. Punggung putih tanpa ada luka sedikit pun nyatanya mampu membuat Alarich seketika mematung. Punggungnya saja sudah mulus, lantas bagaimana bagian yang lainnya. Pikir Alarich. Tangannya yang kekar dan besar ia angkat untuk menyentuh punggung mulus itu. Senja memejamkan kedua matanya, seraya menahan nafas kala tangan milik sang suami menelusuri punggungnya. Alarich memajukan tubuhnya, lalu tangannya memeluk pinggang ramping sang istri. Gaun pengantin milik Senja masih tertahan tepat di depan d*d*, pelukan Alarich begitu erat sehingga ia mampu merasakan deru nafas milik sang suami. Cup Alarich mengecup bahu Senja yang terbuka. D*r*hnya terasa berdesir hebat, kala bibir sexy Alarich menyentuh kulitnya yang terbuka. “Kamu cantik sekali, Sayang,” ucap Alarich dengan suaranya yang terdengar serak dan nafasnya terdengar m

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   Bab 96 - S2 - Malam Pertama (21+)

    Bab 96 - S2 - Malam Pertama (21+) “Bagaimana saksi, Sah?!” Tanya seorang penghulu kepada para saksi yang berada di sana. “Sah!” “Sah!” “Sah!” Kalimat Sah menggema, membuat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Senja. Alarich melihat hal itu, ia langsung menggenggam tangan mungil sang istri. Membuat Senja sadar jika ia tidak sendiri. Gadis yang sudah bergelar istri itu menoleh, menatap sang suami yang tersenyum manis kepadanya. Lelaki yang tidak pernah tersenyum itu, kini memberika senyumannya hanya untuk sang istri. “Alhamdulilah, kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri. Silahkan untuk sang istri mencium tangan sang suami, dan suami mencium kening serta ubun-ubun istri anda,” ujar sang penghulu. Alarich maju, mendekati istrinya. Dengan tubuh bergetar menahan gugup Alarich mencium kening serta ubun-ubun sang istri. Begitu juga dengan Senja, dengan tangan yang gemetar, ia raih jemari sang suami. Men

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   Bab 95 - S2 - Menikah

    Bab 95 - S2 - Menikah Deg Senja langsung menoleh ke arah Alarich, ia bahkan menghentikan langkah kakinya. Menatap wajah yang senantiasa datar dan dingin itu, mencari kebohongan dari binar matanya yang tajam. Namun, Senja sama sekali tidak menemukan kebohongan tersebut, ia justru melihat ketulusan, kejujuran, dan keseriusan dari mata Alarich. Lantas Alarich membuka pintu ballroom, begitu pintu terbuka keluarga besar Romanov menyambutnya. Senja mematung di tempatnya berdiri,memandang bagaimana baiknya keluarga yang bahkan tak ada hubungan darah dengannya. Alarich meraih tangan Senja, dan membawanya masuk. Mata Senja sudah berkaca-kaca, melirik tangan yang di genggam oleh Alarich. “Tuan,” lirih Senja. “Mari masuk, mereka sudah menunggumu. Menunggu calon menantu baru di keluarga Romanov. Gadis yang selama beberapa tahun aku tunggu, tidak mungkin aku lepaskan untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itu, aku akan langsung mengikatmu dengan pernikaha

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   Bab 94 - S2 - Lamaran

    Malam itu, Senja sudah siap dengan gaun yang sudah di siapkan oleh Alarich sebelumnya. Gaun berwarna lembut sangat cocok dengan karakter Senja. Jangan lupakan kerudung yang berwarna sama dengan gaunnya menambah kecantikan seorang Senandung Senja. Gadis berhijab itu di dandani oleh Sheinafia, wanita beranak satu itu begitu antusias kala mendengar Alarich hendak melamar Senja. Namun, mereka sengaja tidak mengatakan hal itu kepada Senja, sebab takut jika gadis tersebut menolaknya. “Ya Tuhan, kamu cantik sekali, Senja,” pekik Sheinafia yang membuat ketiga perempuan paruh baya yang kebetulan berada di kamar Senja sontak menoleh ke arah dua wanita muda itu. Nandini, Namilea, dan Melati tersenyum kala melihat Senja. Wajahnya yang cantik alami semakin bersinar kala Sheinafia membubuhkan make up flawless di wajah cantiknya. Namilea menghampiri keduanya, ia tersenyum lembut lantas mengusap puncak kepala Senja yang terbalut hijab. “Kamu cantik sekali, Nak

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier    Bab 22- Kebahagiaan Nandini

    Nandini memeluk tubuh kekar pria yang baru saja menyapanya. Sedang pria itu terkekeh sambil memeluk tubuh sang adik. Ya yang datang pagi sekali ke mansion mewah Xavier, adalah Abrian ia meminta izin terlebih dahulu hari ini ia akan datang siang, karena ingin menemui adiknya. "Kakak di sin

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   Pengantin Kecil Tuan Xavier-BAB 5

    Pengantin Kecil Tuan Xavier-BAB 5 "Aww," jerit Nandini. "Aampun, lepaskan, sakit," rintih Nandini. Xavier menatap nyalang wajah yang sedang ketakutan itu. Dia dengan kuat menjambak rambut Nandini. Hingga gadis itu merasakan sakit di kepalanya, dia mer

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   Bab 23- Kedatangan Arshaka

    "Xavier!" Suara barithon itu menghentikan langkah kaki Xavier. Dia diam menunggu tanpa membalikkan tubuh kekarnya. Ya segitu angkuhnya Xavier hingga untuk menjawab panggilan orang pun enggan. Lalu pria itu menghampiri sang adik. Dia meneliti penampilan adiknya itu mulai dari ujung rambut

  • Pengantin Kecil Tuan Xavier   pengantin kecil tuan xavier bab 6

    Pengantin Kecil Tuan Xavier BAB 6 Suara seorang pria menggelegar di dalam sebuah rumah memanggil gadis yang baru saja di akunya sebagai budaknya. Budak untuk membayar kesalahan keluarganya. Kejam ya memang Xavier seperti itu. Dia tidak akan pernah perduli jika apa yang di lakukannya itu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status