LOGINDemi membalas budi pada orang tua angkatnya, Nara Formosa terpaksa menjadi pengantin pengganti. Menggantikan Zaskia Maureen yang merupakan adiknya, menikah dengan salah satu rekan bisnis sang ayah angkat. Nara pun harus memutuskan hubungan percintaannya dengan pujaan hati yang bernama Arvin. Siapa sangka ternyata rekan bisnis Bagaskara yang bernama Marvin Aurio adalah saudara kembar Arvin. Bagaimanakah kehidupan rumah tangga Nara dan Marvin selanjutnya? Akankah keduanya bisa hidup bahagia?
View More"Hati-hati di jalan," ucap David."Terima kasih. Saya permisi dulu," sahut wanita cantik di depannya."Silakan!" David dengan sopan memberikan ruang pada istri dari sepupunya itu, untuk pergi.David terus mengunci pandangan matanya pada sosok Nara yang berjalan menjauh. Sampai tubuh wanita itu menghilang di balik pintu. Baru dia mengalihkan perhatian."Ternyata istri Marvin cantik juga," komentarnya dengan senyum menyeringai.Setelah bertemu langsung dengan Nara, David segera bergegas meninggalkan lobi. Wajahnya tampak serius, dan tatapannya penuh pertimbangan. Tak lama, David mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor seseorang."Halo," sapanya dengan suara tenang, saat sambungan telponnya diangkat.“Ya, aku sudah bertemu dengan Nara,” lanjutnya. “Dia cukup menarik.”Setelah berbicara singkat, David menutup telepon dan memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya berubah, ada kepuasan tersendiri yang tersirat."Nara, kita lihat! Seberapa jauh hubungan kalian dapat bertahan," ujar Dav
Setiap hari, Nara selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Marvin. Mulai dari bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan, hingga mengantar makan siang ke kantor. Namun, meski begitu banyak usaha yang dilakukan, suaminya tetap saja bersikap dingin. Pria itu selalu menghindar, seolah keberadaan Nara tidak ada artinya.Hari ini pun, Nara kembali ke kantor Marvin dengan kotak makan siang di tangan. Dalam hatinya, ia berharap bisa bertemu langsung dengan suaminya, mungkin sekadar mendengar terima kasih dari bibir Marvin. Namun setibanya di resepsionis, ia mendapati kabar yang sama seperti sebelumnya."Mbak, apa tuan Marvin ada? Saya membawakan makan siang untuknya," ucap Nara dengan ramah.Resepsionis tersenyum kaku, sudah terbiasa melihat Nara datang setiap hari. "Maaf, Nona. Tuan Marvin sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Mungkin lain kali."Nara tersenyum tipis, menutupi kekecewaannya. "Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya titipkan saja, ya."Saat hendak berbalik, tiba-tiba seorang
Nara menatap puas pada hasil masakannya. Berjam-jam gadis itu berkutat di dapur untuk memasak. Akhirnya setelah perjuangan keras yang dilakukan, sebuah menu makanan berhasil Nara buat."Akhirnya selesai juga." Nara mengusap peluh di keningnya. "Sekarang tinggal mandi."Gadis itu lantas berjalan penuh semangat menuju kamar. Membersihkan diri dan berganti pakaian yang terbaik. Ia sudah memantapkan hati dan juga dirinya. Bahwa hari ini akan memberikan kejutan pada sang suami."Semoga saja Mas Marvin suka dengan makanan yang ku buat," gumam Nara berucap pelan. Tangannya menggenggam erat tas wadah bekal.Setelah meraup udara dalam-dalam, Nara kemudian melangkah keluar rumah. Baru saja membuka pintu, gadis itu langsung disambut ramah oleh Agus. Pria itu mengangguk sebentar."Non Nara mau ke mana?" tanya Agus. Pria yang bekerja sebagai sopir di keluarga Marvin itu, tampak penasaran. Apalagi ketika melihat penampilan Nara yang sudah rapi."Kebetulan ada Pak Agus. Saya boleh minta tolong, Pak?
Nara duduk di ruang tamu, sesekali melirik jam dinding yang terus berdetak tanpa henti. Sudah hampir tengah malam, tapi Marvin belum juga pulang. Hatinya sedikit cemas, tapi ia berusaha menenangkan diri, berpikir bahwa Marvin mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya."Apa dia masih marah?" Tiba-tiba saja Nara teringat dengan kejadian tadi malam. Saat Marvin hendak meminta haknya dan ia menolak. Dengan alasan belum siap.Wajah gadis itu langsung sendu ketika mengingat wajah suaminya. Bagaimana sorot mata Marvin terlihat kecewa. Dan, berubah datar hanya dalam waktu sekejap."Kamu memang bodoh, Ra. Sudah pasti dia marah. Suami mana yang tidak akan kecewa saat ditolak oleh istri sendiri? Sudah pasti dia marah padamu!" Nara mengomel pada diri sendiri. Merutuki kebodohannya.Gadis itu lantas menutup wajah dengan kedua tangannya. Terisak kecil, sebab, merasa gagal jadi istri yang baik. Tak hanya itu saja, Nara juga kecewa pada dirinya. Karena telah melukai dua orang sekaligus.Sepanjang hidu
Fikri menatap iba pada gadis yang pernah bekerja di kafenya. Tak adalagi keceriaan di wajah cantik Nara. Gadis periang yang selalu mencairkan suasana saat bekerja. Kini tampak rapuh dan menyedihkan. Sebagai atasan sekaligus sahabat dari mantan kekasih gadis itu. Fikri tentu sangat kasihan melihatnya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.