LOGINDinar, seorang ibu rumah tangga yang sederhana, patuh dan taat kepada suaminya, Dito. Namun sikap Dinar berubah kala dia bersahabat dengan tetangga barunya yang bernama Ismi. Dinar yang polos dan lugu tidak mengetahui jika dimanfaatkan oleh sahabat yang baru dikenalnya. Dito, sempat mengingatkan istrinya agar jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. Namun Dinar tidak mendengarkan karena dia telah termakan bujuk rayu Ismi. Masalah datang ketika Ismi meminta bantuan Dinar untuk mengajukan pinjaman online. Dinar yang sudah tetmakan mulut manis Ismi akhirnya bersedia membantu Ismi. Dinar tidak tahu, jika itu adalah awal kehancuran hidupnya. Bagaimana kelanjutan Dinar selanjutnya? apakah persahabatannya dengan Ismi akan berakhir manis atau bahagia? Bagaimana kehidupan rumah tangga Dinar dan Dito saat mengetahui jika Dinar lebih mempercayai sahabat dibandingkan suaminya sendiri?
View MoreKetika daratan kuno masih berusia 4700 SM, dunia dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu atas, tengah, dan rendah. Masing-masing dari mereka bisa dicapai menggunakan formasi teleportasi spasial sangat rumit dan hanya ada di beberapa wilayah saja.
Di dunia Dixia atau dunia rendah, terdapat 9 kerajaan besar dengan urutan dari yang paling makmur, adalah: Cui (Emerald), Tong (Tembaga), Tie (Besi), Jiuhe (9 Sungai), Donghe (Bangau Timur), Yun (Awan), Wu (Kabut), Shi (Batu), dan Sha (Pasir).
Adalah Yao Yulan, gadis 20 tahun yang tumbuh besar di sekte iblis Mogui Yao milik Yao Ming di dunia Dixia, kerajaan Yun, kota Luohan.
Dia berperangai lembut, suka kebersihan, dan penurut serta tekun berkultivasi sesuai arahan gurunya, yaitu tetua pertama sekte, Yao Yimao.
Parasnya manis dan tidak membosankan bila dipandang, ditambah mata besarnya yang indah, menyebabkan dia menjadi murid kesayangan Tetua pertama.
Tingginya 165 cm dengan bobot 50 kg, sehingga penampilannya ramping memikat.
Saat ini, dia sedang berada di pasar kota bersama pelayan khususnya, Yao Mingyi. Namun, mendadak ada teriakan panik tak jauh darinya.
“Awas! Banteng lepas! Bantengnya lepas!” teriak orang-orang sambil berlarian menghindar.
“Nona Yulan, awas!” teriak Yao Mingyi ketika melihat banteng roh berlari kencang ke arah nona majikannya. Dia berdiri terpisah cukup jauh dari majikannya.
Mata indah Yao Yulan menoleh ke arah keributan dan melihat banteng roh hitam legam bertubuh besar sedang berlari ke arahnya. Dia menatap tajam ke hewan itu.
Yao Yulan sudah mulai mengumpulkan energi qi di tangan kanannya sambil tangan kiri menggenggam jepit rambut yang baru saja dibeli. Dia ada di tengah jalan, di jalur lari si banteng, siap menghantamkan serangannya ke hewan ganas tersebut.
Namun, mendadak saja, Yao Yulan justru merasa tubuhnya melayang karena disambar, bukan oleh banteng, melainkan seseorang. Rupanya ada yang mengangkatnya terbang begitu cepat.
Benar saja, ketika kakinya hampir mendarat di atap rumah salah satu penduduk, dia kini bisa melihat sosok lelaki berpakaian ala tuan muda bangsawan memeluk pinggangnya.
Yao Yulan segera mendorong pelan lelaki itu di udara agar bisa menciptakan jarak yang pantas bagi mereka. Segera, kakinya berhasil tiba di atap dengan gerakan gemulai dan halus.
Kini, dia dan lelaki itu saling berhadapan di atap.
Lelaki itu tersenyum penuh daya pikat pada Yao Yulan. “Maaf, aku langsung membawamu ke sini tanpa meminta izin. Kupikir kau dalam bahaya.”
“Terima kasih.” Dia berbalik hendak turun, tak mau repot-repot mengurai banyak kata pada lelaki di hadapannya. Padahal dia tak butuh ditolong dan bisa mengatasi banteng roh itu sendiri.
Yao Yulan kesal di hatinya, apakah lelaki itu berpikir semua wanita lemah dan tak bisa bertarung mempertahankan diri?
Namun, lelaki itu seperti belum ingin menyudahi percakapan dan berkata, “Namaku Wang Qifeng. Bolehkah aku mengetahui nama Nona?”
Yao Yulan memutar badannya ke Wang Qifeng, berkata dengan nada dingin, “Maaf, saya sudah bersuami, bukan lagi nona. Permisi.” Setelah itu, dia terbang dengan anggun ke bawah dan disambut pelayannya. “Ayo, Mingyi, kita pulang!”
Wang Qifeng tertegun melihat respon Yao Yulan. Sama sekali tidak menyangka senyum memikatnya gagal membuatnya mendapatkan nama seorang gadis muda yang begitu cantik. Dia mulai mempertanyakan ketampanannya.
Kemudian, mata Wang Qifeng melihat benda berkilau di dekat kakinya. Sebuah jepit rambut.
“Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya Yao Mingyi sembari matanya memindai Yao Yulan dari atas hingga bawah sambil berjalan.
Yao Yulan dengan lembut menjawab, “Aku baik-baik saja.”
“Tuan tadi sangat tangkas, begitu cepat menyambar dan menyelamatkan Anda, Nona!” Yao Mingyi antusias ketika membicarakan adegan itu.
Tak ada perubahan ekspresi di wajah datar Yao Yulan dan hanya menyahut, “Kau ini bicara apa, Mingyi? Ayo, lekas kembali ke sekte!”
Kedua gadis muda itu mempercepat langkah dan tiba di sebuah bangunan besar di sebuah bukit dengan gerbang tinggi dari kayu pilihan. Di atasnya, terpampang papan nama bertuliskan: Sekte Iblis Mogui Yao.
Ketika keduanya sudah berada di dalam sekte, mata Yao Yulan segera menangkap pemandangan tak pantas dari dua orang berlawanan jenis tak jauh darinya. Yao Xiren dan Yao Xiuwen. Keduanya bercanda dengan mesra.
Mengabaikan pelayannya, Yao Yulan segera menghampiri Yao Xiren. “Suamiku, kenapa masih di sini sesiang ini? Apakah kau belum berlatih di ruang Hetian?” Kemudian matanya melirik gadis muda di sisi suaminya. “Xiuwen, bukankah kau seharusnya melakukan meditasi tertutup hari ini?”
Mata Yao Xiren membara mendapatkan teguran lembut istrinya. “Yulan, apa urusanmu dengan aku berlatih atau tidak? Kalau aku sedang ingin bersama adik Xiuwen, artinya aku ingin bersama dia!”
Yao Xiuwen menyentuh dada Yao Xiren, berkata dengan suara merayu, “Kakak Xiren, aku yang salah. Harusnya aku tidak bertanya padamu mengenai jurus Api Melahap Gunung. Aku memang terlalu bodoh.”
Yao Xiren segera berpaling ke adik seperguruannya, berkata lembut, “Kamu sama sekali tidak salah, Adik. Kau memang butuh bimbinganku. Ayo, ke tempat lain saja! Di sini terlalu banyak gangguan.” Dia lekas menggandeng tangan Yao Xiuwen, menjauh dari Yao Yulan.
“Suamiku!” panggil Yao Yulan.
Yao Xiren menoleh dengan pandangan tajam penuh benci dan jijik pada Yao Yulan, istrinya. “Jangan ganggu aku dengan calon istri baruku!” Setelahnya, dia pergi bersama Yao Xiuwen.
Yao Yulan membeku di tempatnya. Amarah dalam dada berkobar hebat. Ini sudah kesekian kalinya suaminya berdekatan terlalu akrab dengan adik seperguruan mereka, Yao Xiuwen, dan kini mereka akan menikah?
Saat ini usia Yao Yulan 20 tahun dan Yao Xiuwen 2 tahun di bawahnya. Namun, nama adik seperguruannya semakin melejit beberapa tahun belakangan ini dan menarik perhatian suaminya.
“Kau ini orang payah, tak usah mengganggu pasangan kak Xiren dan adik Xiuwen!” hardik salah satu murid sekte yang ada di dekatnya.
“Benar! Kau hanya gadis cacat yang kultivasinya mandek. Jangan bandingkan dengan adik Xiuwen yang genius dan bertalenta tinggi.” Murid lainnya menimpali.
“Ya, dewi Xiuwen kami sangat berbakat, di usia 18 tahun sudah mencapai alam Pemurnian Qi, tidak sepertimu yang terus mandek di Pengumpulan Qi. Puih!” cetus murid lain sambil memandang hina ke Yao Yulan.
“Lebih baik kau sadar diri saja dan biarkan mereka berdua. Mereka pasangan serasi!” saran murid lain lagi sambil memberikan pandangan iba pada Yao Yulan.
Tak ingin berdebat, Yao Yulan memilih pergi dan kembali ke kamarnya di pondok Huohua, salah satu area yang khusus ditempati keluarga tetua sekte.
“Nona, abaikan saja ocehan mereka!” Yao Mingyi menuangkan teh Dongfang Meiren kesukaan majikannya. “Mereka kecoa jelek yang hanya bicara sampah! Dulu ketika Nona berjaya dengan kultivasi Anda, mereka memuja-muji Nona sampai terkentut-kentut! Sungguh tak tahu malu, sekarang mereka mengejek Nona hanya karena ada orang baru seperti Xiuwen!” Si pelayan terdengar emosi.
“Apakah aku memang harus merelakan suamiku dengan adik seperguruan? Tapi, hatiku sakit. Apalagi kemarin ketika aku mendatangi guru Yimao mengenai ini, guru justru menyuruh agar aku menerima saja apabila suamiku ingin menikahi gadis lain karena menurut guru, lelaki wajar memiliki istri lebih dari satu.” Yao Yulan sedih, dia menahan tangisnya, tak mau terlihat lemah di mata pelayannya. “Hatiku sungguh hancur mendengar guru berkata seperti itu, Mingyi.”
“Nona, yakinlah bahwa kau lebih hebat dari si jelek Xiuwen!” celoteh si pelayan untuk menghibur majikannya.
“Aku ingin pergi saja dari sini daripada harus menyaksikan suamiku menikahi wanita lain.” Yao Yulan menatap tegas pelayannya.
Maka, hari pelarian ditentukan. Yao Yulan sudah mengaturnya. Yao Mingyi bersikeras ingin ikut namun tidak dia izinkan. “Aku tak mau menyeretmu, Mingyi. Tetaplah di sini dan belajar tekun mewakili aku, yah!”
Sayang sekali, rencana itu didengar Yao Xiuwen ketika dia menguping di dekat kamar Yao Yulan. Mendadak saja, dia mendapatkan rencana bagus untuk itu.
***
Besok malamnya, ketika Yao Yulan sudah mempersiapkan semuanya, dia segera ke area paling minim penjagaan.
Namun, siapa sangka, ternyata dia sudah dihardik Yao Xiuwen dan banyak murid lainnya. “Tangkap pencuri kitab pusaka milik guru Yimao!” teriak gadis jahat itu sambil menuding tegas ke Yao Yulan.
Ini menimbulkan keheranan di hati Yao Yulan. Dia mencuri? Mencuri kitab? Tapi, dia tak ada waktu dan harus melanjutkan pelariannya karena anggota sekte makin banyak berdatangan untuk menangkapnya.
Yao Yulan lekas melompati tembok dan berlari secepat mungkin ke arah hutan. Sekte Mogui Yao terletak di lembah Sidan Gu (Lembah Putus Nyali) dan agak terpencil dari pemukiman penduduk.
“Kejar dia sampai dapat! Jangan sampai lolos!” Teriakan Yao Xiuwen terdengar nyaring di belakangnya.
Berhenti di dekat bibir tebing Ku Ya (Tebing Ratapan), Yao Yulan terpaksa menghadapi para pengejarnya. “Aku tidak mencuri apapun! Aku hanya ingin pergi! Kalian tentu ingin aku pergi, kan?” teriaknya.
“Jangan percaya padanya! Aku melihat dia mencuri kitab guru!” Yao Xiuwen mendebat.
Mata Yao Yulan mendelik ke adik seperguruannya. Dia sudah cukup lama bersabar menghadapi gadis itu, kali ini sudah tidak mungkin! “Kau boleh asal makan, tapi jangan asal bicara! Mana mungkin aku mencuri kitab guru?”
“Heh! Dasar kau wanita tak berguna! Kembalikan kitab guru!” Salah satu murid luar tetua pertama menghardik Yao Yulan sambil mendelik ganas seakan ingin mencabik.
“Sudah kukatakan, aku tak punya kitab itu! Geledah saja tasku kalau tak percaya!” Yao Yulan terpaksa melemparkan tasnya ke rombongan murid gurunya.
“Jangan terkecoh! Dia pasti sudah menyembunyikannya terlebih dahulu untuk mengambilnya nanti ketika kita pergi!” Yao Xiuwen memprovokasi. “Tangkap dan siksa dia sampai mengaku!”
Situasi sudah kacau. Yao Yulan tak ada pilihan lain selain melawan ketika hendak ditangkap. Walaupun kultivasinya mandek di tingkat Pemurnian Qi level tinggi, namun dia masih lebih unggul dibandingkan beberapa murid-murid luar dari gurunya, tetua pertama sekte.
Ternyata, Yao Xiuwen ikut bertarung dan ini menyulitkan Yao Yulan. Kultivasi mereka berbeda tingkat mayor, dan itu terlalu jauh perbedaannya. Tak heran jika Yao Yulan berhasil dilukai sampai muntah darah oleh Yao Xiuwen.
Ketika tapak tangan Yao Xiuwen hendak dihantamkan ke kepala Yao Yulan, Yao Mingyi menerjang dan menggantikan majikannya menerima tapak tangan itu.
“Mingyi!” Yao Yulan terkejut. Tapi, dia tidak diberi kesempatan untuk meraih pelayannya yang berkorban nyawa untuknya. Dia terus terpojok hingga mencapai bibir tebing. “Kalian semua begitu keji padaku. Aku bersumpah di kehidupan selanjutnya, aku tak akan melupakan dendam ini dan akan kumusnahkan sekte iblis Mogui Yao!”
Lalu, menebalkan nyalinya, dia melompat dari tebing ke jurang Wu Di Shenyuan (Jurang Tanpa Dasar) dan menghilang ditelan kabut tebal di sana.
"M-bak-Di-nar" lirihnya, nyaris tak terdengar.Aku mendekatkan wajah pada Bu Ustadzah yang menatap dengan sayu."Ibu Ustazah yang sabar dan kuat ya," ucapku seraya tersenyum kepadanya, berusaha memberikan motivasi agar beliau kuat melewati musibah yang di alaminya."Ma-af-kan-sa-ya." Bu Ustazah kembali berucap seraya menggerakkan jemarinya, seolah ingin menjabat tanganku.Aku meraih jemarinya dan mengusapnya dengan lembut."Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu Ustazah, karena tidak ada yang salah. Sekarang yang terpenting Bu Ustazah sehat seperti sedia kala!" timpalku.Bu Ustazah menatapku lekat dan tiba-tiba keluar cairan bening dari kedua sudut matanya. Sementara itu, bibirnya seolah menyunggingkan senyum kearahku lalu kemudian kedua mata beliau terpejam. Aku mendekatkan wajah dan memanggil namanya, tetapi tidak ada respon sama sekali. Aku kembali memanggil di telinga kirinya, tetapi sama saja tidak ada sahutan dari bibirnya."Suster, Ibu Ustazah kenapa? Beliau diam saja, tidak menjaw
"Maaf, mengabari apa, Pak?" tanyaku penasaran.Jantungku berdetak tidak karuan. Aku khawatir ada kabar buruk yang menimpa ibu mertua yang hingga kini belum pulang ke rumah."Kami dari Rumah Sakit Husada ingin mengabari bahwa Ibu Khodijah binti Al Fajri telah mengalami kecelakaan bersama rombongan lainnya!" lanjutnya lagi.'Khodijah Al Fajri, bukankah itu nama lengkap ibu Ustazah? Tetapi kenapa pihak rumah sakit malah mengabariku? Bukankah ada Mas Syaiful yang jelas-jelas keluarganya?' bermacam pertanyaan muncul dalam benakku."Maaf Bu, kenapa tidak menghubungi pihak keluarganya langsung? Saya bukan keluarganya!" sanggahku.Aku bukannya tidak mau mengakui Bu Ustazah dan menganggapnya sebagai saudara atas kebaikannya selama ini. Akan tetapi aku merasa ada pihak keluarganya yang lebih berhak mendapatkan kabar kurang baik ini."Sudah, tetapi nomornya tidak aktif. Maaf Bu, sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit karena kondisi pasien saat ini sedang kritis. Dokter sedang melakukan pena
Kami menegok ke arah Dani secara bersamaan."Dani, sini Nak. Ini ada Nenekmu dari keluarga Ayah Dito!" ucapku melambaikan tangan padanya.Dani menghampiriku, menatap ragu ke arah ibu mertua dan meraih punggung tangannya lalu menciumnya dengan takzim."I-ni cucuku?" tanya ibu mertua dengan sedikit gugup serta tatapan penuh haru."Iya, Bu. Ini Dani, cucu pertama Ibu!" jawabku."Ya Allah, kamu sudah sebesar ini sekarang. Maafkan Nenek yang tidak pernah mengunjungimu cucuku," ucap ibu mertua seraya mengelus wajah Dani, kemudian perlahan beliau mulai terisak."Nenek kenapa menangis?" tanya Dani heran."Wajahmu mirip sekali dengan Ayahmu. Andaikan saja Dito masih ada, dia pasti bahagia melihat kita bisa berkumpul seperti ini!" ucapnya lagi.Aku menghampiri ibu mertua dan mengusap lembut punggung tangannya."Mas Dito pasti bahagia melihat kebersamaan kita, Bu. Sebaiknya hari ini Ibu menginap saja di rumah kami. Dani juga sepertinya masih kangen sama Neneknya" ujarku seraya tersenyum pada i
"Mbak Dinar, aku boleh minta tanda tangan di novelmu nggak?" tanya Mbak Sherli di suatu siang kala sepulang sekolah menjemput Kevin. Semenjak kepindahan ke rumah lamaku, hubungan kami semakin dekat. Kini bahasa yang kami gunakan juga menjadi aku dan kamu. "Mbak Sherli ada-ada aja nih, pakai minta tanda tangan segala. Aku bukan artis lho," sanggahku seraya tersenyum."Lho, Mbak Dinar ini suka merendah. Jadi penulis terkenal itu sama saja kayak artis karena udah diundang ke stasiun televisi, bahkan karyanya sudah diangkat menjadi sebuah karya film." Mbak Sherli mengerlingkan matanya menggoda. Aku tersenyum melihatnya."Sini aku kasih tanda tangan, apa mau sekalian minta photo bareng?" ledekku."Lho, Mbak Dinar ini seperti dukun saja. Memang itu yang mau saya minta selain tanda tangan," Mbak Sherli terbahak. Kami akhirnya tertawa bersama-sama.Begitulah, setelah aku diundang menjadi nara sumber di salah satu stasiun televisi dan karyaku diangkat menjadi sebuah film ada saja yang ingi
Ismi membisikkan sesuatu ke telingaku. Mataku terbelalak, tetapi tak bisa menahan diri untuk tidak tergelak."Kamu ada-ada aja Is, pakai ngerjain mereka segala. Aku mah takut dosa!" ucapku, masih saja tergelak."Orang seperti mereka sekali-sekali memang perlu di kasih pelajaran, supaya lebih mengha
"Alhamdulillah...pengajuannya diacc, kamu memang pembawa keberuntungan, Din!" puji Ismi padaku.Sementara aku masih tidak percaya, pengajuan pinjaman online yang diproses setengah jam yang lalu sudah bisa menghasilkan uang. "Ting" terdengar notif pesan dari ponselku.Aku segera membukanya, ternyat
"Apa syaratnya?" tanyaku ragu."Aku mau minta bantuanmu. Tolong pinjamkan data identitasmu buat ajukan pinjaman online, ya?" ucap Ismi dengan wajah memelas.Aku sedikit terkejut mendengar permintaan Ismi. Dia sendiri yang menawarkan akan memberikan skin care secara cuma-cuma, tetapi kenapa harus be
Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan. Suamiku sudah berikhtiar dengan cara yang halal mencari rezeqi untuk keluarganya. Berapapun hasilnya, mungkin itulah rezeqi yang Allah titipkan kepada kami."Alhamdulillah...tidak apa-apa, Mas. Masih bisa untuk beli beras satu liter. Semoga besok Allah me


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.