공유

7,

작가: Fatimahnur
last update 게시일: 2026-08-20 18:05:04

Mata merah dengan tangan yang terikat, memberontak dan melolong seperti serigala. Lelaki tampan itu berubah liar, dan tidak terkendali. Menakutkan, tapi tangannya tampak hitam, dan pergelangannya berda-rah! Tidak tega rasanya membiarkannya begitu, tapi aku akui, aku masih sangat kesal padanya!

Aku marah, tapi kakiku bergerak mendekat. Mati, jauh lebih baik daripada terjebak antara hubungan keluarga hewan yang tampaknya lebih banyak yang tidak mau menerima.

Terus melolong, dan itu terdengar menakutkan... Apa bisa dijinakan? Dia terlalu buas dari sebelumnya, dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu?!

"Nona! Anda tidak boleh mendekat! Tuan Ferdo sedang tidak terkendali! Beliau bisa melukai anda!" teriak seorang pria, yang entahlah siapa.

Aku hanya menoleh sejenak, menatap orang itu lama, dan kembali mendekat ke arah Ferdo. Tekatku bulat, tidak akan menyerah begitu saja meski mereka berkata jangan sekalipun!

Dan saat didekati, Ferdo makin menjadi-jadi. Besi yang mengikat pergelangan tangannya ia tarik dengan sangat kuat sehingga akhirnya terlepas satu persatu. Aku menatapnya dengan takut, mungkin berakhir di sini kisahku. Tapi, yang direncanakan oleh pria itu lebih menakutkan dari kematian, lebih baik mati daripada menjadi tahanannya dan akhirnya mati setelah ia mendapatkan keturunan!

Aku kira, dia akan menerkam ku dan mengakhiri semua. Tapi salah! Ferdo menarikku dan membawaku ke ranjang besarnya. Membanting tubuh ini, lalu menin-dih nya. Sungguh tidak masuk akal!

Suara pintu tertutup, mungkin orang yang di luar yang menutupnya. Ia tidak terkendali, membuka seluruh penutup tubuh dengan paksa. "T–tuan?! Apa yang anda lakukan?! Aaaggghhh! Apa yang anda masukan ke bagian intiku?!" Sakit, rasanya... Tapi samasekali tidak ada jawaban, Ferdo diam dan hanya deru nafas memburu yang terdengar setelahnya.

"Aagghhh! Sa–kit! Lepaskan!" Bagian itu rasanya robek. Airmata mulai mengalir di sudut mata, mulai terisak, tapi pria itu sama sekali tidak mau berhenti, ia memasukannya dalam, mencabut secara kasar, dan melakukannya lagi secara berulang.

Merasa kotor, hina, dan pada akhirnya mahkota yang selama ini dijaga baik teranggut sudah. Perlahan, mata ini terpejam, dan pada saat itu, masih ada guncangan hebat dari pria yang tengah menggagahi itu.

***

POV Ferdo.

Tidak ada yang bisa dikendalikan setelah muntah dar4h, racun menyebar ke seluruh tubuh, dan di saat itu, untungnya Max datang dan membawaku pergi dari kamar yang kini dihuni wanita itu.

Seperti biasa, tangan dan kaki akan diikat menggunakan besi, tubuh yang terkontaminasi dengan racunku sendiri seolah memberontak dan hampir menghabisi nyawaku sendiri. Tapi, saat aku mulai kehilangan diri sendiri, seseorang datang dengan rasa belas kasihan yang tinggi, dan...

Naf5uku seakan meninggi, aku benar-benar melampiaskannya, tapi tidak bisa melihat jelas siapa orangnya, hingga akhirnya aku terbangun, mendapati seseorang yang membuatku terkejut!

"Alicia?!" Wanita itu tidur dengan posisi tengkurap, tubuhnya dipenuhi berc4k merah, dan ada beberapa gigitan yang begitu familiar.

Tanpa pikir panjang, aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menemui Max.

Dengan isting Alpha, aku mengetahui di mana asisten pribadiku saat itu. Setelah berjalan beberapa waktu, sampailah ke sebuah pintu besar yang bangunannya menjulang tinggi. Ku tendang pintu itu, hingga terbuka lebar. Orang yang ada di dalam sampai menoleh karena sedikit terkejut, sebelum akhirnya ia mendekat.

"Kenapa anda tidak memanggil saya, Tuan?! Dan apa anda benar-benar sudah sembuh?! Hanya dengan menyentuh manusia itu?"

Pertanyaan itu melayang begitu saja, menggantung di udara dan seolah sulit untuk di jawab!

Aku diam, sebelum akhirnya kami benar-benar berhadap-hadapan! "Kau tahu sendiri, dan aku malah tidak ingat pasti. Dan sekarang, aku ingin kau cari tahu segera, siapa dan mengapa wanita itu ada di pelelangan kala itu, dan siapa keluarganya, anak siapa dia? Aku ingin tahu semuanya tentangnya, Max!"

"Itu hal mudah, Tuan Ferdo. Mari, duduk saja dulu, dan saya ingin mengatakan sesuatu."

Kami akhirnya duduk di sebuah sofa, dan Max mulai mengambil beberapa berkas yang sebelumnya sudah dipersiapkan di atas meja. Tumpukan itu cukup tinggi, dan tentunya hal itu membuatku sakit kepala!

"Tuan, karena apa yang anda lakukan pagi tadi, beberapa keluarga anda menarik saham, dan mungkin sebentar lagi – perusahaan anda akan koleps."

Aku sedikit terkejut mendengar hal tersebut, dan memang mereka tidak akan main-main bila saja aku berani memberontak dan melawan mereka. "Max, sekarang..., mungkin sekarang sudah waktunya aku memperlihatkan taringku pada mereka, tapi – aku ingin kau mencari tahu soal wanita itu! Sekarang!"

"Oh, anda sudah mulai perhatian, Tuan. Tapi bagaimana kalau apa yang mereka katakan benar?"

Max membuatku marah, aku menceker4m lehernya dan ingin sekali mematahkannya. "Berani kau bicara begitu lagi di hadapanku, maka aku akan menghabisi kau terlebih dahulu!"

"Tu–tuan, ampuni saya..., saya berjanji tidak akan melakukannya lagi!"

Aku melempar Max dengan sangat kasar, dan setelahnya aku langsung melihat beberapa berkas yang sudah di siapkan di meja kerja itu sebelumnya. Darahku seakan mendidih di saat mereka mulai menyerang dari segi finansial. "Mereka pikir siapa mereka?! Berani melakukan semua ini padaku?! Akan aku pastikan, siapa yang akan tumbang terlebih dahulu! Aku adalah ayah dari perusahaan itu! Kalau aku tidak bekerja, mereka tidak akan pernah menikmati kehidupan seperti sekarang ini!"

Tumpukan dokumen benar-benar membuat pusing! Rata-rata isinya laporan tentang beberapa belah pihak yang mulai ragu dengan kerjasama dan hendak menarik saham. Reputasi perusahaan tentu saja menjadi taruhan, dan mereka akan tertawa melihat hal ini. Tapi, mereka pikir semua akan hancur?! Tentu saja tidak! Mereka yang akan hancur!

"Max, bukankah ada salah satu kolega lagi yang belum kita temui?" Aku menatap Max dengan tatapan yang meminta sebuah jawaban dengan segera.

Max mengernyit, namun tidak kunjung menjawab. Seolah sedang memikirkan suatu hal yang baru saja dipertanyakan.

"Ya, tapi anda tahu sendiri, investor asing itu sepertinya menyembunyikan sebuah hal, dan kita belum menyelidiknya lebih lanjut, Tuan." Max terlihat bicara dengan nafas yang tertahan separuh. Aku tahu itu, dan aku juga merasakan kecemasan yang sama, akan tetapi – membiarkan seseorang menjatuhkan kita, tanpa ada usaha untuk tetap kokoh dengan usaha kita, itu adalah suatu hal yang bodoh.

"Pada akhirnya semua akan memiliki lingkaran masing-masing, dan kita tidak bisa diam membiarkan mereka menghancurkan benteng pertahanan kita, Max. Di jaman yang mulai gila, di mana kita di hormati hanya karena harta, satu-satunya sasaran empuk mereka tentu saja segala hal yang menjadi sumber daya. Aku akan mengambil resiko kali ini, Max. Bersiaplah, menghadapi musuh yang terlihat, atau yang bahkan masih bayangan suram"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   14,

    "Ke-kenapa lagi?" suaraku bergetar saat aku melihat seseorang yang datang tanpa aba-aba dan tanpa permisi. Ia tersenyum, manis sekali... Tapi kenapa membuat gugup begini?! Tatapannya lembut, tidak buas, dan ia tersenyum hangat. Lelaki itu mendekat, tubuh rasanya membeku dan ingin rasanya lari dari kenyataan yang sempat membuat nafas ini berhenti. Tubuh rasanya membeku kitak dapat bergerak. "A–ada apa lagi?" gumamku dengan suara bergetar hebat. "Tidak usah takut, Nona. Saya datang karena saya hanya ingin membawa gaun. Ternyata gaun yang tuan bawa salah. Beliau tidak ingin pasangannya terlalu menawan saat keluar dari rumah." ujar Max. Apa yang ia katakan sangat berlebihan, tapi aku hanya tersenyum kaku. Sulit rasanya untuk tetap tenang, dan mungkin wajahku kini terlihat sangat tegang. "Itu berlebihan," kataku dengan sangat santai. Lelaki itu mendekat dan memberikan sebuah paper bag yang ternyata ia bawa sedari tadi. Aku mendekat dan menerima dengan sopan. "Terimakasih, Max. Aku ak

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   13, Ketakutan

    Uap masih mengepul tipis saat aku melangkah keluar dari kamar mandi. Rambutku menetes, meninggalkan jejak air di lantai. Handuk membalut tubuhku, tapi dinginnya tetap merayap ke kulit. "Aku tidak tahu, apa lagi yang akan terjadi nantinya, tapi untuk sekarang, aku akan berusaha menerimanya." Segala takdir yang aku terima begitu mengerikan, aku merasa tertekan. Jari-jariku menyentuh bahannya gaun itu pelan. Dingin. Halus. Beratnya mungkin pas di tangan. Warna merah menyala itu kini terasa lebih dalam di bawah cahaya lampu kamar. Potongannya tidak terlihat sederhana, tapi setiap jahitan terlihat dibuat dengan niat. Bukan gaun yang dibeli asal-asalan. Aku melepaskan handuk. Kulitku masih hangat bekas air panas. Aku menatap tubuhku yang penuh bercak merah di cermin, entah bagaimana nanti menutupinya.. Aku berdiri di depan cermin. Uapnya sudah mulai hilang. "Bagaimana caraku menutup bercak merah yang ada di punggung?" gumamku dengan sangat bingung. Aku menatap ke arah gaun sekali lagi

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   12, Kembali Ternodai

    "Tidak! Sudah cukup aku mengorbankan diri satu kali kemarin! Itu sudah impas dengan harga yang harus saya terima!" Aku menolak saat ia kembali lagi menjamahku, "Tuan Ferdo! Menyingkir dari tubuhku!" Aku berteriak saat lelaki itu memaksaku, dan aku menolak saat ia berusaha menguasai tubuhku! Aku bukan boneka, meski ia telah memberiku! "Kau harus melayani aku! Aku sudah membelimu mahal!" Teriak Ferdo dengan suara meninggi. "Aaaggghhh!" Aku berteriak saat bagian intiku dimasuki sangat dalam dan paksa. Entah bagaimana, lelaki itu bisa melakukannya dalam keadaan aku menolak sepenuhnya. Akan tetapi, benda keras itu masuk sehingga membuatku menahan nafas! Airmata mulai mengalir dari ujung pelupuk mata, Isak tidak lagi ia dengarkan, lelaki itu benar-benar buas, tidak perduli apa yang aku rasa. Leher mulai tersentuh, sesaat setelah ia mendekatkan bi-birnya. Ia menghisapnya, meninggalkan sensasi perih yang tidak bisa ditolak, atau ditepis. Aku menangis, tapi ia tidak perduli, tidak ada ken

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   11, Untuk kesekian kalinya...

    Gelang itu tampak sederhana, seperti gelang kain pada umumnya, namun warnanya sangat gelap, dan juga beraroma pohon pinus. "Apa ini terbuat dari pohon pinus?! Kenapa baunya aneh sekali?! Penampilannya juga biasa saja. Tapi – kenapa aku malah penasaran?!" tanganku terulur untuk mengambil gelang itu, meski aromanya aneh dan cukup menusuk di hidung, akan tetapi ada hal yang membuatku merasa jauh lebih tenang. Dan di tengah gelang itu, ada sebuah mainan yang tampaknya seperti bunga pohon pinus. Aku tersenyum melihatnya. "Tidak buruk juga, aku akan memakainya. Ini lebih unik dari beberapa gelang yang pernah aku miliki." gumamku. Seketika suasana hatiku terasa jauh lebih damai, dan aku seakan menerima sebuah kado terhebat sepanjang usia ini. Aku akhirnya memakainya, dan perutku ternyata terasa sangat lapar setelahnya. "Ah, mungkin karena suasana hatiku membaik, aku jadi ingin makan!" Satu nampan di meja nakas yang sebelumnya tergeletak dan tak tersentuh akhirnya aku ambil. Meskipun aku

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   10,

    POV Alicia. Aku kehilangan mahkota, dan aku telah kehilangan apa yang paling berharga. Tapi, lelaki itu datang setelah aku menolak makan. Bukan datang minta maaf ataupun merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan padaku, ia malah marah-marah dan takut aku yang sebagai barang miliknya ini rusak dan tidak bisa ia terima. Aku diam, tanganku sudah mengepal sepenuhnya, dan aku sebenarnya sangat kesal dengan segala perlakuannya, akan tetapi – aku tidak ingin menyiksa diri sendiri dengan melawannya, bahkan meminta maaf pun tidak aku lakukan karena aku merasa tidak bersalah samasekali. Setelah lelaki itu pergi, aku hanya duduk termenung. "Kamu punya nyali juga ternyata, seorang manusia hina, masih berani memperlakukan tuanku seperti itu!" Ucapan dari seorang maid itu terasa membuatku muak! Aku menatap ke arahnya dan akhirnya bangkit dari dudukku dan menghadapinya. 'Plaaak!' satu tanganku melayang ke arah wajahnya dengan keras. "Aku tahu, aku kotor! Tapi, kamu tidak berhak mencemooh aku s

  • Pengantin Pengganti Untuk Tuan Alpha   9,

    POV Ferdo."Bermain wanita maksud anda?" aku langsung menanyakannya pada Tuan Josh, dan aku juga melihat senyumannya, senyuman licik yang seakan setuju dengan kata-kataku. Biasanya aku langsung menyetujuinya, dan meski aku tidak bersetubuh dengan wanita-wanita itu, tapi aku pasti akan menikmati tubuh wanita. Akan tetapi, kini kenapa berat sekali rasanya?Aku tersenyum, sebelum akhirnya meletakan gelas yang sebelumya aku angkat dan aku nikmati sedikit. Sialnya lelaki itu memberikanku minuman keras, bukan minuman hangat seperti kopi."Maaf, saya sedang banyak urusan. Mungkin lain kali, terimakasih atas kerja samanya, dan mungkin sekarang saya akan segera kembali." aku bangkit dari duduk, menghampiri lelaki itu dan hendak berniat menjabat tangannya dan pergi dari sana. Lelaki itu ikut berdiri, bergerak dari tempatnya dan segera menuju ke arahku dan menjabat tanganku."Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik, dan saya berharap anda tidak mundur lagi, karena tentu saja saya akan memberi

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status