LOGINMata merah dengan tangan yang terikat, memberontak dan melolong seperti serigala. Lelaki tampan itu berubah liar, dan tidak terkendali. Menakutkan, tapi tangannya tampak hitam, dan pergelangannya berda-rah! Tidak tega rasanya membiarkannya begitu, tapi aku akui, aku masih sangat kesal padanya!
Aku marah, tapi kakiku bergerak mendekat. Mati, jauh lebih baik daripada terjebak antara hubungan keluarga hewan yang tampaknya lebih banyak yang tidak mau menerima. Terus melolong, dan itu terdengar menakutkan... Apa bisa dijinakan? Dia terlalu buas dari sebelumnya, dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu?! "Nona! Anda tidak boleh mendekat! Tuan Ferdo sedang tidak terkendali! Beliau bisa melukai anda!" teriak seorang pria, yang entahlah siapa. Aku hanya menoleh sejenak, menatap orang itu lama, dan kembali mendekat ke arah Ferdo. Tekatku bulat, tidak akan menyerah begitu saja meski mereka berkata jangan sekalipun! Dan saat didekati, Ferdo makin menjadi-jadi. Besi yang mengikat pergelangan tangannya ia tarik dengan sangat kuat sehingga akhirnya terlepas satu persatu. Aku menatapnya dengan takut, mungkin berakhir di sini kisahku. Tapi, yang direncanakan oleh pria itu lebih menakutkan dari kematian, lebih baik mati daripada menjadi tahanannya dan akhirnya mati setelah ia mendapatkan keturunan! Aku kira, dia akan menerkam ku dan mengakhiri semua. Tapi salah! Ferdo menarikku dan membawaku ke ranjang besarnya. Membanting tubuh ini, lalu menin-dih nya. Sungguh tidak masuk akal! Suara pintu tertutup, mungkin orang yang di luar yang menutupnya. Ia tidak terkendali, membuka seluruh penutup tubuh dengan paksa. "T–tuan?! Apa yang anda lakukan?! Aaaggghhh! Apa yang anda masukan ke bagian intiku?!" Sakit, rasanya... Tapi samasekali tidak ada jawaban, Ferdo diam dan hanya deru nafas memburu yang terdengar setelahnya. "Aagghhh! Sa–kit! Lepaskan!" Bagian itu rasanya robek. Airmata mulai mengalir di sudut mata, mulai terisak, tapi pria itu sama sekali tidak mau berhenti, ia memasukannya dalam, mencabut secara kasar, dan melakukannya lagi secara berulang. Merasa kotor, hina, dan pada akhirnya mahkota yang selama ini dijaga baik teranggut sudah. Perlahan, mata ini terpejam, dan pada saat itu, masih ada guncangan hebat dari pria yang tengah menggagahi itu. *** POV Ferdo. Tidak ada yang bisa dikendalikan setelah muntah dar4h, racun menyebar ke seluruh tubuh, dan di saat itu, untungnya Max datang dan membawaku pergi dari kamar yang kini dihuni wanita itu. Seperti biasa, tangan dan kaki akan diikat menggunakan besi, tubuh yang terkontaminasi dengan racunku sendiri seolah memberontak dan hampir menghabisi nyawaku sendiri. Tapi, saat aku mulai kehilangan diri sendiri, seseorang datang dengan rasa belas kasihan yang tinggi, dan... Naf5uku seakan meninggi, aku benar-benar melampiaskannya, tapi tidak bisa melihat jelas siapa orangnya, hingga akhirnya aku terbangun, mendapati seseorang yang membuatku terkejut! "Alicia?!" Wanita itu tidur dengan posisi tengkurap, tubuhnya dipenuhi berc4k merah, dan ada beberapa gigitan yang begitu familiar. Tanpa pikir panjang, aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menemui Max. Dengan isting Alpha, aku mengetahui di mana asisten pribadiku saat itu. Setelah berjalan beberapa waktu, sampailah ke sebuah pintu besar yang bangunannya menjulang tinggi. Ku tendang pintu itu, hingga terbuka lebar. Orang yang ada di dalam sampai menoleh karena sedikit terkejut, sebelum akhirnya ia mendekat. "Kenapa anda tidak memanggil saya, Tuan?! Dan apa anda benar-benar sudah sembuh?! Hanya dengan menyentuh manusia itu?" Pertanyaan itu melayang begitu saja, menggantung di udara dan seolah sulit untuk di jawab! Aku diam, sebelum akhirnya kami benar-benar berhadap-hadapan! "Kau tahu sendiri, dan aku malah tidak ingat pasti. Dan sekarang, aku ingin kau cari tahu segera, siapa dan mengapa wanita itu ada di pelelangan kala itu, dan siapa keluarganya, anak siapa dia? Aku ingin tahu semuanya tentangnya, Max!" "Itu hal mudah, Tuan Ferdo. Mari, duduk saja dulu, dan saya ingin mengatakan sesuatu." Kami akhirnya duduk di sebuah sofa, dan Max mulai mengambil beberapa berkas yang sebelumnya sudah dipersiapkan di atas meja. Tumpukan itu cukup tinggi, dan tentunya hal itu membuatku sakit kepala! "Tuan, karena apa yang anda lakukan pagi tadi, beberapa keluarga anda menarik saham, dan mungkin sebentar lagi – perusahaan anda akan koleps." Aku sedikit terkejut mendengar hal tersebut, dan memang mereka tidak akan main-main bila saja aku berani memberontak dan melawan mereka. "Max, sekarang..., mungkin sekarang sudah waktunya aku memperlihatkan taringku pada mereka, tapi – aku ingin kau mencari tahu soal wanita itu! Sekarang!" "Oh, anda sudah mulai perhatian, Tuan. Tapi bagaimana kalau apa yang mereka katakan benar?" Max membuatku marah, aku menceker4m lehernya dan ingin sekali mematahkannya. "Berani kau bicara begitu lagi di hadapanku, maka aku akan menghabisi kau terlebih dahulu!" "Tu–tuan, ampuni saya..., saya berjanji tidak akan melakukannya lagi!" Aku melempar Max dengan sangat kasar, dan setelahnya aku langsung melihat beberapa berkas yang sudah di siapkan di meja kerja itu sebelumnya. Darahku seakan mendidih di saat mereka mulai menyerang dari segi finansial. "Mereka pikir siapa mereka?! Berani melakukan semua ini padaku?! Akan aku pastikan, siapa yang akan tumbang terlebih dahulu! Aku adalah ayah dari perusahaan itu! Kalau aku tidak bekerja, mereka tidak akan pernah menikmati kehidupan seperti sekarang ini!" Tumpukan dokumen benar-benar membuat pusing! Rata-rata isinya laporan tentang beberapa belah pihak yang mulai ragu dengan kerjasama dan hendak menarik saham. Reputasi perusahaan tentu saja menjadi taruhan, dan mereka akan tertawa melihat hal ini. Tapi, mereka pikir semua akan hancur?! Tentu saja tidak! Mereka yang akan hancur! "Max, bukankah ada salah satu kolega lagi yang belum kita temui?" Aku menatap Max dengan tatapan yang meminta sebuah jawaban dengan segera. Max mengernyit, namun tidak kunjung menjawab. Seolah sedang memikirkan suatu hal yang baru saja dipertanyakan. "Ya, tapi anda tahu sendiri, investor asing itu sepertinya menyembunyikan sebuah hal, dan kita belum menyelidiknya lebih lanjut, Tuan." Max terlihat bicara dengan nafas yang tertahan separuh. Aku tahu itu, dan aku juga merasakan kecemasan yang sama, akan tetapi – membiarkan seseorang menjatuhkan kita, tanpa ada usaha untuk tetap kokoh dengan usaha kita, itu adalah suatu hal yang bodoh. "Pada akhirnya semua akan memiliki lingkaran masing-masing, dan kita tidak bisa diam membiarkan mereka menghancurkan benteng pertahanan kita, Max. Di jaman yang mulai gila, di mana kita di hormati hanya karena harta, satu-satunya sasaran empuk mereka tentu saja segala hal yang menjadi sumber daya. Aku akan mengambil resiko kali ini, Max. Bersiaplah, menghadapi musuh yang terlihat, atau yang bahkan masih bayangan suram""Alicia, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." Suara itu berat, dalam, dan begitu dekat di telingaku. Ferdo tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya tetap lurus ke depan, menatap kaca mobil yang gelap, namun tangannya... tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seerat itu hingga aku bisa merasakan dinginnya cincin di jarinya menusuk kulitku. Setelah bicara begitu, lelaki itu memerintahkan sopir agar mobil berjalan maju. Mobil hitam itu melaju. Perjalanan itu terasa sangat lama. Semakin lama kami berjalan, jalanan aspal mulus perlahan menghilang, berganti menjadi jalan tanah berbatu. Lampu-lampu kota mulai menghilang satu per satu. Pohon-pohon di sisi jalan semakin tinggi, semakin rapat, hingga cahaya bulan pun tidak bisa masuk. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya sampai ke sebuah tempat yang makin gelap. Ini bukan gelap biasa. Ini adalah gelap yang hidup. Gelap yang bernafas. Aku bisa mendengar suara-suara aneh dari luar. Bukan suara ja
'SRIITTT!' Suara mesin mobil yang mengerem mendadak begitu keras. Tubuhku terdorong ke depan. Selimut tebal itu melorot. Aku terkejut bukan main, dan pada saat yang sama Ferdo akhirnya terbangun, padahal ia baru saja tertidur lelap. Matanya terbuka dalam sepersekian detik. Tidak ada sisa kantuk. Langsung tajam, langsung waspada, langsung menjadi Ferdo yang ditakuti semua orang itu. "Ada apa di luar?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius menatap ke depan. Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu. Dari kaca depan yang sedikit berembun, aku bisa melihatnya. Di tengah jalan hutan yang gelap itu, berdiri lima orang dengan memakai topeng hitam. Topengnya terbuat dari kayu gelap dengan ukiran aneh, hanya terlihat mata mereka yang menyala merah. Mereka membawa rantai dan belati panjang. Di belakang mereka, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin. Serigala-serigala bayangan Ferdo menggeram. Max berteriak dari luar, "Tuan! Penyergap! Mundur!" Ferdo langsung berdiri se
"Tapi, apa kamu tidak lelah?" tanyaku pada Ferdo.Aku menatap wajahnya dari dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat sekarang. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi semua orang, kini terlihat sayu dan lelah. Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali karena mengurus laporan dari wilayah perbatasan, dan pagi ini ia bahkan tidak sempat menyelesaikan tidurnya karena aku meninggalkannya.Lelaki itu tampak menatapku dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tidak karuan, senyum yang hanya ia perlihatkan padaku seorang.Satu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya pelan, seperti sedang menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambutku yang masih berantakan karena baru bangun tidur."Jangan khawatir, aku tak menyetir mobil sendiri. Aku akan tidur di mobil," ujarnya. Suaranya pelan dan serak.Aku merasa lega sedikit. Setidaknya ia tidak akan memaksakan diri menyetir da
Aku bingung menjawab pertanyaan Max saat ia bertanya apa aku memiliki rasa pada Ferdo, bosnya sendiri sekaligus orang yang memberiku segalanya.Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba di tengah sarapan. Aku yang sedang memotong daging di piringku langsung berhenti. Garpu di tanganku terasa berat."Nona Alicia," kata Max pelan dengan suaranya yang selalu tenang dan sopan itu. "Bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"Aku mengangguk pelan, masih menatap piringku."Apakah Nona memiliki rasa pada Tuan Ferdo?"Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Apa maksudnya rasa? Rasa takut? Rasa hormat? Atau rasa yang lain yang bahkan aku sendiri tidak berani menyebut namanya.Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?Ferdo adalah bosku sendiri, orang yang memberiku tempat tinggal saat aku tidak punya siapa-siapa. Orang yang memberiku makan, pakaian, pendidikan, bahkan memberiku nama belakangnya agar aku tidak lagi dipanggil anak haram tanpa keluarga. Ia adalah orang yang telah menga
POV Alicia. Ferdo tertidur pulas pagi itu. Setelah tangisnya yang panjang semalam, setelah ia memelukku dengan erat sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya miliknya seutuhnya, Ferdo akhirnya terlelap di sampingku. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah oleh sisa air mata, namun napasnya terdengar teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Ia tampak kelelahan, aku tidak berani membangunkannya. Aku memandangi wajahnya yang tertidur dari jarak yang dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Alisnya yang biasanya selalu berkerut tegang kini terlihat rileks. Bibirnya yang tegas sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang berat. Lengan besarya masih melingkar di pinggangku, menjaga agar aku tetap berada di dalam pelukannya bahkan di dalam tidurnya. Aku tidak berani bergerak dengan keras. Aku tidak berani membangunkannya, karena aku tahu ia sangat membutuhkan istirahat. Selama beberapa malam terakhir, ia pasti menghabiskan waktunya untuk men
POV - Alicia. Aku memandang lelaki itu lama. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak. Kepalaku masih terasa berat dan pusing karena terlalu banyak menangis. Mataku yang sembab terasa perih setiap kali aku mengedipkannya. Cahaya temaram dari lampu kamar membuat pandanganku sedikit buram. Di sampingku, Ferdo duduk dengan kepala yang menunduk. Punggungnya yang biasanya terlihat begitu tegak dan berwibawa, kini terlihat membungkuk dengan lemah. Bahunya bergetar. Awalnya aku sangat membencinya, aku merasa ia begitu kejam. ia banyak bicara hari ini. Bicara penuh penyesalan dan maaf ia lontarkan puluhan kali mungkin. Aku membencinya karena ia telah membuatku berada dalam posisi yang sangat menakutkan ini. Aku membencinya karena ia adalah seorang alpha, makhluk yang kekuatannya jauh di atas manusia biasa sepertiku. Aku membencinya karena tadi aku mendengar suara tembakan dan bentakannya yang menggelegar di aula paviliun, membentak semua pelayan dan mengancam akan







