Mag-log inIni nyata, bukan ilusi, bukan sebuah mimpi juga, lutut yang terbentur lantai marmer itu terasa sakit. Tapi melihat dua binatang buas itu, apa lebih baik hanya menonton saja? Atau pergi dari sana untuk menyelamatkan diri sendiri.
Kata "Berhenti bila salah satu mati," membuat aku makin takut. Dan sialnya keluarga itu malah hanya diam dan menonton saja. Tubuh Ferdo terlempar jauh, ia tampak terluka. Aku spontan menutup mulut saat melihat hal itu. Apa ini akhir dari semuanya?! Dan dia akan tewas karena aku? Dengan tekat yang besar, aku berlari ke arahnya, mencoba memeluknya... Tapi yang aku dapatkan ternyata tidak sesuai harapan. Dia mengayunkan tangannya dan menghantam tubuhku. Aku tersentak cukup jauh, hingga punggungku menghantam sebuah vas yang besar. Bagian depanku perih, dan sakit... Cairan merah mulai keluar, bau da-rah mulai tercium kuat. Perlahan, pandanganku berkunang-kunang, tapi aku melihat silwet bayangan seseorang mulai mendekat, meski aku tidak yakin, apa itu benar dia? *** POV Ferdo... Pertarungan yang awalnya hanya menjadi sebuah gertakan akhirnya diterima salah satu keponakan dari ayahku, aku begitu emosi dengan penolakan mereka. Memang, mungkin aku memang salah, akan tetapi tidak sepenuhnya, karena aku sungguh sangat muak terus di atur oleh mereka! Mereka memperlakukanku sesuka hati, tapi segala pencapaian harus terpenuhi. Tubuh ini tidak sanggup lagi menahan gejolak emosi! Berubah! Aku bahkan tidak perduli apapun, dan aku sudah tidak ingat apapun, sebelum akhirnya ada seseorang yang berusaha mendekat dan mencoba menghentikan ku! Aku sangat marah, dan aku paling tidak suka di ganggu dan dihentikan. Tubuh ini dengan spontan menghempaskan orang itu, tapi saat suara benturan itu terdengar dan vas pecah, aku menoleh ke arah sumber suara. Melihat siapa yang aku hempaskan, pada saat itu juga aku menghentikan semuanya! Untuk pertama kalinya, aku menghentikan segala ambisiku untuk menang! Aku berlari menghampiri tubuh yang sudah bersimbah cairan merah itu. Perlahan, saat aku mulai mendekat, tubuh ini kembali berubah seperti manusia pada umumnya, aku mendekat, dan berusaha untuk segera sampai. "Alicia!" Untuk pertama kali, aku meneriakan nama seseorang dengan suara meninggi, dan khawatir. "Max! Max!" teriakku memanggil asisten pribadiku. Tidak membutuhkan waktu lama, asisten pribadi datang! "Panggilkan dokter! Cepat!" teriakku lagi dengan panik. "Baik, Tuan!" Aku tidak memperdulikan apapun lagi, yang aku lakukan hanya berlari menuju kamar dan menghentikan pendarah4n yang terjadi pada tubuh Alicia. Nafasnya sudah pelan, ia tak sadarkan diri, dan aku takut. Beberapa saat kemudian dokter datang dan mulai mencoba mengobati Alicia. Cairan merah dalam tubuhnya terus menerus mengucur keluar. Aku bisa menyembuhkan luka, tapi bila itu terjadi karena gigitan ku saja, tidak dengan cakaran yang aku buat. "Tuan, lukanya cukup dalam. Hanya Anda yang bisa mengobatinya, atau dia akan tewas!" Salah satu dokter mulai bicara. Aku mencekeram kerah baju dokter itu, "Berani kau bilang begitu, kau dulu yang akan aku buat tewas!" "Tuan, beliau berkata serius, luka ini terlalu dalam, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain anda yang melakukannya!" dokter lain mulai bicara! Dan pada waktu yang bersamaan, pintu terbuka cukup lebar dengan suara yang sangat keras. Seluruh anggota keluargaku terlihat berdiri di ambang pintu dan memaksa masuk meski Max berusaha menghentikan mereka! "Kau tidak bisa melakukan itu, kau bisa menerima akibatnya! Kau tahu sendiri kan, cakarmu mengandung racun!" Ibuku mulai berteriak, tapi aku tidak perduli samasekali, aku menatap ke arah mereka dan mata ini bersinar merah terang. "Pergi atau aku akan memberi pelajaran pada kalian!" tidak membutuhkan waktu lama, mereka pergi setelah melihatku murka. Dokter bahkan ikut pergi setelah aku mencoba menatapnya. Di dalam kamar, hanya ada kami berdua. Aku menatap tubuh gadis itu, dan aku mulai membuka pakai-an nya satu persatu, mulai menji-lat bagian yang terluka karenaku. Aku tahu, aku yang akan menanggung segala konsekwensinya, akan tetapi, aku tidak perduli! Dia berani memberikan nyawanya untukku, demi aku, dan tidak tega melihat aku terluka, meski aku memungkiri belas kasihan yang ada dalam hati, tapi kenapa terasa begitu? Perlahan, luka-luka itu tertutup, seluruh da-rah akhirnya terlihat bersih, tapi – ada harga mahal yang harus aku bayar! Bagian depan, bagian belakang, semua sudah sembuh, setelahnya aku berlari ke arah wastafel yang ada di kamar mandi. Cairan berwarna merah bercampur hitam keluar dari dalam mulut. Sangat banyak, bahkan terlihat tidak ada habisnya! Semua gelap, dan ya... Tidak lagi terlihat apapun, ataupun terdengar suara apapun. *** Pagi hari berganti siang... Alicia... Perlahan, menghirup udara dengan sangat berat, aroma mawar semerbak di sekitar, tidak ada yang membangunkan, tidak ada yang membuat kegaduhan. Aku mulai mencoba membuka mata, dan berharap aku sudah berada di alam kematian! "Hmm? Di mana ini? Langit-langit kamar tidak terlihat asing," mataku terbelalak sepenuhnya setelah aku menyadari kalau aku berada di dalam kamar! "Bagaimana bisa?! Bagaimana?!" Aku spontan duduk, dan aku langsung memejamkan mata saat aku ingat, bagian tubuhku terluka parah. Akan tetapi, saat aku mulai merasakan bagaimana tubuhku, aku kembali terkejut saat aku tidak merasakan sakit, dan bahkan luka itu hilang sudah. "Aku harus tanya padanya!" Aku turun dari ranjang, tanpa alas kaki, tanpa takut atau khawatir terjadi hal yang akan terjadi padaku. Pintu aku buka dengan cepat! Mencari orang ke segala sumber, dan pada akhirnya aku bertemu seorang pria asing. "Permisi, aku mau menemui Tuan Ferdo, di mana dia?!" Bukannya menjawab, pria itu hanya menggeleng pelan, dan seakan tidak ingin menjawab. Tapi beberapa saat, datang beberapa pelayang yang tampak ketakutan. "Tuan Max! Tuan Ferdo kembali kambuh!" Mendengar ucapannya, aku berlari ke sumber arah datangnya wanita itu. "Nona! Anda tidak boleh kesana!" Larangan itu mulai terdengar, tapi – aku tidak perduli. Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang terjadi pada pria itu! Langkah kaki ini mulai mendekat ke sebuah arah sumber suara gaduh. Menerobos masuk adalah hal yang umum dilakukan oleh orang yang sudah tidak perduli lagi dengan apapun pada saat situasi begini. Segala hal mengerikan sudah aku lihat, dan aku ingat betul aku terluka, lantas..., bagaimana bisa tubuh ini samasekali tidak ada luka, bahkan rasa sakit juga tidak ada! Satu-satunya yang bisa memberikan jawaban, tentu saja pria gila itu! Pria yang memberikan sebuah kehidupan kedua, tapi menodongkan senjata ke leherku... Setiap saat, aku bisa terbunuh di tangannya, keluarganya, ataupun siapapun itu yang menginginkannya... Pintu itu aku terobos, dan aku menahan nafas setelah melihat apa yang terjadi pada saat itu."Alicia, aku tak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." Suara itu berat, dalam, dan begitu dekat di telingaku. Ferdo tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya tetap lurus ke depan, menatap kaca mobil yang gelap, namun tangannya... tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat. Seerat itu hingga aku bisa merasakan dinginnya cincin di jarinya menusuk kulitku. Setelah bicara begitu, lelaki itu memerintahkan sopir agar mobil berjalan maju. Mobil hitam itu melaju. Perjalanan itu terasa sangat lama. Semakin lama kami berjalan, jalanan aspal mulus perlahan menghilang, berganti menjadi jalan tanah berbatu. Lampu-lampu kota mulai menghilang satu per satu. Pohon-pohon di sisi jalan semakin tinggi, semakin rapat, hingga cahaya bulan pun tidak bisa masuk. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya sampai ke sebuah tempat yang makin gelap. Ini bukan gelap biasa. Ini adalah gelap yang hidup. Gelap yang bernafas. Aku bisa mendengar suara-suara aneh dari luar. Bukan suara ja
'SRIITTT!' Suara mesin mobil yang mengerem mendadak begitu keras. Tubuhku terdorong ke depan. Selimut tebal itu melorot. Aku terkejut bukan main, dan pada saat yang sama Ferdo akhirnya terbangun, padahal ia baru saja tertidur lelap. Matanya terbuka dalam sepersekian detik. Tidak ada sisa kantuk. Langsung tajam, langsung waspada, langsung menjadi Ferdo yang ditakuti semua orang itu. "Ada apa di luar?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius menatap ke depan. Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu. Dari kaca depan yang sedikit berembun, aku bisa melihatnya. Di tengah jalan hutan yang gelap itu, berdiri lima orang dengan memakai topeng hitam. Topengnya terbuat dari kayu gelap dengan ukiran aneh, hanya terlihat mata mereka yang menyala merah. Mereka membawa rantai dan belati panjang. Di belakang mereka, pepohonan bergoyang keras meski tidak ada angin. Serigala-serigala bayangan Ferdo menggeram. Max berteriak dari luar, "Tuan! Penyergap! Mundur!" Ferdo langsung berdiri se
"Tapi, apa kamu tidak lelah?" tanyaku pada Ferdo.Aku menatap wajahnya dari dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat sekarang. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi semua orang, kini terlihat sayu dan lelah. Sejak kemarin malam ia tidak tidur sama sekali karena mengurus laporan dari wilayah perbatasan, dan pagi ini ia bahkan tidak sempat menyelesaikan tidurnya karena aku meninggalkannya.Lelaki itu tampak menatapku dan tersenyum lembut. Senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tidak karuan, senyum yang hanya ia perlihatkan padaku seorang.Satu tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya pelan, seperti sedang menenangkan seekor kucing kecil yang ketakutan. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambutku yang masih berantakan karena baru bangun tidur."Jangan khawatir, aku tak menyetir mobil sendiri. Aku akan tidur di mobil," ujarnya. Suaranya pelan dan serak.Aku merasa lega sedikit. Setidaknya ia tidak akan memaksakan diri menyetir da
Aku bingung menjawab pertanyaan Max saat ia bertanya apa aku memiliki rasa pada Ferdo, bosnya sendiri sekaligus orang yang memberiku segalanya.Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba di tengah sarapan. Aku yang sedang memotong daging di piringku langsung berhenti. Garpu di tanganku terasa berat."Nona Alicia," kata Max pelan dengan suaranya yang selalu tenang dan sopan itu. "Bolehkah saya bertanya sesuatu yang agak pribadi?"Aku mengangguk pelan, masih menatap piringku."Apakah Nona memiliki rasa pada Tuan Ferdo?"Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Apa maksudnya rasa? Rasa takut? Rasa hormat? Atau rasa yang lain yang bahkan aku sendiri tidak berani menyebut namanya.Aku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?Ferdo adalah bosku sendiri, orang yang memberiku tempat tinggal saat aku tidak punya siapa-siapa. Orang yang memberiku makan, pakaian, pendidikan, bahkan memberiku nama belakangnya agar aku tidak lagi dipanggil anak haram tanpa keluarga. Ia adalah orang yang telah menga
POV Alicia. Ferdo tertidur pulas pagi itu. Setelah tangisnya yang panjang semalam, setelah ia memelukku dengan erat sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya miliknya seutuhnya, Ferdo akhirnya terlelap di sampingku. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah oleh sisa air mata, namun napasnya terdengar teratur dan tenang untuk pertama kalinya setelah beberapa hari. Ia tampak kelelahan, aku tidak berani membangunkannya. Aku memandangi wajahnya yang tertidur dari jarak yang dekat. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Alisnya yang biasanya selalu berkerut tegang kini terlihat rileks. Bibirnya yang tegas sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang berat. Lengan besarya masih melingkar di pinggangku, menjaga agar aku tetap berada di dalam pelukannya bahkan di dalam tidurnya. Aku tidak berani bergerak dengan keras. Aku tidak berani membangunkannya, karena aku tahu ia sangat membutuhkan istirahat. Selama beberapa malam terakhir, ia pasti menghabiskan waktunya untuk men
POV - Alicia. Aku memandang lelaki itu lama. Aku baru saja terbangun dari tidurku yang sangat nyenyak. Kepalaku masih terasa berat dan pusing karena terlalu banyak menangis. Mataku yang sembab terasa perih setiap kali aku mengedipkannya. Cahaya temaram dari lampu kamar membuat pandanganku sedikit buram. Di sampingku, Ferdo duduk dengan kepala yang menunduk. Punggungnya yang biasanya terlihat begitu tegak dan berwibawa, kini terlihat membungkuk dengan lemah. Bahunya bergetar. Awalnya aku sangat membencinya, aku merasa ia begitu kejam. ia banyak bicara hari ini. Bicara penuh penyesalan dan maaf ia lontarkan puluhan kali mungkin. Aku membencinya karena ia telah membuatku berada dalam posisi yang sangat menakutkan ini. Aku membencinya karena ia adalah seorang alpha, makhluk yang kekuatannya jauh di atas manusia biasa sepertiku. Aku membencinya karena tadi aku mendengar suara tembakan dan bentakannya yang menggelegar di aula paviliun, membentak semua pelayan dan mengancam akan







