LOGINPOV Ferdo.Setelah meniduri wanita itu, tubuh ini rasanya ringan, meskipun nantinya tidak tahu akan semarah apa wanita itu. Seharusnya ia tidak marah, karena ini adalah suatu hal yang wajib ia lakukan dan ia berikan, 'kan?!"Max, aku kelepasan, dan aku meniduri wanita itu." aku mulai bicara pada asisten pribadiku, sembari berjalan menuju ke luar mansion. Ada hal yang harus di lakukan, dan banyak hal yang harus dibereskan."Saya tahu, Tuan." Max menjawab, dengan suara yang sedikit lebih jauh di belakang."Aku tidak tahu apa wanita itu menerimaku, dan benih yang aku tumpahkan dalam rahimnya, tapi aku ingin kamu pastikan, kalau ia tidak melakukan tindakan bodoh setelah apa yang aku lakukan, kamu mengerti apa maksudku?" Aku mulai memberikan sebuah perintah secara tidak langsung. Aku terlalu takut, akan tetapi tidak langsung menjelaskan secara langsung. Entah mengapa, aku takut wanita itu akan melukai dirinya sendiri setelah apa yang terjadi."Tidak usah takut, Tuan. Saya akan memerintahka
Mata merah dengan tangan yang terikat, memberontak dan melolong seperti serigala. Lelaki tampan itu berubah liar, dan tidak terkendali. Menakutkan, tapi tangannya tampak hitam, dan pergelangannya berda-rah! Tidak tega rasanya membiarkannya begitu, tapi aku akui, aku masih sangat kesal padanya!Aku marah, tapi kakiku bergerak mendekat. Mati, jauh lebih baik daripada terjebak antara hubungan keluarga hewan yang tampaknya lebih banyak yang tidak mau menerima.Terus melolong, dan itu terdengar menakutkan... Apa bisa dijinakan? Dia terlalu buas dari sebelumnya, dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu?!"Nona! Anda tidak boleh mendekat! Tuan Ferdo sedang tidak terkendali! Beliau bisa melukai anda!" teriak seorang pria, yang entahlah siapa.Aku hanya menoleh sejenak, menatap orang itu lama, dan kembali mendekat ke arah Ferdo. Tekatku bulat, tidak akan menyerah begitu saja meski mereka berkata jangan sekalipun!Dan saat didekati, Ferdo makin menjadi-jadi. Besi yang mengikat pergelangan ta
Ini nyata, bukan ilusi, bukan sebuah mimpi juga, lutut yang terbentur lantai marmer itu terasa sakit. Tapi melihat dua binatang buas itu, apa lebih baik hanya menonton saja? Atau pergi dari sana untuk menyelamatkan diri sendiri.Kata "Berhenti bila salah satu mati," membuat aku makin takut. Dan sialnya keluarga itu malah hanya diam dan menonton saja.Tubuh Ferdo terlempar jauh, ia tampak terluka. Aku spontan menutup mulut saat melihat hal itu. Apa ini akhir dari semuanya?! Dan dia akan tewas karena aku? Dengan tekat yang besar, aku berlari ke arahnya, mencoba memeluknya... Tapi yang aku dapatkan ternyata tidak sesuai harapan. Dia mengayunkan tangannya dan menghantam tubuhku. Aku tersentak cukup jauh, hingga punggungku menghantam sebuah vas yang besar. Bagian depanku perih, dan sakit... Cairan merah mulai keluar, bau da-rah mulai tercium kuat. Perlahan, pandanganku berkunang-kunang, tapi aku melihat silwet bayangan seseorang mulai mendekat, meski aku tidak yakin, apa itu benar dia?***
Dia menyentuhku, dan aku membeku. Semua yang terjadi, seakan tidak bisa ditolak, entah karena memang terbawa suasana, atau semua memang hanya sebuah reaksi dari tubuh yang memang tidak menolak."Reaksimu tidak buruk juga, tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Lalu, apa kita lanjut saja?" ujar Ferdo.Bagian intiku dimasuki oleh salah satu jarinya, aku sebenarnya ingin mendorongnya agar berhenti, tapi aku tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya, dan sialnya bibirku malah mende-sah dan aku merasa bagian itu makin gatal. Tapi, saat aku menginginkan lebih, ia pergi begitu saja dan membuatku bingung."Apa yang dia lakukan?! Dia mempermainkan aku?!" Aku kesal, mulai bicara sendiri dan marah! Tetapi, aku juga ingin. "Aaagggghhhh! Tuhan memberikan takdir sialan!" teriakanku sangat keras, tapi aku yakin tidak akan ada yang bisa mendengarkannya.***Setelah mandi, dress panjang berwarna hitam mulai aku kenakan, bertali spaghetti dan kulit ini begitu kontras. Mengenakan riasan tipis sudah cuku
Ia menyeringai, aku tidak tahu kapan pria itu menyusul, yang aku tahu dia tiba-tiba ada di belakang tubuhku. Mungkin tujuannya memang baik, karena hendak membantuku membuka pintu yang sulit aku buka, akan tetapi kenapa reaksi dari wajahnya membuatku takut? "Kau bahkan sudah mengu|um milikku, apa masih takut juga?!" Aku terkesiap! "Tuan, terkejut dan hal itu sungguh tidak ada hubungannya, dan semua itu jauh berbeda. Kenapa anda menyamakannya dan seolah semua hal yang aku lakukan salah?!" rasa kesal itu sudah menumpuk dalam hati, dan mungkin kalau tidak di tahan, akan meluap dan semakin menjadi-jadi! "Terimakasih sudah membantu, tapi aku mau istirahat sebelum bekerja untuk anda," "Bekerja?" Salah satu alis pria itu terangkat, ia memicingkan matanya dan sesaat setelahnya tampak menatap tubuhku atas dan bawah. Merinding rasanya, belum lagi tatapannya masih terlihat sama, yaitu liar! Tangan besar itu menyentuh punggung dan ke bawah terus hingga berada di bawah pinggang. Aku menatapnya
"Tenang, kau tidak akan mati meski aku gigit. Aku tentu tidak mau rugi karena langsung membuat kamu mati."Ucapan pria itu membuatku diam, tapi kali ini yang aku pikirkan – bagaimana bisa ia melukaiku, dan aku merasa giginya menancap di le-herku tadi.Aku mematung, semua hal terasa menakutkan. Rasanya aku hampir mau pingsan, dan aku tidak berani menatap pria itu."Tuan, kita sudah sampai."Sopir di depan mulai bicara, tapi matanya tidak juga menatap ke arah kami berdua. Tanganku ditarik paksa, kakiku terasa masih lemas saat pria itu menarikku tanpa aba-aba.Kakiku yang masih kram akhirnya membuatku terjatuh ke lantai, dan lututku menghantam permukaan tanah yang keras dan kasar. "Ssshhh," desisku.Aku menatap lututku, dan ternyata luka tergores. "Ck! Lemah sekali kau!" kata itu terucap begitu saja. Aku mendongak dan menatap pria itu. Mungkin ia kesal padaku, dan mungkin juga muak denganku, tapi aku bisa apa?! Kakiku kram juga karena ulahnya!Awalnya, suasana hening, tapi beberapa saat







