로그인Tanpa mengatakan apapun lagi, Lucia berlari keluar dengan cepat. Sementara Marvel terus menatap punggung istrinya itu sampai menghilang di balik pintu.
Marvel pun dengan cepat mengambil pakaian miliknya sampai terdengar ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Kenzo yang sedang menghubunginya. "Ada apa?" Detik berikutnya Marvel meremas ponselnya kuat ketika mendengar semua info yang diberikan oleh Kenzo. "Bawa neneknya Lucia pergi ke tempat yang lebih layak. Atau kau bawa dia ke tempat panti jompo milik Mommy. Disana akan lebih aman. Tapi jangan biarkan orang lain tahu. Biar aku yang akan mengatakannya pada Lucia. Setelah itu awasi keluarga sialan itu." Setelahnya Marvel mematikan sambungan telfon itu. Saat dia berbalik, Marvel terkejut ketika melihat Lucia sudah berdiri di ambang pintu. Mendadak Marvel gusar saat melihat wajah sendu milik Lucia. "Kenapa kau kembali kemari?" Marvel mendekat ke arah Lucia yang masih mematung di tempatnya. Dia melihat mata Lucia yang sudah berkaca kaca menahan tangis. Saat Marvel berasa di depan Lucia, setetes air mata Lucia terjatuh. "Apa yang terjadi dengan nenekku?" Marvel menarik tangan Lucia dan dibawanya duduk disana. "Tidak ada, hanya beberapa orang yang mengganggu. Orangku sudah membawa nenekmu pergi dari sana. Dia aman di tempat mommy. Apa kau keberatan jika nenekmu di pindahkan?" Marvel bertanya lebih hati hati pada Lucia, karena dia takut jika Lucia keberatan dan malah akan menyalahkannya karena tak bertanya lebih dahulu pada Lucia. "Kenapa kau mau repot repot melakukan itu, padahal aku hanya pengganti uang yang di pakai Om ku," ucap Lucia pelan. Marvel tak menjawab, dia memindai seluruh wajah teduh Evelyn. Tak ada jawaban dari Marvel tapi Marvel memilih mengajak Lucia untuk keluar kamar karena jam makan malam sudah tiba. Saat Marvel ingin menarik tangan Lucia, langkahnya terhenti karena Lucia tak juga beranjak dari tempatnya berdirinya. Marvel berbalik, dia melihat Lucia sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. "Apa yang tuan inginkan sebagai bayarannya?" Mata Marvel membola sempurna, tak disangka jika Lucia akan mengatakan itu setelah Marvel menceritakan semua yang di alami neneknya. Tangan yang sejak tadi di genggam Marvel pun terlepas. Perlahan Marvel mendekat ke arah Lucia, sementara Lucia sudah meremas kedua sisi pakaiannya dengan takut. Dia menggigit bibir bawahnya menahan tubuhnya yang gemetar karena sorotan tajam mata Marvel. Marvel meraih dagu Lucia agar mau menatap ke arahnya. "Kau ingin membayar ku? Dengan apa? Dengan tubuhmu?" Lucia semakin menggigit bibir bawahnya menahan semua perasaan nya. Terlebih wajah Marvel terlalu dekat dengan nya. "Sekarang kau saja bahkan takut denganku, jadi bagaimana caramu membayarku?" Glek.... Lucia menelan ludahnya susah payah. Kedua tangannya terangkat dan memegang kepala Marvel di sisi kanan juga kiri. Kakinya mulai berjinjit. Awalnya Marvel ragu menebak apa yang akan dilakukan oleh Lucia, tapi detik berikutnya matanya membelalak ketika sebuah benda kenyal menempel pada bibirnya. Mata Lucia sudah tertutup sempurna. Meskipun awalnya terkejut, tangan Marvel lalu meraih pinggang Lucia ketika Lucia ingin menjauh. Sekarang ganti Lucia yang terkejut ketika Marvel menahan pinggangnya dan membalas apa yang sudah dia lakukan. Tak hanya itu, Marvel juga melumat pelan bibir Lucia yang sudah menempel sejak tadi. Sementara itu, satu pelayan yang di minta memanggil Marvel juga Lucia mundur secara perlahan dan meninggalkan kamar Marvel. Hanabi yang sejak tadi menunggu kedatangan Marvel juga Lucia mengerutkan keningnya bingung. "Dimana mereka?" Pelayan itu menggaruk tengkuknya bingung yang membuat Hanabi semakin penasaran. "Kenapa kau malah diam saja? Dimana putra dan menantuku?" "Maaf nyonya besar, tuan muda dan nyonya muda sedang melakukan itu." Hanabi yang bingung dengan maksud pelayannya itu berkedip cepat. Lalu saat kedua jari tangan sang pelayan menunjukkan sesuatu yang dilakukan Marvel juga Lucia, wajah Hanabi langsung berubah menjadi cerah. "Ahh, baiklah. Aku mengerti, biarkan saja mereka. Dua jam lagi, antarkan makanan untuk mereka." "Kenapa di antar?" Hanabi langsung menoleh, terlihat Marvel dan Lucia turun dari tangga dengan tangan yang saling tertaut. Tak hanya itu, wajah Lucia masih terlihat memerah juga terus menunduk. Hanabi menyipitkan mata melihat kelakuan dua orang yang baru saja turun itu. "Tidak, bukannya tadi kalian sedang sibuk? Kenapa tak dilanjutkan?" goda Hanabi dengan senyum sumringah. Marvel menarik kursi untuk Lucia, sedangkan dia duduk di sebelah Lucia tanpa menjawab pertanyaan Hanabi. "Apa yang mommy bicarakan, aku tak mengerti." Hanabi langsung memberengut, tapi kemudian beralih pada Lucia yang sejak tadi hanya diam "Lucia, kau tak apa apa sayang?" Lucia yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya. Dia menatap ibu mertuanya bingung. Melihat kebingungan Lucia, akhirnya Hanabi mengalah untuk tak bertanya macam macam lagi pada Lucia. Dia sudah tahu apa yang terjadi pada Lucia sebelum dia di bawa pulang oleh Marvel. Hanabi tak keberatan jika Marvel tiba tiba menikah dengan orang yang belum mereka kenal. "Ah, sudahlah lebih baik kita makan malam dulu. Dan Marvel, kau harus menginap disini malam ini." Tubuh Lucia membeku, dia kira mereka akan tinggal di rumah berbeda. Hanabi yang melihat wajah bingung Lucia tersenyum. "Marvel tak pernah tinggal sendiri. Selama ini dia tinggal bersama kami. Jika dia menginap di apartemen berarti dia ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan." Lucia mengangguk pelan, dia sempat melirik Marvel yang sedang menikmati minuman hangatnya tanpa terganggu dengan percakapan nya dengan sang mommy. "Makanlah yang banyak, agar tubuhmu segera berisi. Dan lebih enak ketika aku menikmatinya." To be continuedSebelum masuk ke dalam ruangannya, Marvel mengambil napas panjang lalu menghembuskannya cepat. Dia tahu jika Lucia juga terganggu dengan ucapan beberapa orang yang mengatakan hal setara dalam sebuah hubungan. Meskipun Lucia sudah berusaha sebaik mungkin dia pasti akan memikirkan asal mula dia dan Marvel bersama. "Sayang ..." Marvel mengusap puncak kepala Lucia lembut, tak lupa dia mencium puncak kepala itu lama. Lucia langsung memeluk pinggang Marvel yang membuat Marvel semakin merasakan kesakitan yang juga di rasakan Lucia. "Jangan di pikirkan lagi ya?" Pinta Marvel lembut. Ia benci ketika sudah berusaha membuat Lucia bahagia tapi orang lain yang menghancurkan. Lucia masih memeluk pinggang Marvel erat. Sementara Marvel memilih membiarkan apapun yang Lucia ingin lakukan. Rasanya dia tak sanggup melihat Lucia dalam keadaan seperti itu. Setelah beberapa saat, Lucia melepaskan pelukannya pada Marvel. Dia mengangkat kepalanya lalu melihat Marvel dengan wajah yang semb
Karyawan itu menunduk ketakutan di depan Marvel dan Lucia. Tapi Lucia tak peduli dengan hal itu. Terlebih ketika mereka menganggap pernikahan itu harus setara dalam hal asal usul. "Istri Kenzo tak bisa memilih dia lahir dimana dan akan besar dimana. Jika takdirnya dia harus tinggal di panti asuhan, apa sebelumnya dia akan tahu jika dia akan di titipkan di panti asuhan lh orang tuanya?" Karyawan itu masih terus menunduk, tubuhnya menggigil gemetaran karena semua perkataan Lucia. Terlebih ketika Lucia tahu dia hanya karyawan di sana. "Secara tidak langsung kau juga menyalahkan takdir yang di jalan Kanza. Ah, tak hanya Kanza, aku juga hanya orang biasa. Namun, aku berusaha sebisa mungkin agar aku setara dengan Marvel dan pantas berdiri disisi Marvel bukan di belakang Marvel. Dan jika kau ingin menghina seseorang hanya karena statusnya, kau bisa menghina ku lebih dahulu. Kanza masih melewati pendidikan formalnya sampai selesai bahkan juga bisa ke jenjang kuliah, berbeda dengan ku y
Di depan perusahaan Marvel mendadak heboh ketika ada seorang perempuan memaksa masuk dengan keadaan yang mengenaskan. Petugas keamanan sudah mengamankannya sejak tadi. Beberapa karyawan yang melihatnya tentu saja jijik dengan keadaan perempuan itu. "Cepat telfon Tuan Marvel dan Tuan Kenzo, katakan pada mereka apa yang harus dilakukan!" Beberapa orang menyuruh resepsionis untuk menghubungi Marvel juga Kenzo. Namun belum sempat mereka menghubungi, sebuah mobil yang mereka kenali tiba di lobi perusahaan. Marvel dan Lucia yang juga ikut ke kantor pun saling pandang. Lucia sudah ingin turun tapi Marvel menahannya. "Tunggu sayang, kau di sini saja tak usah turun. Biar aku yang urus. Sepertinya aku tahu dia siapa." "Hah?" Lucia menatap bingung pada Marvel yang matanya sudah menatap nyalang wanita yang terus berteriak itu. Lucia pun sampai di buat heran , kenapa banyak sekali wanita wanita yang gila yang ada di dekat Marvel. "Marvel, aku kesal. Kenapa selalu banyak wanit
Satu jam berlalu, akhirnya baik Marvel dan Lucia mendapatkan pelepasan mereka. Napas yang tersengal masih terdengar di kamar itu. Cup.... "Kuat bangun?" tanya Marvel. Lucia mengulurkan kedua tangannya ke arah Marvel yang tandanya dia minta di gendong oleh Marvel. Marvel tersenyum, dia meraih tubuh Lucia lalu membawanya ke kamar mandi. Mereka sekedar membersihkan diri mereka karena hari sudah larut. Marvel pun tak mau jika Lucia sampai sakit nantinya. "Tidur sayang, biar badannya beristirahat." Lucia mengangguk pelan karena dia sudah tak punya tenaga lagi untuk menjawab. Perlahan matanya tertutup. Marvel yang melihat itu mengeratkan pelukannya pada Lucia. Sesekali dia mencium puncak kepala Lucia sampai wanita itu benar benar terlelap. "Tidur yang nyenyak sayang." Perlahan Marvel juga ikut memejamkan matanya setelah memastikan jika Lucia sudah terlelap dan tidur dengan nyaman. # Sementara itu, di paviliun belakang. Terlihat dua orang yang duduk dengan canggu
Denisa masih berusaha untuk pergi dari sana dengan berjalan tertatih. Dia melewati jalan gelap dengan keadaan yang mengenaskan. Dengan menahan semua kesakitan yang ada di sekujur tubuhnya, Denisa memaksa kan dirinya untuk mencari bantuan. Tapi setelah berjalan berjam jam, tak ada kendaraan atau orang yang lewat di area sana. Sampai dia menemukan sebuah warung remang remang yang kecil. Disana ada sebuah televisi jaman dahulu khas milik orang yang sudah tua. Di sana di siarkan berita pernikahan Kenzo juga Kanza yang meriah. Di beritakan juga jika upacara itu khusus untuk beberapa tamu undangan. Barulah mereka mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan pernikahannya. Denisa menggelengkan kepalanya kuat. Dia marah karena lagi lagi dia kalah dengan Kanza. "Kenapa harus dia yang mendapatkan kebahagiaan? Kenapa bukan aku? Padahal aku lebih dari segalanya. Tidak, ini semua tidak benar. Jadi Kanza menikah dengan Kenzo karena Lucia? Wanita itu yang mengurus semuanya?" Denisa menjauh dari
Pernikahan Kenzo dan Kanza disiarkan di beberapa media sosial. Banyak orang yang terkejut tapi mereka ikut bahagia karena selama ini banyak sekali yang mengenal Kenzo karena Marvel. Dan tak ada yang bermasalah dengan Kenzo tentunya. Melihat Kanza, istri Kenzo yang juga cantik banyak sekali yang memberikan respon positif. Pernikahan sederhana yang di adakan di rumah baru Marvel dan Lucia tapi di siarkan langsung di beberapa media khusus. "Akhirnya, kalian sah menikah. Dan ini hadiah untuk kalian berdua." Pasangan pengantin itu saling tatap bingung, tapi mereka tetap membuka hadiah yang di berikan Marvel kepada mereka. "Ini apa?" Marvel mendengus kesal karena Kenzo malah bertanya ketika sudah melihat barang yang di berikan Marvel kepadanya. "Kau jadi bodoh sepertinya. Sudah tahu itu kunci, kenapa malah bertanya lagi? Apa semenjak jadi seorang suami, otakmu sudah kau gadaikan?" omel Marvel panjang lebar. Kenzo menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia lalu meringis saa
Marvel sedang bicara dengan Daddy-nya, dia juga memberikan beberapa file untuk di baca oleh Digo. "Apa ini Marvel?" "Daddy baca saja, setelahnya silahkan jika ingin bertanya. Aku tak akan menutupi apapun dari Daddy dan Mommy, jadi jika ada masalah di kemudian hari aku tak akan membuat Mommy sa
Marvel melihat Lucia tajam, bisa bisa nya gadis di depannya ini malah memerintah nya. "Kirim semua baju yang dia coba tadi ke alamat ini!" Lucia menggigit bibir bawahnya menahan kesal, dia sudah lelah memilih dan melihat Marvel dari tadi terus menggelengkan kepalanya, berpikir jika Marvel tak
"Kau tak apa apa?" Kenzo melongo saat mendengar Marvel yang tiba tiba perhatian pada Lucia. Karena Lucia tak langsung menjawab, Marvel langsung menatap ke depan. "Kenzo, kau mau mati hah? Kenapa mengerem mendadak?" bentak Marvel. Lucia yang ada disebelahnya gemetar ketakutan, dia semaki
Adika bertemu dengan Marvel dengan rasa takut yang luar biasa. "Tu-tuan Marvel maafkan aku. Tolong ampuni aku!" Adika memohon pada Marvel agar mau mengampuni kesalahannya. Marvel hanya melihat Adika dengan wajah muak nya. "Lalu dimana wanita yang kau janjikan kepadaku?" Kau menawarkan pu







