Masuk
"Lucia, kenapa semua pakaian milikku belum siap? Kau tahu aku harus berangkat kuliah hari ini!"
Teriakan menggema di seluruh rumah itu. Terlihat dari arah belakang rumah seorang gadis tergesa gesa membawa beberapa baju untuk naik ke lantai atas. "Maaf Nadia, semua bajumu baru selesai ku rapikan." Lucia memberikan baju yang dia bawa kepada Nadia yang sudah menunggunya dengan wajah yang marah. Plak..... Tapi Nadia malah menampar Lucia karena menurutnya Lucia lamban dan membuatnya terlambat. Lucia hanya menunduk dan memegang pipinya yang terasa perih. Dia tak bisa melawan karena selama ini dia menumpang di rumah itu. Semua pekerjaan rumah itu Lucia yang mengerjakan meskipun banyak pelayan disana. "CK, kenapa kau selalu membuatku marah? Kau memang pembawa sial Lucia." "Nadia, aku tidak ...." Blam.... Lucia berusaha membela diri dan ingin mengatakan alasan kenapa dia terlambat mengantarkan baju milik Nadia ke kamarnya. Tapi Nadia sudah memaki bahkan menamparnya langsung. Nadia menutup pintu kamarnya dengan keras, dimana di depan pintu masih ada Lucia yang berdiri menahan tangisnya. Lucia meremas ujung bajunya sambil terisak tanpa suara. Setelah itu, dia pergi dari sana agar tak ada orang lain yang melihatnya menangis. Terutama Selena, jika sampai Selena tahu dia pasti akan di maki dan di pukul habis habisan. Lucia kembali ke kamarnya, yang ada di belakang dapur rumah itu. Kamar yang dia tempati adalah bekas gudang yang di jadikan sebuah kamar. Bahkan kamar pelayan yang ada disana lebih bagus dan luas dari pada kamar yang dia tempati. "Ayah, ibu, kenapa kalian tak membawaku saja?" gumam Lucia lirih. Dia memegang pipinya yang masih terasa panas saat ini. Tak hanya pipi, beberapa tubuh lainnya juga masih tersisa bekas lebam. Tapi dia tak bisa mengeluh kepada siapa siapa. Pelayan yang ada disana juga memperlakukannya dengan buruk. Beberapa pukulan juga sering dia dapatkan ketika apa yang dia lalukan tak sesuai dengan perintah Selena dan yang lainnya. Lucia menangis dalam diam, Lucia tak punya kuasa apa apa. Dia melihat lengannya yang masih tersisa bekas luka karena baru saja di pukul oleh Selena beberapa waktu yang lalu. Di kamar lain, sepasang suami istri sedang cemas dengan apa yang terjadi. "Ini semua karena kau yang gila, bagaimana bisa kau menggelapkan dana perusahaan? Lihat apa yang terjadi? Kau tahu bukan jika keluarga Vanderick itu kejam. Dan kau malah menjadikan putrimu sebagai jaminan untuk semua dana yang kau gelapkan. Nadia akan marah besar jika sampai dia tahu?!" "Ma, jangan malah membuatku pusing. Kau pikirkan caranya agar Nadia tak sampai menikah dengan tuan Marvel." Sepasang suami istri terus berjalan mondar mandir sambil berpikir keras. Jika dana yang di pakai tidak di kembalikan mereka akan di seret masuk ke dalam penjara. Selena juga Adika tak mungkin mempunyai uang sebanyak itu. Lalu sebuah ketukan pintu menghentikan mereka. "Paman, bibi.... sarapan sudah siap." Terdengar suara Lucia dari depan pintu. Mata Selena membulat sempurna lalu detik berikutnya mata nya berbinar karena dia menemukan sebuah ide untuk menyelematkan mereka. Selena langsung membuka pintu kamarnya dan melihat Lucia. Dia menarik tangan gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Adika yang melihat itu tentu saja kebingungan. Tapi dia memilih untuk diam, karena dia tahu jika istrinya itu mempunyai banyak rencana. "Lucia, besok kau harus menggantikan Nadia untuk menikah dengan keluarga Vanderick." Mata Lucia membola, dia melihat Selena tak mengerti kenapa tiba tiba Lucia harus menikah dengan keluarga itu. Lucia bahkan tahu siapa keluarga Vanderick sebenarnya. Siapa yang tak kenal dengan tuan muda nya yang terkenal kejam dan arogan. Bahkan berita tentang nya yang melakukan kekerasan kepada mantan istrinya sudah menjadi bahan pembicaraan di seluruh kota itu. "A-apa maksud Bibi? Kenapa tiba tiba aku harus menikah dengan keluarga Vanderick?" Selena mendekat ke arah Lucia, memegang dagu Lucia dengan kuat. "Anggap saja ini semua untuk membalas budi atas kau yang sudah tinggal disini selama bertahun tahun. Semua biaya makan dan tempat tinggalmu. Ingat Lucia, bagaimanapun kau harus mengikuti apa yang ku katakan." "Kalau kau tak menuruti apa yang ku katakan, nenek mu yang ada di kampung itu tak akan ku urus lagi. Bukannya dia masih membutuhkan banyak uang?" Air mata Lucia menetes, tapi dia tak diberi kesempatan untuk membela diri atau menolak. Wajah Lucia di hempas begitu saja oleh Selena. "Sekarang kau pergi dan kembali ke kamarmu. Aku akan mengatur semuanya, ingat jangan sampai kau kabur jika tak mau nenekmu itu ku siksa!" Lucia melangkah keluar dari kamar Selena dengan perasaan tak karuan, tubuhnya lunglai seketika. Bagaiamana tidak, di dunia ini dia bertahan hanya demi neneknya. Meskipun dia sering disiksa tapi paman dan bibinya masih mau mengirim uang untuk neneknya meskipun tak seberapa. "Kenapa mereka semua jahat padaku? Apa aku tak bisa menentukan jalan hidup ku sendiri?" gumam Lucia pelan. Adika yang melihat Lucia keluar pun menarik Selena untuk menjelaskan semua rencananya. "Kita tak mungkin mengorbankan anak kita sendiri, jadi lebih baik Lucia yang kita berikan pada tuan Marvel sebagai jaminan." # Di sisi lain, Marvel Vanderick sedang berbicara dengan orang tuanya. Dan lagi lagi, orang tuanya sudah mendesak Marvel untuk segera menikah. Marvel Vanderick (35) seorang pengusaha muda dan juga milyuder ternama hanya diam ketika sang mommy mengoceh panjang lebar tentang pernikahan nya. "Marvel, kapan kau akan menikah lagi?" Marvel mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Mom, apa kau lupa jika putramu ini sudah pernah menikah? Kenapa kau memaksaku menikah lagi? Dan lagi aku tak tertarik dengan wanita mom!" Hanabi tersedak minumannya mendengar perkataan sang putra. "Kau tak suka dengan wanita? Jangan bilang kau suka laki laki Marvel?" pekik sang Mommy. Marvel memutar bola matanya malas menanggapi kehebohan sang mommy. Belum sempat Marvel menyahut lagi ponselnya bergetar. Pesan masuk dari asistennya yang memberi tahu jika Adika ingin bertemu. Dia hanya membaca sekilas lalu memasukkan kembali ponsel miliknya. Tak lama dia berdiri dari duduknya dan pergi dari meja makan "Marvel, mommy belum selesai bicara. Kau mau kemana?" Marvel terus melangkah keluar, dia masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke kantor tanpa mengindahkan teriakan sang mommy. Di dalam perjalanan Marvel kembali membuka ponselnya, menyuruh sang asisten untuk membawa Adika menemuinya diluar, di tempat dimana biasa dia menghukum orang orang yang membuat masalah dengan nya. "Apalagi yang tua bangka itu rencanakan?" to be continuedSebelum masuk ke dalam ruangannya, Marvel mengambil napas panjang lalu menghembuskannya cepat. Dia tahu jika Lucia juga terganggu dengan ucapan beberapa orang yang mengatakan hal setara dalam sebuah hubungan. Meskipun Lucia sudah berusaha sebaik mungkin dia pasti akan memikirkan asal mula dia dan Marvel bersama. "Sayang ..." Marvel mengusap puncak kepala Lucia lembut, tak lupa dia mencium puncak kepala itu lama. Lucia langsung memeluk pinggang Marvel yang membuat Marvel semakin merasakan kesakitan yang juga di rasakan Lucia. "Jangan di pikirkan lagi ya?" Pinta Marvel lembut. Ia benci ketika sudah berusaha membuat Lucia bahagia tapi orang lain yang menghancurkan. Lucia masih memeluk pinggang Marvel erat. Sementara Marvel memilih membiarkan apapun yang Lucia ingin lakukan. Rasanya dia tak sanggup melihat Lucia dalam keadaan seperti itu. Setelah beberapa saat, Lucia melepaskan pelukannya pada Marvel. Dia mengangkat kepalanya lalu melihat Marvel dengan wajah yang semb
Karyawan itu menunduk ketakutan di depan Marvel dan Lucia. Tapi Lucia tak peduli dengan hal itu. Terlebih ketika mereka menganggap pernikahan itu harus setara dalam hal asal usul. "Istri Kenzo tak bisa memilih dia lahir dimana dan akan besar dimana. Jika takdirnya dia harus tinggal di panti asuhan, apa sebelumnya dia akan tahu jika dia akan di titipkan di panti asuhan lh orang tuanya?" Karyawan itu masih terus menunduk, tubuhnya menggigil gemetaran karena semua perkataan Lucia. Terlebih ketika Lucia tahu dia hanya karyawan di sana. "Secara tidak langsung kau juga menyalahkan takdir yang di jalan Kanza. Ah, tak hanya Kanza, aku juga hanya orang biasa. Namun, aku berusaha sebisa mungkin agar aku setara dengan Marvel dan pantas berdiri disisi Marvel bukan di belakang Marvel. Dan jika kau ingin menghina seseorang hanya karena statusnya, kau bisa menghina ku lebih dahulu. Kanza masih melewati pendidikan formalnya sampai selesai bahkan juga bisa ke jenjang kuliah, berbeda dengan ku y
Di depan perusahaan Marvel mendadak heboh ketika ada seorang perempuan memaksa masuk dengan keadaan yang mengenaskan. Petugas keamanan sudah mengamankannya sejak tadi. Beberapa karyawan yang melihatnya tentu saja jijik dengan keadaan perempuan itu. "Cepat telfon Tuan Marvel dan Tuan Kenzo, katakan pada mereka apa yang harus dilakukan!" Beberapa orang menyuruh resepsionis untuk menghubungi Marvel juga Kenzo. Namun belum sempat mereka menghubungi, sebuah mobil yang mereka kenali tiba di lobi perusahaan. Marvel dan Lucia yang juga ikut ke kantor pun saling pandang. Lucia sudah ingin turun tapi Marvel menahannya. "Tunggu sayang, kau di sini saja tak usah turun. Biar aku yang urus. Sepertinya aku tahu dia siapa." "Hah?" Lucia menatap bingung pada Marvel yang matanya sudah menatap nyalang wanita yang terus berteriak itu. Lucia pun sampai di buat heran , kenapa banyak sekali wanita wanita yang gila yang ada di dekat Marvel. "Marvel, aku kesal. Kenapa selalu banyak wanit
Satu jam berlalu, akhirnya baik Marvel dan Lucia mendapatkan pelepasan mereka. Napas yang tersengal masih terdengar di kamar itu. Cup.... "Kuat bangun?" tanya Marvel. Lucia mengulurkan kedua tangannya ke arah Marvel yang tandanya dia minta di gendong oleh Marvel. Marvel tersenyum, dia meraih tubuh Lucia lalu membawanya ke kamar mandi. Mereka sekedar membersihkan diri mereka karena hari sudah larut. Marvel pun tak mau jika Lucia sampai sakit nantinya. "Tidur sayang, biar badannya beristirahat." Lucia mengangguk pelan karena dia sudah tak punya tenaga lagi untuk menjawab. Perlahan matanya tertutup. Marvel yang melihat itu mengeratkan pelukannya pada Lucia. Sesekali dia mencium puncak kepala Lucia sampai wanita itu benar benar terlelap. "Tidur yang nyenyak sayang." Perlahan Marvel juga ikut memejamkan matanya setelah memastikan jika Lucia sudah terlelap dan tidur dengan nyaman. # Sementara itu, di paviliun belakang. Terlihat dua orang yang duduk dengan canggu
Denisa masih berusaha untuk pergi dari sana dengan berjalan tertatih. Dia melewati jalan gelap dengan keadaan yang mengenaskan. Dengan menahan semua kesakitan yang ada di sekujur tubuhnya, Denisa memaksa kan dirinya untuk mencari bantuan. Tapi setelah berjalan berjam jam, tak ada kendaraan atau orang yang lewat di area sana. Sampai dia menemukan sebuah warung remang remang yang kecil. Disana ada sebuah televisi jaman dahulu khas milik orang yang sudah tua. Di sana di siarkan berita pernikahan Kenzo juga Kanza yang meriah. Di beritakan juga jika upacara itu khusus untuk beberapa tamu undangan. Barulah mereka mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan pernikahannya. Denisa menggelengkan kepalanya kuat. Dia marah karena lagi lagi dia kalah dengan Kanza. "Kenapa harus dia yang mendapatkan kebahagiaan? Kenapa bukan aku? Padahal aku lebih dari segalanya. Tidak, ini semua tidak benar. Jadi Kanza menikah dengan Kenzo karena Lucia? Wanita itu yang mengurus semuanya?" Denisa menjauh dari
Pernikahan Kenzo dan Kanza disiarkan di beberapa media sosial. Banyak orang yang terkejut tapi mereka ikut bahagia karena selama ini banyak sekali yang mengenal Kenzo karena Marvel. Dan tak ada yang bermasalah dengan Kenzo tentunya. Melihat Kanza, istri Kenzo yang juga cantik banyak sekali yang memberikan respon positif. Pernikahan sederhana yang di adakan di rumah baru Marvel dan Lucia tapi di siarkan langsung di beberapa media khusus. "Akhirnya, kalian sah menikah. Dan ini hadiah untuk kalian berdua." Pasangan pengantin itu saling tatap bingung, tapi mereka tetap membuka hadiah yang di berikan Marvel kepada mereka. "Ini apa?" Marvel mendengus kesal karena Kenzo malah bertanya ketika sudah melihat barang yang di berikan Marvel kepadanya. "Kau jadi bodoh sepertinya. Sudah tahu itu kunci, kenapa malah bertanya lagi? Apa semenjak jadi seorang suami, otakmu sudah kau gadaikan?" omel Marvel panjang lebar. Kenzo menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia lalu meringis saa
Tanpa mengatakan apapun lagi, Lucia berlari keluar dengan cepat. Sementara Marvel terus menatap punggung istrinya itu sampai menghilang di balik pintu. Marvel pun dengan cepat mengambil pakaian miliknya sampai terdengar ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Kenzo yang sedang menghubunginya.
Marvel membawa Lucia naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Dia meletakkan Lucia di pinggir ranjang sementara Marvel mengambil kotak obat. Lucia menggigit bibir bawahnya karena tiba tiba merasa tak nyaman di kamar itu. Tubuhnya sedikit tersentak ketika tiba tiba Marvel meraih tangannya. "
Marvel sedang bicara dengan Daddy-nya, dia juga memberikan beberapa file untuk di baca oleh Digo. "Apa ini Marvel?" "Daddy baca saja, setelahnya silahkan jika ingin bertanya. Aku tak akan menutupi apapun dari Daddy dan Mommy, jadi jika ada masalah di kemudian hari aku tak akan membuat Mommy sa
Marvel melihat Lucia tajam, bisa bisa nya gadis di depannya ini malah memerintah nya. "Kirim semua baju yang dia coba tadi ke alamat ini!" Lucia menggigit bibir bawahnya menahan kesal, dia sudah lelah memilih dan melihat Marvel dari tadi terus menggelengkan kepalanya, berpikir jika Marvel tak







