Mag-log inMarvel membawa Lucia naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Dia meletakkan Lucia di pinggir ranjang sementara Marvel mengambil kotak obat. Lucia menggigit bibir bawahnya karena tiba tiba merasa tak nyaman di kamar itu.
Tubuhnya sedikit tersentak ketika tiba tiba Marvel meraih tangannya. "Tu-tuan, aku bisa sendiri." Lucia berusaha menarik tangan nya dari genggaman Marvel. Tapi Marvel tak langsung melepaskannya. "Diam lah!" Tak ada nada suara keras, hanya terdengar datar. Lucia langsung diam tak berani berkata apapun. Dia melirik Marvel yang sedang mengobati jari jarinya. Bahkan Marvel juga meniup jari Lucia yang tak sengaja terkena pecahan gelas. "Kenapa kau tak hati hati? Apa kau terbiasa ceroboh seperti ini?" Lucia mengigit bibir bawahnya takut, sementara Marvel yang tak mendapat jawaban mengangkat wajahnya. Di depannya terlihat wajah Lucia yang ketakutan. Marvel sendiri tak menyangka jika hanya dengan memecahkan satu gelas membuat Lucia ketakutan seperti itu. "Bicara lah, aku tak akan memarahi mu hanya kau memecahkan gelas tadi. Aku bisa membelinya lagi besok." Lucia berusaha bernapas dengan benar setelah sejak tadi dia menahan diri karena takut jika Marvel akan menghukumnya dan memintanya untuk mengganti gelas itu. "Maaf tuan." ucap Lucia lirih. Mata Marvel melebar ketika Lucia masih terus memanggilnya dengan sebutan tuan. "Aku bukan tuan mu, aku suamimu jika kau lupa." sahut Marvel cepat. Rasanya dia tiba tiba kesal karena sejak tadi Lucia memanggilnya dengan tuan dan juga terlihat ketakutan saat di dekatnya. "Padahal saat dia bersama Mommy dia tak takut. Tapi kenapa saat bersama ku dia menjadi takut begini?" batin Marvel. Marvel yang semakin kesal akhirnya memilih pergi ke kamar mandi. Tepat sebelum Marvel masuk ke dalam kamar mandi, dia berhenti. "Siapkan pakaian gantiku, hari ini aku akan di rumah dan tak kembali ke kantor. Nanti akan ada orang yang kirim pakaian baru untukmu." Tanpa mendengar jawaban Lucia, Marvel masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Lucia bingung dimana letak pakaian Marvel. Tapi mengingat saat ini dia ada di kamar Marvel, pasti pakaian milik Marvel ada disana. Langkahnya membawa Lucia menuju sebuah pintu geser, lalu di bukanya pintu itu. Mulutnya menganga ketika melihat semua pakaian milik Marvel tersusun rapi disana. Lucia sampai bingung harus mengambil pakaian yang mana yang biasa di kenakan oleh Marvel. Sampai dia tak sadar jika Marvel sudah selesai berganti pakaian. Marvel berjalan pelan ke arah Lucia dan berdiri di belakangnya. "Kenapa kau lama sekali memilih pakaianku?" Lucia yang kaget reflek memutar tubuhnya, tapi naasnya dia tak berdiri dengan benar yang membuat tubuhnya limbung. Marvel yang melihat Lucia akan jatuh menarik tangan Lucia sampai tubuh nya menabrak dada bidang milik Marvel. "Tu, ah... Marvel.... maaf." cicit Lucia pelan. Dia berusaha melepaskan diri karena dia berada dalam posisi yang tak nyaman saat ini. Tapi entah kenapa Marvel betah menahan Lucia di dalam pelukannya. Apa karena dia tak pernah menyentuh wanita jadi ada rasa berbeda saat ini. Lucia gugup setengah mati, di tambah Marvel yang belum mengenakan pakaiannya. Lucia menahan tubuh Marvel dengan kedua tangannya. "Baru saja aku mengatakan kalau kau ceroboh, tapi kenapa sekarang malah kau akan terjatuh lagi? Apa yang ada di otakmu sebenarnya?" Marvel terus mengoceh tanpa henti. Sementara Lucia terus menunduk tak berani menatap Marvel sama sekali. Marvel berdecak kesal ketika Lucia terus menundukkan kepalanya. Marvel mengangkat dagu Lucia agar dia bisa melihat wajah Lucia. "Jawab, jangan diam saja. Kau tak bisu Lucia!" Mata Lucia sedikit membola ketika Marvel memanggil namanya kali ini. "Tidak, aku hanya kaget karena tiba tiba kau ada di belakang ku." sahut Lucia pelan. Marvel tersenyum samar ketika Lucia berani menjawabnya. Meskipun harus dia paksa untuk menjawab. Lucia ingin mendorong tubuh Marvel, tapi tangan Marvel menahan pinggang Lucia. "Mau kemana hmm? Kau tak lupa bukan jika malam ini malam pertama kita?" Lucia yang sejak tadi menunduk seketika mendongak. Duk.... "Aw..... " Marvel meringis, karena gerakan Lucia yang tiba tiba kepala Lucia mengenai dagu Marvel. Lucia panik saat melihat Marvel kesakitan. "Kau gila Lucia.... Argh..... sshh.... " Marvel terus meringis memegangi dagu nya yang ngilu karena Lucia. Lucia yang panik meraih tangan Marvel lalu melihat dagu Marvel merah. "Tunggu disini!" Lucia segera keluar dari ruangan itu untuk mengambil kompresan. Tak lama dia kembali membawa kompres dingin untuk Marvel. "Lepaskan tanganmu, biar aku kompres sebentar." Marvel menurut, karena kejadian yang tak sengaja tadi benar benar membuat dagunya terasa sakit. Wajah panik Lucia tak bisa di sembunyikan. Marvel terus mengamati wajah istrinya yang polos tanpa polesan make up itu. Meskipun terlihat tirus dan pucat tapi Marvel mengakui jika Lucia cukup cantik. Tiba tiba mata Marvel terpaku pada bibir Lucia yang sesekali di gigitnya karena cemas. Dia mendekat ke arah Lucia, tapi saat sudah lebih dekat terdengar ketukan dari luar kamar Marvel. "Tuan muda, nyonya muda. Makan malam sudah siap." Lucia berdiri tegak kembali, dan tak sengaja mata mereka saling bertemu. Beberapa menit berlalu mereka masih saling menatap. Sampai sebuah suara membuat adegan itu terhenti. Kruyuk..... Lucia menutup wajahnya, dia sangat malu karena perutnya berbunyi dengan keras. Sementara Marvel tersenyum simpul melihat Lucia yang tengah malu. "Turunlah dulu, aku akan ganti pakaian." to be continuedSebelum masuk ke dalam ruangannya, Marvel mengambil napas panjang lalu menghembuskannya cepat. Dia tahu jika Lucia juga terganggu dengan ucapan beberapa orang yang mengatakan hal setara dalam sebuah hubungan. Meskipun Lucia sudah berusaha sebaik mungkin dia pasti akan memikirkan asal mula dia dan Marvel bersama. "Sayang ..." Marvel mengusap puncak kepala Lucia lembut, tak lupa dia mencium puncak kepala itu lama. Lucia langsung memeluk pinggang Marvel yang membuat Marvel semakin merasakan kesakitan yang juga di rasakan Lucia. "Jangan di pikirkan lagi ya?" Pinta Marvel lembut. Ia benci ketika sudah berusaha membuat Lucia bahagia tapi orang lain yang menghancurkan. Lucia masih memeluk pinggang Marvel erat. Sementara Marvel memilih membiarkan apapun yang Lucia ingin lakukan. Rasanya dia tak sanggup melihat Lucia dalam keadaan seperti itu. Setelah beberapa saat, Lucia melepaskan pelukannya pada Marvel. Dia mengangkat kepalanya lalu melihat Marvel dengan wajah yang semb
Karyawan itu menunduk ketakutan di depan Marvel dan Lucia. Tapi Lucia tak peduli dengan hal itu. Terlebih ketika mereka menganggap pernikahan itu harus setara dalam hal asal usul. "Istri Kenzo tak bisa memilih dia lahir dimana dan akan besar dimana. Jika takdirnya dia harus tinggal di panti asuhan, apa sebelumnya dia akan tahu jika dia akan di titipkan di panti asuhan lh orang tuanya?" Karyawan itu masih terus menunduk, tubuhnya menggigil gemetaran karena semua perkataan Lucia. Terlebih ketika Lucia tahu dia hanya karyawan di sana. "Secara tidak langsung kau juga menyalahkan takdir yang di jalan Kanza. Ah, tak hanya Kanza, aku juga hanya orang biasa. Namun, aku berusaha sebisa mungkin agar aku setara dengan Marvel dan pantas berdiri disisi Marvel bukan di belakang Marvel. Dan jika kau ingin menghina seseorang hanya karena statusnya, kau bisa menghina ku lebih dahulu. Kanza masih melewati pendidikan formalnya sampai selesai bahkan juga bisa ke jenjang kuliah, berbeda dengan ku y
Di depan perusahaan Marvel mendadak heboh ketika ada seorang perempuan memaksa masuk dengan keadaan yang mengenaskan. Petugas keamanan sudah mengamankannya sejak tadi. Beberapa karyawan yang melihatnya tentu saja jijik dengan keadaan perempuan itu. "Cepat telfon Tuan Marvel dan Tuan Kenzo, katakan pada mereka apa yang harus dilakukan!" Beberapa orang menyuruh resepsionis untuk menghubungi Marvel juga Kenzo. Namun belum sempat mereka menghubungi, sebuah mobil yang mereka kenali tiba di lobi perusahaan. Marvel dan Lucia yang juga ikut ke kantor pun saling pandang. Lucia sudah ingin turun tapi Marvel menahannya. "Tunggu sayang, kau di sini saja tak usah turun. Biar aku yang urus. Sepertinya aku tahu dia siapa." "Hah?" Lucia menatap bingung pada Marvel yang matanya sudah menatap nyalang wanita yang terus berteriak itu. Lucia pun sampai di buat heran , kenapa banyak sekali wanita wanita yang gila yang ada di dekat Marvel. "Marvel, aku kesal. Kenapa selalu banyak wanit
Satu jam berlalu, akhirnya baik Marvel dan Lucia mendapatkan pelepasan mereka. Napas yang tersengal masih terdengar di kamar itu. Cup.... "Kuat bangun?" tanya Marvel. Lucia mengulurkan kedua tangannya ke arah Marvel yang tandanya dia minta di gendong oleh Marvel. Marvel tersenyum, dia meraih tubuh Lucia lalu membawanya ke kamar mandi. Mereka sekedar membersihkan diri mereka karena hari sudah larut. Marvel pun tak mau jika Lucia sampai sakit nantinya. "Tidur sayang, biar badannya beristirahat." Lucia mengangguk pelan karena dia sudah tak punya tenaga lagi untuk menjawab. Perlahan matanya tertutup. Marvel yang melihat itu mengeratkan pelukannya pada Lucia. Sesekali dia mencium puncak kepala Lucia sampai wanita itu benar benar terlelap. "Tidur yang nyenyak sayang." Perlahan Marvel juga ikut memejamkan matanya setelah memastikan jika Lucia sudah terlelap dan tidur dengan nyaman. # Sementara itu, di paviliun belakang. Terlihat dua orang yang duduk dengan canggu
Denisa masih berusaha untuk pergi dari sana dengan berjalan tertatih. Dia melewati jalan gelap dengan keadaan yang mengenaskan. Dengan menahan semua kesakitan yang ada di sekujur tubuhnya, Denisa memaksa kan dirinya untuk mencari bantuan. Tapi setelah berjalan berjam jam, tak ada kendaraan atau orang yang lewat di area sana. Sampai dia menemukan sebuah warung remang remang yang kecil. Disana ada sebuah televisi jaman dahulu khas milik orang yang sudah tua. Di sana di siarkan berita pernikahan Kenzo juga Kanza yang meriah. Di beritakan juga jika upacara itu khusus untuk beberapa tamu undangan. Barulah mereka mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan pernikahannya. Denisa menggelengkan kepalanya kuat. Dia marah karena lagi lagi dia kalah dengan Kanza. "Kenapa harus dia yang mendapatkan kebahagiaan? Kenapa bukan aku? Padahal aku lebih dari segalanya. Tidak, ini semua tidak benar. Jadi Kanza menikah dengan Kenzo karena Lucia? Wanita itu yang mengurus semuanya?" Denisa menjauh dari
Pernikahan Kenzo dan Kanza disiarkan di beberapa media sosial. Banyak orang yang terkejut tapi mereka ikut bahagia karena selama ini banyak sekali yang mengenal Kenzo karena Marvel. Dan tak ada yang bermasalah dengan Kenzo tentunya. Melihat Kanza, istri Kenzo yang juga cantik banyak sekali yang memberikan respon positif. Pernikahan sederhana yang di adakan di rumah baru Marvel dan Lucia tapi di siarkan langsung di beberapa media khusus. "Akhirnya, kalian sah menikah. Dan ini hadiah untuk kalian berdua." Pasangan pengantin itu saling tatap bingung, tapi mereka tetap membuka hadiah yang di berikan Marvel kepada mereka. "Ini apa?" Marvel mendengus kesal karena Kenzo malah bertanya ketika sudah melihat barang yang di berikan Marvel kepadanya. "Kau jadi bodoh sepertinya. Sudah tahu itu kunci, kenapa malah bertanya lagi? Apa semenjak jadi seorang suami, otakmu sudah kau gadaikan?" omel Marvel panjang lebar. Kenzo menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia lalu meringis saa
Marvel melihat Lucia tajam, bisa bisa nya gadis di depannya ini malah memerintah nya. "Kirim semua baju yang dia coba tadi ke alamat ini!" Lucia menggigit bibir bawahnya menahan kesal, dia sudah lelah memilih dan melihat Marvel dari tadi terus menggelengkan kepalanya, berpikir jika Marvel tak
"Kau tak apa apa?" Kenzo melongo saat mendengar Marvel yang tiba tiba perhatian pada Lucia. Karena Lucia tak langsung menjawab, Marvel langsung menatap ke depan. "Kenzo, kau mau mati hah? Kenapa mengerem mendadak?" bentak Marvel. Lucia yang ada disebelahnya gemetar ketakutan, dia semaki
Tanpa mengatakan apapun lagi, Lucia berlari keluar dengan cepat. Sementara Marvel terus menatap punggung istrinya itu sampai menghilang di balik pintu. Marvel pun dengan cepat mengambil pakaian miliknya sampai terdengar ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Kenzo yang sedang menghubunginya.
Marvel sedang bicara dengan Daddy-nya, dia juga memberikan beberapa file untuk di baca oleh Digo. "Apa ini Marvel?" "Daddy baca saja, setelahnya silahkan jika ingin bertanya. Aku tak akan menutupi apapun dari Daddy dan Mommy, jadi jika ada masalah di kemudian hari aku tak akan membuat Mommy sa







