LOGIN“Isolde menggunakan formasi kura-kura di gerbang utama. Dia sengaja memancing sisa ksatria kita keluar untuk dibantai oleh para pemanah Puncak Hitam di perbukitan samping.”Elara mendekat, lalu memegang lengan Valerius dengan cemas. “Apa yang bisa kita lakukan? Pasukan kita kocar-kacir, dan kau... kau belum bisa memegang pedang dengan stabil.”“Aku tidak akan memegang pedang untuk menghadapi seribu orang, Elara,” Valerius menoleh padanya, lalu senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.“Kakek menunjukkan sesuatu padaku di alam leluhur. Dia sombong dengan kekuasaannya, tapi dia juga membocorkan rahasia tentang bagaimana Puncak Hitam mengikat sihir mereka. Mereka semua terhubung melalui satu frekuensi energi yang berasal dari Breaker of Souls.”“Maksudmu jika senjata itu hancur, sihir mereka hilang?” tanya Lyra sambil memeriksa persediaan botol-botolnya.“Lebih dari itu. Jika kita meracuni 'aliran' mereka, maka seluruh pasukan itu akan tumbang bersamaan,” Valerius beralih pada Ly
Lyra mengerutkan kening, matanya berpindah cepat dari wajah Valerius yang emosional ke arah perut Elara.Ia segera menarik tangan Elara, menempelkan jemarinya pada titik nadi di pergelangan tangan dan kemudian meraba leher sahabatnya dengan saksama.Wajah Lyra yang tadinya penuh sisa air mata kesedihan, kini berubah menjadi ekspresi kebingungan yang mendalam.“Elara, diam sebentar. Napasmu terlalu cepat,” perintah Lyra. Ia mengeluarkan sebuah kristal pemantau aliran energi dari tasnya dan menempelkannya ke kulit Elara.Kristal itu berpendar dengan warna merah muda yang lembut, bukan biru dingin seperti biasanya. Lyra terkesiap, tangannya menutup mulutnya sendiri.“Ini tidak mungkin... dalam kondisi seperti ini?” gumam Lyra.“Ada apa, Lyra? Apa Duchess Elara terluka di dalam?” Hans bertanya dengan nada cemas, tangannya masih memegangi bahu Valerius agar pria itu tidak terjatuh.“Bukan luka, Hans,” Lyra menoleh pada Hans dengan mata melebar. “Hormonnya... detak jantung sekundernya sanga
Ledakan cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, meninggalkan rasa sakit yang menghantam seluruh saraf tubuh Elara.Sensasi jatuh bebas terhenti seketika saat ia merasakan punggungnya menghantam permukaan keras yang dingin dan basah. Paru-parunya terasa seperti terbakar, memaksa sebuah tarikan napas yang sangat dalam dan menyakitkan.“Uhukk! Uhukk!” Elara tersentak bangun, tubuhnya melengkung saat ia terbatuk hebat, mengeluarkan sisa-sisa cairan hitam pahit dari tenggorokannya.“Elara?! Elara, kau bangun?!” Suara Lyra melengking di antara isak tangisnya.Elara masih belum bisa melihat dengan jelas. Pandangannya kabur, hanya menangkap bayangan remang-remang gua dan tetesan air yang jatuh dari langit-langit. Kepalanya berdenyut seolah dihantam palu godam.Di sampingnya, ia mendengar suara tarikan napas yang kasar dan berat, disusul oleh suara erangan yang sangat familiar.“Duke? My Lord! Valerius!” Hans berteriak, suaranya parau karena emosi yang meluap.“Jantungnya... jantun
Suasana di aula bayangan itu mendadak sunyi, jenis kesunyian yang mencekam seolah-olah waktu itu sendiri telah membeku.Sang Kakek berdiri mematung di depan Valerius, tongkatnya yang terbuat dari es kuno memancarkan pendar biru yang meredup.Ia melihat Marianne yang masih bersujud dan Elara yang berdiri dengan mata menyala. Kekakuan di wajah sang Kakek perlahan mencair, digantikan oleh ekspresi dingin yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.“Begitu banyak pengorbanan untuk satu jiwa yang sudah rusak,” ucap sang Kakek, suaranya kini terdengar tenang namun bergema di setiap sudut kastil bayangan.“Dia tidak rusak! Kau yang merusaknya!” seru Elara, suaranya memecah keheningan.Sang Kakek mengabaikan Elara. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Valerius, menatap mata cucunya yang mulai kembali fokus.“Marianne memberikan sukmanya, dan istrimu memberikan darah serta nyawa calon anakmu. Kau adalah pria yang sangat beruntung, Valerius. Atau sangat malang.”“Berikan keputusanmu, Kakek,” gera
Cahaya keemasan dari tubuh Elara terus berpijar, menantang kegelapan aula yang kian menghimpit.Namun, sebelum sang Kakek sempat melancarkan serangan balasan, sebuah siluet lain muncul dari balik kabut abu-abu di sudut panggung. Sosok itu melangkah dengan keanggunan yang tenang, meski wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.“Cukup, Ayah. Hentikan semua ini,” suara wanita itu lembut, namun mampu membungkam deru badai es di sekitar mereka.Valerius tersentak, matanya yang sayu melebar. “Ibu...?”Wanita itu adalah ibu kandung Valerius, menantu yang selama ini bungkam di bawah otoritas kaku sang Kakek.Ia mengabaikan tatapan tajam mertuanya dan langsung berjalan menuju tengah panggung. Tanpa peringatan, ia menjatuhkan lututnya ke lantai batu yang dingin, bersujud di hadapan sang Kakek dengan posisi yang penuh penderitaan.“Apa yang kau lakukan, Marianne? Berdiri!” bentak sang Kakek, wajahnya tampak tidak nyaman melihat tindakan tersebut.“Aku tidak akan berdiri sampai kau melihat ap
“Kau tidak mengerti betapa berharganya benih yang kau bawa itu, Elara,” suara sang Kakek merendah, hampir seperti bisikan seorang kolektor yang menemukan barang antik paling langka.“Jangan berani-berani kau menyebut anakku sebagai komoditas!” tantang Elara, meski suaranya bergetar karena emosi yang meluap.“Ini bukan soal komoditas. Ini soal keajaiban biologis yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Drakenhoff,” sang Kakek melangkah memutar dan mengitari Elara.“Kau dan suamimu melakukan penyatuan itu saat tubuh Valerius sedang dibanjiri oleh ramuan penawar milik tabib itu, bukan? Sihir esnya sedang ditekan hingga ke titik terendah agar ia tidak membeku saat kau menyentuhnya.”Elara tertegun, ingatannya kembali pada malam di kastil, saat Lyra terus-menerus memberikan dosis penawar agar Valerius bisa bertahan sebelum perjalanan ke gunung. “Ya... lalu apa hubungannya dengan ini?”“Hubungannya adalah, benih itu tumbuh dalam kondisi 'bersih'. Kutukan es Drakenhoff tidak sempat menempel p
Pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi, namun kegelapan di dalam kamar utama seolah enggan beranjak. Elara perlahan membuka matanya.Langit-langit kamar yang dihiasi ukiran naga Drakenhoff adalah hal pertama yang ia lihat. Kepalanya terasa seperti dihantam palu besar, dan tenggorokann
Cahaya matahari musim dingin yang pucat mulai menyelinap melalui celah jendela tinggi di ruang kerja, menyinari debu-debu yang beterbangan di atas tumpukan perkamen.Elara mengusap wajahnya yang kuyu; matanya merah dan terasa berpasir karena hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam di atas sofa
Elara berdiri mematung di sudut ruangan sambil meremas jarinya di pinggiran meja kerja.Lalu melirik ke arah Valerius melalui sudut matanya. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atau kegelisahan.Sebaliknya, Valerius tampak tenang secara mengerikan. Seolah-olah drama yang b
Jam dinding besar di sudut ruangan berdentang dua belas kali, suaranya menggema berat di tengah kesunyian malam yang membeku.Elara memejamkan matanya sejenak, merasakan denyut nyeri yang menjalar dari leher hingga ke tulang punggungnya.Cahaya lilin yang mulai memendek menari-nari di atas perkamen







