MasukApa yang akan kau lakukan jika hubungan yang telah lama kau bangun selama tiga tahun pupus begitu saja? Bersamaan dengan itu, ayahmu yang tak bertanggung jawab dan memiliki sifat serakah datang padamu untuk meminta uang dengan nominal yang tinggi. Belum lagi tunggakan biaya sewa Apartemen yang belum Luna bayarkan. Apakah Luna harus menjual dirinya untuk mendapatkan uang cepat? Atau menerima tawaran seorang gadis blonde bernama Selena yang memintanya untuk menggantikan sebagai pengantin Wanita.
Lihat lebih banyakTangan lembut itu meraba sesuatu yang nampak asing baginya. Selaras dengan pikiran dan kesadarannya yang belum pulih benar menemui paginya. Nada seketika membuka matanya perlahan. Dia kaget mendapati pria asing berbaring tenang di sampingnya dengan bertelanjang dada berselimut tebal.
"Astaghfirullah ... apa yang terjadi," gumam gadis itu terlonjak melebarkan netranya. Nada terduduk shock mendapati dirinya tidak mengenakan selembar kain pun. Selaras dengan pria yang tengah pulas di sampingnya. Jantung Nada berdebar rancak, dadanya bergemuruh marah mendapati dirinya dalam keadaan naked begini. Ada bercak merah di sprei yang membuatnya semakin yakin kalau semalam telah terjadi sesuatu yang sangat disesali. "Ini tidak mungkin! Siapa pria ini," gumam Nada dengan tubuh bergetar hebat. Matanya memanas dengan perasaan marah. Seketika pipinya basah tak bisa dicegah. Ini terlalu mengejutkan. Apakah seseorang telah menjebaknya. Kenapa dia bisa terdampar dengan sembarangan pria. Dengan perasaan berkecamuk tak karuan dan jantung berpacu kencang, dia memberanikan diri untuk menatap sungguh-sungguh pria di sampingnya. Memperhatikan siapa pria yang telah tega merampas kehormatannya. Deg Jantung Nada seolah berhenti berdetak, netranya membulat sempurna dengan dada bergemuruh sesak kala mendapati pria di sampingnya adalah seniornya di kampus yang paling disegani. Pria dingin, dominan, kharismatik, salah satu most wanted dan hampir seluruh mahasiswi di kampusnya mengaguminya. Sayangnya pria itu terlalu angkuh. Bukan type Nada sekali dan dia satu-satunya perempuan yang mungkin tidak mau berurusan dengannya. Namun, kenapa malam ini dia malah terjebak di ranjang yang sama. Bagaimana mungkin itu terjadi. Mustahil bagi Nada untuk mendekatinya walau sekedar menyapa. Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Nada hanya sekedar tahu karena pria itu memang populer di kampusnya. Senior galak idaman sejuta umat. Salah satu pewaris petinggi kampus tempatnya bernaung mencari ilmu. Siapa pun perempuan akan berlomba-lomba menarik simpatinya. "Kak Saga," batin gadis itu memekik shock. Bagaimana mungkin dia bisa satu ranjang dengan pria dominan ini. Seketika rasa takut langsung menyelimuti sekujur tubuhnya. Seharusnya dia tidak terlibat apa pun dengan pria ini. Sungguh ini mimpi buruk baginya. "Sebenarnya apa yang terjadi semalam. Kenapa aku bisa seranjang dengan pria ini. Ah! Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas," batin gadis itu setengah frustrasi. Pikirannya kacau tak karuan. Serasa ingin mengamuk, tetapi tentu tak punya nyali hanya untuk sekedar mengusik tidurnya. Pelan gadis itu menyibak selimutnya. Memastikan pergerakannya tidak terbaca. Dia beringsut turun menjauh dari ranjang yang menjadi saksi pergulatan panas semalam. Isi pikirannya berantakan mencoba mencari ingatan semalam. Dia terlalu buntu untuk mendapatkan memorinya. Hati-hati Nada memungut pakaiannya yang berserakan. Ini sangat memalukan. Dia memakainya cepat dengan tubuh terasa tidak nyaman sekali. "Dasar brengsek! Bagaimana ini bisa terjadi," batin Nada marah tertahan. Apakah pria ini sengaja menariknya ke dalam lingkaran gelapnya. Atau justru keduanya sama-sama terjebak menjadi korban. "Sss ...," desis gadis itu merasa tidak nyaman sekali untuk berjalan. Ia memindai penglihatannya mencari ponsel miliknya. Dengan penuh hati-hati Nada mengulurkan tangannya meraih ponsel yang terdampar di pinggir bantal. Napasnya tertahan sejenak, takut sekali tiba-tiba pria ini bangun, lalu menuding dirinya telah lancang menidurinya. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan kamar itu. Berharap tidak harus berurusan dengannya lagi walaupun jelas dia merasa dirugikan sekali. Jujur Nada marah, tetapi untuk berhadapan dengannya Nada tak punya nyali. "Ya Tuhan ... Kenapa aku bisa di ranjang cowok itu?" batin Nada terus memutar otaknya. Sayangnya memori semalam seakan buntu mengingat kepingan peristiwa yang terjadi. Ditambah tubuhnya seolah lelah dan ngilu di sana sini. Gadis itu berlalu dengan perasaan terluka. Kenapa dia bisa berada dalam satu ranjang bersama Saga. Sungguh itu musibah baginya. Dia merasa hancur dalam semalam. Bagaimana kehidupannya setelah ini, Nada hampir tidak sanggup membayangkan. Bukankah semalam Nada menghadiri pesta lajang salah satu temannya. Seingatnya dia tidak mengkonsumsi alkohol atau minuman aneh-aneh lainnya di tempat acara. Kenapa dia bisa tiba-tiba terjebak begini dengan pria brengsek itu. Apakah seseorang memasukkan sesuatu ke dalam minumannya? Nada ingat betul dia semalam hanya seru-seruan menikmati acaranya. Tidak mengkonsumsi alkohol sedikit pun. Nada hanya minum red velvet yang tersaji di sana. Apakah minuman itu mengandung obat. Marah, kesal, bercampur dalam satu waktu. Kenapa dia bisa terdampar di ranjang pria dingin itu. Apa yang harus Nada lakukan setelah ini. Dalam kebingungan Nada mencoba mencerna kepingan semalam. Kejadiannya yang begitu tiba-tiba membuat perempuan itu tidak bisa berpikir jernih. Dia bahkan tidak tahu siapa yang telah menggiringnya dan memberanikan keberanian untuk tidur dengannya. Sesampainya di kediamannya, Nada langsung membersihkan diri. Dia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri yang kini sudah terjamah pria itu. Pikirannya disibukkan dengan lamunan panjang hingga membuatnya semakin terpuruk sendu. Marah sekali rasanya, tetapi ia juga bingung harus melakukan apa. "Tidak mungkin kan aku mabuk lalu menggodanya. Kami tidak saling mengenal," dumel Nada tak punya petunjuk. "Ah, sial, kenapa harus Kak Saga sih," ujarnya setengah frustrasi. Menggosok-gosok tubuhnya sendiri bekas tanda merah di tubuhnya dengan kasar. Dia terduduk hancur di bawah guyuran air shower yang mengalir membasahi tubuhnya. Apa yang harus Nada lakukan, bagaimana kalau pria itu diam-diam mempunyai penyakit serius yang menular. Atau kemungkinan terburuk membawa virus mematikan. Oh my .... Yang tadinya masih ingin terpuruk dalam kesedihan, membuat Nada bangkit dan ingin segera mencari solusi. Dia bergegas mengeringkan tubuhnya. Dengan pikiran kacau Nada mencoba menghubungi salah satu temannya yang mengikuti pesta semalam. Tetapi justru panggilan darinya tak mendapat sahutan. Pesta lajang semalam adalah bentuk partisipasi dirinya terhadap salah satu temannya yang akan menikah minggu depan. Namun, kenapa justru Nada merasa sial. Sepertinya tidak mungkin sekali salah satu dari orang di pesta itu berniat berbuat curang padanya. Perempuan itu kembali ke hotel untuk meminta rekaman CCTV di sana. Mana tahu ada sedikit petunjuk yang dapat memberikan bukti tentang semalam. Nada benar-benar tidak begitu ingat dengan kejadian semalam. Apakah dia mabuk? Atau terperangkap pemuda hidung belang. Mereka melakukannya setengah sadar. Nada juga tidak ingat menolaknya. Seingatnya dia hanya merasa tubuhnya panas dan begitu nyaman saat pria itu menyentuhnya. Apakah dia dalam pengaruh afrodiksiak? Lantas, kenapa pria itu malah memanfaatkan keadaan. Siapa yang sudah memasukkan racun itu ke dalam minumannya. "Maaf Kak, kami tidak bisa membagikan data tamu pada orang sembarangan. Itu sudah menjadi prosedur kebijakan hotel." "Tapi Mbak, saya butuh tahu orang yang memesan kamar enam ratus enam puluh sembilan." Apakah benar Saga pelakunya, atau keduanya sama-sama korban. Padahal Nada penasaran sekali dengan kejadian yang menimpa dirinya. Tidak mendapatkan hasil membuatnya setengah frustrasi memutuskan kembali ke rumah. Dia benar-benar dalam masalah. Hal pertama yang harus Nada lakukan adalah melakukan sejumlah pemeriksaan setelah berhubungan dengan orang sembarangan. Dia bahkan tidak tahu orang itu pakai pengaman atau tidak. Sebelumnya punya riwayat penyakit serius atau sehat. "Oh no! Jangan sampai ada jejak setelahnya. Dasar badjingan!" batin Nada tidak karuan. Setelah berkutat dengan pikirannya yang tidak tenang, Nada merasa lapar karena semalam dia melewatkan makan karbo. Pagi jelang siang ini dia memutuskan untuk memesan makanan karena malas keluar. Tubuhnya masih terasa begitu lelah sisa adegan panas semalam. Dia bahkan memilih untuk menghuni kost seharian. "Kenapa nasibku jadi gini sih," batin gadis itu kesal bukan main. Setelah merasa kenyang, Nada memutuskan untuk tidur. Memulihkan pikirannya yang berat. Dia bisa stress kalau dihadapkan situasi seperti ini sendirian. Sementara untuk mengadukan pada orang tuanya tidak ada keberanian untuk itu. Seharian di kamar, panggilan dan juga chat dari teman-temannya pun dia abaikan. Sibuk memikirkan hari esok yang seperti dihadapkan mimpi buruk untuknya.Luna melepas pelukannya, ia menatap Aiden dalam diam lalu membawanya keluar ruangan. "Mau ke mana?" tanya Aiden dengan langkah yang terus mengikuti Luna. Setelah berada di taman belakang, barulah Luna berhenti. "Aku punya ide." Luna lalu duduk dan menarik tangan Aiden untuk duduk juga. "Apa itu?""Bagaimana jika aku meninggalkanmu?" Aiden langsung berdecak tidak suka dengan pertanyaan itu. "Mau ke mana lagi? jangan coba-coba untuk meninggalkanku Luna.""Ini hanya sebuah ide. Jika aku selalu dijadikan tawanan untuk Robert atau entah nanti siapapun itu karena mereka tahu aku adalah kelemahanmu. Bagaimana jika kita berpura-pura berpisah saja. Jadi ada atau tidaknya aku di hidupmu itu tidak akan membuatmu lemah." Luna menjelaskan. Tapi melihat raut tidak suka Aiden membuatnya harus meyakinkan laki-laki itu. Luna mengambil tangan Aiden dan menggenggamnya. "Kita harus menyelesaikan ini. Dan kita harus menang."Aiden hanya diam sembari menatap pada kedua mata Luna. Semua yang dikatakan
Luna sedang menyusui Aaron begitu Aiden datang. Wajahnya langsung berseri melihat putra mereka yang sedang minum. Sebelum melepas jasnya, Aiden mendekat untuk mencium puncak kepala Aaron lalu berganti mencium pipi Luna. Ia sangat adil untuk hal ini. Luna tidak banyak berkomentar, ia hanya tersenyum dan ekor matanya melihat ke arah Aiden yang masuk ke kamar mandi. Dalam hati banyak menyesali kenapa dirinya mudah diperdaya hingga menyakiti banyak orang. Mungkin saja jika sedari awal tidak menerima tawaran Selena hidupnya akan damai, walau hidup tanpa kekasih akibat diputuskan waktu itu. Tidak masalah, laki-laki bukanlah satu-satunya tujuan hidup bukan?Tapi tidak boleh berpikir begitu, sekarang sudah ada Aiden yang rela melakukan apapun untuknya. Ia akan aman.Bertepatan dengan Aaron yang sudah memejamkan mata, Aiden keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun yang menguar. "Sudah tidur?" tanya Aiden dengan suara pelan. Luna mengangguk. Aiden membuka lemari dengan perlahan takut j
Tidak ada yang menduga bahwa kegiatan panas mereka ternyata menjadi sebuah ancaman untuk Aiden. Entah mendapat dari mana namun kini Luna telah menodong pistol yang sontak membuat Aiden langsung mundur ke belakang.Kedua alisnya menyatu menjauh dari tubuh Luna.Istrinya itu dengan wajah yang masih memerah akibat gairah, juga deru napas yang belum teratur memegang pistol dengan erat."What happen Luna?" Tanya Aiden terbata dengan kebingungan.Itu bukan pistol bohongan. Aiden mengenali nomor seri pada emboss pada bagian sampingnya. Dimana Luna mendapatkan itu?Aiden sudah memastikannya sendiri bahwa nama Luna bersih. Benar-benar bersih bukan merupakan agen intel, seorang tangan kanan mafia, atau sebagainya itu. Lagipula yang kini Aiden bingungkan hanyalah, apa yang sedang terjadi sekarang.Tapi melihat mata Luna berkaca dengan wajah yang sok dikuatkan itu membuat Aiden mengerti sesuatu."Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Aiden lembut ia bergerak ke samping kasur dan duduk dengan tenang meski
Luna kembali bersama Aiden. Ia pulang ke Seoul duduk di samping suaminya. Jong Min masih di Jeju. Sengaja menambah masa liburannya dan Giselle telah membantu Jong Min untuk membawa Krystal ke sana melancarkan lamaran yang Jong Min rencanakan. Tidak butuh waktu lama mereka sudah mendarat di Incheon Airport. Giselle sangat senang mendorong troli bayi dimana Baby A tertidur disana.Luna dan Aiden saling bertaut tangan menyembuhkan rasa rindu. Ngomong-ngomong Aiden sudah menyiapkan nama untuk anaknya. Aaron Santana Ellworth. Kata Luna anak mereka lahir sebelum natal tepat ketika salju turun. Entah kenapa nama itu yang terpikirkan dalam kepala Aiden. Tapi jika melihat bayinya, kulit seputih salju itu cocok dengan nama tersebut. Luna tersenyum kala kedua pandangan Aiden terus memandangi troli yang Giselle dorong. Mertuanya itu langkahnya lebih dulu ada di depan mereka. "Terima kasih," kata Aiden sedikit mendekatkan dirinya pada Luna agar terdengar. "Terima kasih untuk apa?" tanya Luna






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.