Mag-log inKilatan lampu dari puluhan kamera jurnalis menyala tak henti-hentinya di pelataran pintu masuk, menciptakan gelombang cahaya putih yang menyilaukan mata. Puluhan awak media berebut posisi, menodongkan mikrofon sewaktu rombongan Varmadeo Group melangkah masuk menyusuri lorong utama menuju ruang pemeriksaan.Aira berjalan pelan di samping Adriel.Wajahnya tampak pucat. Di sebelahnya, Adriel berjalan dengan posisi tegap, menatap lurus ke depan. Sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke arah Aira, tidak pula menggenggam tangan istrinya.Jarak emosional yang memisahkan mereka berdua terasa begitu nyata dan menyiksa hati Aira."Posisikan dirimu di belakang tim pengacara kita, Aira," tutur Adriel sangat pelan. "Jangan menjawab pertanyaan apa pun dari media."Aira menelan ludah, mengangguk pasrah. "Baik..."Saat rombongan mereka mendekati pintu ruang pemeriksaan, Dimitri melangkah mendekat.Di sampingnya, Valerie Collins berjalan menggandeng lengan Dimitri dengan erat, menyunggingkan seny
Langkah kaki Dimitri melambat secara perlahan.Untuk pertama kalinya sepanjang hidup, ia akan berhadapan langsung, menatap wujud fisik dari pria penguasa klan Ragendra—kakek kandungnya sendiri.Dimitri berdiri mematung di tengah ruangan, berjarak hanya beberapa meter dari kursi roda Guntur. Seluruh kata-kata tajam, rencana intimidasi, dan kalimat ancaman yang telah disusunnya secara sempurna di dalam otak... seketika musnah tanpa sisa.Lidahnya kelu.Dimitri yang terbiasa dominan mengendalikan situasi, kini hanya bisa berdiri membisu dengan bola mata yang bergetar.Guntur Ragendra perlahan mengangkat kepalanya. Memandangi pria muda di hadapannya."Kamu..." bisik Guntur dengan suara sedikit bergetar. "Kamu... Dimitri...?" tanya Guntur lagi.Dimitri tidak sanggup menjawab. Ia hanya memandang kakeknya tanpa kedip. Ada kebingungan dan rasa canggung yang besar, yang melumpuhkan seluruh pergerakannya."Prabu..." desah Guntur dengan napas tersengal pelan, menoleh mencari Prabu. "Lihat dia, P
Valerie menggeliat pelan di atas ranjang. Ia mengusap mata yang masih terasa berat, refleks mengulurkan tangan ke samping kanan ranjang untuk mencari sosok Dimitri.Dahi Valerie berkerut halus. Ia duduk di atas kasur, menarik selimut untuk menutupi dadanya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar.Di sudut ruangan dekat jendela raksasa, Dimitri sudah berdiri tegap, matanya menatap lurus ke arah layar ponsel dengan raut wajah yang sulit ditebak."Dimitri...?" panggil Valerie.Valerie menyibakkan selimut. "Kenapa kamu sudah rapi sepagi ini? Ini baru jam enam pagi..."Dimitri mematikan layar ponsel, menarik napas panjang yang amat dalam. Lalu menatap Valerie."Saya harus pergi sekarang, Bu Dosen," sahut Dimitri datar."Pergi...?" ulang Valerie dengan mata yang membelalak. "Pergi ke mana?! Bukankah pemeriksaan di Mabes Polri baru dimulai jam sembilan pagi nanti?!""Saya ada urusan pribadi yang sangat penting sebelum itu," balas Dimitri tenang.Melihat Dimitri yang bersiap melang
Dimitri mengetuk pintu secara teratur dua kali.Hanya dalam hitungan detik, kait pengunci pintu berbunyi kencang. Pintu terdorong terbuka lebar dari dalam.Valerie Collins berdiri di ambang pintu. Ia hanya mengenakan lingerie sutra tipis berwarna hitam yang membentuk lekuk tubuhnya secara menerawang. Di matanya, pendaran gairah terpancar kuat saat melihat sosok Dimitri."Kamu... kamu benar-benar datang, Dimitri..." desah Valerie."Saya selalu menepati janji saya, Bu Dosen," sahut Dimitri datar, melangkah masuk.Valerie menutup pintu, lalu memutar kuncinya dua kali. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan menunjuk ke arah meja konsol di dekat cermin raksasa.Di atas meja kayu tersebut, tergeletak setumpuk berkas dokumen"Aku sudah mendapatkan semuanya!" ungkap Valerie, sedikit pongah. "Aku menyuruh tiga kenalanku di dinas kependudukan, pengacara keluarga Hartanto, dan mantan kepala arsip rumah sakit swasta untuk membongkar dokumen ini dalam waktu kurang dari dua jam!"Dimitri tidak langs
Pendaran lampu-lampu pencakar langit Jakarta dari balik jendela kaca raksasa menembus temaramnya ruangan, membiaskan siluet Dimitri yang berdiri mematung sendirian dengan cangkir kristal berisi whisky di tangan.Dimitri tidak menyentuh minumannya. Matanya menatap kosong ke arah deretan mobil yang melaju di jalanan ibu kota jauh di bawah sana.Di dalam benaknya yang biasanya bagaikan mesin hitung, gema suara Aira dari pertemuan mereka tadi siang masih terus berputar."Kamu hanya akan menemukan kenyataan bahwa wanita yang sangat kamu benci ini... adalah orang yang sama-sama menjadi korban dari kejamnya ego dan kesalahan generasi sebelum kita..."Urat-urat di pelipis Dimitri menegang."Bohong..." desis Dimitri sangat pelan. "Aira Varmadeo tidak mungkin semenderita itu..."Dimitri meneguk cairan whisky pahit itu dalam satu hentakan napas, membiarkan rasa terbakar di tenggorokannya menetralkan rasa cemas di hati. Pria itu memutar tubuh, berjalan menuju sofa kulit hitam di tengah ruangan.I
Aira menautkan kedua jemari tangannya yang dingin. Dadanya berdebar kencang setiap kali mendengar suara desau angin malam dari luar jendela. Bayangan akan persidangan besok pagi, kesaksian kotor yang disiapkan Dimitri, serta tatapan dingin Adriel terus berputar menyiksa benaknya.Srekk...Suara deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran gerbang utama akhirnya terdengar samar-samar dari lantai bawah.Aira seketika terperanjat. Ia mengusap bekas air mata di pipinya, merapikan gaun secara terburu-buru, lalu melangkah pelan mendekati pintu kamar.Cklek.Adriel melangkah masuk.Aira menarik napas panjang, melangkah mendekati suaminya, berusaha menyunggingkan senyuman paling hangat."Kamu... kamu sudah pulang?" sapa Aira pelan.Adriel tidak langsung menjawab. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangan matanya ke arah Aira. Ia hanya mengangguk tipis, melangkah melewati Aira begitu saja menuju meja rias untuk meletakkan kunci mobil.Aira menelan ludah."Adriel... biar aku bantu melepas j
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman







