Masuk"Nyonya Aira! Nyonya mau ke mana?!" cecar Nora setengah berbisik. "Sera! Ini masih pagi sekali! Kenapa malah mau pergi keluar rumah?"Aira menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu depan. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Nora dengan sangat tenang."Nora, kamu tidak perlu cemas. Aku hanya ada urusan sebentar di luar.""Tapi Nyonya," potong Nora. "Siapa sebenarnya orang itu yang dimaksud Sera tadi? Kenapa ada orang asing yang datang ke dekat tempat persembunyian kita? Gimana kalau orang itu utusan dari Dimitri? Gimana kalau ini jebakan?"Aira mendekati Nora, meraih kedua telapak tangan tua yang gemetar itu, lalu meremasnya."Percaya padaku, Nora," tukas Aira. "Orang yang akan kutemui ini bukan orang asing, dan ini sama sekali bukan jebakan. Ini adalah langkah yang harus kuambil demi membantu Adriel menyelesaikan kekacauan di Jakarta."Nora menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Tapi Nona EJ bagaimana, Nyonya? Si kecil kan baru saja terlelap.""Justru karena itulah aku memintamu t
"Gimana bisa... Gimana bisa Tuan Besar Guntur tega mencopot posisi Nyonya Aira dari yayasan?! Mana posisi itu malah dikasih ke bajingan bernama Dimitri itu!"Nora melemparkan pisau dapurnya ke atas meja, memutar tubuh menghadap Aira dengan wajah merah padam oleh amarah."Ini tidak adil, Nyonya Aira!" cerocos Nora meluapkan kekesalannya. "Tuan Besar Guntur itu benar-benar sudah keterlaluan! Nyonya ini sudah berdarah-darah mengurus yayasan! Nyonya dibenci para tetua, difitnah media, sampai harus menepi ke rumah persembunyian ini... eh, malah jabatannya diserahkan begitu saja ke anak muda asing yang baru muncul kemarin sore!""Nora, pelankan suaramu," tegur Aira sangat tenang."Bagaimana saya bisa pelan, Nyonya?!" pangkas Nora kian emosional. "Dimitri itu penipu! Dia itu ular berbisa yang sengaja merancang fitnah lima puluh miliar untuk menjatuhkan Nyonya! Kenapa Tuan Besar Guntur gampang sekali dibodohi oleh janji-janji manis pria itu? Kenapa Tuan Besar malah mengalah dan memberikan sel
Melihat putrinya sudah terlelap, Aira mengelus lembut pipi chubby EJ, lalu melangkah keluar kamar dengan berjinjit pelan. Langkah kaki Aira pelan menuju ke arah dapur di bagian belakang rumah.Di sana, aroma harum bumbu dapur sudah mulai tercium. Nora sedang sibuk berdiri di depan meja dapur. Beberapa kantong plastik berisi belanjaan tadi pagi sudah terkembang di atas meja. Nora sedang sibuk mengupas kulit kentang dan memotong wortel."Nora," sapa Aira lembut seraya mendekat.Nora terkejut kecil, memutar tubuhnya. "Astaga, Nyonya Aira! Kaget saya. Nyonya sudah bangun? Kenapa tidak istirahat saja di kamar?"Aira tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya pelan. "EJ sudah tidur nyenyak, Nora. Di kamar terus malah bikin bosan. Nora lagi sibuk sekali ya?""Iya ini, Nyonya," sahut Nora riang, menyapu sayuran di meja. "Tadi pagi kan saya dan Sera habis belanja di pasar. Saya mau buatkan sup iga hangat sama tumis sayur segar untuk makan siang Nyonya Aira."Aira melangkah mendekati meja. "Sini
Para karyawan berbisik-bisik di dekat bilik kerja masing-masing, saling bertukar pandang dengan wajah yang dipenuhi kebingungan.Di area lobi utama pimpinan, seluruh jajaran staf senior, kepala divisi, dan anggota dewan pengawas dikumpulkan secara mendadak oleh bagian SDM."Ada apa ini sebenarnya?" bisik salah seorang staf wanita di samping Fanny. "Kenapa kita dipanggil berkumpul secara mendadak begini? Apakah ada pengumuman penting dari Nyonya Aira?"Fanny hanya berdiri mematung. Sepasang matanya menatap cemas ke arah dua bilah pintu kayu jati ruang rapat utama yang masih terkunci rapat.Dua orang perwakilan tim hukum senior Ragendra melangkah keluar, diikuti oleh seorang pemuda bertubuh tegap yang mengenakan kemeja putih mahal berlapis jas hitam tanpa dasi.Pemuda itu melangkah dengan postur tegap yang amat sangat tenang. Wajah blasterannya yang luar biasa tampan membiaskan pendaran bersahaja, sementara matanya menyapu seluruh staf yang berdiri berbaris di lobi.Fanny membelalakkan
"Hahaha..."Sebuah tawa bergema dari Adriel Varmadeo."Gaya bicaramu sungguh menarik, Pak Kusuma," tutur Adriel dengan senyuman tipis. "Aku hampir lupa betapa tingginya rasa percaya diri para tetua yayasan Ragendra."Helaan napas lega seketika terdengar saling bersautan di sekeliling meja makan bulat tersebut."Aduh, Sir V..." sahut Pak Kusuma, tersenyum canggung. "Anda ini suka sekali bercanda. Soal Nyonya Aira... tentu saja kami menghormati beliau sewaktu beliau memegang pimpinan yayasan. Namun, tekanan media masa kini menuntut sosok yang lebih tegas dan berpengalaman, bukan?""Tentu," sahut Adriel singkat, mengangguk-angguk kecil. "Pilihan yang sangat logis bagi para tetua yang memikirkan keuntungan aset."Pak Kusuma menuangkan kembali teh tieguanyin ke cangkirnya, mencoba menegakkan kembali posisi tubuhnya. "Nah, karena Anda sudah memahami posisi kami, Sir V... sebaiknya kita bicara jujur. Untuk apa sebenarnya Anda menyewa ruang ini dan mengumpulkan kami berlima?"Adriel melirik t
Pak Kusuma duduk mematung dengan bahu yang menegang kaku. Adriel Varmadeo menyandarkan punggung, menyilangkan kedua kakinya yang panjang. "Apa maksud Anda dengan dokumen penawaran terakhir?" tuntut Pak Kusuma.Adriel menyunggingkan senyuman tipis. "Apakah kalimatku kurang jelas?" balas Adriel. "Kalian berlima berkumpul di meja ini untuk merayakan penyerahan Yayasan Ragendra dari tangan Aira ke tangan Dimitri." Mantan direktur keuangan di samping Pak Kusuma berdeham kaku. "Sir V, kami ini adalah para tetua yayasan Ragendra. Penyerahan yayasan oleh Tuan Besar Guntur adalah keputusan internal klan kami demi meredam perselisihan keluarga. Kami hanya mengikuti alur demi mengamankan kepastian investasi." "Kepastian investasi?" potong Adriel singkat. Adriel mengalihkan tatapan matanya. "Atau lebih tepatnya kalian dibuai janji manis Dimitri, bahwa setelah pria itu menduduki posisi Direktur Utama, aset tanah inti dan dana kas lembaga akan dibagikan sebagai kompensasi atas kesetiaan kal
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove







