MasukNapas Valerie tertahan sewaktu menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Aira yang hampir menghantam lantai granit ditangkap dengan begitu sigap oleh lengan Dimitri. Jemari pria muda itu mencengkeram pinggang Aira dengan erat, menahan bobot tubuhnya dalam jarak yang teramat dekat."Sialan..." bisik Valerie pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum cemooh. "Lihat siapa yang sedang berakting menjadi wanita suci di kampus ini."Dengan gerakan yang sangat cepat, Valerie merogoh tas tangannya, mengeluarkan ponsel. Ia menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik pilar, lalu mengarahkan kamera ponsel beresolusi tinggi itu persis ke arah Aira dan Dimitri."Sempurna..." gumam Valerie puas, matanya berbinar menyaksikan deretan foto di layar ponselnya. "Benar-benar sudut gambar yang sangat sempurna!"Ia terus mengawasi saat Dimitri membantu Aira berdiri tegak. Kamera ponselnya terus merekam setiap gestur kebersamaan mereka.Valerie menyan
"Pagi, Aira," tegur salah seorang teman sekelasnya."Pagi..." sahut Aira lirih, mengulas senyum tipis yang dipaksakan sembari memilih duduk di bangku barisan tengah.Belum sempat Aira mengeluarkan buku catatannya, pintu depan kelas terdorong lebar. Suasana riuh mahasiswa seketika senyap.Valerie Collins melangkah masuk dengan gaya dingin. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh isi ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat pada sosok Aira."Selamat pagi semuanya," sapa Valerie. Ia meletakkan tablet dan map dokumennya di atas meja. "Sebelum kita memulai materi kuliah pagi ini, saya ingin menguji sejauh mana pemahaman kalian mengenai studi kasus tata kelola organisasi dan implikasi hukum internasional yang sudah saya berikan minggu lalu."Aira seketika membeku. Ia tidak sempat membaca secara mendalam kasus pelik tersebut.Valerie menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan tubuhnya di tepi meja."Saya ingin mendengar analisis dari mahasiswa yang paling berprestasi dan paling sibuk
"Aira, dengarkan aku," ujar Adriel. "Pria itu... dia bukan anak magang biasa."Aira menghela napas panjang. "Adriel, tolonglah. Jangan mulai lagi dengan rasa curigamu yang berlebihan. Dimitri itu baru lima hari magang di sini. Dia anak yang sopan, rajin, dan sangat membantu pekerjaan kantor—""Orang biasa tidak akan memiliki ketenangan seperti itu di depanku, Aira," potong Adriel cepat. Matanya menyipit tajam. "Gerak-geriknya, intonasi bicaranya, bahkan cara dia menatapku... semuanya dirancang terlalu rapi. Pria itu menyimpan sesuatu.""Tapi kamu tidak bisa menuduh orang sembarangan hanya karena kamu merasa dia terlalu tenang!" sanggah Aira tak mau kalah. "Kamu selalu saja curiga pada siapa pun yang berada di dekatku!""Aku tidak curiga tanpa alasan, Aira. Aku—"“Ehem.”Sebuah dehaman keras yang disengaja memotong ucapan Adriel.Adriel dan Aira serentak menoleh."Wah, wah... ternyata ada Sir V di sini," sapa Pak Kusuma. Ia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Adriel dan A
"Hasil rekapitulasi data bantuan panti asuhan wilayah selatan sudah selesai, Bu Aira. Semua dokumen lampiran, laporan keuangan, dan verifikasi tanda tangan pengurus sudah saya susun rapi dalam map biru ini," ujar Dimitri.Aira membelalakkan matanya kagum saat menerima bundel map tebal tersebut. Ia dengan teliti membuka lembar demi lembar. Semuanya ditata begitu presisi, tanpa ada satu pun angka atau nama penyalur yang terlewat."Luar biasa..." gumam Aira pelan. "Biasanya butuh waktu dua sampai tiga hari bagi staf administrasi untuk merapikan berkas sesulit ini. Tapi kamu... ini baru hari kelima kamu magang di sini, kan?"Dimitri tersenyum tipis. Pria muda itu mengibaskan tangannya pelan."Hanya hal kecil, Bu Aira," kekeh Dimitri. "Saya rasa ini sudah jadi kewajiban saya sebagai anak magang. Lagipula, saya lihat beberapa hari terakhir ini Bu Aira terlalu banyak menanggung beban pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tim administrasi.""Tetap saja, kamu sangat membantu," balas Aira j
"Di-Dimitri?!" pekik Valerie. Ia menegakkan punggung, menatap pemuda di luar pintunya dengan pandangan sengit. "Kamu... apa yang kamu lakukan di sini?!"Dimitri justru terkekeh rendah."Pertanyaan itu rasanya lebih tepat saya ajukan kepada Anda, Bu Dosen," tutur Dimitri pelan, artikulasinya sangat tenang. "Sejak kapan seorang dosen yang terhormat seperti Bu Valerie... memiliki hobi baru memata-matai dari pinggir jalan seperti ini, hm?"Dada Valerie naik turun menahan emosi. Ia mengepalkan tangannya di atas roda setir, mencoba sabar."Jaga mulutmu!" bentak Valerie. "Jangan berlagak lancang dan sok tahu di depanku! Kamu itu di kampus hanyalah seorang mahasiswa pindahan baru! Jangan lupa pada posisi dan batasanmu!"Dimitri memiringkan kepalanya sedikit, senyumannya makin lebar. "Batasan? Posisi? Sungguh pilihan kata yang sangat menarik dari seorang wanita yang dibekukan bisnis keluarganya oleh Adriel Varmadeo."Mata Valerie membelalak lebar. "Kamu... dari mana kamu tahu soal itu?!""Duni
Pagi itu, suasana di kantor pusat Yayasan Ragendra terasa sedikit berbeda. Di lantai dasar, tepatnya di area divisi legal dan administrasi, lalu lalang karyawan tampak sibuk menyambut jam kerja.Dimitri mengenakan kemeja putih, dipadu celana kain hitam. Wajah blasterannya yang tampan dihiasi senyuman tipis nan ramah, langsung menarik perhatian beberapa staf wanita di meja resepsionis."Selamat pagi," sapa Dimitri ramah. "Saya Dimitri, anak magang baru di divisi legal. Bisa tunjukkan di mana ruangan Pak Hendra?"Salah satu staf wanita terperanjat pelan, lalu buru-buru tersenyum manis. "E-eh, iya! Selamat pagi, Mas Dimitri. Ruangan Pak Hendra ada di lorong sebelah kanan, pintu nomor tiga.""Terima kasih banyak atas bantuannya," balas Dimitri sebelum melangkah pergi.Hanya dalam hitungan jam, kehadiran Dimitri di divisi legal langsung menjadi buah bibir di antara para karyawan."Luar biasa, Mas Dimitri!" puji Pak Hendra, kepala divisi legal, sambil menepuk bahu Dimitri di dalam ruang ker
Angin malam di pemakaman elit itu berhembus kencang, menggoyangkan dahan pohon kamboja yang menaungi nisan marmer putih milik Elenora. Guntur Ragendra berdiri mematung, seolah-olah tubuhnya telah menjadi bagian dari nisan di depannya. Tongkat eboninya terhujam kuat ke tanah, menjadi satu-satunya pe
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Kegelapan malam mulai menelan seluruh isi gudang pelabuhan itu. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu jalanan kusam yang menyelinap masuk lewat ventilasi tinggi, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di dinding yang berjamur. Langkah kaki itu kembali terdengar. Tap. Tap. Tap.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove







