Home / Romansa / Pengantin Untuk Tuan Lumpuh / 6. HANYA SEBATAS ORANG ASING

Share

6. HANYA SEBATAS ORANG ASING

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2025-10-23 22:16:32

Evelyn menegakkan tubuhnya perlahan, meski Dirga masih menahannya di antara dinding dan tubuhnya yang tinggi menjulang. 

Napasnya berat, tapi sorot matanya tajam. Ia menatap Dirga seperti menatap seseorang yang sudah terlalu jauh melanggar batas. “Sudah cukup, Dirga,” suaranya datar tanpa getaran, tapi ada ketegasan di sana. “Kau tidak berhak menuntut penjelasan apa pun dariku.”

Pria itu mengerutkan alisnya, seolah tak percaya dengan keberanian Evelyn. “Tidak berhak?”

“Ya,” Evelyn menegaskan. “Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab kenapa aku menikah dengan Samudra. Hidupku bukan lagi menjadi urusanmu.”

Dirga terkekeh pelan, tapi ada nada getir di balik tawanya. “Lucu sekali, Evelyn. Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini? Kau menikahi Samudra bukan karena cinta, tapi karena alasan lain. Semua orang bisa mencium kepalsuannya.”

Evelyn memejamkan mata sejenak, mencoba menahan diri agar tidak terpancing. “Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Tapi satu hal, Dirga—aku tidak butuh pengakuan darimu, apalagi belas kasihan darimu.”

“Belas kasihan?” Dirga mendekat sedikit, jarak di antara mereka hanya sehelai napas. “Jadi menurutmu aku kasihan padamu? Evelyn, aku—”

“Cukup.” Evelyn menepis dada Dirga keras-keras hingga pria itu mundur selangkah. Tangannya sedikit bergetar, tapi ekspresinya tetap tegas. “Apa pun yang terjadi di masa lalu kita, biarlah di sana. Jangan campur adukkan masa lalu itu dengan hidup kita yang sekarang.”

Dirga menatapnya lama. Tatapan yang semula penuh api, kini berganti dengan sesuatu yang lebih gelap—kecewa, tapi juga penyesalan yang tak diakui.

“Kau berubah,” katanya lirih. “Kau bukan Evelyn yang dulu aku kenal di Therondia.”

Evelyn menatap balik tanpa gentar. “Yang kamu kenal di sana adalah Evelyn yang belum belajar bertahan hidup. Dan sekarang… sekarang yang kamu lihat adalah Evelyn— Evelyn yang sudah tahu bagaimana caranya untuk bisa melakukan itu semua.”

Keheningan turun sejenak. Hanya terdengar suara detik jam dari ruang tamu dan desir angin yang menyelinap lewat jendela besar di koridor.

Dirga menunduk, menyeringai tipis, tapi kali ini tak ada nada menggoda. “Aku masih tidak percaya, Evelyn. Tapi cepat atau lambat, jika Samudra membuatmu menderita, kau tahu harus mencari siapa.”

Evelyn menarik napas panjang, lalu menatapnya dingin. “Kamu menyumpahiku? Kalau pun hari itu datang, jangan terlalu yakin aku akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.”

“Bukan gitu, Eve—”

Ia melangkah pergi, menyingkirkan tangan Dirga yang sempat mencoba menahan pergelangan tangannya. “Jangan menghalangiku, Dirga. Anggap saja sekarang kita adalah orang asing yang tidak saling mengenal.”

“Evelyn….” lirihnya belum puas dengan hasil mediasi yang tidak pernah ada jawabnya.

Wangi parfum lembutnya tertinggal di udara, kontras dengan hawa panas di dada Dirga yang kini menatap punggung perempuan itu menghilang di tikungan.

•••

Kantor pusat Epsilon Group berdiri megah di tengah jantung Moonspire, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari yang mulai meninggi. 

“Huft….” dengusnya sebelum masuk ke gedung berlantai 30 di depannya. 

Setiap kali Evelyn menatap bangunan itu, ada sensasi getir di dadanya. Ia tumbuh besar di gedung ini—melihat ayahnya membangun kerajaan bisnis dari nol, hingga akhirnya menjadi salah satu konglomerat paling disegani di negeri ini.

Namun hari ini, langkah Evelyn terasa berat. Ia melangkah masuk melewati lobby yang sepi, menatap lambang “Epsilon Group” yang tertempel di dinding marmer hitam.

“Selamat pagi, Nyonya Samudra,” sapa resepsionis dengan sopan.

Evelyn hanya tersenyum tipis. “Pagi, Monica.” Gelar itu masih terdengar asing di telinganya.

Ia naik ke lantai 27, tempat ruang kerja Alexander Wijaya, ayah sekaligus sosok yang diam-diam menyeretnya ke dalam pusaran keluarga Bumiputera.

Pintu kaca terbuka otomatis, memperlihatkan sosok pria paruh baya dengan rambut mulai memutih di pelipis. Alexander sedang menatap layar monitor, wajahnya serius seperti biasa.

“Ayah,” sapa Evelyn pelan.

Alexander menoleh, senyumnya tipis namun lelah. “Akhirnya kamu datang juga. Duduk, Nak.”

Evelyn menuruti, menaruh tasnya di samping kursi. “Ayah terlihat sangat sehat.” Evelyn menelisik Alexander dari atas sampai bawah, tidak ada yang aneh atau kurang sedikitpun. “Ayah bilang suruh aku datang, ada apa?” lanjutnya.

Alexander menatap putrinya lama, lalu melepaskan napas berat. “Tiba-tiba saja ayah merasa segar bugar, Eve. Oh ya, apa mereka menerima kamu dengan baik di sana?”

Evelyn hanya mengangguk, tanpa ekspresi. “Kalau maksud Papa ingin menanyakan apakah kami baik-baik saja, jawabannya— ya, tentu saja. Tapi aku tidak pernah menyangka, jika Ayah peduli tentang itu.”

“Evelyn, Sayang…” suara Alexander terdengar rendah tapi tegas. “Apa kamu berpikir, kalau selama ini ayah dan Bibi Josephine menyerahkan kamu pada keluarga Bumiputera? Ayah tidak sekejam itu Eve, meskipun keadaan tidak berpihak pada kita. Ayah tidak akan melakukan hal licik itu.”

Evelyn menatapnya tajam. “Keadaan? Menyerahkan? Kenapa Ayah bisa berpikir sejauh itu padahal aku tidak pernah menyinggung soal apapun?”

Alexander terdiam sesaat. Sorot matanya bergeser, menatap jendela besar di belakang meja kerjanya. “Kau pikir Ayah rela melihatmu menikah dengan pria cacat yang dingin seperti es kutub Utara itu? Tidak, Evelyn. Tapi kalau bukan kamu, seluruh perusahaan ini akan jatuh ke tangan keluarga Bumiputera. Dan kamu tahu, mereka bukan orang yang bisa diajak main-main.”

Evelyn memalingkan wajah. Ia sudah menduga, tapi mendengar langsung dari mulut ayahnya membuat hatinya kembali retak. “Jadi selama ini Ayah sudah mengaturnya? Aku cuma sebagai alat kompensasi untuk menutup perjanjian bisnis?”

Alexander menatap putrinya, kali ini dengan raut menua. “Kadang, yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan. Samudra mungkin terlihat keras, tapi dia satu-satunya pewaris sah keluarga Bumiputera setelah tragedi dua tahun lalu. Dengan menikahinya, kamu bukan hanya menyelamatkan Epsilon Group… kamu juga melindungi nyawamu sendiri.”

Evelyn mendongak cepat. “Apa maksud Ayah? Aku terbang jauh-jauh ke Therondia hanya untuk mendapatkan investor. Banyak yang telah aku lakukan untuk perusahaan ini, tapi Ayah tega menukarku dengan cara gila begini, Ayah tega menghancurkan masa depan dan mimpi-mimpiku? Ck....”

Alexander diam. Jemarinya mengetuk meja perlahan. “Kau ingat kecelakaan yang menewaskan almarhum Pak Bram, ayah Samudra dan Dirga?”

“Ya, tentu saja.” Jawab Evelyn singkat, masih dengan nada kesal.

“Tidak ada yang tahu siapa dalang di baliknya, tapi Ayah tahu satu hal... Samudra tidak mempercayai siapa pun, bahkan saudara kembarnya sendiri.”

Nama itu membuat Evelyn menegang. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan ekspresi gugupnya.

“Ayah ingin kau berhati-hati,” lanjut Alexander. “Kamu harus bisa bertahan di rumah itu untuk tetap hidup dan melahirkan seorang pewaris. Mereka berdua memiliki ambisi besar, Eve. Dan kamu harus berdiri di belakang suamimu untuk mendapatkan itu semua.”

Sunyi. 

Hanya terdengar suara jam dinding berdetak pelan. Evelyn menggenggam jemarinya sendiri di pangkuan. “Ayah… apa yang sedang Ayah rencanakan saat ini?”

Alexander tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke arah Evelyn yang duduk di sofa tamu. “Kita adalah satu tim, Evelyn. Kamu tahu kan tugas tim itu harus melakukan apa?”

Evelyn membeku. Di saat kekhawatiran yang ia takutkan tentang kondisi sang ayah, ketika Alexander harus mendapatkan transplantasi jantung baru. Evelyn dikejutkan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Untuk Tuan Lumpuh    85. LENTERA HATI

    Baru enam bulan setelah keajaiban di Mount Elizabeth, Queen dan Dirga kembali ke Therondia dengan hati penuh syukur. Scan rutin bersih, hormon sempurna—dan dua garis pink di tes kehamilan mengkonfirmasi mimpi mereka. "Bayi kita, Mas," bisik Queen, tangan Dirga gemetar di perutnya yang mulai membulat. Keluarga bersuka cita, Rosie kirim selimut bayi buatannya sendiri, Mama Celine rencanakan baby shower virtual, Samudra dan Evelyn siapkan kamar bayi di rumah tepi pantai.Kehamilan berjalan lancar. Queen aktif, jalan pagi di pantai Therondia seperti janji bulan madu kedua mereka. Pada trimester kedua, USG tunjukkan bayi perempuan yang sehat. Mereka memberinya nama Aurora, yang berarti—fajar baru Dirga tak berhenti mencium perut istrinya, "Kamu beri aku segalanya, Sayang."Sembilan bulan kemudian, di rumah sakit bersalin Kasih Bunda Therondia, Queen melahirkan normal. Aurora lahir di malam hujan deras, tangisnya pecah membuat berisik ruangan—3,2 kg. Mata coklatnya seperti Dirga, senyum

  • Pengantin Untuk Tuan Lumpuh    84. SECERCAH HARAPAN

    Hari Pertama di Mount Elizabeth, Cordova.Pagi di suite VIP Mount Elizabeth terasa seperti hembusan angin segar setelah badai. Sinar matahari Cordova menyusup melalui tirai tipis, menerangi wajah Queen yang kini sedikit berwarna. Prof. Lim, pria keturunan berusia 50 tahunan dengan sorot mata tajam di balik kacamata rimless, menjelaskan rencana perawatan di depan keluarga yang berkumpul."Kami mulai neoadjuvant chemotherapy pagi ini—dosis rendah tapi targeted untuk mengecilkan tumor sebelum robotic hysterectomy besok. Scan 3D menunjukkan vena cava masih tertekan, tapi dengan chemo ini, risiko perdarahan turun 40%. Queen kuat; usianya muda, respon tubuhnya bagus."Dirga mengangguk, tangannya tak lepas dari genggaman Queen. "Terima kasih, Prof. Apa efek sampingnya? Dia sudah lelah sekali. Maksud saya… supaya Queen bisa istirahat untuk memulihkan tenaganya.”Prof. Lim tersenyum tipis. "Mual, kelelahan, rambut rontok—standar. Tapi kami punya anti-nausea terbaik dan support psikologis. Vit

  • Pengantin Untuk Tuan Lumpuh    83. MALAM PANJANG DI CORDOVA

    Dokter onkologi, dr. Hendra, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan jas putih rapi, memasuki ruangan setelah memeriksa USG Queen. Semua mata tertuju padanya saat ia membuka map rekam medis, wajahnya serius. "Kondisi tumor di rahim Queen menunjukkan pertumbuhan cepat. Ada tanda-tanda perdarahan internal ringan, dan hasil USG menunjukkan pembengkakan yang mengkhawatirkan. Kami sarankan observasi ketat 24 jam ke depan, dan siapkan untuk kemoterapi darurat jika memburuk." Ruangan langsung hening, seperti dipukul angin kencang. Queen memucat, tangannya mencengkram selimut, sementara Dirga langsung berlutut di sisinya, memegang tangan istrinya erat. "Dok, apa artinya ini? Dia aman, ‘kan?" tanya Dirga, suaranya bergetar meski berusaha tegar. Dr. Hendra mengangguk pelan. "Belum kritis, tapi fluktuatif. Kami akan pantau tekanan darah dan hemoglobinnya setiap jam. Hindari stres berlebih." Kemudian dokter itu pamit, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi aroma antiseptik dan ke

  • Pengantin Untuk Tuan Lumpuh    82. SEMUA SAYANG QUEEN AURORA

    Dirga menatap layar ponselnya sejenak, jarinya gemetar membaca pesan dari Mama Celine. “Kenapa waktunya tidak tepat begini?” gumam Dirga.Badai emosi di dadanya semakin mengamuk—antara amarah pada Tante Rosie, kekhawatirannya pada Queen, dan kini kedatangan keluarganya sendiri. Ia menarik napas dalam, mencoba mengendalikan diri sebelum meledak. "Baiklah, Tante," ucap Dirga akhirnya, suaranya tegas meski dingin. Ia melangkah maju, berdiri tegak di depan Rosie. "Tante boleh curiga sepuasnya, tapi jangan pernah tuduh aku bikin Queen sakit. Aku yang nemenin dia berhari-hari, jagain dia pas Tante cuma bisa kirim pesan doang dari rumah. Soal operasi, surrogacy, atau apa pun—itu keputusan Queen dan aku. Bukan Tante."Rosie tertawa sinis, tapi matanya tak goyah. "Kamu berani ngomong gitu? Tante sudah bilang, Queen sudah aku anggap sebagai anak sendiri. Mama dia yang minta Tante jagain sejak kecil. Kamu? Cuma menantu baru yang sibuk sama restoranmu itu!"Queen meraih lengan Dirga, suaranya pa

  • Pengantin Untuk Tuan Lumpuh    81. SANG PENJILAT

    Dirga mematikan rokoknya dengan tumit sepatu, meski bau asap masih menempel di udara koridor yang sepi. Samudra menatapnya tajam, tapi tak bertanya lagi—ia tahu adik kembarnya sedang bergulat dengan badai dalam dada. "Kita balik yuk," gumam Samudra akhirnya, ia menepuk bahu Dirga pelan. "Queen pasti sudah nunggu kamu. Ingat! Kontrol emosi kamu, Ga. Jangan biarin masalah ini tambah runyam."Dirga mengangguk lemas, tapi pikirannya melayang ke panggilan tadi. Nyonya Rosie—wanita yang selalu curiga padanya sejak hari pernikahan. “Iya, iya…” jawab Dirga pada akhirnya, mencoba mengalihkan ancaman Nyonya Rosie.“Nggak usah mikirin yang aneh-aneh dulu. Yakin saja kalau Queen masih bisa sembuh.”“Hm… aku harap begitu,”Mereka berjalan beriringan di lorong rumah sakit. Setiap langkah Dirga bagai menginjak pecahan kaca. Sakit, terluka, namun ia harus menghadapinya dengan lapang dada, siap atau pun tidak…Kalimat itu terus menghantui pikirannya…"Sudah seperti anak sendiri." Pernyataan Tante Q

  • Pengantin Untuk Tuan Lumpuh    80. WANITA YANG TAK SEMPURNA

    Beberapa hari kemudian, rumah sakit Mitra Internasional mulai terasa seperti penjara bagi Dirga. Queen sudah dipindah ke kamar rawat standar, kondisinya stabil berkat obat dan istirahat, tapi bayang-bayang histerektomi masih menggantung seperti pedang Damocles. Dirga duduk di kursi lipat yang terdapat di samping bed pasien. Matanya merah karena kurang tidur, namun ia tetap menjaga Queen yang masih terlelap.Pintu kamar terbuka pelan. Evelyn masuk membawa termos sup ayam buatan sendiri, diikuti Samudra yang membawa tas berisi pakaian bersih. "Ga, makan dulu yuk. Queen udah bangun belum? Aku masakin sup ayam, dan juga bawakan baju bersih untuk kalian," tanya Evelyn lembut, meletakkan termos di meja kecil.Dirga menggeleng pelan, suaranya parau. "Belum, Eve. Dokter bilang besok baru diskusi soal operasi. Aku ingin yang terbaik untuknya, tapi Queen masih ragu... Karena dia takut jadi wanita yang tak sempurna."Samudra menarik kursi, duduk di seberang saudaranya. "Ga, kamu harus kuat. Jan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status