مشاركة

Bab 9

مؤلف: Pena Gayatri
last update تاريخ النشر: 2026-05-14 22:05:04

Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur.

Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali.

"Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?"

Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri.

Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih asing untuknya.

Akhirnya Aruna melihat handphone, dan membuka map digital. Melalui map itu ia melihat apa saja yang ada di sekitar apartemen. Untung saja ada mini market yang buka 24 jam. Aruna segera turun ke bawah menuju mini market. Ia merasa sangat beruntung karena di mini market juga menjual buah dan sayur.

Dengan cepat Aruna membeli beras, sayur sop, dan buah. Tidak lupa ia membeli Teh dan gula. Setelah mendapatkan semuanya, Aruna kembali ke unit suaminya.

Tanpa banyak suara, Aruna segera menanak nasi dengan menggunakan Magic Com yang ada. Lalu, ia sembari membuat Sup Sayur dan menyeduh Teh.

Tepat jam 06.30 semua sudah tersaji di meja makan. Bima terbangun karena mencium aroma wangi masakan dari dapur. Pria itu segera mandi dan menuju ke dapur.

"Pagi," sapa Bima perlahan.

"Pagi, dokter. Maaf, aku belum izin untuk memakai dapurnya."

"Gak perlu izin. Semua yang ada di ruangan ini boleh kamu pakai."

Aruna mengangguk perlahan, lalu ia mempersilakan suaminya untuk duduk.

"Duduk dulu, dokter. Sarapan pagi dulu."

"Repot-repot sekali, Na. Kamu mendapatkan semua bahan ini dari mana?"

"Tadi aku turun ke bawah. Ada mini market yang buka 24 jam."

"Oh, mini market itu."

"Iya, lumayan bisa belanja dan menyiapkan sarapan. Maaf, hanya Sup Sayuran."

Bima menganggukkan kepalanya. Sejak ia pindah ke apartemen, tidak pernah ia sarapan. Bima lebih sering makan di kantin rumah sakit sembari mendengar cerita para perawat, rekan dokter, dan lainnya. Selain itu, bagi Bima sendiri kalau harus makan sendiri di rumah yang sepi rasanya sangat tidak enak.

"Tidak apa-apa. Makasih sudah membuat sarapan."

"Tadi aku lihat di lemari es tidak ada bahan makanan sama sekali. Apa selama ini tidak pernah makan di rumah?"

Pria itu tersenyum tipis, "Tidak pernah."

Jawaban yang Bima berikan singkat. Aruna juga sesaat menatap suaminya itu. Padahal mengusahakan untuk sarapan tentunya bisa.

"Sarapan dulu. Hari ini akan ke rumah sakit jam berapa, dokter?"

"Visitasi mulai jam 09.00 pagi dan pulang sekitar jam 16.00 sore. Kamu sendiri bagaimana?"

"Aku juga jam yang sama."

"Ya sudah bareng saja."

"Gak usah dokter. Kita harus terus menjaga jarak dulu."

Bima diam saja. Rupanya memang Aruna cukup keras kepala. Padahal juga hanya sebatas berangkat ke rumah sakit saja.

Setelah sarapan, Bima mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam dan memberikannya kepada Aruna.

"Kartu ini untukmu. Pakailah karena itu adalah nafkah dariku. Nafkah bulanan dan nafkah istri. Sementara biaya pendidikan jangan dipikirkan. Aku akan melunasinya sekaligus sampai masa koas selesai."

"Tidak usah, dokter."

"Hak istri tetap akan aku penuhi."

"Walau hubungan kita hanya kontrak?"

"Ya, semua akan berjalan dengan benar. Jadi, pekan depan mau menemaniku untuk periksa terkait DE yang aku idap selama ini?"

"Ya, tolong di akhir pekan saja karena hari Sabtu nanti baru aku bisa libur."

"Baiklah."

Bima juga sudah mengambil keputusan untuk serius berobat. Ia ingin menjadi pria yang sehat secara biologis juga. Siapa tahu, dukungan dari Aruna bisa membuatnya akan sembuh lebih cepat.

***

Satu Pekan Kemudian ....

Ini adalah pengalaman pertama bagi Aruna mengunjungi klinik Andrologi. dokter Andrologi biasanya akan menangani perihal hormon, masalah kesuburan, dan fungsi seksual. Bima juga sebenarnya malu, bagaimana pun ini terkait dengan vitalitasnya sebagai pria. Namun, sejak awal hubungan ini terjadi karena ia membutuhkan Aruna untuk membantunya sembuh.

Bima sudah mendaftar terlebih dahulu dan menunggu sampai namanya dipanggil. Hampir 45 menit kemudian barulah Bima dipanggil.

"Ikut masuk ke dalam saja," kata Bima.

"Apa tidak apa-apa?" tanya Aruna.

"Tidak apa-apa. Kamu kan istriku. Apalagi kalau nanti dokter memberikan saran yang bisa dilakukan pasangan suami istri, kamu tahu kebenarannya secara medis. Bukan karena aku yang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan."

"Aku sejujurnya malu karena berkaitan dengan alat kela-min pria," jelas Aruna.

"Tidak apa-apa. Kamu juga harus tahu bagaimana menangani pasien DE. Sebab, ke depannya kamu harus merawat aku sampai sembuh."

Bima mengatakan itu dengan jujur. Yang pasti kalau melakukan sesuatu nantinya ada landasan medisnya. Bukan sekadar mencari kesempatan dalam kesempitan. Bima yakin kalau Aruna tahu prosedurnya, tentu Aruna akan bisa membantunya sembuh dengan lebih cepat. Bagi Aruna pasti menakutkan dan tabu, tapi Aruna yang sudah sekolah pendidikan dokter pasti juga akan mendapatkan ilmu yang baru.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 11

    Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 10

    "Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 9

    Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 8

    Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 6

    "Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status