تسجيل الدخولLima Tahun yang Lalu ....
"Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis." Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis. "Aterosklesis, dokter?" "Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE." Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa membuatnya tidak akan memiliki keturunan. Aterosklesis membuat alat vitalnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kepercayaan diri pun runtuh. Bahkan bayang-bayang tidak akan memiliki keturunan menjadi bencana di depan mata. "Alat vital Anda akan lemas. Kalaupun bisa berdiri, juga tidak akan bisa lama-lama karena pembuluh darahnya terjadi penyempitan dan pembekuan. Namun, jangan berkecil hati. Terapi bisa dilakukan sampai Anda sembuh." Bima sudah mengkalkulasi sendiri bahwa terapi pun akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar. Selain itu, apa yang disampaikan oleh dokter membuat Bima menjadi skeptis. "Jangan berkecil hati. Tetap akan diupayakan untuk sembuh." "Saya belum bisa menerima ini," jawab Bima dengan jujur. "Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Baiklah, Anda harus istirahat terlebih dahulu." dokter itu meninggalkan kamar tempat Bima dirawat. Di kamar yang sunyi walau berada di kelas VIP, Bima merasa benar-benar sedih. Bahkan kesempatan kedua yang Tuhan berikan untuk hidup, harus mengalami sakit yang sukar sembuhnya. "Aku mungkin tidak akan bisa menikah dan memiliki keturunan." Bima bergumam sendiri. Pemuda itu memejamkan matanya dan menata hati untuk bisa menerima kenyataan pahit. Sayangnya memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa ia menderita Disfungsi Ereksi. *** Sekarang .... Bima sudah menjelaskan bagaimana awalnya ia mengalami DE. Sementara Aruna mendengarkan apa yang Bima ceritakan. Aruna awalnya berpikir bisa saja DE hadir karena trauma. "Maafkan aku ... awalnya aku berpikir DE yang dokter alami berkaitan dengan trauma seksual atau sebagainya." "Trauma bagaimana?" "Seperti di novel-novel yang pemeran utamanya ditinggal kekasihnya selingkuh, melihat kekasihnya berhubungan badan dengan orang lain. Saking besarnya trauma itu sampai membuat impotensi." "Kamu kebanyakan membaca novel seperti itu. Impotensi bisa terjadi karena kecelakaan. Anak kedokteran masa membaca novel dengan konflik utama seperti itu." "Bukan membaca, hanya melihat teasernya saja," sahut Aruna dengan cepat. "Aku karena kecelakaan, terjadi benturan di pangkal pahaku." "Apakah sakit sejak kecelakaan itu?" "Ya, awalnya bengkak. Lambat laun kembali ke ukuran semula dan tidak ada rasanya. Tidak berdiri." "Lalu, kenapa harus aku yang menjadi istrinya dokter Bima?" Pria itu menyodorkan sebuah jurnal kepada Aruna, "Kamu pernah membuat penelitian ini dalam jurnal. Disfungsi Ereksi Psikogenik dan Tatalaksananya. Punyamu kan?" "Iya, bagaimana dokter mendapatkannya?" "Aku belajar dengan harapan ingin sembuh. Sampai satu tahun yang lalu aku menemukan jurnal yang kamu tulis di Sinta." Sinta adalah singkatan dari Science dan Technology Index. Para mahasiswa, dosen, hingga profesor dapat mem-publish hasil riset mereka di sini. Biasanya Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta akan memberikan syarat kelulusan dengan berhasil mem-publish sebuah jurnal di Sinta. "dokter membacanya?" "Ya, dalam eksplorasi kamu menyebutkan bahwa terdapat kasus setidaknya 40% pria muda mengidap DE. Aku menjadi bertanya-tanya, saat itu usiaku masih muda dan aku sudah menjadi bagian dari golongan 40/. Itu tandanya kamu tertarik untuk meneliti. Penelitian yang berhasil adalah saat hipotesis kamu berhasil dibuktikan." "Lalu, apa hubungannya dengan dokter?" "Coba untuk mengaplikasikan Tatalaksana yang sudah kamu paparkan dalam jurnal. Aku adalah pengidapnya. Kita bisa menarik kesimpulan nantinya bahwa Tatalaksana itu berhasil atau tidak." "Hanya saja ...." "Kenapa, kamu bisa praktik secara langsung? Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan semuanya, aku menikahimu. Kita akan lakukan semua Tatalaksana dalam koridor pernikahan yang sah." Perasaan Aruna berkecamuk, akhirnya ia tahu bahwa tujuan utama pernikahan kontrak ini untuk membuktikan hipotesis yang pernah ia buat dalam jurnalnya. "Kita akan upayakan yang terbaik bersama. Kita juga upayakan kebahagiaan kita berdua. Jangan takut untuk melangkah, karena nantinya kalau sudah benar-benar menjadi dokter kamu harus mengambil keputusan dengan cepat dan tepat." "Aku takut kalau semua Tatalaksana itu tidak berhasil," jawab Aruna dengan menghela napas. "Tidak apa-apa setidaknya kita sudah mencobanya. Jadi, kapan kamu siap kenalan dengan punyaku, Na?" Sebuah pertanyaan yang membuat Aruna juga kebingungan untuk menjawabnya. Siapkah Aruna berkenalan terlebih dahulu dengan milik Bima?Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa
"Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda
Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a
Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki
Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo
"Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan







