مشاركة

Bab 10

مؤلف: Pena Gayatri
last update تاريخ النشر: 2026-05-15 16:00:06

"Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima."

dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum.

"Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya.

"Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi."

Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny.

"Perkenalkan, istri saya ...."

"Siang dok, saya Aruna."

"Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya sudah menikah, kenapa saya tidak mendapatkan undangan yah?"

Bima tersenyum sembari memberikan jawaban, "Hanya pernikahan sederhana saja dokter Sonny. Yang jauh lebih penting kami sudah sah."

"dokter Bima memang sudah waktunya membina rumah tangga. Jangan menghabiskan hidup hanya di ruangan IGD."

Keduanya lantas tertawa, sementara Aruna memilih diam dan mendengarkan keduanya. dokter Sonny kemudian mulai ke pembicaraan yang serius sekarang.

"Apa sudah ada peningkatan yang lebih baik?"

Bima menggelengkan kepalanya, "Rasanya tidak ada perubahan sama sekali, dok. Lembek sekali."

"Mungkin istrinya terkejut karena melihat organ vital dokter Bima yang tidak bisa berdiri."

Aruna memejamkan matanya sesaat, kenapa pembicaraannya seperti ini. Padahal sejak menjadi istri seorang Bima, Aruna belum sama sekali melihat pusaka pria itu yang konon tidak bisa berdiri.

"Sekadar edukasi. Jangan merasa kecewa ya, pasangan itu harus saling memahami satu sama lain. Walau lembek, tidak bisa berdiri, bukan berarti tidak bisa eja-kulasi."

"Maksudnya bagaimana?"

"Kan sudah pasangan suami istri. Sudah melewati malam pertama kan? Apa tidak kaget melihat pe-nis suaminya yang tidak bisa berdiri?"

Bima sedikit menunduk. Padahal ia tidak menunjukkan apa pun. Bagaimana penampangannya juga pasti Aruna belum melihat. Aruna hanya pura-pura dan merespons dengan tersenyum tipis.

"Kalau gairah pria itu normal. Mereka yang mengidap DE juga memiliki gairah, hanya saja gairah itu kerap terbentur dengan senjata vital mereka yang tidak sehat. Produksi hormonnya sehat, hanya saja tidak keras. Lantaran tidak berdiri dan lembek, mayoritas pengidap DE gagal di malam pertamanya. Namun, jangan pesimis. Dapat diobati perlahan. Memang tidak instan, tapi bisa sembuh."

"Jalan terakhir kalau tidak sembuh bagaimana, dokter?" tanya Aruna.

"Kalau kasus dokter Bima masih saya upayakan dengan pemberian Sildenafil PDE5 terlebih dahulu."

"Saya belum menceritakan awal mula DE ini, dokter Sonny," jelas Bima.

"Pelan-pelan diceritakan tidak apa-apa, dokter Bima. Saya harap Aruna tidak berkecil hati. Support dari kamu justru bisa membuat dokter Bima sembuh. Coba dilihat dan dipegang, lalu diberi pijatan."

"Pijatan dokter?"

"Ya, memberikan pijatan dengan teknik Jelqing. Pijatan yang diberikan bisa memperlancar pembuluh darah. Walau begitu tetap harus berhati-hati. Sebab, untuk kasus DE bisa menjadi DE permanen."

Aruna merasa kaget karena bisa menjadi DE permanen. Berusaha menempatkan diri sebagai dokter Bima pasti sedih juga kalau sampai menjadi permanen.

"Saya ajarin ya."

dokter Sonny mengeluarkan anatomi bagian alat vital pria, lalu menjelaskan hal yang harus Aruna lakukan.

"Berikan pijatan dari pangkal ke ujung secara perlahan. Jangan terlalu agresif karena bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi semakin pecah. Hangat dari telapak tangan bisa membuat setengah keras. Jangan khawatir bahwa secara medis tidak ada pembuktian bahwa memijat pe-nis bisa membuat pe-nis menjadi semakin panjang dan besar."

"Saya yang harus melakukannya, dok?"

"Iya, karena kan istrinya kan?"

Aruna takut dan tentu sangat malu. Bima juga merasakan hal yang sama, tapi Bima tetap berusaha untuk tetap tenang.

"Dukungan dari istri sangat bermanfaat untuk pasien. Dilakukan dengan sepenuh hati. Anggap saja sebagai ikhtiar."

Usai itu, dokter Bima diperiksa terlebih dahulu dan mendapatkan resep yang harus ditebus. Aruna melihat bahwa obat yang diberikan masih berupa Sildenafil.

"Kontrol lagi bulan depan yah? Semoga sudah ada peningkatan yang jauh lebih baik."

"Baik, dokter. Terima kasih banyak."

Keduanya keluar dari ruangan dokter Sonny, sekarang Keduanya menunggu di apotek untuk mendapatkan obat, sekaligus Bima membayar biaya pemeriksaan dan konsultasi.

"Apa bisa separah itu?"

Aruna bergumam sendiri dalam hatinya. Bahkan Aruna terpikir untuk membaca beberapa jurnal terkait DE agar bisa mengupayakan yang terbaik.

"Masih harus menunggu dulu," kata dokter Bima.

"Iya."

"Gak usah dipikirin."

"Aku tidak mengira kalau DE bisa menjadi DE permanen. Apakah itu sakit?"

"Enggak sakit. Kenapa?"

"Hm, enggak ... aku cuma bertanya."

"Tenang saja. Yang penting kamu tahu dan mendengar sendiri advice medis yang disampaikan oleh dokter. Bukan karena aku yang modus atau berusaha memperdaya kamu. Sekarang, rasanya sudah adil kan? Kamu akan kuliah selesai sampai menjadi spesialis dan aku bisa benar-benar sembuh. Hanya saja aku tidak mau terburu-buru."

"Aku masih tidak paham. Apalagi itu ...."

"Tenang saja. Berdiri saja dia tidak mampu kok, gak akan menggigit kamu."

Bima mengatakannya dengan tenang. Sementara Aruna merasa malu sendiri. Bahkan membayangkan harus memberikan pijatan rasanya sangat malu dan tabu. Sungguh, Aruna tidak mengira harus melakukan advice yang diberikan oleh dokter Sonny. Mampukah Aruna melakukannya?

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 11

    Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 10

    "Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 9

    Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 8

    Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 6

    "Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status