تسجيل الدخولAruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit.
Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah sakit, Bima bisa menempuh perjalanan lebih cepat. "Sebenarnya, aku bisa berjalan saja." "Sudah hampir tengah malam. Kota ini tidak aman untuk para wanita," balas Bima. "Bukankah kesepakatan kita sebelumnya bahwa kita akan profesional selama di rumah sakit?" "Jangan mengajakku berdebat, Na. Ayo, pulang." "Aku akan berjalan sampai ke depan rumah sakit dulu berjaga agar tidak ada yang melihat." "Masuk saja ke dalam mobil." Namun, Aruna bersikeras bahwa ia memilih untuk berjalan sampai luar area rumah sakit. Bima mengikuti perlahan dengan mobilnya. Sampai akhirnya, Aruna masuk ke dalam mobil suaminya. Padahal kalau dengan mobil hanya sekitar lima menit saja untuk sampai di apartemen. "Padahal sedekat ini dan aku bisa berjalan sendiri." "Kalau keselamatanmu terancam, aku yang akan kesusahan nantinya." Begitu sudah masuk ke dalam unit mereka. Aruna memilih mandi terlebih dahulu. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mandi setiap kali dari rumah sakit berjaga kalau ada virus dan bakteri yang menempel di badan. Waktu sudah tengah malam, tapi Aruna masih memasukkan seragam miliknya ke dalam mesin cuci. "Tinggal saja, nanti juga kering sendiri," kata Bima. "Aku juga menekan cuci cepat supaya segera selesai dan bisa aku jemur dulu." "Kamu sudah makan, Na?" tanya Bima. Belum sempat menjawab, perut Aruna sudah berbunyi. Tanda usus yang mencerna makanan kini sedang kosong. Bima sesungguhnya tersenyum dalam hatinya, tapi wajahnya tetap datar seperti biasanya. "Kita makan dulu sebentar. Sambil menunggu Scrub kamu selesai dicuci." Bima menghangatkan makanan cepat saji yang sudah ia beli sesungguhnya. Hanya tiga menit di dalam oven, sekarang sudah tersaji nasi goreng untuk mereka makan bersama. "Sebenarnya jam rawan untuk makan," kata Aruna. "Kalau tidak makan justru akan sakit. Makan saja sedikit yang penting perut terisi." Aruna akhirnya memakan Nasi Goreng yang sudah dihangatkan kembali itu. Bima juga ikut makan. Aruna pikir Bima sangat melakukan gaya hidup sehat dan tidak makan tengah malam, rupanya pria itu juga sekarang makan. "Apa dokter sejak tadi belum makan?" "Belum. Aku baru sempat minum air putih. Sejak tadi bolak-balik ke ruang operasi." Kalau sudah begini, Aruna merasa kasihan dengan Bima. Ya, berjaga di IGD sudah begitu melelahkan. Apalagi memang Bima berkali-kali masuk ruang operasi dalam sehari ini. "Lalu, kapan mau berobat? Terkait diagnosis DE itu." DE adalah singkatan dari Disfungsi Ereksi. Dalam dunia medis, kerap disingkat dengan DE. Bima menghela napas, ia kemudian memberikan jawaban kepada Aruna. "Dua Pekan lagi di rumah sakit yang lain. Cuma ...." "Cuma, kenapa?" "Aku memang tidak rutin meminum obatku. Kamu tahu kan efek samping dari meminum Sildenafil?" Aruna kemudian menganggukkan kepalanya, "Pusing dan mual adalah efek sampingnya." "Benar. Aku mau sembuh, tapi kalau aku pusing dan mual, aku akan susah bekerja di IGD." "Adakah jalan lain?" tanya Aruna. "Coba nanti kita konsultasi dulu. Siapa tahu ada cara yang lebih efektif. Kalau kamu, nanti ingin mengambil spesialis apa?" "Obgyn yang berkaitan dengan Infertilitas," jawab Aruna dengan yakin. Bima kemudian menganggukkan kepalanya, "It's oke. Kamu hanya perlu belajar giat dan menguasai spesialisasi itu. Tidak usah memikirkan biayanya." "..., tapi rasanya sangat mahal. Jika terlalu membebani tidak usah." "Jangan mengubur mimpimu. Nanti kamu bisa coba beasiswa untuk PPDS. Aku tetap akan mengusahakan sampai kamu menggapai mimpimu." "Tidak ada lagi yang bisa ku gadaikan. Sejujurnya aku takut kalau sampai harga yang kutebus begitu besar." Aruna mengatakan demikian karena terluka dengan apa yang ia dengar dari orang tuanya siang tadi. Biaya untuk kuliah kedokteran tidak murah. Ketika telah lulus, profit yang didapat juga tidak besar. Kalau semua ini nantinya dianggap sebagai utang, Aruna takut kalau sampai tidak bisa menebusnya sampai lunas.Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa
"Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda
Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a
Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki
Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo
"Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan







