Share

Bab 2

Author: Anonymous
Keesokan harinya, Ibu datang ke kantorku dengan membawa gelang zamrud yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga kami.

Begitu kubuka kotaknya, aku menemukan secarik nota perbaikan di dalamnya.

Aku melihat, ada bekas patri yang terlihat baru di bagian pengait gelang. Tanda bahwa pengait itu baru saja disambungkan kembali.

"Ada apa dengan gelangnya?"

Ibu mengalihkan pandangan.

"Viona tadi coba memakainya, tapi gelangnya tersangkut dan tidak bisa dilepas. Jadi, gelang itu terpaksa dipotong."

Gelang ini adalah peninggalan nenekku.

Sebelum meninggal, Nenek menggenggam tanganku dan berkata bahwa dia ingin melihatku memakai gelang ini di hari pernikahanku.

Sayangnya, keinginannya tak pernah terwujud.

Gelang zamrud itu menjadi peninggalan terakhir yang Nenek berikan kepadaku.

"Siapa yang menyuruh Viona mencobanya?"

"Aku cuma ingin dia melihat-lihat. Mana Ibu tahu pergelangan tanganmu sekecil itu?"

Ibu kemudian menyodorkan sebuah gelang zamrud baru kepadaku.

"Keanu beli gelang ini pagi tadi. Ini lebih berat dari gelang yang kamu pegang. Yang lama sudah rusak, pakai yang baru saja biar terlihat cantik."

Aku menatap kedua gelang itu.

"Memangnya kedua gelang ini benar-benar sama?"

"Itu cuma gelang."

"Kalau memang cuma gelang kenapa Ibu nggak memotong gelang Ibu sendiri?"

Ekspresi Ibu langsung berubah.

"Gresya, kamu ini mau menikah, nggak sedang menghadapi sebuah masalah besar. Kenapa belakangan ini kamu makin susah diajak bicara?"

Beberapa rekan kerjaku mulai melirik ke arah kami.

Aku menutup kotak gelang itu. Aku tidak ingin berdebat dengan Ibu di kantor.

Tapi Ibu meraih lenganku.

"Viona gagal dalam evaluasi magangnya. Cabang perusahaanmu di Arunika Selatan sedang butuh manajer penjualan, kan? Coba bicara dengan atasanmu. Bantu Viona dapat posisi itu."

Posisi itu kudapatkan setelah bekerja keras selama enam bulan.

Minggu lalu, atasanku bahkan sudah mengatakan bahwa posisi itu akan menjadi milikku jika aku bersedia dipindahkan ke Arunika Selatan.

Tetapi aku menolaknya demi pernikahan ini, dan juga karena Keanu tidak mau menjalani hubungan jarak jauh setelah menikah.

Dan sekarang, mereka ingin memberikan kesempatan itu kepada Viona.

"Dia kuliah di jurusan seni. Dia juga nggak pernah punya pengalaman di bidang penjualan komersial."

"Memangnya ada orang yang langsung bisa sejak awal? Kamu tinggal bantu dia."

"Posisi itu milik perusahaan, bukan milikku. Kalau Viona menginginkannya, suruh dia mengirimkan lamaran sendiri."

"Bilang saja kalau kamu memang nggak mau membantu adikmu!"

Suara Ibu meninggi.

"Viona nggak seperti kamu, yang baru lulus sekolah sudah langsung dapat pekerjaan bagus. Hidupnya memang nggak pernah berjalan mulus. Apa salahnya jika kamu membantunya?"

"Pekerjaanku juga bukan sesuatu yang kudapat dengan cuma-cuma."

Kebetulan, Keanu datang sambil membawa makan siang.

Dia membuka wadah makanan dengan gerakan yang sudah terbiasa, lalu meletakkan garpu di samping tanganku.

"Bukannya tadi kamu bilang perutmu nggak enak? Makanlah dulu."

Ibu langsung menceritakan semuanya kepada Keanu.

Keanu mendengarkan, lalu berkata, "Viona memang kurang cocok untuk posisi penjualan komersial."

Aku sempat mengira, kali ini dia akan membelaku.

Dia justru berkata, "Galeri milik Dimas sedang butuh orang untuk mengurus operasional. Aku bisa mengenalkan Viona ke Dimas."

Barulah Ibu terlihat puas.

"Nah, kan? Keanu memang selalu punya jalan tengahnya."

Aku menatap Keanu.

"Bulan lalu aku mau kerja paruh waktu di galerinya. Kamu bilang standar Dimas itu sangat tinggi dan kamu menyuruhku jangan memanfaatkan koneksi yang aku punya."

"Kamu sudah punya pekerjaan tetap. Nggak perlu terlalu memaksakan diri. Viona sekarang nggak punya penghasilan. Situasinya beda dengan situasimu."

"Jadi karena dia nggak punya penghasilan, dia boleh minta bantuan dan memanfaatkan koneksi. Sedangkan aku yang sudah punya pekerjaan, bahkan nggak berhak buat mencobanya?"

Nada suara Keanu tetap lembut, tapi ada sedikit ketidaksabaran di balik tatapannya.

"Itu dua hal yang berbeda. Aku sedang menyelesaikan masalah kalian."

Benar. Dia memang selalu menyelesaikan masalah.

Hanya saja, setiap kali dia melakukannya, masalah yang sebenarnya dia selesaikan adalah perasaanku.

Sore itu, Viona mengirimiku pesan tentang pekerjaan barunya.

Katanya, Keanu bahkan datang langsung untuk menemaninya bertemu Dimas. Keanu juga mentraktir makan malam seluruh staf galeri.

Dalam foto yang dikirimnya, mereka berdiri saling berdekatan. Dan aku melihat bahwa dasi Keanu terikat dan sedikit miring.

Aku mengenali simpul itu.

Viona hanya tahu satu cara mengikat dasi.

Pukul setengah enam, Keanu mengirim pesan.

[Aku akan makan malam bersama seorang klien. Kamu makan duluan, ya.]

Pukul enam, aku sengaja melewati galeri milik Dimas.

Aku melihat Keanu sedang berjongkok di depan Viona, mengoleskan obat pada kulit kakinya yang lecet akibat gesekan sepatu hak tinggi miliknya.

Obat yang sama seperti yang selalu kugunakan.

Dulu Keanu menyimpannya di mobil karena katanya, siapa tahu aku membutuhkannya.

Viona yang pertama kali menyadari keberadaanku. Dan dia dengan sengaja meletakkan tangannya di bahu Keanu.

"Jangan salah paham, Kak. Dia cuma khawatir aku akan terlambat bekerja di hari pertama."

Lalu Keanu melihatku dan berdiri.

"Kakinya sedang terluka dan aku nggak bisa mengabaikannya."

Dia menyimpan kembali obat itu, seolah baru sekarang dia menyadari keberadaanku.

"Perutmu masih sakit?"

Aku menggeleng.

Sebenarnya, perutku sudah sakit sejak siang.

Tapi saat ini, aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk memberitahunya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 10

    Dua tahun kemudian, cabang Arunika Selatan ditingkatkan menjadi kantor regional.Aku dipromosikan yang dari manajer cabang menjadi direktur regional.Pada hari orang tuaku melunasi cicilan terakhir, Ibu menelepon.Suaranya terdengar jauh lebih tua."Kesehatan Ayahmu menurun dan Viona sudah pindah ke luar kota. Sekarang nggak ada lagi orang di rumah yang bisa diajak bicara.""Pulanglah untuk makan malam saat liburan nanti.""Ibu akan memasak makanan kesukaanmu."Aku tidak langsung menolaknya."Kita lihat nanti. Mungkin aku nggak punya waktu."Dia terdiam cukup lama."Gresya, dulu Ibu selalu mengira kamu bisa mengurus semuanya sendiri, jadi Ibu merasa nggak perlu terlalu mengkhawatirkanmu.""Baru belakangan Ibu sadar, anak yang nggak pernah mengeluh pun tetap bisa terluka."Pemahaman yang datang terlambat tidak bisa mengubah masa lalu.Tapi sekarang, aku tidak lagi membutuhkan rasa dendam hanya untuk menjaga jarak."Jaga diri baik-baik."Aku menutup telepon dan menghapus nomor Ibu dari d

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 9

    "Gresya."Keanu menyerahkan sebuah kantong kepadaku.Di dalamnya ada cincin pertunangan."Kamu meninggalkannya di meja. Aku nggak sanggup melihatnya.""Sekarang aku mengembalikannya padamu.""Kamu bisa menjualnya atau membuangnya."Aku menerima kantong itu."Masih ada yang lain?"Dia menggeleng.Setelah itu, aku menuruni tangga. Untuk waktu yang cukup lama, tidak terdengar suara apa pun di belakangku. Ketika akhirnya aku menoleh, dia masih berdiri di tempat yang sama. Matanya memerah, tetapi dia tidak mengejarku. Keanu akhirnya belajar menghargai keputusanku untuk pergi.Hanya saja, semuanya sudah terlambat.Arunika Selatan turun salju untuk pertama kalinya bahkan sebelum musim dingin dimulai.Aku menjual cincin itu dan menggunakan uangnya untuk mengikuti kursus desain furnitur.Bukan karena aku ingin terus mengingat seseorang.Uang itu memang selalu milikku. Aku hanya ingin menggunakannya untuk diriku sendiri.Di pameran, karyaku meraih juara pertama.Setelah pameran selesai, aku meli

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 8

    Orang tuaku tidak mengembalikan uangnya sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.Setelah pengacaraku mengirimkan surat tuntutan secara resmi, Ibu meninggalkan puluhan pesan suara untukku.Dia bilang aku tidak punya hati, masalah keluarga seharusnya tidak diumbar ke publik, dan Viona jatuh sakit gara-gara aku.Aku tidak membalas satu pun pesan yang dikirimkan.Sebulan kemudian, proses mediasi dimulai.Aku membawa bukti transfer bank dan tangkapan layar percakapan kami untuk ditunjukkan dalam mediasi.Ayah masih diliputi amarah."Anak macam apa yang membawa orang tuanya sendiri ke pengadilan?"Mediator telah selesai memeriksa semua bukti."Pak Rendra, Anda beberapa kali menyatakan bahwa uang ini digunakan untuk uang muka rumah atas nama Gresya Maheswari.""Namun, berdasarkan bukti yang ada, 960 juta ditransfer ke rekening Viona Maheswari dan digunakan untuk membayar biaya pendidikan ke luar negeri.""Ini merupakan salah satu penyalahgunaan dalam pinjaman."Aku terdiam membeku.Viona t

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 7

    Hari pembukaan cabang Arunika Selatan, Ayah dan Ibu datang bersama Viona.Ibu membawa sekotak kue, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa."Adikmu datang secara khusus untuk minta maaf sama kamu."Viona terus menundukkan kepala."Maaf, Kak.""Aku seharusnya nggak pindah ke apartemenmu. Aku juga nggak seharusnya mencoba gaun pengantinmu. Dan aku nggak seharusnya terus mengganggu Keanu.""Aku cuma selalu iri sama kamu.""Kamu punya nilai bagus, karier yang bagus. Semua orang menganggap kamu orang yang bisa diandalkan. Aku terlalu takut dianggap nggak berguna sampai akhirnya aku terus bergantung pada kalian semua."Beberapa rekan kerja berlalu-lalang di sekitar kami.Ibu meraih tanganku."Lihat? Viona sudah minta maaf. Kita ini keluarga dan kamu nggak mungkin terus menyalahkan dia selamanya."Aku menarik kembali tanganku."Dia minta maaf untuk apa?""Tentu saja supaya kamu mau pulang.""Aku nggak akan pulang."Wajah Ayah memerah menahan marah."Kami naik kereta selama tiga jam buat mene

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 6

    Keanu tetap berada di Arunika Selatan selama dua minggu.Dia tidak lagi mendekatiku. Setiap hari, dia hanya duduk di kedai kopi seberang jalan.Seberapa larut pun aku bekerja, kedai itu selalu masih menyala.Suatu malam, sakit perutku kambuh begitu parah sampai aku nyaris tidak kuat berdiri ketika berada di lobi.Keanu langsung berlari menyeberang jalan dan menopang tubuhku.Aku mencium aroma kopi dari pakaiannya dan melihat kepanikan yang tidak sempat dia sembunyikan.Untuk sesaat, tanpa sadar, tanganku mencengkeram lengan bajunya.Seluruh tubuhnya langsung menegang. Bahkan napasnya berubah menjadi pendek."Obatnya ada di mobil. Biar aku ambil."Dia mulai mengangkat tubuhku, tetapi aku melepaskan peganganku dan berpegangan pada pagar di tepi trotoar."Jangan sentuh aku."Dia langsung berhenti.Beberapa detik kemudian, dia melepas jasnya, membentangkannya di atas bangku agar aku bisa duduk, lalu pergi mengambil obat.Saat kembali, dia meletakkan air minum dan obat itu dalam jangkauanku

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 5

    Keanu meraih pergelangan tanganku."Semua ini cuma karena Viona pindah ke sini?""Bukan."Aku melepaskan jemarinya satu per satu dari pergelangan tanganku."Ini karena selama lebih dari dua puluh tahun, aku menunggu salah satu dari kalian untuk membelaku. Sekali saja.""Aku sudah terlalu lelah menunggu."Malam itu, aku menerima tawaran mutasi ke cabang Arunika Selatan.Sebelum fajar, aku mengemasi barang-barangku, menghapus semua berkas pernikahan, lalu keluar dari grup keluarga.…Aku baru dua hari berada di Arunika Selatan ketika Keanu tiba-tiba muncul di kantorku.Dari balik dinding kaca ruang rapat, aku melihatnya berdiri di meja resepsionis.Setelan jasnya kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya, membuatnya terlihat seperti tidak tidur semalaman.Seorang rekan kerja bertanya, "Bu Gresya, Ibu kenal dia?""Iya aku kenal.""Perlu aku suruh masuk?""Nggak perlu."Aku kembali memeriksa daftar barang apa saja yang masih diperlukan untuk membuka cabang di Arunika Selatan.Setengah jam ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status