Share

Pengantin yang Memilih Pergi
Pengantin yang Memilih Pergi
Author: Anonymous

Bab 1

Author: Anonymous
Aku keluar dari ruang makan yang telah kami pesan khusus dan tidak lama kemudian, telepon dari pihak pengurus pernikahan kami masuk.

"Bu Gresya, apa ukuran pinggang gaunnya tetap mau dilonggarkan sekitar 2,5 cm?"

Aku berhenti melangkah.

"Ukuran tubuhku nggak berubah."

Hening beberapa detik di ujung telepon.

"Bu Viona bilang gaun pengantinnya akan diubah menjadi gaun resepsi setelah akad selesai. Katanya, kalau tetap pakai ukuran yang sekarang, gaunnya mungkin akan terlalu sempit untuknya."

Genggaman pada ponselku semakin erat.

"Siapa yang memberinya izin untuk memakai gaun pengantinku?"

"Pak Keanu yang mengizinkan, Bu. Katanya, karena Ibu Gresya dan Ibu Viona kakak dan adik. Jadi soal ukuran gaunnya nggak perlu terlalu dipermasalahkan. Beliau pikir Ibu pasti setuju."

Pintu ruang makan itu terbuka. Keanu keluar dan langsung menyampirkan jasnya ke bahuku.

Dia selalu menyadari kalau aku kedinginan. Setiap kali aku memakai sepatu hak tinggi, dia juga selalu menyiapkan sepasang sepatu di dalam mobil.

Dulu, aku menganggap semua perhatian kecil itu sebagai bukti cinta.

Sekarang aku mengerti. Dia memang selalu menjagaku. Tapi dia juga selalu mengambil keputusan mewakiliku.

"Kenapa ukuran gaunnya diubah mengikuti ukuran Viona?"

Keanu mengernyit.

"Dia hanya akan memakainya sekali, setelah akad kok. Lagipula pesanan gaun miliknya sedang bermasalah. Mana mungkin dia datang ke resepsi tanpa memakai pakaian yang layak?"

"Itu gaun pengantinku."

"Gresya, dia adikmu. Jangan egois dan berlebihan."

Kalimat itu lagi.

Waktu kami masih kecil dan Viona memecahkan kotak musikku, Ibu hanya berkata bahwa dia masih kecil.

Setelah lulus SMA, rencana liburan setelah kelulusanku pun dibatalkan demi acara kemah musim panas Viona. Rendra Maheswari, yang juga merupakan ayahku, mengatakan hal yang sama.

Semua orang selalu menyuruhku untuk tidak memperbesar masalah.

Karena Viona adalah adik bungsuku, semua yang kumiliki seolah otomatis menjadi miliknya juga.

"Kenapa kamu nggak tanya aku dulu?"

"Aku yakin kamu akan mengizinkannya."

"Kenapa kamu yakin aku akan mengizinkannya?"

Dia terdiam sebentar.

"Viona sudah terlanjur memberi tahu teman-temannya."

Jadi, Keanu memang datang untuk tidak meminta pendapatku.

Dia hanya datang untuk memberitahuku keputusan yang sudah dibuatnya.

Aku tidak mengerti. Kenapa orang tuaku, keluargaku, bahkan tunanganku sendiri selalu menempatkanku di belakang Viona?

Ponselku bergetar. Ibu menyuruh kami datang untuk mencicipi menu hidangan pernikahan.

Aku menolak, dan tak lama kemudian Ibu langsung menelepon lagi.

"Pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Drama apa lagi yang mau kamu buat sekarang?"

"Seluruh menunya dipilih berdasarkan kesukaan Viona. Untuk apa aku datang?"

"Kamu kan sibuk kerja. Apa salahnya kalau adikmu ikut membantu mengurusnya?"

"Aku nggak suka sup krim udang dan puding mangga."

Ibu terdiam sebentar.

"Menunya nggak hanya dua itu saja. Memangnya kalau kamu nggak makan dua hidangan itu, kamu akan kelaparan?"

"Tapi ini pesta pernikahanku. Bukankah seharusnya seleraku yang diutamakan?"

"Kamu dari dulu sudah mendapatkan semuanya. Viona selama ini sudah repot membantumu, mengurus banyak hal untukmu, dan sekarang kamu bahkan nggak membiarkan dia memilih beberapa makanan yang dia suka?"

Aku tertawa kecil.

Setiap kali Viona mengambil sesuatu dariku, mereka selalu punya cara untuk memutarbalikkannya, seolah-olah Viona-lah yang menjadi korban dan tersakiti.

Dan setiap kali aku menolak, mereka selalu menganggap itu sebagai bukti bahwa akulah yang suka mempersulit keadaan.

Keanu mengambil ponsel dari tanganku.

"Jangan khawatir, Bu. Aku akan membawanya ke sana."

Setelah menutup telepon, dia mengacak rambutku.

"Jangan ngambek. Nanti setelah makan malam, aku akan membelikanmu kue stroberi."

Enam tahun lalu, saat Viona menghilangkan karya yang kuikutsertakan dalam sebuah lomba, Keanu juga menghiburku dengan cara yang sama.

Dia datang membawa kue di tengah hujan dan berkata, "Viona masih kecil. Aku akan melakukan sesuatu sebagai ganti untuk menebusnya, ya."

Sejak saat itu, setiap kali Viona mengambil sesuatu dariku, Keanu selalu memberiku kompensasi kecil. Seolah-olah dengan begitu, aku harus melupakan semuanya dan menelan rasa kesalku begitu saja.

"Keanu, aku tidak mau kue."

Dia menatapku.

Aku mengembalikan jasnya lalu masuk ke dalam lift.

Sesaat sebelum pintu lift tertutup, Keanu menyelipkan tangannya di antara kedua pintu.

Aku menghela napas dalam hati.

Entah kenapa, aku merasa bahwa semuanya terasa begitu tidak ada gunanya.

"Gresya, kamu sudah dewasa. Berhenti membuat keributan di mana pun kamu berada."

Aku menatap tangannya yang memerah karena terjepit pintu, lalu aku menekan tombol untuk membuka pintu.

Keanu mengembuskan napas lega, dia mengira aku akan menyerah lagi.

Namun aku justru mundur satu langkah, lalu dua langkah. Sampai akhirnya aku berdiri di sisi paling belakang lift.

"Aku cuma ingin memberitahumu sesuatu. Kue stroberi itu makanan kesukaan Viona."

"Dan yang aku suka, kue cokelat."

Pintu lift kembali menutup.

Keanu masih berdiri di luar. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak mengejarku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 10

    Dua tahun kemudian, cabang Arunika Selatan ditingkatkan menjadi kantor regional.Aku dipromosikan yang dari manajer cabang menjadi direktur regional.Pada hari orang tuaku melunasi cicilan terakhir, Ibu menelepon.Suaranya terdengar jauh lebih tua."Kesehatan Ayahmu menurun dan Viona sudah pindah ke luar kota. Sekarang nggak ada lagi orang di rumah yang bisa diajak bicara.""Pulanglah untuk makan malam saat liburan nanti.""Ibu akan memasak makanan kesukaanmu."Aku tidak langsung menolaknya."Kita lihat nanti. Mungkin aku nggak punya waktu."Dia terdiam cukup lama."Gresya, dulu Ibu selalu mengira kamu bisa mengurus semuanya sendiri, jadi Ibu merasa nggak perlu terlalu mengkhawatirkanmu.""Baru belakangan Ibu sadar, anak yang nggak pernah mengeluh pun tetap bisa terluka."Pemahaman yang datang terlambat tidak bisa mengubah masa lalu.Tapi sekarang, aku tidak lagi membutuhkan rasa dendam hanya untuk menjaga jarak."Jaga diri baik-baik."Aku menutup telepon dan menghapus nomor Ibu dari d

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 9

    "Gresya."Keanu menyerahkan sebuah kantong kepadaku.Di dalamnya ada cincin pertunangan."Kamu meninggalkannya di meja. Aku nggak sanggup melihatnya.""Sekarang aku mengembalikannya padamu.""Kamu bisa menjualnya atau membuangnya."Aku menerima kantong itu."Masih ada yang lain?"Dia menggeleng.Setelah itu, aku menuruni tangga. Untuk waktu yang cukup lama, tidak terdengar suara apa pun di belakangku. Ketika akhirnya aku menoleh, dia masih berdiri di tempat yang sama. Matanya memerah, tetapi dia tidak mengejarku. Keanu akhirnya belajar menghargai keputusanku untuk pergi.Hanya saja, semuanya sudah terlambat.Arunika Selatan turun salju untuk pertama kalinya bahkan sebelum musim dingin dimulai.Aku menjual cincin itu dan menggunakan uangnya untuk mengikuti kursus desain furnitur.Bukan karena aku ingin terus mengingat seseorang.Uang itu memang selalu milikku. Aku hanya ingin menggunakannya untuk diriku sendiri.Di pameran, karyaku meraih juara pertama.Setelah pameran selesai, aku meli

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 8

    Orang tuaku tidak mengembalikan uangnya sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.Setelah pengacaraku mengirimkan surat tuntutan secara resmi, Ibu meninggalkan puluhan pesan suara untukku.Dia bilang aku tidak punya hati, masalah keluarga seharusnya tidak diumbar ke publik, dan Viona jatuh sakit gara-gara aku.Aku tidak membalas satu pun pesan yang dikirimkan.Sebulan kemudian, proses mediasi dimulai.Aku membawa bukti transfer bank dan tangkapan layar percakapan kami untuk ditunjukkan dalam mediasi.Ayah masih diliputi amarah."Anak macam apa yang membawa orang tuanya sendiri ke pengadilan?"Mediator telah selesai memeriksa semua bukti."Pak Rendra, Anda beberapa kali menyatakan bahwa uang ini digunakan untuk uang muka rumah atas nama Gresya Maheswari.""Namun, berdasarkan bukti yang ada, 960 juta ditransfer ke rekening Viona Maheswari dan digunakan untuk membayar biaya pendidikan ke luar negeri.""Ini merupakan salah satu penyalahgunaan dalam pinjaman."Aku terdiam membeku.Viona t

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 7

    Hari pembukaan cabang Arunika Selatan, Ayah dan Ibu datang bersama Viona.Ibu membawa sekotak kue, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa."Adikmu datang secara khusus untuk minta maaf sama kamu."Viona terus menundukkan kepala."Maaf, Kak.""Aku seharusnya nggak pindah ke apartemenmu. Aku juga nggak seharusnya mencoba gaun pengantinmu. Dan aku nggak seharusnya terus mengganggu Keanu.""Aku cuma selalu iri sama kamu.""Kamu punya nilai bagus, karier yang bagus. Semua orang menganggap kamu orang yang bisa diandalkan. Aku terlalu takut dianggap nggak berguna sampai akhirnya aku terus bergantung pada kalian semua."Beberapa rekan kerja berlalu-lalang di sekitar kami.Ibu meraih tanganku."Lihat? Viona sudah minta maaf. Kita ini keluarga dan kamu nggak mungkin terus menyalahkan dia selamanya."Aku menarik kembali tanganku."Dia minta maaf untuk apa?""Tentu saja supaya kamu mau pulang.""Aku nggak akan pulang."Wajah Ayah memerah menahan marah."Kami naik kereta selama tiga jam buat mene

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 6

    Keanu tetap berada di Arunika Selatan selama dua minggu.Dia tidak lagi mendekatiku. Setiap hari, dia hanya duduk di kedai kopi seberang jalan.Seberapa larut pun aku bekerja, kedai itu selalu masih menyala.Suatu malam, sakit perutku kambuh begitu parah sampai aku nyaris tidak kuat berdiri ketika berada di lobi.Keanu langsung berlari menyeberang jalan dan menopang tubuhku.Aku mencium aroma kopi dari pakaiannya dan melihat kepanikan yang tidak sempat dia sembunyikan.Untuk sesaat, tanpa sadar, tanganku mencengkeram lengan bajunya.Seluruh tubuhnya langsung menegang. Bahkan napasnya berubah menjadi pendek."Obatnya ada di mobil. Biar aku ambil."Dia mulai mengangkat tubuhku, tetapi aku melepaskan peganganku dan berpegangan pada pagar di tepi trotoar."Jangan sentuh aku."Dia langsung berhenti.Beberapa detik kemudian, dia melepas jasnya, membentangkannya di atas bangku agar aku bisa duduk, lalu pergi mengambil obat.Saat kembali, dia meletakkan air minum dan obat itu dalam jangkauanku

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 5

    Keanu meraih pergelangan tanganku."Semua ini cuma karena Viona pindah ke sini?""Bukan."Aku melepaskan jemarinya satu per satu dari pergelangan tanganku."Ini karena selama lebih dari dua puluh tahun, aku menunggu salah satu dari kalian untuk membelaku. Sekali saja.""Aku sudah terlalu lelah menunggu."Malam itu, aku menerima tawaran mutasi ke cabang Arunika Selatan.Sebelum fajar, aku mengemasi barang-barangku, menghapus semua berkas pernikahan, lalu keluar dari grup keluarga.…Aku baru dua hari berada di Arunika Selatan ketika Keanu tiba-tiba muncul di kantorku.Dari balik dinding kaca ruang rapat, aku melihatnya berdiri di meja resepsionis.Setelan jasnya kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya, membuatnya terlihat seperti tidak tidur semalaman.Seorang rekan kerja bertanya, "Bu Gresya, Ibu kenal dia?""Iya aku kenal.""Perlu aku suruh masuk?""Nggak perlu."Aku kembali memeriksa daftar barang apa saja yang masih diperlukan untuk membuka cabang di Arunika Selatan.Setengah jam ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status