Share

Bab 3

Author: Anonymous
Sepuluh hari sebelum pernikahan kami, Ayah berulang tahun.

Jauh-jauh hari aku sudah memesan tempat di restoran dan membeli alat pancing yang sudah berbulan-bulan Ayah bicarakan.

Tapi begitu tiba di restoran, aku baru tahu kalau tempatnya ternyata diganti secara mendadak.

Tidak ada seorang pun di grup keluarga yang memberitahuku.

Aku menelepon Ibu. Dengan santainya, dia berkata, "Viona ingin makan hidangan laut, jadi kami pindah restoran. Tanya Keanu saja. Dia punya alamatnya."

Jadi, semua orang tahu.

Semua orang, kecuali aku.

Hujan turun deras di luar. Aku tidak membawa payung dan terpaksa berdiri di bawah kanopi restoran.

Keanu menelepon.

"Kamu di mana?"

"Di restoran yang aku pesan."

"Bukannya kamu sudah diberitahu melalui grup keluarga?"

"Nggak ada yang mengirim apa pun."

Dia terdiam sejenak.

"Mungkin mereka lupa. Tunggu di sana. Aku akan menjemputmu."

Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di tepi jalan.

Viona duduk di kursi penumpang depan.

Tempat duduk yang biasanya kutempati. Sementara kursi belakang penuh sesak oleh lukisan-lukisan yang berbingkai dan tas milik Viona.

Keanu membukakan pintu belakang untukku.

"Viona gampang mabuk perjalanan. Dia nggak bisa duduk di belakang."

Aku terpaksa duduk di antara bingkai-bingkai lukisan itu dengan posisi menyamping. Lututku menekan sisi-sisi kayunya.

Saat mobil mengerem mendadak, salah satu bingkai menghantam tulang keringku. Aku menahan napas karena rasa sakit yang menjalar.

Keanu melirikku dari kaca tengah.

"Kamu terluka?"

Viona lebih dulu meraih bingkai lukisan itu dan melindunginya.

"Hati-hati, Kak. Ini karya pertama yang aku tangani di galeri."

Tatapan Keanu beralih dari wajahku yang memucat ke lukisan itu.

"Hati-hati. Jangan sampai rusak."

Aku menundukkan kepala.

Kulit tulang keringku terkelupas dan berdarah. Darah perlahan mengalir hingga ke pergelangan kakiku.

Saat makan malam, alat pancing yang kubawa diletakkan begitu saja di sudut ruangan.

Viona memberikan syal kepada Ayah, dan Ayah langsung memakainya sambil memuji perhatian Viona.

"Hadiah Gresya memang mahal. Tapi kalau punyaku, lebih berguna."

Viona tersenyum sambil menuangkan minuman ke gelas.

Ibu ikut menimpali, "Kakakmu itu cuma tahu caranya menghabiskan uang. Kalau soal hal-hal kecil seperti ini, dia memang nggak pernah setulus kamu."

Setelah semua hidangan tersaji, pelayan datang membawa sebuah kue.

Di atasnya tertulis dengan krim berwarna merah muda. [Selamat atas pekerjaan baru Viona!]

Aku terdiam.

Hari ini adalah hari ulang tahun Ayah, tetapi makan malam ini justru berubah menjadi perayaan untuk pekerjaan baru Viona.

"Kita rayakan dua-duanya sekaligus. Biar lebih meriah," kata Ibu.

Keanu memberikan potongan kue pertama kepada Viona, lalu memotong potongan berikutnya dan meletakkannya di depanku.

Kue itu penuh dengan kacang yang sudah dihancurkan.

Aku alergi kacang.

Di tahun pertama kami berpacaran, dia bahkan mengingatnya dengan sangat baik.

Pernah suatu kali sebuah restoran tidak sengaja menggunakan saus kacang dalam makananku. Keanu sampai masuk ke dapur dan menuntut mereka membuat ulang hidangan tersebut.

Tapi sekarang, Keanu sudah lupa.

"Aku nggak bisa makan ini."

Tangan Keanu terhenti.

Viona langsung menukar piring kami.

"Maaf, Kak. Aku lupa bilang ke toko kuenya soal kacang."

Keanu menarik piring kue itu menjauh dariku.

"Viona sudah sibuk seharian. Dia nggak mungkin ingat semuanya. Kalau kamu nggak bisa makan, ya sudah, nggak usah dimakan."

"Kamu yang pesan kuenya?"

Dia tidak menjawab.

Ekspresi Ibu menegang.

"Ini ulang tahun ayahmu. Jangan pasang wajah seperti itu."

"Wajahku biasa saja."

"Kalau begitu, senyum. Jangan terus-terusan membuat Keanu harus membujukmu."

Aku mengangkat wajah.

"Kalian mengganti restoran seenaknya tanpa memberitahuku. Kue ini bahkan bukan untuk Ayah. Dan tidak ada seorang pun yang ingat makanan apa yang nggak bisa kumakan."

Aku menarik napas. "Lalu aku harus tersenyum dan berterima kasih atas semua ini?"

Ayah meletakkan gelasnya.

"Itu bukan masalah besar. Apa harus kamu merusak suasana makan malam hari ini?"

Mata Viona mulai memerah. Dia meraih tasnya dan berjalan menuju pintu.

"Ini semua salahku. Seharusnya aku nggak datang ke sini."

Keanu langsung berdiri.

"Gresya, malam ini kamu sangat keterlaluan."

"Kamu mau mengejarnya?"

"Di luar hujan, dan dia sedang sedih karena ulahmu."

"Kakiku terluka."

Aku mengangkat ujung gaunku, memperlihatkan tulang keringku yang sudah membengkak.

Ekspresinya berubah. Dia mulai membungkuk hendak melihat lukaku, tetapi saat itu juga, terdengar suara tangisan Viona dari luar pintu.

"Keanu, aku nggak dapat kendaraan."

Tangan Keanu langsung terhenti di udara.

"Tunggu di sini. Aku akan antar dia pulang, lalu kembali menjemputmu."

"Kalau aku bilang nggak mau?"

"Jangan mempersulit keadaan."

Dia mengambil jaketnya lalu bergegas keluar menyusul Viona.

Aku hanya bisa menatap kepergiannya. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat lima tahun lalu.

Saat itu aku demam tinggi, dan dia berdiri di depan asramaku sepanjang malam. Aku bertanya kenapa dia tidak pulang saja.

Dia menjawab, "Kamu sedang nggak enak badan. Aku nggak bisa meninggalkanmu."

Ternyata, dia memang selalu bisa pergi.

Hanya saja, dulu belum ada orang lain yang memanggilnya untuk pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 10

    Dua tahun kemudian, cabang Arunika Selatan ditingkatkan menjadi kantor regional.Aku dipromosikan yang dari manajer cabang menjadi direktur regional.Pada hari orang tuaku melunasi cicilan terakhir, Ibu menelepon.Suaranya terdengar jauh lebih tua."Kesehatan Ayahmu menurun dan Viona sudah pindah ke luar kota. Sekarang nggak ada lagi orang di rumah yang bisa diajak bicara.""Pulanglah untuk makan malam saat liburan nanti.""Ibu akan memasak makanan kesukaanmu."Aku tidak langsung menolaknya."Kita lihat nanti. Mungkin aku nggak punya waktu."Dia terdiam cukup lama."Gresya, dulu Ibu selalu mengira kamu bisa mengurus semuanya sendiri, jadi Ibu merasa nggak perlu terlalu mengkhawatirkanmu.""Baru belakangan Ibu sadar, anak yang nggak pernah mengeluh pun tetap bisa terluka."Pemahaman yang datang terlambat tidak bisa mengubah masa lalu.Tapi sekarang, aku tidak lagi membutuhkan rasa dendam hanya untuk menjaga jarak."Jaga diri baik-baik."Aku menutup telepon dan menghapus nomor Ibu dari d

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 9

    "Gresya."Keanu menyerahkan sebuah kantong kepadaku.Di dalamnya ada cincin pertunangan."Kamu meninggalkannya di meja. Aku nggak sanggup melihatnya.""Sekarang aku mengembalikannya padamu.""Kamu bisa menjualnya atau membuangnya."Aku menerima kantong itu."Masih ada yang lain?"Dia menggeleng.Setelah itu, aku menuruni tangga. Untuk waktu yang cukup lama, tidak terdengar suara apa pun di belakangku. Ketika akhirnya aku menoleh, dia masih berdiri di tempat yang sama. Matanya memerah, tetapi dia tidak mengejarku. Keanu akhirnya belajar menghargai keputusanku untuk pergi.Hanya saja, semuanya sudah terlambat.Arunika Selatan turun salju untuk pertama kalinya bahkan sebelum musim dingin dimulai.Aku menjual cincin itu dan menggunakan uangnya untuk mengikuti kursus desain furnitur.Bukan karena aku ingin terus mengingat seseorang.Uang itu memang selalu milikku. Aku hanya ingin menggunakannya untuk diriku sendiri.Di pameran, karyaku meraih juara pertama.Setelah pameran selesai, aku meli

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 8

    Orang tuaku tidak mengembalikan uangnya sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.Setelah pengacaraku mengirimkan surat tuntutan secara resmi, Ibu meninggalkan puluhan pesan suara untukku.Dia bilang aku tidak punya hati, masalah keluarga seharusnya tidak diumbar ke publik, dan Viona jatuh sakit gara-gara aku.Aku tidak membalas satu pun pesan yang dikirimkan.Sebulan kemudian, proses mediasi dimulai.Aku membawa bukti transfer bank dan tangkapan layar percakapan kami untuk ditunjukkan dalam mediasi.Ayah masih diliputi amarah."Anak macam apa yang membawa orang tuanya sendiri ke pengadilan?"Mediator telah selesai memeriksa semua bukti."Pak Rendra, Anda beberapa kali menyatakan bahwa uang ini digunakan untuk uang muka rumah atas nama Gresya Maheswari.""Namun, berdasarkan bukti yang ada, 960 juta ditransfer ke rekening Viona Maheswari dan digunakan untuk membayar biaya pendidikan ke luar negeri.""Ini merupakan salah satu penyalahgunaan dalam pinjaman."Aku terdiam membeku.Viona t

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 7

    Hari pembukaan cabang Arunika Selatan, Ayah dan Ibu datang bersama Viona.Ibu membawa sekotak kue, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa."Adikmu datang secara khusus untuk minta maaf sama kamu."Viona terus menundukkan kepala."Maaf, Kak.""Aku seharusnya nggak pindah ke apartemenmu. Aku juga nggak seharusnya mencoba gaun pengantinmu. Dan aku nggak seharusnya terus mengganggu Keanu.""Aku cuma selalu iri sama kamu.""Kamu punya nilai bagus, karier yang bagus. Semua orang menganggap kamu orang yang bisa diandalkan. Aku terlalu takut dianggap nggak berguna sampai akhirnya aku terus bergantung pada kalian semua."Beberapa rekan kerja berlalu-lalang di sekitar kami.Ibu meraih tanganku."Lihat? Viona sudah minta maaf. Kita ini keluarga dan kamu nggak mungkin terus menyalahkan dia selamanya."Aku menarik kembali tanganku."Dia minta maaf untuk apa?""Tentu saja supaya kamu mau pulang.""Aku nggak akan pulang."Wajah Ayah memerah menahan marah."Kami naik kereta selama tiga jam buat mene

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 6

    Keanu tetap berada di Arunika Selatan selama dua minggu.Dia tidak lagi mendekatiku. Setiap hari, dia hanya duduk di kedai kopi seberang jalan.Seberapa larut pun aku bekerja, kedai itu selalu masih menyala.Suatu malam, sakit perutku kambuh begitu parah sampai aku nyaris tidak kuat berdiri ketika berada di lobi.Keanu langsung berlari menyeberang jalan dan menopang tubuhku.Aku mencium aroma kopi dari pakaiannya dan melihat kepanikan yang tidak sempat dia sembunyikan.Untuk sesaat, tanpa sadar, tanganku mencengkeram lengan bajunya.Seluruh tubuhnya langsung menegang. Bahkan napasnya berubah menjadi pendek."Obatnya ada di mobil. Biar aku ambil."Dia mulai mengangkat tubuhku, tetapi aku melepaskan peganganku dan berpegangan pada pagar di tepi trotoar."Jangan sentuh aku."Dia langsung berhenti.Beberapa detik kemudian, dia melepas jasnya, membentangkannya di atas bangku agar aku bisa duduk, lalu pergi mengambil obat.Saat kembali, dia meletakkan air minum dan obat itu dalam jangkauanku

  • Pengantin yang Memilih Pergi   Bab 5

    Keanu meraih pergelangan tanganku."Semua ini cuma karena Viona pindah ke sini?""Bukan."Aku melepaskan jemarinya satu per satu dari pergelangan tanganku."Ini karena selama lebih dari dua puluh tahun, aku menunggu salah satu dari kalian untuk membelaku. Sekali saja.""Aku sudah terlalu lelah menunggu."Malam itu, aku menerima tawaran mutasi ke cabang Arunika Selatan.Sebelum fajar, aku mengemasi barang-barangku, menghapus semua berkas pernikahan, lalu keluar dari grup keluarga.…Aku baru dua hari berada di Arunika Selatan ketika Keanu tiba-tiba muncul di kantorku.Dari balik dinding kaca ruang rapat, aku melihatnya berdiri di meja resepsionis.Setelan jasnya kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya, membuatnya terlihat seperti tidak tidur semalaman.Seorang rekan kerja bertanya, "Bu Gresya, Ibu kenal dia?""Iya aku kenal.""Perlu aku suruh masuk?""Nggak perlu."Aku kembali memeriksa daftar barang apa saja yang masih diperlukan untuk membuka cabang di Arunika Selatan.Setengah jam ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status