LOGINMengabaikan makhkuk tak punya malu itu, aku menghampiri Bang Roy dan Mbak Nira. Menyalami mereka."Kapan datang, Bang, Mbak?" tanyaku berbasa-basi."Barusan kok, Ra. Sarah telepon, katanya Ibu sakit," jawab Mbak Nira. "Tumben kamu nggak kasih tahu Mbak kalau Ibu sakit?" Imbuhnya lagi.Ck! Sarah ini, memang ulat bulu ternyata. Gatel. "Sorry, Mbak. Aku nggak tahu Ibu sakit, Ibu nggak bilang ke aku. Justru Ibu bilangnya ke Sarah, ya sudah." Senyum masam kupersembahkan pada iparku itu."Mbak Wati dan Mbak Marni juga udah kamu pecat ya, Ra? Kualat kamu sengaja ngandelin Ibu kayak dulu." kata Mbak Nira lagi, tatapannya tajam layaknya menginterogasi."Kata siapa? Sarah lagi?" tanyaku balik. Mengangkat sebelah alis lebatku."Iya." Tawa miris akhirnya kulepaskan. Kugelengkan kepalaku sebentar, lalu mentap tajam pada iparku yang tengah hamil tersebut."Apa setiap aduan Sarah menjadi kebenaran di mata Mbak? Apa
[Usia bukanlah ukuran dari kematangan jiwa. Bahkan mereka yang telah melewati banyak peristiwa dalam kehidupan ini belum tentu beranjak dewasa.Termasuk dewasa dalam menjalin hubungan cinta.Ingatlah. Jatuh cinta itu sangat mudah. Mencintai juga sangat mudah bila kamu mendefinisikan cinta sebagai kegiatan menutut:Menuntut pasanganmu untuk mengerti dirimu;Menuntut pasanganmu untuk menyesuaikan diri dengan dirimu;Menuntutnya untuk menjadi lebih baik tanpa berusaha dengan sabar mendukungnya.Jika definisi cintamu seperti itu, maka bersiap-siaplah untuk patah hati. Sebab tak seorangp un sanggup dengan cinta semacam itu.]Aku tercenung ketika selesai membaca kalimat bijak yang di tulis seseorang di laman apliksi biru-ku. Apakah cintaku ke Mas Nasrul selama ini terlalu banyak menuntut? Sehingga kali ini aku merada patah hati teramat dalam. Selama ini aku selalu igin dimengerti olehnya, oleh Ibu. Apa
"Gi*a kamu, ya?! Kenapa jadi balik ke Ibu lagi? Jangan ngaco. Kita punya uang untuk bayar mereka, jangan nyari perkara!" Mas Nasrul kembali dalam mode emosi, tangannya mengepal dan bergetar."Jangan lupa, uang kebun itu uangku dan Nada. Gajiku tentu juga uangku. Jadi suka-suka aku mau dipakai untuk apa. Atau kamu suruh aja Sarah ke sini. Kan, dia dulu suka caper tuh sama kamu. Suruh sini dong, bantu Ibu masak sama ngasuh Nada."Kukedipkan sebelah mataku pada Mas Nasrul yang semakin menatapku tajam. Apakah aku takut? Tidak! Hatiku terlalu sakit dengan perlakuannya yang tidak menghargai perjuanganku demi keutuhan dan kebahagian keluarga ini.Tangannya yang semula mengepal tiba-tiba terangkat tinggi ke udara hendak menamparku. Beruntung, gerakanku cukup cepat menahan laju tangannya dengan kedua tanganku."Mau nampar aku? Siap masuk penjara? Oknum sekdes bernama Muhammad Nasrul kedapatan berselingkuh, lalu menganiaya isrinya. Siap
Setelah seharian di rumah Mama, sore harinya aku dan Nada pulang. Tentu saja setelah kami bersih dan wangi karena sudah selesai mandi sore. Tentu juga setelah aksi mengamankan aset selesai kuurus. Selagi Nada asyik bermain besama Kakek Neneknya, tadi aku mendatangi sebuah bank syariah di kota, mengurus penyewaan safe deposit box guna menyimpan sertifikat kebun dan beberapa logam mulia yang kerap kubeli untuk persiapan masa depan.Kesejahteraan hidup Mas Nasrul ada di tanganku sekarang. Gajinya yang telah dipotong kridit mobil tentu tidak akan cukup untuk kebutuhan rumah selama sebulan, kecuali ia mendapatkan seseran seperti yang sudah-sudah. Sedangkan di sisi lain dia sedang tergila-gila pada Sarah, tentu saja itu juga membutuhkan biaya.Pak Joko, jika ia tidak menuruti perkataanku yang hanya menyerahkan uang panen kebun kepadaku, maka ia harus siap untuk kehilangan pekerjaan. Kehilangan pundi-pundi rupiah yang ia gunakan untuk menyambung hidup dan s
Dari spion kiri kulihat Sarah mencak-mencak mengusap air kotor yang mengenai pakaiannya. Kaca jendela yang tertutup rapat membuatku tak dapat mendengar umpatannya. Ya, tadi aku sengaja melajukan mobil lebih kencang saat melewati genangan air di dekatnya, sehingga pakaiannya kecipratan sisa hujan yang sudah terkontaminasi dengan berbagai kuman.Aku tergelak. Rasakan! Pasti Mas Nasrul adalah orang pertama yang akan ia semprot nanti. Perjalanan terus berlanjut, Nada masih terlelap. Alunan merdu dari pelantun sholawat Nabi mengalun lembut di telingaku, menemaniku."Sayang … Kok, nggak bilang kalau mau ke sini?" sambut Mama saat melihatku turun dari mobil."Biar kejutan, Ma," kekehku menyambut rangkulan Mama. Pipiku bertubi ia cium dengan gemas. Ya, seperti itulah Mamaku."Sendirian? Nasrul nggak ikut?" tanya Mama dengan kepala celingukan mencari keberadaan laki-laki yang sedang konslet hatinya itu."Sama Nada, Ma. Tuh, masih tidur,"
Kumandang adzan subuh terdengar dari toa masjid. Kedua bola mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan temaramnya cahaya di dalam kamar. Saat kupalingkan muka ke samping, tidak terdapat Mas Nasrul di sisi Nada. Ke mana dia? Apa sudah bangun lebih dulu?Kususun bantal di tepi ranjang memnyerupai pagar agar Nada tidak jatuh jika ia bergeser, kemudian menguncir rambutku yang kusut masai bekas tidur semalam. Setelah badan terasa enakan, aku beranjak keluar kamar.Begitu ke luar kamar kulihat ruang sholat nampak masih gelap. Artinya Mas Nasrul belum bangun, pun dengan Ibu. Aku sholat duluan saja, nanti baru kucari Mas Nasrul dan Ibu.Cepat kubawa kakiku menuju kamar mandi, mengambil wudhu, lalu sholat di ruangan khusus samping kamar Ibu. Mama pernah mengatakan, salah satu godaan terberat dalam waktu sholat adalah waktu subuh. Di mana setan membujuk kita untuk kembali tidur meski telah sempat terjaga.Tok! Tok! Tok!Kuketuk pintu kamar I







