Masuk"Gi*a kamu, ya?! Kenapa jadi balik ke Ibu lagi? Jangan ngaco. Kita punya uang untuk bayar mereka, jangan nyari perkara!" Mas Nasrul kembali dalam mode emosi, tangannya mengepal dan bergetar.
"Jangan lupa, uang kebun itu uangku dan Nada. Gajiku tentu juga uangku. Jadi suka-suka aku mau dipakai untuk apa. Atau kamu suruh aja Sarah ke sini. Kan, dia dulu suka caper tuh sama kamu. Suruh sini dong, bantu Ibu masak sama ngasuh Nada."Kukedipkan sebelah mataku pada Mas Nasrul yang semakin menatapku tajam. Apakah aku takut? Tidak! Hatiku terlalu sakit dengan perlakuannya yang tidak menghargai perjuanganku demi keutuhan dan kebahagian keluarga ini.Tangannya yang semula mengepal tiba-tiba terangkat tinggi ke udara hendak menamparku. Beruntung, gerakanku cukup cepat menahan laju tangannya dengan kedua tanganku."Mau nampar aku? Siap masuk penjara? Oknum sekdes bernama Muhammad Nasrul kedapatan berselingkuh, lalu menganiaya isrinya. SiapHanya dua malam Mbak Nana di desa. Nanti sudah harus kembali ke kota. Aku yang kebetulan ingin menghadiri acara ngunduh mantu Hilma, juga akan berangkat sore ini. Jadilah kami berangkat secara bersamaan."Nasrul nggak ikut, Ra?" tanya Mbak Nana saat kami sama-sama menggeret koper ke teras. Menunggu mobil jemputan."Nggak, Mbak. Aku juga mau refreshing, aku stress belakangan ini." "Oke. Tenangkan diri kamu, ya, jangan gegabah. Mbak menangkap ada yang janggal dengan sikap Nasrul." Mba Nana menatap lurus pada kumbang yang hinggap di tangkai bungaku yang sedang mekar. "Setiap berbicara matanya kosong. Hanya orang yang dikendalikan sesuatu yang berbicara seperti itu."Aku mengernyit, belum memahami apa yang dimaksud Mbak Nana. "Maksudnya, Mbak?""Yang membencimu itu bukan Nasrul. Mbak bisa merasakan itu, tapi Mbak nggak bisa menjelaskan lebih rinci. Mbakmu ini sudah bertemu banyak jenis orang, belajar bagaimana membaca karakter seseorang, bel
"Dara ...!!!" Aku tersentak kala mendengar teriakan kencang yang berada di balik telingaku, beriringan dengan hentakan kuat pada lengan kiri. Mas Nasrul menarikku dengan tenaga lelakinya. Tak ayal itu membuatku terpelanting dengan memeluk Nada erat.Bruk!Tubuhku menubruk seseorang. Kalau saja orang tersebut tidak menguatkan tumpuan kakinya, mungkin aku dan Nada sudah tersungkur menimpanya. Mas Nasrul keterlaluan!Kubenahi berdiriku, mencoba menenangkan Nada yang syok dan merengek. Belum usai keterkejutanku, kini mataku kembali dibuat tak percaya dengan apa yang aku lihat. "Mbak Nana …" ucapku pelan.Mbak Nana tersenyum tipis. Terus terang, aku tidak cukup dekat dengannya. Mbak Nana juga ceplas-ceplos kalau bicara, makanya aku sedikit segan. Meski demikian dia tipe perempuan tegas, Mas Nasrul sangat menghormatinya."Apa kabar semuanya?" sapa Mbak Nana. Meletakkan kopernya di pinggir dinding, lalu menyal
Mengabaikan makhkuk tak punya malu itu, aku menghampiri Bang Roy dan Mbak Nira. Menyalami mereka."Kapan datang, Bang, Mbak?" tanyaku berbasa-basi."Barusan kok, Ra. Sarah telepon, katanya Ibu sakit," jawab Mbak Nira. "Tumben kamu nggak kasih tahu Mbak kalau Ibu sakit?" Imbuhnya lagi.Ck! Sarah ini, memang ulat bulu ternyata. Gatel. "Sorry, Mbak. Aku nggak tahu Ibu sakit, Ibu nggak bilang ke aku. Justru Ibu bilangnya ke Sarah, ya sudah." Senyum masam kupersembahkan pada iparku itu."Mbak Wati dan Mbak Marni juga udah kamu pecat ya, Ra? Kualat kamu sengaja ngandelin Ibu kayak dulu." kata Mbak Nira lagi, tatapannya tajam layaknya menginterogasi."Kata siapa? Sarah lagi?" tanyaku balik. Mengangkat sebelah alis lebatku."Iya." Tawa miris akhirnya kulepaskan. Kugelengkan kepalaku sebentar, lalu mentap tajam pada iparku yang tengah hamil tersebut."Apa setiap aduan Sarah menjadi kebenaran di mata Mbak? Apa
[Usia bukanlah ukuran dari kematangan jiwa. Bahkan mereka yang telah melewati banyak peristiwa dalam kehidupan ini belum tentu beranjak dewasa.Termasuk dewasa dalam menjalin hubungan cinta.Ingatlah. Jatuh cinta itu sangat mudah. Mencintai juga sangat mudah bila kamu mendefinisikan cinta sebagai kegiatan menutut:Menuntut pasanganmu untuk mengerti dirimu;Menuntut pasanganmu untuk menyesuaikan diri dengan dirimu;Menuntutnya untuk menjadi lebih baik tanpa berusaha dengan sabar mendukungnya.Jika definisi cintamu seperti itu, maka bersiap-siaplah untuk patah hati. Sebab tak seorangp un sanggup dengan cinta semacam itu.]Aku tercenung ketika selesai membaca kalimat bijak yang di tulis seseorang di laman apliksi biru-ku. Apakah cintaku ke Mas Nasrul selama ini terlalu banyak menuntut? Sehingga kali ini aku merada patah hati teramat dalam. Selama ini aku selalu igin dimengerti olehnya, oleh Ibu. Apa
"Gi*a kamu, ya?! Kenapa jadi balik ke Ibu lagi? Jangan ngaco. Kita punya uang untuk bayar mereka, jangan nyari perkara!" Mas Nasrul kembali dalam mode emosi, tangannya mengepal dan bergetar."Jangan lupa, uang kebun itu uangku dan Nada. Gajiku tentu juga uangku. Jadi suka-suka aku mau dipakai untuk apa. Atau kamu suruh aja Sarah ke sini. Kan, dia dulu suka caper tuh sama kamu. Suruh sini dong, bantu Ibu masak sama ngasuh Nada."Kukedipkan sebelah mataku pada Mas Nasrul yang semakin menatapku tajam. Apakah aku takut? Tidak! Hatiku terlalu sakit dengan perlakuannya yang tidak menghargai perjuanganku demi keutuhan dan kebahagian keluarga ini.Tangannya yang semula mengepal tiba-tiba terangkat tinggi ke udara hendak menamparku. Beruntung, gerakanku cukup cepat menahan laju tangannya dengan kedua tanganku."Mau nampar aku? Siap masuk penjara? Oknum sekdes bernama Muhammad Nasrul kedapatan berselingkuh, lalu menganiaya isrinya. Siap
Setelah seharian di rumah Mama, sore harinya aku dan Nada pulang. Tentu saja setelah kami bersih dan wangi karena sudah selesai mandi sore. Tentu juga setelah aksi mengamankan aset selesai kuurus. Selagi Nada asyik bermain besama Kakek Neneknya, tadi aku mendatangi sebuah bank syariah di kota, mengurus penyewaan safe deposit box guna menyimpan sertifikat kebun dan beberapa logam mulia yang kerap kubeli untuk persiapan masa depan.Kesejahteraan hidup Mas Nasrul ada di tanganku sekarang. Gajinya yang telah dipotong kridit mobil tentu tidak akan cukup untuk kebutuhan rumah selama sebulan, kecuali ia mendapatkan seseran seperti yang sudah-sudah. Sedangkan di sisi lain dia sedang tergila-gila pada Sarah, tentu saja itu juga membutuhkan biaya.Pak Joko, jika ia tidak menuruti perkataanku yang hanya menyerahkan uang panen kebun kepadaku, maka ia harus siap untuk kehilangan pekerjaan. Kehilangan pundi-pundi rupiah yang ia gunakan untuk menyambung hidup dan s







