Beranda / Rumah Tangga / Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku / 3. Ibu Sembuh, Bisa Ngasuh Lagi

Share

3. Ibu Sembuh, Bisa Ngasuh Lagi

Penulis: Emya
last update Terakhir Diperbarui: 2022-06-24 12:02:13

Air mataku terus mengalir dengan derasnya, bayangan Mas Nasrul tengah merangkul Sarah kian menambah sesak di dadaku. Meski Mas Nasrul suka marah-marah, tak bisa dipungkiri kalau aku sangat mencintainya. Mas Nasrul itu cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhir bagiku. Bantu doa ya, kawan. 

Aamiin … Nah, gitu!

"Dara, buka pintunya, Sayang. Dengarkan penjelasan Mas dulu," pinta Mas Nasrul sambil terus mengetok pintu kamar kami.

Aku masih bergeming. Sakit hatiku, Mas. Ibu juga, kenapa malah mendiamkan kelakuan mereka. Apa diam-diam Ibu justru menyukai Sarah? Karena kalau kuperhatikan, Ibu cukup dekat dengannya. Apa-apa selalu minta tolong Sarah.

"Dara kenapa, Rul?" Terdengar suara Mbak Nira mendekat.

"Salah paham, Mbak. Pas Dara masuk ke kamar Ibu tadi, dia melihatku sedang merangkul Sarah—" 

"Pantes aja Dara marah, Mbak juga bakal marah kalau gitu kondisinya." Mbak Nira memotong penjelasan adiknya dengan nada gregetan.

"Denger dulu, Mbak. Tadi itu Sarah ingin memberikan minum pada Ibu, karena kakinya kesemutan berdirinya jadi oleng. Dari pada dia jatuh menimpa Ibu, kutahan saja badannya. Lha, dia yang kaget malah berontak dan mau jatuh kearahku. Kalau nggak aku tahan bahunya tadi, bisa-bisa beneran meluk aku dianya." Dengan panjang lebar Mas Nasrul menjelaskan kejadian tadi pada Mbak Nira.

Diam-diam aku menguping dari dalam. Apa benar kejadiannya begitu? Sejauh ini Mas Nasrul orang yang jujur, apalagi kejadian tadi terjadi di depan Ibu. Ah, ya, baiknya kutanya Ibu saja habis ini. Hmm … Lagian, coba si Sarah segera pulang begitu Ibu siuman, pasti kejadiannya tidak begini.

Sebaiknya aku tetap pura-pura masih marah besar, biar Mas Nasrul menuruti semua keinginanku. Termasuk segera mengganti ponsel logo jerukku.

"Sudah. Biarkan Dara tenang dulu, kalau kamu jelasin sekarang bakal percuma. Dia lagi emosi. Yuk, makan bareng Mbak, tadi Dara beliin kita ayam geprek. Katanya kamu belum makan dari pagi." Perlahan suara mereka menghilang, sepertinya sudah beranjak ke ruang makan.

Membayangkan ayam geprek tadi, tiba-tiba laparku kembali melilit. Duh! Mau ke luar sekarang, gengsi. Kubawa tidur sajalah, nanti saja makannya.

Baru saja aku terlelap, Nada merengek bangun. Aarrgghh! Gagal lagi tidurku, hiks ….

***

"Sarapan, Ra," ajak Mbak Nira begitu melihatku ke luar kamar dengan pakaian kantor.

"Iya, Mbak. Hmm … wangi banget, masak cumi kemarin, ya?" Hidungku mengendus aroma masakan dari meja makan, sepertinya sangat nikmat.

"Iya. Makan, ya. Semalam kamu nggak makan, perutmu pasti lapar cuma diisi ayam geprek sore kemarin." Mbak Nira menyendok oseng-oseng cumi ke atas nasi dalam piringku. Dengan lahap kuhabiskan sarapanku segera, sebelum terlambat ngantor.

Sudah kukatakan, Mbak Nira itu baik. Ya, sesekali dia kadang mengomeliku terkait beberapa hal. Tapi, hanya sebatas itu. Aku harus selalu bisa bermain cantik, supaya Mbak Nira selalu menyayangiku. Ibu dan Mas Nasrul tak mungkin mengadu, aku paham betul sifat mereka. Karena kondisi Ibu yang belum terlalu pulih, Mbak Nira memutuskan tinggal sementara di sini. Sedangkan Bang Roy harus pulang karena pekerjaanya sudah menunggu. Ya, artinya yang mengasuh Nada adalah Ibu, pekerjaan rumah diurus Mbak Nira.

Setelah selesai sarapan, aku berpamitan pada Ibu dengan membawa Nada. Nampak Ibu sedang selonjoran sambil mengaji dengan suara lirih. Tuh! Ibu sebenarnya sudah sembuh, Mas Nasrul dan Mbak Nira saja yang lebay.

"Bu, Dara kerja, ya. Nada sama Ibu. Dia baru bangun itu, belum mandi. Sekalian sama Ibu, ya, mandinya." Kuraih tangan Ibu untuk kucium, lalu mengecup pipi gembul Nada. "Dah, Sayang. Sama Uti, ya. Jangan nakal." Batita 1 tahun itu hanya membalas dengan kekehan khas bayi.

"Sayang—"

"Apa?!" jawabku ketus ketika Mas Nasrul memanggilku.

"Nada titip di rumah Mama dulu, ya? Kasihan Ibu, belum terlalu pulih," ucap Mas Nasrul.

"Mama nggak bisa, Mas. Mama dari awal udah wakti-wanti ke anak-anaknya, nggak mau direpotin sama urusan cucu. Lagian Mama itu banyak kegiatan, yang arisan, yang pengajian, yang senam lansia, macem-macem, deh! Nggak paham aku. Rumah Mama juga lumayan jauh dari sini, kalau nganter Nada ke sana, alamat telat aku ngantornya. Gimana, sih!" Kuraih helm dari atas lemari sepatu teras, sebentar lagi jam 8. Jangan sampai telat.

Mas Nasrul menghela napas panjang. "Tapi Ibu butuh istirahat, Ra, kasihan. Atau kita minta Bik Wati jaga Nada, ya? Kan, dia udah nggak kerja di kota lagi." Mas Nasrul mengusulkan ide babysitter padaku.

"Nggak, nggak, nggak! Bik Wati itu orang lain, Mas. Aku nggak percaya Nada diasuh sembarangan orang. Lagian gaji pengasuh itu lebih mahal dari pembantu, Mas, sayang duitnya. Mending ditabung buat beli kebun kelapa sawit. Liat tuh, Kak Deri, kebunnya udah makin luas, cuannya mengalir deras tiap bulan." Sambil memanaskan mesin motor, aku mengomel.

Mas Nasrul ini memang harus diceramahi dulu biar pikirannya terbuka, tiap hari pembahasannya selalu Ibu, Ibu, Ibu terus. Sesekali tirulah kakak-kakakku, mereka semua sukses punya banyak kebun. Kelak yang bangga juga pasti orangtua, kan?

"Tapi, Ra—"

"Udah! Cukup! Ini masih pagi, Mas! Aku males debat. Ibu aja nggak protes kumintai tolong ngasuh Nada, kok Mas yang keberatan. Lagian ada Mbak Nira yang beberes rumah beberapa hari ke depan. Ibu cuma ngasuh Nada, cuma ngasuh." Kupakai jaketku, bersiap berangkat.

Lagi-lagi Mas Nasrul menghela napasnya dengan kasar lalu mengacak-acak rambutnya.

Saat hendak mencium tangan Mas Nasrul untuk berpamitan, mataku tertuju pada paperbag yang ada di tangannya.

"Apa itu, Mas?" tanyaku.

"Hapemu. Nih!" Disodorkannya paperbag itu padaku.

"Serius? Kapan belinya? Kok, nggak ngajak aku, sih!" Senyumku mengambang bak adonan roti yang diendap semalaman. Kubuka paperbag dengan tak sabar. Sehari semalam tanpa ponsel itu tidak enak, kawan. Membosankan.

"Semalam. Gimana mau ngajak kamu, kamunya aja masih ngambek gitu. Cemburu buta, kok, dipelihara," cibir Mas Narul sambil mencebikkan bibirnya.

"Wah! Ini lebih keren dari hape lamaku, Mas. Makasih, ya," ucapku manja sambil berjinjit mengecup pipinya.

"Iya, sama-sama. Nggak marah lagi, kan?" Dielusnya puncak kepalaku dengan gemas.

"Udah nggak. Aku berangkat duluan ya, Mas," pamitku padanya lagi.

"Iya. Hati-hati. Pulang kantor langsung ke rumah, jangan nongkrong," pesannya.

"Iyaa. Daagh!" Kulambaikan tangan pada Mas Nasrul yang masih menatapku hingga jauh.

Hampir setiap hari pesan Mas Nasrul selalu sama, hati-hati dan langsung pulang ke rumah. Ya … Aku memang sering nongkrong begitu pulang kerja. Buat apa cepat-cepat pulang, rumah dan Nada sudah ada Ibu yang mengurusi. Apa lagi? Nongkrong juga bisa membuat moodku membaik setelah seharian terkurung di kantor.

Aku tahu, di antara kalian pasti berpikir aku ini menantu jahat, durhaka. Teeserah! Karena yang tahu kondisi rumahtanggaku hanya aku. Mas Nasrul memang memiliki gaji tetap sebagai seorang sekdes, tapi itu tidak akan cukup kalau harus membayar pengasuh pun pembantu.

Begitu Mas Nasrul diterima sebagai PNS, aku langsung memintanya membeli mobil. Apa kata dunia jika seorang sekdes muda hanya berkendaraan sebuah motor. No, no, no! Mobil tersebut meski kami beli secara cash, tapi uangnya tetap kami pinjam dari bank dan mencicilnya setiap bulan. Sekarang kalian bisa bayangkan berapa sisa gaji yang kami miliki. 

Untungnya, almarhum Bapak meninggalkan warisan berupa tanah yang lumayan luas. Karena Mas Nasrul anak laki-laki satu-satunya, dia mendapat bagian yang lebih banyak. Bagian Mas Nasrul itu kemudian kami tanami kelapa sawit yang kini sudah mulai berbuah. Nah, uang dari kebun ini selalu aku sisihkan untuk masa depan Nada. Tak boleh diganggu gugat, kecuali sangat kepepet. Lha, perihal pengasuh dan pembantu, kan, bukan hal urgent. Makanya aku tak mau mengeluarkan uang ini. Lagian ada Ibu yang masih bisa melakukan semuanya. Aman.

Aku? Gajiku ya buatku. Masih untung untuk kebutuhanku aku tak merepotkan Mas Nasrul. Tak seperti Ibu yang selalu mengandalkan pemberian anak-anaknya setiap bulan, aku memiliki penghasilan sendiri. Meski begitu, Mas Nasrul tetap memberiku uang sebagai nafkah pribadiku. Uang tersebut aku pakai untuk merawat diri supaya pantas bersanding dengannya. Semua penghasilannya termasuk seseran kantor juga ia berikan padaku. Itulah kenapa aku semakin sayang padanya. Eit! Jangan berpikir aku pelit, ya! Setiap bulan aku selalu memberikan jatah Ibu sesuai titah Mas Nasrul, awas kalau bilang aku pelit!

Kupacu motorku dengan kecepatan cukup tinggi, aku paling tidak suka dengan terlambat, terlebih ini hari senin. Semua ini gara-gara Ibu! Coba kalau Ibu tidak pakai acara sakit, semua pasti berjalan baik seperti biasanya. Aku tidak ribut dengan Mas Nasrul, Nada diasuh Ibu, tidurku cukup, jadi tidak terburu-buru karena harus mengawali hari dengan perdebatan. 

Ibu … Ibu … Padahal aku ini tidak minta banyak hal, cuma ngasuh. Kok, ya bisa sampai sakit. Ckckck ….

Saat ingin berbelok memasuki gerbang kantor, tiba-tiba,

Ciittt! Brak!

Sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Lalu, semua gelap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   18b

    Dari spion kiri kulihat Sarah mencak-mencak mengusap air kotor yang mengenai pakaiannya. Kaca jendela yang tertutup rapat membuatku tak dapat mendengar umpatannya. Ya, tadi aku sengaja melajukan mobil lebih kencang saat melewati genangan air di dekatnya, sehingga pakaiannya kecipratan sisa hujan yang sudah terkontaminasi dengan berbagai kuman.Aku tergelak. Rasakan! Pasti Mas Nasrul adalah orang pertama yang akan ia semprot nanti. Perjalanan terus berlanjut, Nada masih terlelap. Alunan merdu dari pelantun sholawat Nabi mengalun lembut di telingaku, menemaniku."Sayang … Kok, nggak bilang kalau mau ke sini?" sambut Mama saat melihatku turun dari mobil."Biar kejutan, Ma," kekehku menyambut rangkulan Mama. Pipiku bertubi ia cium dengan gemas. Ya, seperti itulah Mamaku."Sendirian? Nasrul nggak ikut?" tanya Mama dengan kepala celingukan mencari keberadaan laki-laki yang sedang konslet hatinya itu."Sama Nada, Ma. Tuh, masih tidur,"

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   18a

    Kumandang adzan subuh terdengar dari toa masjid. Kedua bola mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan temaramnya cahaya di dalam kamar. Saat kupalingkan muka ke samping, tidak terdapat Mas Nasrul di sisi Nada. Ke mana dia? Apa sudah bangun lebih dulu?Kususun bantal di tepi ranjang memnyerupai pagar agar Nada tidak jatuh jika ia bergeser, kemudian menguncir rambutku yang kusut masai bekas tidur semalam. Setelah badan terasa enakan, aku beranjak keluar kamar.Begitu ke luar kamar kulihat ruang sholat nampak masih gelap. Artinya Mas Nasrul belum bangun, pun dengan Ibu. Aku sholat duluan saja, nanti baru kucari Mas Nasrul dan Ibu.Cepat kubawa kakiku menuju kamar mandi, mengambil wudhu, lalu sholat di ruangan khusus samping kamar Ibu. Mama pernah mengatakan, salah satu godaan terberat dalam waktu sholat adalah waktu subuh. Di mana setan membujuk kita untuk kembali tidur meski telah sempat terjaga.Tok! Tok! Tok!Kuketuk pintu kamar I

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   17b

    Mendengar itu aku bergegas merebahkan diri, memeluk guling dan beralih menghadap tembok. Apa yang ingin Ibu bicarakan? Jika mengenai hal tadi, mengapa takut aku mendengar?Ceklek! Pintu kamar dibuka, tak lama kemudian ranjang sedikit bergoyang. Mataku yang pura-pura tidur kupejamkan senatural mungkin, jangan sampai ketahuan jika aku berbohong.Ceklek! Kembali pintu tertutup. Aku tidak langsung bangkit, masih kuteruskan kepura-puraanku. Benar saja, tak lama kemudian pintu kembali menimbulkan suara.Aku yakin, tadi itu Mas Nasrul hanya berpura-pura ke luar kamar. Ia ingin menjebak kebohonganku. Fiuh! Tidak sia-sia sesekali ikut Ibu nonton sinetron, dari keteledoran pemerannya aku belajar hal ini.Telingaku kembali melebar setelah Mas Nasrul benar-benar pergi, tak ada suara apapun sampai kemudian suara pintu ruang kerja Mas Nasrul terbuka lalu tertutup kembali. Oke, mereka berbicara di ruang kerja rupanya.

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   17a

    "Kamu kenapa, Nduk? Kok, seperti orang gelisah terus?" tanya Ibu yang melihatku bolak-balik mengganti saluran televisi.Nafasku berhembus kasar. Apa sebaiknya kuceritakan saja pada Ibu, ya? Bukankah Mas Nasrul itu sangat menyayangi Ibu. Mudah-mudahan Mas Nasrul mau mendengarkan jika Ibu yang menasihati."Hmm, Bu, menurut Ibu mungkin nggak kalau Mas Nasrul menduakan Dara?" Kupalingkan tatapaku pada Ibu yang seketika terhenyak."Kenapa nanya gitu, Nduk? Menurut Ibu nggak mungkin, lha wong dari awal saja Nasrul kadung cinta mati sama kamu." Ibu terkekeh setelah menjawab pertanyaannku.Ibu benar, dari awal Mas Nasrul memang sangat bucin padaku. Aku pun dapat merasakan itu. Makanya hatiku benar-benar merasa sakit mendapati kenyataan yang dia lakukan kemarin. Hal apa yang membuat Mas Nasrul berubah? Bukankah semua sudah kuubah sesuai maunya? "Tapi, Bu … Mas Nasrul memang punya perempuan lain," lirihku.

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   16b

    Mas Nasrul. Itu Mas Nasrul, suamiku. Aku yakin. Siapa perempuan yang berani memposting foto suami orang lain?Irama yang berdetak di dalam dadaku tak lagi sama. Aliran darah di tubuhku terasa mengalir cepat keseluruh tubuh. Inginku berpikiran positif bahwa itu bukan suamiku, tapi sisi lain hatiku sangat meyakini itu memang dia. Mas Nasrulku.Bulir bening perlahan menetes di pipi, terasa hangat. Berbanding terbalik dengan bulir dari es yang menempel di dinding gelas tadi yang dingin. Sekali lagi kubaca caption yang tertera di atas foto.[Thanks love 💕 sudah meluangkan waktunya untuk makan siang denganku]Apa ini ada hubungannya dengan teleponku yang diriject? Kugigit bibir bawahku dengan kuat, menahan isak yang mulai menguat.Jangan main-main denganku, Mas! Jangan bangunkan singa yang sedang tidur. Aku sudah menuruti semua keinginanmu akan sikapku. Mengistirahatkan Ibu dari aktivitas rumah dan mengasuh Nada, yang

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   16a

    Ujian dalam hidup dapat menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Tak perduli ia kaya atau miskin, baik atau jahat, yang jelas setiap yang bernyawa akan mengalami ujian selagi maut belum menjeputnya.Ada banyak jenis ujian, kemiskinan, harta berlimpah, sakit-sakitan, keluarga tidak harmonis, dan kehilangan. Saat ini aku sedang berada di fase kehilangan. Ya, kehilangan.Setelah melalui serangkaian tes darah sebanyak dua kali guna memastikan kondisi kehamilanku, kini aku sudah berada dititik ikhlas. Seperti dugaan awalku begitu Dr. Rini berucap bahwa janinku telah hilang, maka hasil terakhir pun sama, calon anakku memang sudah tidak ada. Rahimku bersih, Nada urung menjadi Kakak. Aku tidak ingin mencari lebih detail penyebabnya, bagiku ini sudah suratan dari Allah. Matahari merangkak semakin tinggi meninggalkan bunga pukul delapan yang perlahan kembali kuncup. Teriknya mentari membuat orang-orang malas meninggalkan rumah jika bukan karena urusan penting. Untung saja rumah Ibu hawanya adem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status