Share

2. Ibu Pingsan

Author: Emya
last update Last Updated: 2022-06-24 11:51:52

Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku.

Bab 2

"Astaga! Mas, kenapa Nada kamu taruh di lantai kayak gitu? Itu kotor, jorok tau!" Kuraih tubuh Nada yang masih meraung-raung. Duh! Ingusnya kena bajuku, alamat bau semua ini. Ck!

"Matamu picek, hah! Nggak liat? Ibu pingsan. Buruan telepon Sarah! Suruh ke sini." Mas Nasrul membopong tubuh Ibu memasuki kamar setelah sebelumnya menyuruhku menelepon bidan desa, Sarah.

"Gimana mau telepon, kan, hapeku udah jadi sampah!" Sungutku jengkel, kalau ingat benda pipihku itu sudah hancur ingin rasanya kucekik laki-laki yang dua tahun ini menjadi suamiku.

Terdengar decak dari mulut Mas Nasrul. "Pakai hape Mas." Dilemparnya ponsel dengan tiba-tiba, untung tanganku lihai menangkapnya.

Kuutak-atik ponsel ketinggalan zaman milik Mas Nasrul, setelah selesai kukembalikan padanya yang sedang memijit tubuh Ibu. Duh! Pakai pingsan segala lagi, aku bisa telat ke arisan kalau begini. Kulirik jam tangan pink di pergelanganku. Tuh, kan! Udah telat 10 menit. Ck!

"Telepon Mbak Nira juga. Bilang aja Ibu nggak enak badan, jangan bilang kalau pingsan, nanti dia panik." Titah Mas Nasrul begitu aku ingin memberikan ponsel padanya.

"Iya," jawabku sebel. Tinggal telepon apa susahnya, sih? Masa itu saja harus aku. "Udah. Sebentar lagi Mbak Nira berangkat, tunggu suaminya pulang dari pasar katanya." Kusodorkan ponselnya segera, jangan sampai disuruh-suruh lagi.

"Ya udah, siniin Nada. Kamu beres-beres rumah dulu, ya. Nggak enak kalau diliat Mbak Nira. Kamu juga nanti yang diomelin, apalagi kalau dia ngadu ke Mbak Nana." Mas Nasrul ingin meraih Nada, tapi kutepis.

"Nggak. Mas aja yang beres-beres, aku udah rapi, Mas. Nanti keringat semua," elakku cepat. Enak aja, orang udah ganti baju bagus gini disuruh beres-beres.

"Allahuakbar ... Ya udah, kamu pijitin Ibu, kasih minyak di depan hidungnya biar cepet siuman." Mas Nasrul beranjak, dan mendudukkanku di kursi samping ranjang, lalu meninggalkanku bersama Nada yang mulai diam dan Ibu yang masih pingsan.

Kutatap wajah Ibu mertuaku ini, sesekali dahinya mengernyit lalu tenang kembali. Sebenarnya Ibu ini baik, tidak banyak protes kalau kuminta ini dan itu. Hanya saja rasa tak suka mulai datang kala mengetahui dulu Ibu sempat tidak merestui Mas Nasrul menikah denganku. Alasannya karena aku anak perempuan satu-satunya, takut nanti jadi istri manja, melawan suami, egois, pemalas, dan sebagainya. Nyatanya kalau tanpa sebab aku tidaklah begitu, kalau ada yang tak sesuai dengan hati, kita wajib melawan, kan. Iya, dong?

"Assalamu'alaikum …." Terdengar salam dari luar

"W*'alaikumsalam, masuk, Rah, Ibu di kamar." Mas Nasrul mempersilahkan tamu yang ternyata Sarah untuk masuk.

"Gimana ceritanya Ibu bisa pingsan, Mas?" tanya Sarah pada Mas Nasrul.

"Nggak tau, Rah. Tadi itu Ibu pamit ke dapur, lalu Mas menyusul Ibu. Pas sampai di dapur, Ibu udah pingsan." Mas Nasrul menceritakan kronologi pingsannya Ibu pagi ini.

"Sebentar, ya, Sarah periksa dulu," ucap Sarah mulai memeriksa Ibu. Setelah mengukur tensi dan segala macam serta mengetuk-ngetuk perut Ibu, Sarah berucap, "Sepertinya maag Ibu kambuh, Mas. Ibu makannya telat, jadi pusing dan lemas."

"Ya Allah … Ini Ibu belum siuman dari tadi, gimana? Apa kita bawa ke puskesmas?" tanya Mas Nasrul panik, aku hanya memperhatikan diskusi keduanya dan malas terlibat.

"Nggak perlu, Mas. InSyaa Allah sebentar lagi Ibu siuman. Mbak, bisa minta tolong buatkan bubur? Supaya nanti bisa langsung Ibu makan begitu beliau siuman." Sarah menatapku tersenyum, sambil memainkan tangan Nada.

"Hmm? O-oke. Mas!" Kuberi kode pada Mas Nasrul supaya mengikutiku ke luar kamar.

"Kenapa?" tanya Mas Nasrul polos.

"Kok, kenapa? Mas yang bikin buburnya, biar lebih afdol dibuatin anak laki kesayangan," jawabku berlalu masuk kamar.

"Dara! Kamu ini kenapa jadi keterlaluan banget, sih? Cuma masak bubur buat Ibu apa susahnya?" Rahang Mas Nasrul mengeras, sebisa mungkin menahan intonasi suaranya agar tak terdengar Sarah.

Kuangkat sebelah alisku, "Nggak susah! Tapi apa Mas lupa tadi aku bilang apa? Aku nggak akan pernah masak sebelum Mas ganti hapeku, titik!" Kubaringkan Nada yang ternyata telah tertidur. Tuh, gampang, kan, ngasuh Nada? Mas Nasrul aja yang suka lebay kalau Ibu ngasuh Nada.

"Ya Allah … Astaghfirullah … Ampuni hamba ya Allah. Astaghfirullah, astaghfirullah ..." Sambil berjalan ke luar kamar Mas Nasrul terus beristighfar. Nah, mending begitu, biar setan-setan pada kabur, tidak marah-marah terus.

Kurebahkan tubuhku di samping anakku, Nada. Mau pergi arisan pun percuma, sudah telat. Kalau ponselku ada, pasti mereka sudah sibuk menanyaiku. Lamat kudengar suara Sarah berbicara dengan Ibu di kamar seberang, syukurlah kalau Ibu sudah siuman. Artinya besok aku bisa bekerja dengan tenang, karena Ibu sudah bisa mengasuh Nada lagi.

Krucuutt! Perutku berbunyi. Duh, aku lupa kalau dari pagi belum sarapan. Pelan aku bangkit dari rebahan agar Nada tak bangun. Kulangkahkan kaki menuju dapur, nampak Mas Nasrul sedang menabur bawang goreng di atas piring bubur Ibu. Wangi sekali ….

"Mas," sapaku padanya yang masih menekuk muka.

"Hmm …" jawabnya dengan deheman.

"Buburnya masih?" tanyaku pelan, takut dia tiba-tiba beristighfar layaknya melihat hantu.

"Habis. Mas cuma masak buat Ibu." Mas Masrul berlalu.

Aarrghh!! Suami tak punya akhlak. Apa susahnya masak sekalian banyak, apa dia tak lapar?

Kubuka lemari penyimpanan, tidak ada apapun selain tepung serbaguna dan agar-agar bubuk. Aku lupa, kemarin belum sempat belanja bulanan. Kubuang napas dengan kesal.

"Mas, hape Mas mana? Pinjem." Aku menadahkan tangan padanya yang sedang menyuapi Ibu sambil ngobrol ringan dengan Sarah.

Ngapain Sarah masih di sini? Betah bener.

Tanpa bersuara, Mas Nasrul menyerahkan ponselnya padaku. Huh! Aku benci melihatnya cuek begini. Sambil cemberut kuambil ponselnya, lalu kutinggalkan mereka bertiga.

"Halo, Tia. Ayam gepreknya masih?" Kutelepon Tia, penjual ayam geprek dekat pos ronda.

"Masih, Mbak. Mau berapa?" tanyanya antusias.

"Satu aja. Hmm … empat, deh," jawabku.

Aku teringat Mas Nasrul yang belum makan, kasihan juga dia. Dua lagi untuk Mbak Niar dan suaminya, Mbak Niar pernah bilang bahwa sangat suka dengan ayam geprek buatan Tia. Itung-itung ambil hati ipar, biar aku dan anakku makin disayang, he he he ….

"Ashiap! Ditunggu ya, Mbak Dara."

"Oke." Klik! 

Di antara kedua iparku, aku paling segan dengan Mbak Nana. Mulutnya pedas kalau berucap, aku tak suka. Sedangkan Mbak Niar orangnya lemah lembut, penyayang juga. Kalau pulang tak lupa membawa aneka oleh-oleh, terutama untuk Nada. Kalau ada Mbak Niar, Ibu juga jadi seperti ratu, semua dikerjakan Mbak Niar. Nada juga diasuh oleh suaminya. Harusnya Ibu bersyukur memiliki waktu empat hari full dalam sebulan untuk beristirahat total. Lha, aku? Cuma sekali seminggu saja harus berperang selalu. Huh! Tak adil.

Sambil menunggu Tia mengantar ayam geprek, kuganti bajuku dengan daster rumahan. Daster baru yang aku beli dari Riani, menantu Hj. Jum, teman Ibu.

"Assalamu'alaikum, Mbak Dara!" Terdengar suara Tia memanggilku.

"W*'alaikumsalam, masuk Tia." Kuhampiri Tia yang menenteng empat ayam geprek. "Berapa semuanya?" tanyaku sambil membuka dompet.

"Empat puluh delapan ribu, Mbak. Free es teh empat cup," jelas Tia sumringah.

"Wiihh, keren! Nih, dua ribunya buat tambahan bensin." Kuberikan lembaran biru pada Tia, yang disambutnya dengan mata berbinar.

"Makasih, Mbak Dara. Udah cantik, pinter cari duit, baik pula," kelakar Tia.

"Bisa aja kamu, dah, balik sana. Mbak mau makan, lapeerr," ucapku dengan wajah meringis lapar.

"He he …. Selamat menikmati ya, Mbak." Tia pulang mengendarai motor dengan suara komprang.

Belum sampai aku ke dapur, terdengar deru mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Siapa, ya? Mbak Niar, kah?

Segera kulihat siapa gerangan yang datang.

"Mbak!" Aku melonjak senang melihat Mbak Niar turun dari mobil.

"Hay, Ra. Ibu mana?" Sambil berjalan cepat, ia menerobos masuk begitu saja. Heh?

"Di kamar, Mbak. Masuk aja." Telat. Mbak Niar sudah menghilang di balik pintu kamar.

"Dara. Nih, buat lauk malam ini. Maaf, ya, nggak sempet beli oleh-oleh, tadi buru-buru begitu tau Ibu sakit." Bang Roy menyerahkan kantong kresek hitam padaku, lalu menyusul istrinya ke dalam kamar Ibu.

Tak ada oleh-oleh? Huh! Padahal aku sudah siapkan ayam geprek, tapi aku tidak dibawakan apapun. Apa isi plastik ini? Kuintip perlahan. Cumi? Alamat bakalan disuruh masak, nih. Duh! Gimana, ya? Aku lagi malas masak, kecuali Mas Nasrul mengganti ponselku dengan yang baru.

Kusimpan cumi segar ke dalam freezer. Begitu hendak melangkah ke ruang tengah, Mbak Niar dan Bang Roy ke luar dari kamar Ibu.

"Masak apa, Ra? Mbak belum sempat makan, nih. Sekarang baru terasa lapar," tanya Mbak Niar sambil mengusap-ngusap perutnya.

"Nggak sempet masak, Mbak. Tapi, aku ada beli ayam geprek kesukaan Mbak, tuh!" Tunjukku pada kotak di atas meja.

"MaaSyaa Allah … Kamu tuh emang ipar idaman banget, Dara. Tau aja kesukaan Mbak. Makan bareng, yuk!" ajak Mbak Niar dengan mata berninar.

"Dara panggil Mas Nasrul dulu ya, Mbak. Kasihan, dia juga belum makan," pamitku pada suami istr iyang mulai membuka kotak ayam geprek.

"Cieee … so sweet banget, sih. Ngiri, deh," goda Mbak Niar membuatku tersipu.

Tanpa memanggil, aku menerobos masuk ke dalam kamar Ibu.

"Mas Nasrul ..." lirihku, air mata tanpa dikomando berlomba menuruni pipi mulus terawatku.

"Ra–" belum selesai Mas Nasrul berkata, langsung kuputar balik langkahku menuju kamar. Hilang sudah rasa laparku.

Brak!! Kubanting pintu kamar dengan kasar.

Tok! Tok! Tok!

"Ra, Dara!" Panggil Mas Nasrul panik.

Aku? Bungkam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   20a

    [Usia bukanlah ukuran dari kematangan jiwa. Bahkan mereka yang telah melewati banyak peristiwa dalam kehidupan ini belum tentu beranjak dewasa.Termasuk dewasa dalam menjalin hubungan cinta.Ingatlah. Jatuh cinta itu sangat mudah. Mencintai juga sangat mudah bila kamu mendefinisikan cinta sebagai kegiatan menutut:Menuntut pasanganmu untuk mengerti dirimu;Menuntut pasanganmu untuk menyesuaikan diri dengan dirimu;Menuntutnya untuk menjadi lebih baik tanpa berusaha dengan sabar mendukungnya.Jika definisi cintamu seperti itu, maka bersiap-siaplah untuk patah hati. Sebab tak seorangp un sanggup dengan cinta semacam itu.]Aku tercenung ketika selesai membaca kalimat bijak yang di tulis seseorang di laman apliksi biru-ku. Apakah cintaku ke Mas Nasrul selama ini terlalu banyak menuntut? Sehingga kali ini aku merada patah hati teramat dalam. Selama ini aku selalu igin dimengerti olehnya, oleh Ibu. Apa

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   19b

    "Gi*a kamu, ya?! Kenapa jadi balik ke Ibu lagi? Jangan ngaco. Kita punya uang untuk bayar mereka, jangan nyari perkara!" Mas Nasrul kembali dalam mode emosi, tangannya mengepal dan bergetar."Jangan lupa, uang kebun itu uangku dan Nada. Gajiku tentu juga uangku. Jadi suka-suka aku mau dipakai untuk apa. Atau kamu suruh aja Sarah ke sini. Kan, dia dulu suka caper tuh sama kamu. Suruh sini dong, bantu Ibu masak sama ngasuh Nada."Kukedipkan sebelah mataku pada Mas Nasrul yang semakin menatapku tajam. Apakah aku takut? Tidak! Hatiku terlalu sakit dengan perlakuannya yang tidak menghargai perjuanganku demi keutuhan dan kebahagian keluarga ini.Tangannya yang semula mengepal tiba-tiba terangkat tinggi ke udara hendak menamparku. Beruntung, gerakanku cukup cepat menahan laju tangannya dengan kedua tanganku."Mau nampar aku? Siap masuk penjara? Oknum sekdes bernama Muhammad Nasrul kedapatan berselingkuh, lalu menganiaya isrinya. Siap

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   19a

    Setelah seharian di rumah Mama, sore harinya aku dan Nada pulang. Tentu saja setelah kami bersih dan wangi karena sudah selesai mandi sore. Tentu juga setelah aksi mengamankan aset selesai kuurus. Selagi Nada asyik bermain besama Kakek Neneknya, tadi aku mendatangi sebuah bank syariah di kota, mengurus penyewaan safe deposit box guna menyimpan sertifikat kebun dan beberapa logam mulia yang kerap kubeli untuk persiapan masa depan.Kesejahteraan hidup Mas Nasrul ada di tanganku sekarang. Gajinya yang telah dipotong kridit mobil tentu tidak akan cukup untuk kebutuhan rumah selama sebulan, kecuali ia mendapatkan seseran seperti yang sudah-sudah. Sedangkan di sisi lain dia sedang tergila-gila pada Sarah, tentu saja itu juga membutuhkan biaya.Pak Joko, jika ia tidak menuruti perkataanku yang hanya menyerahkan uang panen kebun kepadaku, maka ia harus siap untuk kehilangan pekerjaan. Kehilangan pundi-pundi rupiah yang ia gunakan untuk menyambung hidup dan s

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   18b

    Dari spion kiri kulihat Sarah mencak-mencak mengusap air kotor yang mengenai pakaiannya. Kaca jendela yang tertutup rapat membuatku tak dapat mendengar umpatannya. Ya, tadi aku sengaja melajukan mobil lebih kencang saat melewati genangan air di dekatnya, sehingga pakaiannya kecipratan sisa hujan yang sudah terkontaminasi dengan berbagai kuman.Aku tergelak. Rasakan! Pasti Mas Nasrul adalah orang pertama yang akan ia semprot nanti. Perjalanan terus berlanjut, Nada masih terlelap. Alunan merdu dari pelantun sholawat Nabi mengalun lembut di telingaku, menemaniku."Sayang … Kok, nggak bilang kalau mau ke sini?" sambut Mama saat melihatku turun dari mobil."Biar kejutan, Ma," kekehku menyambut rangkulan Mama. Pipiku bertubi ia cium dengan gemas. Ya, seperti itulah Mamaku."Sendirian? Nasrul nggak ikut?" tanya Mama dengan kepala celingukan mencari keberadaan laki-laki yang sedang konslet hatinya itu."Sama Nada, Ma. Tuh, masih tidur,"

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   18a

    Kumandang adzan subuh terdengar dari toa masjid. Kedua bola mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan temaramnya cahaya di dalam kamar. Saat kupalingkan muka ke samping, tidak terdapat Mas Nasrul di sisi Nada. Ke mana dia? Apa sudah bangun lebih dulu?Kususun bantal di tepi ranjang memnyerupai pagar agar Nada tidak jatuh jika ia bergeser, kemudian menguncir rambutku yang kusut masai bekas tidur semalam. Setelah badan terasa enakan, aku beranjak keluar kamar.Begitu ke luar kamar kulihat ruang sholat nampak masih gelap. Artinya Mas Nasrul belum bangun, pun dengan Ibu. Aku sholat duluan saja, nanti baru kucari Mas Nasrul dan Ibu.Cepat kubawa kakiku menuju kamar mandi, mengambil wudhu, lalu sholat di ruangan khusus samping kamar Ibu. Mama pernah mengatakan, salah satu godaan terberat dalam waktu sholat adalah waktu subuh. Di mana setan membujuk kita untuk kembali tidur meski telah sempat terjaga.Tok! Tok! Tok!Kuketuk pintu kamar I

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   17b

    Mendengar itu aku bergegas merebahkan diri, memeluk guling dan beralih menghadap tembok. Apa yang ingin Ibu bicarakan? Jika mengenai hal tadi, mengapa takut aku mendengar?Ceklek! Pintu kamar dibuka, tak lama kemudian ranjang sedikit bergoyang. Mataku yang pura-pura tidur kupejamkan senatural mungkin, jangan sampai ketahuan jika aku berbohong.Ceklek! Kembali pintu tertutup. Aku tidak langsung bangkit, masih kuteruskan kepura-puraanku. Benar saja, tak lama kemudian pintu kembali menimbulkan suara.Aku yakin, tadi itu Mas Nasrul hanya berpura-pura ke luar kamar. Ia ingin menjebak kebohonganku. Fiuh! Tidak sia-sia sesekali ikut Ibu nonton sinetron, dari keteledoran pemerannya aku belajar hal ini.Telingaku kembali melebar setelah Mas Nasrul benar-benar pergi, tak ada suara apapun sampai kemudian suara pintu ruang kerja Mas Nasrul terbuka lalu tertutup kembali. Oke, mereka berbicara di ruang kerja rupanya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status