Compartilhar

4. Sarah Ternyata ...

Autor: Emya
last update Data de publicação: 2022-06-24 12:02:59

Aku yang tengah memacu motor dengan kecepatan cukup tinggi, mau tidak mau menarik pedal rem secara penuh ketika sebuah mobil menghantam keras seekor kambing yang tiba-tiba melintas di sampingku. Hal itu tentu membuat motor yang kukendarai berhenti secara tiba-tiba, ban motor bagian belakang bergesekan dengan bebatuan hingga menghasilkan debu dan kerikil yang beterbangan. Karena kaget, keseimbanganku menjadi oleng, akhirnya aku jatuh bersamaan dengan motor. Lalu, semuanya gelap.

"Dara. Sayang, bangun." Samar kudengar suara Mas Nasrul memanggilku dengan cemas, menepuk-nepuk pelan pipi kananku.

Perlahan kubuka kedua mataku, menyipit silau akan sinar yang masuk dari jendela.

"Mas …."

"Alhamdulillah … Kamu udah siuman, Sayang. Ada yang sakit? Pusing?" Mas Nasrul membelai rambutku dengan sayang, lalu mengecup keningku.

"Nggak ada, Mas. Tadi aku kaget, terus lemes. Ini kita di mana?" Kupandangi sekeliling ruangan tempatku berada, bukan di kantor pun di kamar kami.

"Di praktik bidan Sarah. Tadi kami semua panik, jadi mencari tempat terdekat dari kantor," jawab Mas Nasrul pelan.

"Ooh. Ya udah, kita pulang, yuk. Males aku lama-lama di sini, ntar dia cari-cari kesempatan godain Mas." Aku segera duduk dan bersiap menuruni ranjang untuk pulang.

"Sabar, Ra. Kamu baru siuman, belum stabil," ujar Mas Nasrul menahan bahuku.

"Nggak, ah! Kelamaan di sini emosiku yang nggak stabil, Mas. Lho, sepatuku mana, Mas?" Kuedar pandanganku ke penjuru ruangan, tak juga kutemukan.

"Nggak tau. Mas nggak merhatiin, begitu sampai tadi kamu sudah dibawa ke ruangan kantor. Jadi, Mas nggak ngurusin sepatu kamu." 

"Aduh, Mas, itu sepatu baru aku. Aku belinya di officialshop langsung, original itu, Mas." Aku nelangsa membayangkan sepatuku yang hilang.

"Udah, udah … Nanti kamu tanya temen-temen kantormu, ya. Barangkali disimpan sama mereka." Mas Nasrul memelukku.

"Kalau hape jerukku, Mas? Tadi aku masukkan ke dalam jok motor," tanyaku mendongakkan kepala menatap Mas Nasrul.

"Aman. Motormu aman, artinya hapemu juga aman. Kan, masih dalam kotaknya."

"Syukurlah …."

Tak ingin berlama-lama, kami segera pulang. Sengaja aku bersikap manja di hadapan Sarah, biar dia tahu bahwa dirinya tak punya kesempatan sedikitpun. Huh!

Sesampainya di rumah, Ibu tergopoh-gopoh menyambutku, disusul Mbak Nira yang tengah menggendong Nada. Ibu ini, sudahlah pekerjaan rumah diurus Mbak Nira, Nada juga diasuh sama Mbak Nira. Nggak becus banget jadi Uti.

"Nduk ... Ya Allah, kamu nggak apa-apa? Ayo masuk. Rul, ayok tuntun Dara ke kamar. Ganti bajunya dengan baju longgar biar nggak gerah." Ibu menggeser tubuhnya dari depan pintu, mengiringi kami memasuki rumah.

Rupanya Mas Nasrul sudah mengabari Ibu perihal kecelakaan yang menimpaku. Baguslah, dengan begitu Ibu tak punya alasan untuk tidak mengasuh Nada jika aku di rumah seperti ini. Untuk beberapa hari ke depan, pastilah aku disuruh istirahat kerja dulu.

Mas Nasrul membantuku mengganti baju dinas dengan daster, lalu menyiapkan tempat peraduan. Setelah memastikan aku berbaring dengan nyaman, ia ke luar kamar dan tak lama kemudian kembali dengan secangkir teh melati kesukaanku.

Romantis, ya, suamiku? Iyalah, siapa dulu istrinya. Dara Tunggadewi.

"Mas tinggal ke kantor dulu, ya? Ada rapat desa seperempat jam lagi. Nggak apa-apa, kan?" Mas Nasrul mengelus-ngelus punggung tanganku.

"Iya nggak apa-apa, Mas. Kan, ada Ibu sama Mbak Nira, kalau ada apa-apa aku minta tolong mereka aja." Kulepas dengan ikhlas kepergian Mas Nasrul untuk bekerja, demi reputasi dan cuan yang akan mengalir jika ia loyal dalam tugasnya.

"Oke. Nanti motor dan barang-barangmu biar dianter Doni. Kebetulan nanti dia bakal ada urusan ke kantor camat." Doni adalah sepupunya yang merupakan seorang ketua RT. 

"Iya, Mas. Tapi, jangan terlalu siang, ya. Aku mau setting hapenya," ujarku.

"Iya …."

Setelah Mas Nasrul pergi, Ibu datang ke kamar, tanpa Nada.

"Nduk-"

"Nada mana, Bu? Kok, nggak sama Ibu?" 

"Dibawa Mbakmu main ke tetangga, biar nggak bosen katanya," jawab Ibu sambil menata buah di atas meja rias. "Mau buah, Nduk?" tawar Ibu.

"Mau mangga, Bu," tunjukku pada buah mangga hijau montok dan wangi.

"Lain kali hati-hati ya, Nduk. Di sini memang masih banyak kambing yang dibiarkan bebas mencari makan oleh pemiliknya." Sambil mengupas mangga, Ibu menasihatiku.

"Iya, tadi itu Dara cepet-cepet karena takut kesiangan. Hmm … Bu, Sarah itu … keliatannya deket banget sama Ibu. Dia siapanya kita, Bu?" Kutatap wajah Ibu yang tiba-tiba berubah tak nyaman.

"Bu?" Kusentuh tangan Ibu. Orang nanya, kok, dicuekin, sih. Sebel.

"Hah? Sarah, ya? Dia itu … Temen anak-anak Ibu, jadi dari dulu sudah biasa main ke sini," jelasnya dengan sedikit gugup.

"Termasuk teman Mas Nasrul?" tanyaku memastikan.

"Ini, makan mangganya biar seger. Ibu mau liat Nada dulu, takutnya dia nangis." Ibu mengalihkan pembicaraan dan hendak pergi.

"Ibu!" Panggilanku menghentikan langkah kakinya. "Aku merasa Ibu menyembunyikan sesuatu tentang Sarah. Apa kejadian di kamar Ibu kemarin benar-benar suatu kebetulan? Kenapa Ibu mendiamkan kejadian itu? Kenapa Ibu tidak berusaha menjelaskan ke Dara soal kesalahpahaman itu?" Aku mencecar Ibu dengan pertanyaan yang dari kemarin menggangu pikiranku.

Ibu menghela napas, lalu kembali duduk di sisi ranjangku.

"Itu salah paham. Ibu tidak perlu menjelaskan karena Nasrul pasti bisa mengatasinya. Kamu jangan berpikir macam-macam." Ibu menepuk-nepuk lututku.

"Lalu Sarah? Siapa dia, Bu? Aku bisa merasakan kalau Ibu menyayanginya lebih dari aku. Hanya sekedar masuk angin saja Ibu memanggil Sarah, padahal ada aku di rumah ini." Kutatap tajam mata Ibu, dia mengalihkannya dengan membenahi letak pisau di atas piring buah.

"Sarah sudah seperti anak bagi Ibu, itulah kenapa Ibu tak pernah singkul meminta bantuannya. Kamu lelah bekerja setiap hari, Ibu tidak mau merepotkanmu." Pandangan Ibu menerawang jauh, melewati jendela kamar yang terbuka.

"Kalau Ibu bilang, Dara bisa bantu," jawabku cepat.

"Bahkan mengurusi Nada saja kamu tidak sempat, Nduk. Bagaimana tega Ibu merepotkanmu." Ibu beralih menatapku.

"Ibu keberatan dimintai mengasuh Nada? Cucu semata wayang Ibu," sengitku tak suka disinggung.

"Bukan begitu maksud Ibu, Nduk-"

"Sudah lah, Bu. Semakin ke sini, Dara perhatikan Ibu semakin tidak ikhlas mengasuh Nada. Begitu Dara mulai kerja, Nada biar Dara bawa saja. Daripada diam-diam Ibu minta tolong Sarah menjaga Nada di sini. Dara tahu semuanya, Ibu berusaha mendekatkan Nada dengan Sarah, ya?" Aku menggertak Ibu. Aku tahu Ibu tidak akan mengizinkannya.

"Jangan, Nduk. Ibu hanya sesekali meminta bantuan Sarah, itu pun kalau Ibu lagi tidak enak badan. Jangan bawa Nada kerja, ya. Kasihan." Tuh, kan! Benar dugaanku.

"Oke. Tapi Ibu jujur sama Dara. Kenapa Ibu bisa sangat dekat dengan Sarah. Dara nggak suka, Bu." 

"Sarah itu … Sarah itu dulu pacar Nasrul. Mereka pacaran cukup lama, dulu Ibu sempat meminta Nasrul melamarnya. Karena Nasrul belum punya pekerjaan yang layak, Nasrul merantau. Tak ada yang menduga kalau diperantauan Nasrul justru bertemu kamu, Nduk. Sarah yang sudah terlanjur dekat dengan Ibu tak pernah mempermasalahkan itu, ia tetap baik dan perhatian pada Ibu. Baginya jodoh itu mutlak urusan Allah. Kamu jangan salah paham ya, Nduk, Sarah begitu karena sudah menganggap Ibu layaknya orangtua. Terlebih dia sudah tak memiliki Ibu sejak lama." Ibu menggenggam tanganku erat saat bercerita, matanya basah. Menyesalkan ia tak jadi memiliki Sarah sebagai menantu?

Kubuang mukaku dari pandangan Ibu, genggamannya semakin erat terasa di tanganku. 

"Itu juga salah satu alasan kenapa Ibu sempat tak merestui kami kan, Bu?" tanyaku tanpa menoleh.

"Nduk, sudah, ya. Semua sudah berlalu. Nyatanya menantu Ibu itu kamu, bukan Sarah. Yang dicintai Nasrul itu kamu, bukan lagi Sarah. Sudah, Ibu mau ke kamar mandi dulu. Mangganya dihabiskan." Tanpa menunggu jawabanku, Ibu berlalu.

Bu, aku tahu Ibu masih belum move on dari Sarah. Aku bisa merasakan itu, Bu. Hatiku sakit. Dari awal pernikahan aku selalu berusaha mengambil hati Ibu, tetapi semakin aku berusaha, Ibu terasa semakin jauh. Ibu tidak jahat, tapi juga tak begitu menampakkan sayang. Ibu memperlakukan aku dengan baik karena aku istri anaknya, bukan karena menyayangiku layaknya dengan anak. Kedekatan Ibu dan Sarah pelan tapi pasti memupuk rasa tak sukaku pada Ibu. Jangan salahkan aku, Bu. 

Masih kuingat dengan jelas kejadian sebulan yang lalu. Saat itu hari minggu, Ibu sedang tak enak badan. Ibu meminta Mas Nasrul menelepon Sarah agar datang ke rumah, kupikir Ibu minta disuntik atau diresepkan obat. Ternyata kedatangan Sarah hanya untuk mengerok Ibu, padahal ada aku di rumah, menantunya. Kenapa Ibu tidak meminta bantuanku? Dari sana aku semakin menyadari, Ibu telah menbangun dinding di antara kami, dinding yang sulit untuk aku robohkan karena adanya Sarah yang ikut menahannya.

Kukunyah mangga madu kupasan Ibu, tak kusadari cairan bening turut mengalir hingga terasa asin di lidahku. Belumlah sampai pada potongan kedua, terdengar tangisan kencang Nada dari arah luar. Gegas aku berlari, dari tangisannya sepertinya Nada tengah kesakitan.

Sesampainya di luar, aku berlari ke arah sumber suara di samping rumah. Lariku terhenti demi melihat siapa yang ada bersama Nada.

"Ibu!" Teriakku memanggil Ibu yang masih berada di dalam rumah.

Ini semua gara-gara Ibu, kenapa pula mempercayakan Nada pada orang selain dirinya.

Dengan berlari pelan Ibu datang,

"Ya Allah …"

Hanya kalimat itu yang mampu aku dengar. Selanjutnya aku tak tahu, karena fokusku ada pada Nada yang semakin meraung kala melihatku dan Utinya datang.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   38b

    “Madumu, Sarah.” Hilma merebahkan punggungnya pada ranjangku, kakinya yang masih tergantung bergoyang-goyang. “Mati kutu,” jawabku terkekeh. “Sudah kuduga, dia pasti nggak nyangka,” balas Hilma menatap lurus langit-langit kamar. “Pasti. Harusnya kamu datang lebih cepat, biar bisa nyaksiin gimana pucatnya muka dia.” Hilma terkakak, ia bangkit dari berbaring, lalu duduk. “Aku nggak nyangka Kakak sekuat ini, sumpah!” “Kita nggak pernah tahu kalau kita kuat, Hil, sebelum kita melewatinya. Setelah semua selesai, barulah kita sadari bahwa kita itu hebat.” Mataku mengecil seiring bibir yang kutarik tersenyum. Hilma mengangguk. “Kakak benar. Eh, itu tenda di luar buat apa?” “Syukuran tujuh bulanan Sarah,” jawabku datar. “Gi*a! Mereka nggak ngerasa malu apa sama orang-oang? Ampun, deh!” gerutu Hilma masam. “Ibu yang mau. Mas Nasrul bisa apa? Apalagi Kakak. Pa

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   38a

    Matahari kian merangkak naik ketika Hilma mengabari bahwa rombongannya sudah sampai di perbatasan desa. Tanpa memperdulikan panasnya ubun-ubun karena sengatan panas yang mendekati tegak lurus, kupacu motorku dengan cepat guna menjemput mereka. Bisa saja aku mengarahkan mereka hingga rumah, tapi kurasa mereka pasti akan lebih senang jika aku sendiri yang langsung menjemput.Dari jauh kulihat sebuah mini bus berhenti tepat di tugu batas, mereka nampak duduk selonjoran di bawah pohon mangga milik warga yang terletak di sisi jalan.“Kak Dara ...!” pekik Hilma kala melihatku semakin dekat.Aku tertawa melihat tingkahnya, dia memang tidak pernah berubah, selalu manja jika denganku. Kuputar kunci motor, mematikan deru mesinnya.“Lama, ya? Maaf tadi cari-cari kunci dulu.” Aku turun dari motor, menyambut uluran tangan Hilma yang sudah berjingkrak kecil sedari melihatku.“Nggak, kok. Kak, kenalin temen-temanku. Kami semua tinggal dalam satu komplek

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   37

    punya Allah. Lebih kuat dari kalian semua. Aku bertahan agar kamu nggak akan pernah bisa menang ngelawan aku. Selamanya kamu hanya akan menjadi istri di mata agama, bukan istri sah secara negara. Kalaupun anak itu memang berasal dari benih Mas Nasrul, hingga menua ia tak akan diakui administrasi sebagai anak Mas Nasrul, ia hanya akan jadi anakmu saja selamanya. Pun jika janin itu kelak ternyata bukan milik Mas Nasrul, aku masih setia untuk menyaksikan kehancuran kamu karena didepak untuk kedua kalinya dari hidup suamiku yang kamu paksa menjadi suamimu. Itu kayaknya sudah cukup untuk membuat hidupmu tak lagi sempurna, dan aku akan sangat bahagia.” “Bren**ek! Ternyata kamu masih belum mau menyerah, kamu akan semakin sakit hati nanti kalau Nasrul benar-benar berhasil aku taklukkan lagi.” Tulang selangkanya yang kecil itu kini semakin terlihat kala seluruh urat dan ototnya menegang menahan amarah. “Silahkan saja, aku sudah nggak perduli. Aku di sini hanya i

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   36b

    Waktu yang terus bergulir membawa hari berganti dan berlalu dengan cepat. Tak terasa kehamilan Sarah sudah menginjak usia tujuh bulan, dan lusa kudengar Ibu ngotot ingin melakukan acara syukuran untuk itu. Selama itu pula hubunganku dengan Mas Nasrul semakin terasa renggang, hambar. Kali ini harus kuakui jika aku bertahan karena Nada. Akhir-akhir ini Nada sangat dekat dengan Papanya, sehingga setiap kali ingin tidur ia mecari sang Papa. Semakin membuatku muak ketika Sarah kerap mengajari Nada memanggil adik pada janin yang ada dalam kandungannya. Aku bisa apa? Tak ada, hanya membiarkan saja. Toh, Papa dan Utinya nampak sangat bahagia. Kini, Mas Nasrul mulai bisa menerima Sarah, sepertinya. Sakit? Jangan ditanya. Sering kali air mataku bercucuran tiada henti saat pikiranku fokus pada mereka, terlebih jika Mas Nasrul mengikuti kemauan Sarah untuk tidur di rumah belakang."Ra, Mbak mau ngomong," ajak Mbak Nira sembari mengelus perutnya yang tinggal menunggu hari kelahiran.

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   36a

    Setelah peristiwa sore itu, ada yang berbeda dengan hatiku. Sulit untuk kujelaskan, yang pasti aku mulai merasa masa bodoh dengan kehidupan Mas Nasrul dan Sarah. Mas Nasrul kembali berusaha keras merayuku, tapi percuma. Desir di dalam sini dak lagi seperti kemarin-kemarin, aku mulai lelah. Benar apa kata Mama, cepat atau lambat aku akan mengalami sakit yang terlambat untuk kusesali.Semakin hari Sarah semakin berani, ia menggunakan kehamilannya untuk menjerat Mas Nasrul dalam menuruti kemauannya, dipaksa Ibu tentunya. Kenapa aku berkata seperti itu? Karena kerap kudengar penolakan Mas Nasrul namun Ibu selalu berhasil memaksanya. Ah, mertua seperti apa itu? Baiklah, sebaiknya sekarang jalani hidup sendiri-sendiri. Aku dan duniaku, mereka pun begitu."Sayang, cuminya, kok, di masak pedes, sih? Kan, Mas nggak suka." Pagi ini Mas Nasrul kembali protes terhadap makanan yang kumasak."Tapi aku suka, Mas," jawabku singkat.Mas Nasrul mengacak rambutnya,

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   35b

    “Putar kamera kamu ke semua yang ada di situ. Semuanya, jangan ada yagn kamu tutup-tutupi.” Astaghfirullahaladzim ... aku hanya mampu beristighfar dalam hati. Kuturuti maunya dengan mulut terkatup rapat. Aku marah, dan kembali menahannya mengingat sedang di tempat ramai. “Bungkusin tiga buat aku, Ibu, dan Sarah,” titahnya. What? Enak saja! “Untuk Mas dan Ibu oke, nggak untuk Sarah,” jawabku ketus. “Ra, Sarah ngidam. Ayolah.” “Dia ngidam anak kamu, maka kamu yang harus nyari. Berbeda kalau itu anak aku, baru aku yang beliin.” Usai membalasnya dnegan sengit, kumatikan telepon. Mas Nasrul benar-benar menjengkelkan sekali. Apakah dia ingin berusaha membuatku cemburu dengan memberi perhatian pada Sarah? Kamu salah orang, Mas. “Nasrul saraf apa, ya? Heran.” Shinta mengaduk es teh pesanannya. “Tahu, ah! Pusing aku. Lagian, kenapa pula dia jadi cemburuan banget sekarang. Dulu nggak gitu. Kalau tahu gini aku nyesel maafin dia. Beneran.” “Hhsstt ... nggak boleh ngomong gitu,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status