Share

17a

Author: Emya
last update Huling Na-update: 2026-01-01 08:00:34

"Kamu kenapa, Nduk? Kok, seperti orang gelisah terus?" tanya Ibu yang melihatku bolak-balik mengganti saluran televisi.

Nafasku berhembus kasar. Apa sebaiknya kuceritakan saja pada Ibu, ya? Bukankah Mas Nasrul itu sangat menyayangi Ibu. Mudah-mudahan Mas Nasrul mau mendengarkan jika Ibu yang menasihati.

"Hmm, Bu, menurut Ibu mungkin nggak kalau Mas Nasrul menduakan Dara?" Kupalingkan tatapaku pada Ibu yang seketika terhenyak.

"Kenapa nanya gitu, Nduk? Menurut Ibu nggak mungkin, lha wong dari awal saja Nasrul kadung cinta mati sama kamu." Ibu terkekeh setelah menjawab pertanyaannku.

Ibu benar, dari awal Mas Nasrul memang sangat bucin padaku. Aku pun dapat merasakan itu. Makanya hatiku benar-benar merasa sakit mendapati kenyataan yang dia lakukan kemarin. Hal apa yang membuat Mas Nasrul berubah? Bukankah semua sudah kuubah sesuai maunya?

"Tapi, Bu … Mas Nasrul memang punya perempuan lain," lirihku.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   18a

    Kumandang adzan subuh terdengar dari toa masjid. Kedua bola mataku mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan temaramnya cahaya di dalam kamar. Saat kupalingkan muka ke samping, tidak terdapat Mas Nasrul di sisi Nada. Ke mana dia? Apa sudah bangun lebih dulu?Kususun bantal di tepi ranjang memnyerupai pagar agar Nada tidak jatuh jika ia bergeser, kemudian menguncir rambutku yang kusut masai bekas tidur semalam. Setelah badan terasa enakan, aku beranjak keluar kamar.Begitu ke luar kamar kulihat ruang sholat nampak masih gelap. Artinya Mas Nasrul belum bangun, pun dengan Ibu. Aku sholat duluan saja, nanti baru kucari Mas Nasrul dan Ibu.Cepat kubawa kakiku menuju kamar mandi, mengambil wudhu, lalu sholat di ruangan khusus samping kamar Ibu. Mama pernah mengatakan, salah satu godaan terberat dalam waktu sholat adalah waktu subuh. Di mana setan membujuk kita untuk kembali tidur meski telah sempat terjaga.Tok! Tok! Tok!Kuketuk pintu kamar I

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   17b

    Mendengar itu aku bergegas merebahkan diri, memeluk guling dan beralih menghadap tembok. Apa yang ingin Ibu bicarakan? Jika mengenai hal tadi, mengapa takut aku mendengar?Ceklek! Pintu kamar dibuka, tak lama kemudian ranjang sedikit bergoyang. Mataku yang pura-pura tidur kupejamkan senatural mungkin, jangan sampai ketahuan jika aku berbohong.Ceklek! Kembali pintu tertutup. Aku tidak langsung bangkit, masih kuteruskan kepura-puraanku. Benar saja, tak lama kemudian pintu kembali menimbulkan suara.Aku yakin, tadi itu Mas Nasrul hanya berpura-pura ke luar kamar. Ia ingin menjebak kebohonganku. Fiuh! Tidak sia-sia sesekali ikut Ibu nonton sinetron, dari keteledoran pemerannya aku belajar hal ini.Telingaku kembali melebar setelah Mas Nasrul benar-benar pergi, tak ada suara apapun sampai kemudian suara pintu ruang kerja Mas Nasrul terbuka lalu tertutup kembali. Oke, mereka berbicara di ruang kerja rupanya.

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   17a

    "Kamu kenapa, Nduk? Kok, seperti orang gelisah terus?" tanya Ibu yang melihatku bolak-balik mengganti saluran televisi.Nafasku berhembus kasar. Apa sebaiknya kuceritakan saja pada Ibu, ya? Bukankah Mas Nasrul itu sangat menyayangi Ibu. Mudah-mudahan Mas Nasrul mau mendengarkan jika Ibu yang menasihati."Hmm, Bu, menurut Ibu mungkin nggak kalau Mas Nasrul menduakan Dara?" Kupalingkan tatapaku pada Ibu yang seketika terhenyak."Kenapa nanya gitu, Nduk? Menurut Ibu nggak mungkin, lha wong dari awal saja Nasrul kadung cinta mati sama kamu." Ibu terkekeh setelah menjawab pertanyaannku.Ibu benar, dari awal Mas Nasrul memang sangat bucin padaku. Aku pun dapat merasakan itu. Makanya hatiku benar-benar merasa sakit mendapati kenyataan yang dia lakukan kemarin. Hal apa yang membuat Mas Nasrul berubah? Bukankah semua sudah kuubah sesuai maunya? "Tapi, Bu … Mas Nasrul memang punya perempuan lain," lirihku.

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   16b

    Mas Nasrul. Itu Mas Nasrul, suamiku. Aku yakin. Siapa perempuan yang berani memposting foto suami orang lain?Irama yang berdetak di dalam dadaku tak lagi sama. Aliran darah di tubuhku terasa mengalir cepat keseluruh tubuh. Inginku berpikiran positif bahwa itu bukan suamiku, tapi sisi lain hatiku sangat meyakini itu memang dia. Mas Nasrulku.Bulir bening perlahan menetes di pipi, terasa hangat. Berbanding terbalik dengan bulir dari es yang menempel di dinding gelas tadi yang dingin. Sekali lagi kubaca caption yang tertera di atas foto.[Thanks love 💕 sudah meluangkan waktunya untuk makan siang denganku]Apa ini ada hubungannya dengan teleponku yang diriject? Kugigit bibir bawahku dengan kuat, menahan isak yang mulai menguat.Jangan main-main denganku, Mas! Jangan bangunkan singa yang sedang tidur. Aku sudah menuruti semua keinginanmu akan sikapku. Mengistirahatkan Ibu dari aktivitas rumah dan mengasuh Nada, yang

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   16a

    Ujian dalam hidup dapat menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Tak perduli ia kaya atau miskin, baik atau jahat, yang jelas setiap yang bernyawa akan mengalami ujian selagi maut belum menjeputnya.Ada banyak jenis ujian, kemiskinan, harta berlimpah, sakit-sakitan, keluarga tidak harmonis, dan kehilangan. Saat ini aku sedang berada di fase kehilangan. Ya, kehilangan.Setelah melalui serangkaian tes darah sebanyak dua kali guna memastikan kondisi kehamilanku, kini aku sudah berada dititik ikhlas. Seperti dugaan awalku begitu Dr. Rini berucap bahwa janinku telah hilang, maka hasil terakhir pun sama, calon anakku memang sudah tidak ada. Rahimku bersih, Nada urung menjadi Kakak. Aku tidak ingin mencari lebih detail penyebabnya, bagiku ini sudah suratan dari Allah. Matahari merangkak semakin tinggi meninggalkan bunga pukul delapan yang perlahan kembali kuncup. Teriknya mentari membuat orang-orang malas meninggalkan rumah jika bukan karena urusan penting. Untung saja rumah Ibu hawanya adem

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   15b

    Dokter tidak menemukan penyakit apa-apa dalam diriku. Bahkan anak yang kukandung dalam keadaan baik-baik saja meski pendarahan hebat menimpaku. Penglihatanku sudah kembali normal, hanya untuk mendengar aku belum bisa, juga berbicara.Suaraku hilang. Benar-benar hilang. Untuk berkomunikasi aku menggunakan buku, menuangkan pikiranku dalam bentuk tulisan. Jika jawaban lawan bicaraku pendek, cukup menterjemah dari gerakan bibirnya, jika itu panjang kuminta mereka menuliskan maksudnya pada buku yang selalu kubawa.Keluargaku? Mereka hampir setiap hari datang, terkadang menginap. Terutama Mama. Tak perlu kuceritakan bagaimana hebohnya Mama saat mengetahui keadaanku. Hati orangtua mana yang tak hancur, mendapati anak perempuan satu-satunya sekarat dan berada di antara hidup atau mati. Setelah bisa pulang pun, justru tak mampu berkomunikasi dengan baik.Sekembalinya dari rumah sakit, aku menunjuk Bik Wati sebagai pengasuh Dara, juga tetangganya yang bernama Bik Marni untuk membantu segala ur

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status