Share

Bab 31

Penulis: Addarayuli
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 19:05:49

"Kamu tidak perlu ke rumah sakit, fokus saja dengan ujianmu."

Maya membaca pesan singkat dari kakaknya ketika dia menyanyakan keadaan ibunya, dia menghela nafas pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke halte bus.

"Apa kakak di rumah sakit bersama tuan Adrian?"

Kedua bahu Maya melemah, dia menatap jalanan di depannya yang cukup ramai. Terhitung sudah satu minggu dia tak datang ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya selama dia ujian, dia rindu dan khawatir dengan kondisi ibunya.

Pikiran Maya berkecam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 105

    "Hahhh.."Di atas tempat tidur, Nozela duduk memeluk lutut, matanya tak lepas dari layar ponsel yang menyala redup.Di sana, tertera sebuah nomor baru tanpa nama.Pikiran Nozela berkecamuk. Sejak siang tadi, setelah nomor asing itu mengirimkan sebuah pesan singkat yang misterius, ponselnya mendadak sunyi. Tidak ada pesan susulan, tidak ada penjelasan. Gantung. Dan hal itulah yang justru membuat dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran sekaligus was-was.Nozela menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke head board. Ia mulai berbicara pada dirinya sendiri, menyuarakan kebingungan yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya."Nggak mungkin..." bisiknya lirih pada keheningan kamar."Aku tidak pernah sembarangan memberi nomor pribadi ini ke siapa pun. Bahkan untuk urusan kantor atau belanja online pun aku pakai nomor khusus kantor. Siapa yang bisa tahu nomor ini?"Ia mengingat-ingat setiap orang yang ia temui dalam beberapa bulan terakhir, mencoba mencari celah di mana ia mungk

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 104

    "Adrian, kenapa kamu mengumpulkan semua orang?" tanya Oma Rosa.Suasana di ruang tamu kediaman utama keluarga Lysander yang biasanya hangat, malam itu mendadak mencekam. Seluruh anggota keluarga berkumpul, namun tak ada satu pun suara yang berani memecah keheningan. Di tengah ruangan, Adrian duduk dengan tenang. Tatapannya lurus, tajam, dan sedingin es, tertuju tepat pada satu orang, Nora, kakak kandungnya.Nora yang ditatap seperti itu mencoba tetap tenang, meski jemarinya yang saling bertautan tak bisa menyembunyikan kegelisahan."Evan," panggil Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengintimidasi."Berikan buktinya."Evan, asisten pribadi Adrian yang setia, melangkah maju dengan wajah tanpa ekspresi. Ia meletakkan sebuah tablet di atas meja kaca, tepat di hadapan Oma Rosa. Evan menekan tombol play pada sebuah file rekaman video."Ini adalah rekaman CCTV dari dapur belakang, tepat tiga hari yang lalu, beberapa jam sebelum Tuan Adrian dilarikan ke UGD," ujar Evan tenang.

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 103

    Gemercik air terdengar nyaring begitu Adrian memutar kran shower di dalam kamar mandi. Tanpa menunggu lama, semburan air dingin langsung mengguyur tubuh Meysa, membasahinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Meysa tersentak kecil, memejamkan mata rapat-rapat saat air mulai mengalir deras membasahi wajah dan pakaiannya.Adrian melangkah mendekat. Dengan gerakan tenang namun pasti, ia menggulung lengan kemeja putihnya ke atas hingga sebatas siku, mengekspos lengan bawahnya yang kokoh. Matanya menatap lekat sisa-sisa tanah yang masih menempel di sela-sela rambut dan lengan Meysa."Adrian, stop. Aku bisa sendiri," ujar Meysa setengah memprotes. Suaranya sedikit bergetar karena dinginnya air, tangannya terangkat mencoba meraih botol sampo secara mandiri.Namun, Adrian mengabaikan penolakan itu. Ia justru melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka di bawah guyuran air. Kedua tangan Adrian bergerak lembut namun tegas, mulai menyisir sela-sela rambut Meysa, membantu meluruhkan gu

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 102

    Brak!Sebuah map berkas tebal terlempar kasar, menghantam permukaan meja kaca hingga menimbulkan suara benturan yang memekakkan telinga. Beberapa lembar kertas di dalamnya bahkan sampai sedikit mencuat keluar.Di seberang meja, seorang pria muda tampak bergeming. Ia masih duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya ke sofa kulit. Jemarinya dengan tenang menjepit sebatang rokok yang asapnya mengepul tipis, mengaburkan pandangan di antara mereka berdua. Ia menyesap rokok itu sekali lagi, lalu mengembuskannya perlahan, seolah ketegangan di ruangan itu sama sekali tak memengaruhinya.Pria paruh baya yang berdiri di depan meja menatapnya dengan pandangan yang begitu tajam. Napasnya memburu, dan kilat amarah yang tertahan jelas terpancar dari kedua matanya. Pria muda di hadapannya ini bukanlah orang asing dia adalah putranya sendiri."Jika bukan karena koneksi yang papa miliki, kamu tidak akan semudah itu keluar," suara pria paruh baya itu terdengar berat dan penuh penekanan, menah

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 101

    Matahari siang itu bersinar terik, namun sama sekali tidak mengurangi binar kebahagiaan di wajah Adrian. Langkah kakinya keluar dari gedung pertemuan terasa begitu ringan. Kerja kerasnya berhari-hari di luar kota akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.Adrian tidak hanya berhasil menyelesaikan proyek besarnya, tetapi ia juga sukses memikat hati seorang investor asing papan atas. Sang investor sangat terkesan dengan dedikasi dan visi Adrian, hingga tanpa ragu sepakat untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Sebuah pencapaian besar yang akan membawa perusahaannya ke level berikutnya."Terima kasih atas kepercayaan anda Tuan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.""Terima kasih juga kembali untuk perusahaan Lysander."Adrian dan investor asing itu saling berjabat tangan, Adrian senang bukan main karena bisa kembali menjalin kerja sama dengan perusahaan asing.Tepat setelah rapat selesai, Adrian dan Evan memutuskan untuk kembali ke hotel."Segera pesankan tiket untuk pulang, saya

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 100

    Langkah kaki seseorang terdengar konstan di atas lantai keramik putih gedung polres yang sibuk siang itu. Pria itu berjalan dengan postur tegak, dibalut kemeja flanel berpotongan rapi yang disetrika kaku dan celana kain gelap. Tidak ada keraguan dalam geraknya. Tatapan matanya datar, lurus mengunci ke depan, mengabaikan lalu-lalang petugas berseragam dan aroma kopi instan yang bercampur dengan bau kertas arsip.Di sebelahnya, seorang pria paruh baya dengan setelan jas necis dan tas jinjing kulit berlogo firma hukum melangkah dengan tergesa, sesekali menyesuaikan letak kacamatanya. Dialah sang kuasa hukum, yang sejak tadi tampak lebih gelisah ketimbang kliennya sendiri.Mereka melewati lorong demi lorong hingga tiba di area khusus, ruang kunjungan tahanan. Setelah menyelesaikan administrasi dan pemeriksaan barang bawaan di meja piket, seorang petugas mengantarkan mereka ke sebuah ruangan berpagar besi dengan beberapa meja sekat di dalamnya.Pria itu menarik kursi besi secara perlahan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status