Teilen

Bab 4

last update Veröffentlichungsdatum: 03.05.2026 21:59:23

“Apa yang kamu katakan, Adrian?” seru Nora tak terima.

Adrian tersenyum smirk, genggaman tangan besar itu tak pernah lepas dari pergelangan tangan Meysa dan justru semakin mengerat membuat Meysa bisa merasakan emosi putra kedua keluarga Lysander itu.

“Bukankah ini yang kalian inginkan, aku harus segera menikah dan memberikan keturunan untuk keluarga Lysander? Maka hari ini juga, aku akan kabulkan keinginan kalian!”

“Oma, lihat apa yang Adrian lakukan,” seru Nora.

Rosa menatap Adrian kemudian tatapannya beralih ke tangan cucunya yang menggenggam erat tangan pengasuhnya, dia kemudian tersenyum. Namun, senyum itu justru membuat Nora semakin marah, dia tahu arti dari senyuman yang neneknya berikan.

“Oma, jangan bilang Oma….”

“Baiklah, Oma setuju.”

Jawaban Oma Rosa membuat Nora melebarkan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan keputusan neneknya.

“Tidak bisa, Oma, Nora nggak setuju Adrian menikah dengan wanita kampung dan miskin ini. Keluarga kita layak mendapatkan menantu yang setara, bukan dari kalangan orang miskin seperti dia,” tunjuk Nora pada Meysa.

Nora mendekat ke arah Meysa sambil menatap nyalang.

“Sini kamu perempuan miskin.”

Tangan Nora terangkat hendak menampar Meysa namun Adrian langsung menepis kasar tangan kakaknya sebelum telapak tangan wanita itu menyentuh wajah Meysa. Dia menatap tajam anggota keluarganya sendiri demi melindungi posisi calon istrinya.

“Cukup kak, kali kakak sudah kelewatan!”

Nora menghempaskan cekalan tangan Adrian, tatapannya masih menatap tajam Meysa yang ketakutan.

“Pokoknya aku nggak setuju kamu nikah sama dia. Dia itu Wanita miskin, nggak sepatutnya bersanding dengan seorang Adrian Lysander. Mau ditaruh dimana wajah keluarga kita jika orang lain atau media tahu kalau keluarga Lysander memiliki menantu miskin seperti dia.”

Meysa merasakan dadanya sesak, dia tak menyangka akan mendengar perkataan kasar dari majikannya. Dia memang miskin tapi tidak sepantasnya dia dihina seperti ini, namun Meysa hanya bisa diam karena dia tak berani melawan majikannya.

“Selain miskin, dia juga Cuma anak pungut yang dia sendiri aja nggak tahu siapa orang tuanya.”

Tatapan Nora beralih menatap adiknya. “Dan kamu justru mau menikahi Wanita yang nggak jelas asal usulnya itu? Kakak nggak habis pikir sama kamu, disaat banyak Wanita mapan dan dari keluarga terpandang menginginkan kamu untuk jadi suaminya, kamu justru mau menikahi Wanita nggak tahu diri ini?!”

“Kamu, hanya beruntung karena Oma menginginkan kamu jadi pengasuhnya. Jadi lebih baik terus seperti itu dan jangan harap untuk bisa menjadi nyonya di rumah ini.” Nora memberi ultimatum kepada Meysa, sebelum akhirnya pergi.

Mata Meysa mulai memerah dan mengembun, dia masih ingat saat dia sangat membutuhkan pekerjaan untuk melunasi biaya operasi ibunya kala itu.

“Aku tidak peduli sama sekali bagaimana latar belakang Meysa, karena Oma sudah setuju maka besok aku akan menikahi Meysa.”

“Lebih cepat lebih baik,” ucap Oma Rosa sambil tersenyum.

Adrian menoleh ke arah Meysa yang terlihat tekejut sekaligus tertekan.

“Temui saya di ruang kerja saya satu jam lagi dari sekarang,” ucap Adrian.

Meysa menangkat kepalanya kemudian mengangguk. “Baik tuan.”

Setelah mendengar jawaban dari Meysa, Adrian mendekati Oma Rosa kemudian mengelus punggung tangannya. Dia tersenyum melihat Oma Rosa tersenyum ke arahnya, meski bukan keinginannya seratus persen untuk menikahi pengasuh Omanya namun setidaknya dia bisa menuruti keinginan Omanya. Itu saja sudah membuat Adrian bahagia.

“Adrian pergi dulu, Oma baik-baik ya sama Meysa.”

Oma Rosa mengangguk. “Iya. Terima kasih Adrian,” ucapnya sambil melirik Meysa.

Adrian tahu kemana arah lirikan Oma Rosa, dia hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan kamar. Sebelum benar-benar keluar, Adrian berdiri dihadapan Meysa.

“Nanti akan ada yang membersihkan kekacauan ini, kamu fokus saja pada Oma.”

Meysa kembali mengangguk. “Baik tuan.”

Nora berjalan cepat menuju kamarnya, tatapan matanya menajam dengan rahang mengetat erat.

Brak!

Nora menutup pintu kamarnya dengan kencang hingga suaranya menggema di seluruh ruang kamarnya. Wanita itu berjalan mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya, tergambar jelas keteangan di wajahnya.

“Aku harus melakukan sesuatu, aku nggak bisa biarin Adrian menikah dengan gadis miskin itu.”

Nora mulai berpikir sejenak sampai akhirnya dia terpikirkan sesuatu.

“Celine. Ya, aku hanya dia yang bisa bantu aku.”

Segera Nora mengambil ponselnya kemudian mencari nomor ponsel Celine, dia lekas menghubugi sahabat sekaligus mantan kekasih adiknya itu.

“Celine, kamu harus ke sini sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarain, ini perihal harta yang pernah kita baicarakan!”

Sudut bibir Nora terangkat membentuk senyuman smrik, setelah panggilannya terputus dia menatap lurus ke depan sambil bersedekap dada.

“Sini duduk.”

Meysa mengangguk, setelah lantai dibersihkan dia pun mendekat ke arah ranjang dan duduk ditepi ranjang bersama Oma Rosa.

“Ada apa Oma? Oma butuh sesuatu?” tanya Meysa lembut.

Oma Rosa mengglengkan kepalanya, dia meraih tangan Meysa kemudian mengenggamnya erat.

“Terima kasih ya kamu sudah mau menikah dengan cucu Oma, Oma senang karena akhirnya Adrian memutuskan unutk menikah. Sudah lama sekali Oma ingin melihat Adrian menikah dan memiliki anak. Semoga Oma masih bisa melihat dan menimang cicit dari kalian nanti.”

“Oma, jangan bicara seperti itu,” ucap Meysa.

“Meysa, meski Adrian terlihat cuek dan judes tapi sebenarnya dia anak yang baik. Adrian memang sedikit pendiam, berbeda dengan Nora. Tapi dia sebenarnya perhatian kok, Adrian itu berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.”

Oma Rosa menatap dalam Meysa. “Dia pasti akan sangat menyayangi kamu, terbukti kan tadi dia membela kamu dari Nora?”

Meysa mengangguk membenarkan.

“Kamu tidak akan menyesal menikah dengan cucu Oma, Oma yakin itu.”

“Apakah keputusan ini tepat? Sejujurnya aku takut,” batin Meysa.

Setelah mendengarkan cerita Rosa, Meysa keluar dari kamar Rosa menuju ruang kerja Adrian. Saking asiknya bercerita dia sampai lupa waktu, tepat di depan pintu ruang kerja Adrian, Meysa menghentikan langkahnya. 

Dia menatap pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat dengan tatapan penuh keraguan, perlahan tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu. Namun belum sampai tanganya menyentuh pintu, dia pun mengurungkan niatnya.

“Kenapa aku jadi takut gini ya?” gumam Meysa.

Tak ingin Adriam menunggu lebih lama dan membuat pria itu marah, Meysa pun memutuskan mengetuk pintunya. Hingga terdengar suara Adrian dari dalam, baru dia berani masuk ke ruang kerja Adrian.

“Permisi tuan,” ucap Meysa.

“Duduk.”

Meysa mengangguk kemudian duduk. Terlihat Adrian mengeluarkan sebuah map kemudian meletakkannya ke meja.

“Tanda tangani surat itu,” ucap Adrian datar.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 133

    Langkah kaki Adrian dan Evan terdengar beriringan saat mereka berjalan menuju teras mansion yang megah. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mendampinginya, Evan berjalan setengah langkah di belakang Adrian, siap menerima instruksi kapan saja.Adrian menghentikan langkahnya sejenak di dekat pilar teras, menatap lurus ke depan dengan raut wajah serius."Evan, urus semua yang dibutuhkan untuk acara peresmian pernikahan saya. Mulai dari vendor dan juga WO. Pastikan semuanya beres tanpa ada celah."Evan mengangguk patuh, mengeluarkan tablet digitalnya untuk mencatat. "Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan urusan busana?""Untuk masalah baju, aku yang akan mengurusnya sendiri bersama Meysa," jawab Adrian. Ia menghela napas pendek, ada kilat kecemasan yang samar di matanya."Aku ingin acara in

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 132

    Hembusan angin sore menerbangkan rambut panjang Nozela, helai demi helainya menari lembut mengikuti arah angin. Sambil memegangi lengan William, mereka berjalan santai menyusuri pinggiran tepi pantai yang indah di sore hari. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak-jejak samar di atas pasir yang basah oleh sisa ombak.Di atas sana, langit masih tampak cerah dengan semburat cahaya keemasan matahari yang mulai menyingsing ke ufuk barat, menciptakan pantulan berkilau di atas permukaan air laut.Nozela mendongak, menatap samping wajah William yang diterpa cahaya senja."Liam, kenapa kamu ajak aku ke pantai? Bukannya kita mau pulang?" tanya Nozela.William menoleh, lalu tersenyum hangat. "Ya...hanya sekedar jalan-jalan saja Jel, sekalian melepas penat setelah serarian kerja. Kamu tidak suka?"Noze

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 131

    Tok! Tok! Tok!Sebuah ketukan pintu terdengar nyaring, memecah keheningan di dalam ruangan kerja yang rapi itu.Nozela yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di depannya sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard. Tanpa menoleh, ia setengah berteriak memberikan izin."Masuk!" serunya singkat.Tak lama kemudian, terdengar suara gagang pintu diputar dan daun pintu yang terbuka perlahan. Nozela masih bergeming. Ia sama sekali belum menoleh ke arah pintu karena merasa pekerjaannya saat ini jauh lebih penting dan harus segera diselesaikan. Ia menduga yang datang adalah asistennya yang ingin mengantarkan beberapa berkas.Sampai akhirnya, sebuah suara yang amat ia kenali memecah keheningan."Selamat sore, Sayang."Nozela langsung mendongak. Matanya membelalak terkejut. Dugaan bahwa sang asisten yang datang langsung sirna begitu melihat sosok tinggi yang kini berjalan mendekat."William?!" pekik Nozela tertahan.Melihat respons terkejut sang keka

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 130

    Maya menatap ibunya yang nampak terkejut. Di tangan wanita paruh baya itu, terdapat ponsel miliknya. "Siapa yang telepon, Bu?" tanya Maya."Kenapa ekspresi Ibu seperti itu?" sambung Maya.Maya melangkah mendekat ke arah ibunya. Sambil mengerutkan dahi, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai sang ibu terlihat begitu panik.Bu Ningsih dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba menguasai diri."Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Bu Ningsih agak gugup. "Itu... Meysa katanya nanti mau ke sini."Bu Ningsih sengaja mengalihkan pembicaraan agar Maya tidak bertanya lebih jauh. Usahanya berhasil, Maya hanya menganggukkan kepalanya, menerima alasan tersebut tanpa curiga."Oh,Kak Meysa mau ke sini? Yah, Maya padahal mau pamit ke kampus, Bu. Ada jadwal siang ini, jadi kayaknya nggak bisa ketemu Kak Meysa dulu," kata Maya sambil meraih tas kuliahnya.Bu Ningsih hanya mengangguk pelan, memaksakan sebuah senyuman. "Iya, tidak apa-apa. Berangkatlah, hati-hati di jalan."Setelah berpamitan,

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 129

    "Sus Defi," panggil Oma Rosa."Kamu tahu Meysa ke mana? Sejak selesai sarapan tadi, dia sama sekali belum menemui Oma di kamar."Sus Defi, yang kebetulan baru saja kembali dari area belakang rumah, langsung tersenyum menenangkan. "Oh, itu, Oma... Nyonya Meysa sedang ada di dapur. Tadi saya lihat beliau lagi bikin kue dibantu sama para ART."Mendengar hal itu, sepasang mata Oma Rosa langsung berbinar cerah. Rasa bosannya seketika menguap. "Oh ya? Wah, kalau begitu ayo antar Oma ke dapur. Oma mau lihat Meysa bikin kue. Suntuk rasanya kalau terus-terusan diam di kamar seperti ini.""Baik, Oma," jawab Sus Defi patuh.Dengan telaten, Sus Defi membantu Oma Rosa berpindah dari tempat tidur ke kursi rodanya. Setelah memastikan posisi Oma Rosa nyaman, Sus Defi mulai mendorong kursi roda itu keluar dari kamar, menyusuri koridor rumah yang megah.Namun, saat mereka berdua sampai di lorong dekat ruang tamu, langkah Sus Defi melambat. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengobrol dengan

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 128

    Aroma mentega dan vanila yang harum memenuhi seluruh penjuru dapur. Di sana, Meysa berdiri dengan apron merah muda yang melekat pas di tubuhnya. Tangannya dengan lincah mencetak adonan kue kering di atas loyang besar, dibantu oleh Bi Surti, asisten rumah tangganya. Kue-kue ini sengaja ia buat sendiri dengan penuh cinta untuk dibawa ke rumah ibunya nanti sore.Setelah satu loyang penuh, Meysa memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Ia menyeka sedikit keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak tipis tepung di pipinya."Nyonya Meysa, istirahat saja di depan. Biar Bibi yang selesaikan sisa adonan dan jagain ovennya," ucap ART merasa tak enak melihat majikannya kelelahan.Meysa tersenyum manis sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak usah, Bi. Saya mau selesaikan ini sendiri sampai selesai."Baru saja ART hendak membalas, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi nyaring.Ting tong!"Nah, Bi, tolong buka pintunya ya. Biar Meysa lanjut nyetak kue yang ini," cetu

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 87

    "Mau apa kamu?"Meysa mengehntikan gerakan tangannya ketika mendapat teguran dari seseorang, kepalanya menoleh ke samping mendapati Nora sedang bersedekap dada sambil menatapnya dengan tajam."Kak Nora,""Aku tidak pernah mengizinkamu memanggilku dengan sebutan Kak. Jadi jangan pernah lagi menyebut

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 86

    Suara bel mansion terdengar nyaring ketika seluruh penghuni rumah belum bangun, Evan berdiri di depan pintu sambil menatap jam di pergelangan tangannya.Tak lama setelah dia menekan bel, pintu terbuka lebar."Selamat pagi tuan Evan," sapa asisten rumah tangga."Pagi.""Mari tuan, silakan masuk."Eva

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 85

    Cahaya fajar di pukul lima pagi masih sangat muda, hanya berupa lambaian warna biru keperakan yang menembus gorden sutra tebal di kamar utama mansion. Di dalam ruangan luas yang tenang itu, dinginnya udara pagi sama sekali tidak menyentuh sepasang suami istri yang sedang tenggelam dalam kehangatan s

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 79

    "Oma, Oma tenang dulu ya. Tuan Adrian pasti baik-baik saja.""Tidak sus, saya tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar tentang kondisi cucu saya."Oma Rosa tampak terlihat sangar stress ketika Adrian di larikan ke rumah sakit setelah di temukan pingsan di depan toilet. Semua Adrian terluhat biasa s

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status