FAZER LOGIN“Apa yang kamu katakan, Adrian?” seru Nora tak terima.
Adrian tersenyum smirk, genggaman tangan besar itu tak pernah lepas dari pergelangan tangan Meysa dan justru semakin mengerat membuat Meysa bisa merasakan emosi putra kedua keluarga Lysander itu. “Bukankah ini yang kalian inginkan, aku harus segera menikah dan memberikan keturunan untuk keluarga Lysander? Maka hari ini juga, aku akan kabulkan keinginan kalian!” “Oma, lihat apa yang Adrian lakukan,” seru Nora. Rosa menatap Adrian kemudian tatapannya beralih ke tangan cucunya yang menggenggam erat tangan pengasuhnya, dia kemudian tersenyum. Namun, senyum itu justru membuat Nora semakin marah, dia tahu arti dari senyuman yang neneknya berikan. “Oma, jangan bilang Oma….” “Baiklah, Oma setuju.” Jawaban Oma Rosa membuat Nora melebarkan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan keputusan neneknya. “Tidak bisa, Oma, Nora nggak setuju Adrian menikah dengan wanita kampung dan miskin ini. Keluarga kita layak mendapatkan menantu yang setara, bukan dari kalangan orang miskin seperti dia,” tunjuk Nora pada Meysa. Nora mendekat ke arah Meysa sambil menatap nyalang. “Sini kamu perempuan miskin.” Tangan Nora terangkat hendak menampar Meysa namun Adrian langsung menepis kasar tangan kakaknya sebelum telapak tangan wanita itu menyentuh wajah Meysa. Dia menatap tajam anggota keluarganya sendiri demi melindungi posisi calon istrinya. “Cukup kak, kali kakak sudah kelewatan!” Nora menghempaskan cekalan tangan Adrian, tatapannya masih menatap tajam Meysa yang ketakutan. “Pokoknya aku nggak setuju kamu nikah sama dia. Dia itu Wanita miskin, nggak sepatutnya bersanding dengan seorang Adrian Lysander. Mau ditaruh dimana wajah keluarga kita jika orang lain atau media tahu kalau keluarga Lysander memiliki menantu miskin seperti dia.” Meysa merasakan dadanya sesak, dia tak menyangka akan mendengar perkataan kasar dari majikannya. Dia memang miskin tapi tidak sepantasnya dia dihina seperti ini, namun Meysa hanya bisa diam karena dia tak berani melawan majikannya. “Selain miskin, dia juga Cuma anak pungut yang dia sendiri aja nggak tahu siapa orang tuanya.” Tatapan Nora beralih menatap adiknya. “Dan kamu justru mau menikahi Wanita yang nggak jelas asal usulnya itu? Kakak nggak habis pikir sama kamu, disaat banyak Wanita mapan dan dari keluarga terpandang menginginkan kamu untuk jadi suaminya, kamu justru mau menikahi Wanita nggak tahu diri ini?!” “Kamu, hanya beruntung karena Oma menginginkan kamu jadi pengasuhnya. Jadi lebih baik terus seperti itu dan jangan harap untuk bisa menjadi nyonya di rumah ini.” Nora memberi ultimatum kepada Meysa, sebelum akhirnya pergi. Mata Meysa mulai memerah dan mengembun, dia masih ingat saat dia sangat membutuhkan pekerjaan untuk melunasi biaya operasi ibunya kala itu. “Aku tidak peduli sama sekali bagaimana latar belakang Meysa, karena Oma sudah setuju maka besok aku akan menikahi Meysa.” “Lebih cepat lebih baik,” ucap Oma Rosa sambil tersenyum. Adrian menoleh ke arah Meysa yang terlihat tekejut sekaligus tertekan. “Temui saya di ruang kerja saya satu jam lagi dari sekarang,” ucap Adrian. Meysa menangkat kepalanya kemudian mengangguk. “Baik tuan.” Setelah mendengar jawaban dari Meysa, Adrian mendekati Oma Rosa kemudian mengelus punggung tangannya. Dia tersenyum melihat Oma Rosa tersenyum ke arahnya, meski bukan keinginannya seratus persen untuk menikahi pengasuh Omanya namun setidaknya dia bisa menuruti keinginan Omanya. Itu saja sudah membuat Adrian bahagia. “Adrian pergi dulu, Oma baik-baik ya sama Meysa.” Oma Rosa mengangguk. “Iya. Terima kasih Adrian,” ucapnya sambil melirik Meysa. Adrian tahu kemana arah lirikan Oma Rosa, dia hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan kamar. Sebelum benar-benar keluar, Adrian berdiri dihadapan Meysa. “Nanti akan ada yang membersihkan kekacauan ini, kamu fokus saja pada Oma.” Meysa kembali mengangguk. “Baik tuan.” Nora berjalan cepat menuju kamarnya, tatapan matanya menajam dengan rahang mengetat erat. Brak! Nora menutup pintu kamarnya dengan kencang hingga suaranya menggema di seluruh ruang kamarnya. Wanita itu berjalan mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya, tergambar jelas keteangan di wajahnya. “Aku harus melakukan sesuatu, aku nggak bisa biarin Adrian menikah dengan gadis miskin itu.” Nora mulai berpikir sejenak sampai akhirnya dia terpikirkan sesuatu. “Celine. Ya, aku hanya dia yang bisa bantu aku.” Segera Nora mengambil ponselnya kemudian mencari nomor ponsel Celine, dia lekas menghubugi sahabat sekaligus mantan kekasih adiknya itu. “Celine, kamu harus ke sini sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarain, ini perihal harta yang pernah kita baicarakan!” Sudut bibir Nora terangkat membentuk senyuman smrik, setelah panggilannya terputus dia menatap lurus ke depan sambil bersedekap dada. “Sini duduk.” Meysa mengangguk, setelah lantai dibersihkan dia pun mendekat ke arah ranjang dan duduk ditepi ranjang bersama Oma Rosa. “Ada apa Oma? Oma butuh sesuatu?” tanya Meysa lembut. Oma Rosa mengglengkan kepalanya, dia meraih tangan Meysa kemudian mengenggamnya erat. “Terima kasih ya kamu sudah mau menikah dengan cucu Oma, Oma senang karena akhirnya Adrian memutuskan unutk menikah. Sudah lama sekali Oma ingin melihat Adrian menikah dan memiliki anak. Semoga Oma masih bisa melihat dan menimang cicit dari kalian nanti.” “Oma, jangan bicara seperti itu,” ucap Meysa. “Meysa, meski Adrian terlihat cuek dan judes tapi sebenarnya dia anak yang baik. Adrian memang sedikit pendiam, berbeda dengan Nora. Tapi dia sebenarnya perhatian kok, Adrian itu berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.” Oma Rosa menatap dalam Meysa. “Dia pasti akan sangat menyayangi kamu, terbukti kan tadi dia membela kamu dari Nora?” Meysa mengangguk membenarkan. “Kamu tidak akan menyesal menikah dengan cucu Oma, Oma yakin itu.” “Apakah keputusan ini tepat? Sejujurnya aku takut,” batin Meysa. Setelah mendengarkan cerita Rosa, Meysa keluar dari kamar Rosa menuju ruang kerja Adrian. Saking asiknya bercerita dia sampai lupa waktu, tepat di depan pintu ruang kerja Adrian, Meysa menghentikan langkahnya. Dia menatap pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat dengan tatapan penuh keraguan, perlahan tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu. Namun belum sampai tanganya menyentuh pintu, dia pun mengurungkan niatnya. “Kenapa aku jadi takut gini ya?” gumam Meysa. Tak ingin Adriam menunggu lebih lama dan membuat pria itu marah, Meysa pun memutuskan mengetuk pintunya. Hingga terdengar suara Adrian dari dalam, baru dia berani masuk ke ruang kerja Adrian. “Permisi tuan,” ucap Meysa. “Duduk.” Meysa mengangguk kemudian duduk. Terlihat Adrian mengeluarkan sebuah map kemudian meletakkannya ke meja. “Tanda tangani surat itu,” ucap Adrian datar.Suara tangis bayi melengking dari dalam ruang operasi, Adrian beserta keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama keluarga Lysander itu mengela napas lega setelah mendengar suara bayi yang sudah mereka nantikan sejak satu jam yang lalu. "Adrian, anak kamu sudah lahir, Nak," ucap Bu Ningsih sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Tak sanggup menahan rasa bahagia bercampur haru, tanpa diduga, air mata Adrian menetes melewati pipinya namun segera dia usap lembut. Ceklek. Ketiga orang yang duduk di depan ruang operasi seketika berdiri dari duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar bersama perawat yang menggendong bayi yang kini sudah tenang. "Keluarga Nyonya Meysa?" "Saya, saya suaminya dok," jawab Adrian cepat sambil matanya terus menatap bayi kecil berwarna merah yang sedang memejamkan matanya. "Selamat Tuan, bayi anda laki-laki dan dalam keadaan sehat dan tak kurang apapun." Bak dihantam bongkahan es besar yang menyejukkan dan mendin
Sore itu terasa begitu dingin, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis Clarissa. Gaun berwarna hitam legam yang dipakainya tampak berkibar tertiup angin seiring langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia berlari dari area parkiran mobil menuju sebuah villa mewah yang lampu-lampunya telah disulap dengan begitu indah, memancarkan kemegahan yang justru terasa mencekik baginya.Matanya menyiratkan tatapan dalam, sebuah tatapan yang menyimpan badai rasa bersalah, rindu, dan ketakutan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara ketukan high heelsnya yang menghantam aspal. Clarissa sedikit kesusahan berlari, gaun panjang dan sepatu hak tingginya seolah bersekongkol untuk memperlambat gerakannya. Matanya terus bergerak liar, panik mencari jalan masuk utama ke dalam villa tersebut."Maaf Nona, tunjukkan undangan anda," ucap salah satu penjaga berbadan tegap di depan pintu masuk villa, menghentikan langkah Clarissa secara mendadak.Clarissa se
Meysa berdiri terpaku di depan cermin besar yang mendominasi ruang walk-in closet. Di sekelilingnya, beberapa potong baju bertema pastel tampak tergantung berantakan di luar rak. Ia mengambil satu per satu gaun itu, menempelkannya ke tubuh, lalu mendesah pelan. Tak ada satu pun dari baju-baju itu yang terlihat cocok di matanya hari ini. Dengan sisa-sisa kekesalan, ia mulai mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam lemari. "Hah.... kenapa semua baju ini terlihat jelek di tubuhku?" Meysa kembali mengambil satu dress dan menempelkan ke tubuhnya. "Lihat, bukankah tubuhku terlihat sangat besar?" gumam Meysa. Pada saat yang sama, Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan sambil sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Langkahnya terhenti dan keningnya seketika mengernyit saat melihat sang istri yang belum juga berganti pakaian. "Sayang, kenapa belum siap? Nanti kita bisa terlambat ke acara pernikahan Nozela dan William," ujar Adrian lembut namun terselip nada heran. Meysa menoleh ke ara
Hembusan napas panjang Nozela terdengar di tengah keriuhan persiapan pernikahan di halaman vila mewah itu. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. "Huft," desahnya, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dihias dengan pita kain berwarna dusty pink. Matanya mengamati sekeliling, menatap para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda dekorasi dan menata centerpiece di atas meja-meja. Di sebelahnya, seorang staf Wedding Organizer yang tampaknya merupakan koordinator lapangan, sedang sibuk mencatat detail persiapan di papan penjepitnya. Nozela menengok ke arah staf tersebut, "Kak, itu bunganya... saya mau yang putih lebih banyak lagi. Bisa ditambahin di lengkungan di atas panggung itu?" Si staf menatap papan penjepitnya, lalu mengangguk, "Bisa, Mbak. Nanti saya koordinasikan lagi sama tim florist." Nozela mengangguk puas. "Oke, makasih ya. Terus... foto kami," Nozela menunjuk ke arah panggung di mana sebuah bingkai foto besar dengan foto Nozela d
Detik berganti menit, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu hingga kini kandungan Meysa sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi simbol kebahagiaan kecil yang selalu ia dan suaminya nantikan setiap harinya.Hari ini, suasana hati Meysa dipenuhi letup-letup kegembiraan. Ditemani sang suami yang tak pernah lepas menggenggam tangannya, mereka melangkah masuk ke rumah sakit untuk melakukan check-up rutin.Meysa kini berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Jantungnya berdegup agak kencang campuran antara rindu dan sedikit cemas yang biasa dirasakan seorang ibu. Di sampingnya, Adrian berdiri siaga, memberikan senyum penenang yang paling hangat.Dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan, mulai mengoleskan gel dingin di permukaan perut Meysa. Detik berikutnya, alat transducer mulai digerakkan perlahan. Di layar monitor hitam-putih, samar-samar mulai
Krieeek… Derit pintu sel besi yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan ruangan yang pengap itu. Clarissa tersentak kaget. Ia segera mendongak, menatap sesosok pria berseragam yang berdiri di ambang pintu, lalu bergegas bangkit dari duduknya. "Mari, ada keluarga yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi dengan nada datar namun tegas.Dengan kedua tangan yang terikat borgol besi, Clarissa melangkah keluar. Polisi itu menggiringnya menyusuri lorong dingin penjara menuju ruang kunjungan. Setiap langkahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus harap-harap cemas.Begitu pintu ruang kunjungan dibuka, pandangan Clarissa langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sangat ia kenali."Papa..." ucap Clarissa lirih. Sepasang matanya yang semula redup, seketika berbinar cerah. Fahmi, yang datang bersama kuasa hukumnya, tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya. Ia segera melangkah maju dan memeluk tubuh putri sambungnya itu de
“Seret wanita ini keluar dari sini!!” seru Adrian pada petugas keamanan.Celine membelakan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda menolak. Dia pun menatap Adrian dengan tajam.“Aku nggak mau keluar dari sini sebelum kamu batalin rencana pernikahan kamu sama pengasuh ini!” seru Celine tak mau ka
Meysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Di
Tiga hari bekerja, tidak ada masalah. Oma hanya sulit untuk makan, tapi beberapa kali Meysa kerepotan karena Oma terus-terusan membahas tentang Adrian yang harus menikah secepat mungkin.Sesekali, Oma mogok makan dan memarahi Meysa, tapi Meysa masih bisa menghandle.Masuk dua minggu, Meysa sudah mu
“Dicari, lowonga pekerjaan mengasuh lansia degan bayaran tinggi, jika berminat segera hubungi nomor ini.”Meysa menegakkan kepalanya setelah tak sengaja menemukan sebuah poster lowongan pekerjaan yang dia temukan di dekat rumah sakit. Di tangannya terapat sebuah kantong plastic berisi makanan.“Bay







