ログインSuara alarm dari jam weker berbunyi nyaring di atas nakas, sepasang mata mulai mengerjap pelan, tangan kanannya terangkat mengucek matanya sambil menguap. Meysa mulai membuka matanya, diliriknya sang suami yang masih memejamkan matanya.Sudut bibir Meysa terangkat membentuk senyuman manis, dia menatap wajah Adrian yang terlihat tenang ketika tidur. Senyumnya semakin lebar ketika hal ini akan dia lakukan selama beberapa bulan ke depan. Bangun dengan menatap wajah tampan sang suami."Aku harus bangun sekarang," gumam Meysa.Perlahan Meysa mulai mengangkat tangan Adrian yang memeluk perutnya dengan erat dan meletakkannya ke atas guling, dia menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjang.Meysa mematikan alarm yang masih menujukkan pukul empat pagi, dia pun lekas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Selesai dari kamar mandi, Meysa masuk ke ruang walk-in closet. Dia mengambil koper kecil lalu mulai mempacking pakaian kerja milik suaminya.Meski sempat melarang Adrian untuk pe
"Besok saya sudah boleh pulang kan dok?"Seorang dokter wanita tesenyum setelah selesai memeriksa keadaan Nozela, kepalanya menganguk pelan membuat Nozela tersenyum lebar."Boleh, tapi harus banyak istirahat dan jangan terlalu kecapaian ya. Pola makan di atur dan jangan lupa minum banyak air putih.""Oke dokter.""Tuh Jel, dengar apa kata dokter," ucap Mona."Tuh Jel, dengar apa kata calon mertua," ucap Tiara."Mama..." lirih Nozela."Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter lalu keluar dari ruangan Nozela.Mona menatap Nozela yang terlihat masih sedikit pucat, tanganya terulur mengelus pipi Nozela dengan lembut."Cepat sembuh ya Jel."Nozela mengangguk. "Ojel sudah sembuh kok tante, tante dengar sendiri kan tadi kalau besok Ojel sudah boleh pulang.""Terima kasih ya om dan tante sudah menjenguk Ojel," sambung Nozela."Kami yang seharusnya minta maaf karena baru bisa mengenguk kamu sekarang," ucap Jimmy."Tidak papa jeng, kami tahu kalian pati sangat sibuk," ujar Tiara."Oh iya, t
BRAK!!Meysa memejamkan matanya ketika Adrian dengan kasar menutup pintu kamar mereka, kedua tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. Keberaniannya di hadapan Nora tadi seketika lenyap digantikan rasa takut dan khawatir yang mulai mengusik perasaannya.Tap.Tap.Suara langkah kaki Adrian terdengar nyaring di kamar mereka yang sunyi. Pria tampan dengan ekspresi wajah datar itu mendekati sang istri yang berdiri di dekat ranjang. Adirian menatap tajam Meysa yang kini sedang menundukkan kepalanya, emosinya masih membara hingga rasanya dia tak bisa mempercayai siapapun saat ini.Meysa menatap sepasang kaki yang berdiri di hadapanya, perlahan dia mulai mengangkat pandangannya menatap Adrian. Dada Meysa terasa sesak, dia takut Adrian tidak mempercayainya."Adrian, tolong lihat aku..." bisik Meysa, suaranya bergetar menahan tangis."Bukan aku yang melakukannya. Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat menyakiti kamu."Adrian terkekeh sinis, tanpa menoleh. Dia berdecak pinggang dengan satu tang
"Tidak, bukan aku yang meracuni Adrian," ucap Meysa.Srak!Nora mengambil bukti hasil lab di tangan Meysa dengan kasar kemudain memperlihatkannya ke hadapan Meysa sambil memukul-mukulnya keras."Lihat ini, lihat baik-baik.""Bukti sudah di depan mata seperti ini tapi kamu masih mau mengelak? Aku tidak menyangka di balik wajah kamu yang polos ternyata tersimpan jiwa iblis.""Karena memang kenyataannya bukan aku yang melakukannya," sangkal Meysa."Lalu kalau bukan kamu siapa lagi, hah?" seru Nora.Jarum jam dinding di ruang tamu itu berdetak begitu nyaring, seolah-olah berpacu dengan detak jantung orang-orang di dalamnya. Udara terasa panas dan mencekik, padahal pendingin ruangan sudah disetel ke suhu terendah.Di tengah ruangan, Meysa berdiri mematung. Tangannya gemetar hebat, meremas ujung bajunya yang kusut. Di depannya, berdiri Nora dengan tatapan mata yang seakan ingin menguliti Meysa hidup-hidup."Jangan berlagak polos kamu, Meysa!" Suara Nora meninggi, memecah keheningan yang men
"Selamat malam tuan Adrian, bagaimana kondisi anda? Apa perut anda masih terasa sakit?" "Malam dok, saya sudah baik-baik saja.""Karena infusnya sudah habis maka saya akan melepaskannya, dan tolon salah satu untuk mengambil obatnya.""Biar aku saja," ucap Meysa."Tidak papa nyonya, biar saya yang mengambilnya.""Aku saja. Adrian, aku ambil obat kamu dulu ya."Adrian mengangguk dan membiarkan istrinya pergi sementara dokter melepaskan selang infusnya.Tap..Tap..Suara dua pasang sepatu saling bersahut-sahutan di lorong UGD, mereka pun masuk ke ruangan itu lalu menemui seseornag."Kebetulan ada dokter di sini."Ketiga orang menoleh ke sumber suara, Nora datang bersama Bagas."Ada apa lagi kakak kemari? Jika kakak hanya datang unutk membuat masalah lebih baik kakak pulang saja," ucap Adrian.Nora menyunggingkan senyum miring, tatapannya mencari keberadaan seseorang yang kini sedang tak ada di sana."Aku tidak ingin membuat keributan, aku ke sini hanya untuk mengantarkan sebuah fakta,"
"Oma, Oma tenang dulu ya. Tuan Adrian pasti baik-baik saja.""Tidak sus, saya tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar tentang kondisi cucu saya."Oma Rosa tampak terlihat sangar stress ketika Adrian di larikan ke rumah sakit setelah di temukan pingsan di depan toilet. Semua Adrian terluhat biasa saja sampai saat makan malam tenga berlangsung, cucunya merasa kesakitan pada pertutnya hingga pingsan.Dia khawatir terjadi sesuatu apda Adrian, apa lagi dia hanya bisa menuggu di rumah tanpa boleh ikut ke rumah sakit. Sampai saat ini pun juga belum ada kabar apapun baik dari Nora, Meysa atau Evan."Oma, kita berdoa saja semoga tuan Adrian baik-baik saja."Tak lama setelah Defi berbicara, tiba-tiba Bagas datang bersama seorang asisten rumah tangga yang membawa paper bag di tangannya."Bagas, kamu mau kemana?" tanya Oma."Oma, Bagas pergi dulu. Bagas harus membawa semua sampel makanan ini ke lab untuk mencari tahu makanan mana yang mebuat Adrian keracunan.""Jadi, Adrian keracunan?""Lalu bag







