ANMELDENSetelah merangkak keluar dari pipa ventilasi, Aeri bergegas merapikan kembali seragam taktisnya di toilet lantai dua. Dia mengatur napasnya yang memburu, menghapus sisa abu besi yang menempel pada wajah penyamarannya, lalu melangkah kembali ke koridor luar ruang rapat dengan postur "Gahensa" yang tegak.Tidak lama kemudian, pintu mahagoni ruang rapat terbuka. Eryx melangkah keluar sendirian, jubah kebesarannya tampak sedikit longgar, memancarkan aura frustrasi yang jarang ia tunjukkan. Aeri segera menyambutnya dan berjalan di sampingnya menuju paviliun barat.Memanfaatkan situasi, Aeri memberanikan diri untuk bertanya soal rapatnya. "Bagaimana hasil rapatnya, Tuan Muda?"Eryx mendengus pendek, rahangnya mengeras. "Rapatnya masih belum selesai, Kak Gahensa. Dewan tetua masih belum menetapkan aku sebagai calon pewaris kepala keluarga yang sah. Mereka terlalu pengecut."Eryx menjeda langkahnya, menatap Aeri dengan sorot mata yang dipenuhi kejengkelan yang mendalam. "Mereka ketakutan kare
Aeri melangkah dengan tergesa menuju lorong darurat yang sepi di sisi barat aula utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam karena terbentur oleh tembok kerahasiaan keluarga Leander. Di dalam ruangan di ujung koridor sana, rapat rahasia yang akan menentukan nasib penyelidikan kematian kakaknya sedang berlangsung, dan dia dikunci di luar seperti orang asing.Dengan tangan yang masih gemetar menahan amarah, Aeri meraba saku taktisnya dan mengeluarkan gawai enkripsi khusus. Dia langsung menghubungi saluran anonim milik detektif terhebat di negara itu."Mereka sedang berkumpul di ruang rapat utama sekarang," bisik Aeri dengan nada bariton penyamarannya yang mendesak, matanya melirik tajam ke setiap sudut langit-langit untuk menghindari kamera pengawas. "Tiago, Selena, dan Eryx ada di dalam. Ini saatnya. Lakukan penyerangan sekarang juga ke kediaman ini. Gunakan wewenang pasukan kementerian untuk mendobrak mereka saat mereka sedang lengah!"Namun, di seberang sa
Malam pelantikan yang agung itu tiba dengan kemegahan yang dingin. Riuh rendah musik klasik dan obrolan para petinggi distrik di aula utama Kediaman Leander terdengar samar hingga ke koridor ruang kerja Tiago yang sepi. Sesuai rencana Calixto, lampu indikator kamera pengawas di lorong itu mendadak mati, berkedip merah sebelum padam total selama lima belas menit.Aeri bergerak laksana bayangan. Menggunakan duplikat stempel digital Eryx yang berhasil ia kloning, ia menempelkannya pada panel pemindai pintu baja di balik tirai mahagoni.Klik. Pintu brankas terbuka tanpa suara.Jantung Aeri bertalu hebat saat jemarinya memilah tumpukan dokumen rahasia, arsip Proyek Utama, hingga mutasi rekening gelap faksi militer. Namun, nihil. Aeri tidak menemukan berkas apa pun soal kematian Felix. Lembar arsip untuk bulan tersebut kosong melompong, seolah sengaja dieliminasi dari sejarah keluarga.Aeri mengepalkan tangannya hingga gemetar. Dia yakin berkas itu sudah diamankan di tempat lain, karena Ery
Aeri mengepalkan tangannya yang terbalut saputangan sutra milik Eryx. Pertanyaan yang meluncur dari bibir pemuda itu terasa seperti bilah belati yang diputar di dalam lukanya. Di bawah siraman lampu lobi kediaman utama yang temaram dan rintik hujan yang kian menderas, Aeri dipaksa berdiri di persimpangan yang mematikan.Jika dia menjawab dengan nada bariton pengawal yang terlalu objektif, Eryx yang jenius dan paranoid pasti akan mencium gelagat kecurigaan. Namun, jika dia berbohong terlalu manis, hatinya sendiri yang akan menolak untuk bersuara.Aeri menarik napas dalam-dalam, menekan pita suaranya ke nada rendah "Gahensa" yang tegap dan tenang. Dia menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Eryx yang sarat akan keputusasaan obsesif."Tugas saya bukan untuk memercayai rumor atau analisis detektif sipil, Tuan Muda," jawab Aeri, suaranya terdengar datar namun mantap di antara desau angin malam. "Tugas saya adalah memastikan Anda tetap hidup sampai pelantikan besok malam, dan menyi
Limusin hitam itu melaju membelah malam yang kian pekat. Di dalam kabin, keheningan yang tercipta terasa jauh lebih mencekam daripada badai yang baru saja meledak di kantor kepolisian. Tiago dan Selena duduk di kursi baris depan yang menghadap ke belakang, sementara Eryx dan Aeri duduk berdampingan. Tidak ada yang bersuara. Hanya deru mesin mobil dan ketukan rintik hujan pada kaca jendela yang mengisi kekosongan atmosfer di antara mereka.Aeri menatap lurus ke depan, enggan menoleh ke arah Eryx yang berada tepat di sisi kanannya. Namun, dari sudut matanya, ia bisa melihat bagaimana pria itu menyandarkan kepala pada sandaran kursi, memejamkan mata dengan gurat kelelahan yang amat sangat. Darah segar kembali merembes tipis di kemeja putih Eryx—jahitan di perutnya pasti kembali merenggang akibat ketegangan tadi.Rasa sakit hati yang mendalam membakar dada Aeri. Ucapan detektif terbaik itu terus bergaung laksana lonceng kematian di telinganya. "Seseorang yang terlatih secara militer... te
Ruangan itu seketika menjadi begitu sunyi, hingga suara detak jam dinding kuno di sudut kantor terdengar laksana dentang lonceng kematian. Pernyataan sang detektif terbaik di negara itu meruntuhkan sisa-sisa wibawa narasi yang dibangun oleh Tiago Leander. Wajah Tiago mengeras, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menegang. Di sampingnya, Selena tampak mematung. Senyuman penuh kemenangan yang tadi sempat bertengger di bibir tipisnya kini lenyap, digantikan oleh tatapan sedingin es yang mengarah langsung pada sang detektif. "Kau... berani sekali melayangkan tuduhan tanpa bukti di hadapanku," desis Tiago, suaranya merendah namun sarat akan otoritas yang siap menghancurkan siapa saja. Detektif terbaik itu hanya terkekeh pendek. Dia meraba saku mantel lusuhnya, mengeluarkan sebuah gawai transparan kecil lalu menekannya. Sebuah hologram diagram tiga dimensi mengenai sudut kemiringan jatuhnya tubuh Felix malam itu terpampang di udara, membelah kegelapan ruang interogasi. "Jeja
"Kak Gahensa, kenapa kamu buru-buru sekali? Aku masih hidup sekarang. Artinya adalah, aku masih bisa bertarung," bisik Eryx di depan wajah Aeri. Aeri menahan nafas dengan kedua mata terbelalak. Lagi-lagi dia gegabah. Namun jika tidak didorong, bagaimana dia akan segera mengetahui dibalik kematia
Kaeragha tidak terkejut dengan serangan balik verbal dari Eryx. Pria paruh baya itu justru menaikkan sebelah alisnya, membiarkan senyum sinisnya melebar. Di bawah remang lampu ambulans dan kilatan lampu merah-biru dari mobil patroli, ketegangan di antara kedua pria dari silsilah Leander ini tera
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu
Pagi hari tiba membawa kabut tipis yang menyelimuti Renhill. Sesuai dengan instruksi Tiago, sebuah mobil limusin hitam mewah sudah terparkir di depan lobi utama. Tidak lama kemudian, Lyra Xan datang. Wanita itu tampak anggun sekaligus angkuh dalam balutan gaun kasual mahal, lengkap dengan kacamata







