LOGINSimon sedang memeriksa dokumen penerbangan di ruang VIP bandara ketika ponselnya bergetar di meja. Nama Joicy muncul di layar, dan dia segera mengangkatnya.
“Ada apa, Joicy?” tanyanya, suaranya terdengar santai.
“Simon, ada hal mendesak yang harus kulaporkan padamu,” suara Joicy terdengar serius di ujung telepon. “Aku baru saja mendapat kabar bahwa Sasha sedang berada di sebuah kelab malam.”
Simon menghentikan kegiatannya, keningnya ber
Pagi itu, Simon terbangun dengan perasaan campur aduk. Kamar tampak terang oleh cahaya matahari, tapi sesuatu terasa kosong. Ketika ia melirik ke sisi tempat tidur, ia menyadari Sasha sudah tidak ada. Rasa panik mulai menyeruak di dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia meloncat dari tempat tidur, bergegas keluar kamar hanya dengan pakaian seadanya.Langkahnya terdengar keras di lantai kayu. Simon menghampiri dapur, tempat asal suara denting piring dan aroma kopi yang menggoda. Di sana, Sasha tengah sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor. Mengenakan apron biru muda yang tampak sederhana tapi tetap membuatnya terlihat anggun. Sasha memutar tubuhnya, menatap Simon, dan langsung mendesah.“Simon,” katanya sambil menggeleng pelan, “bisakah kau setidaknya memakai pakaian sebelum keluar kamar? Untung saja pelayan tidak datang pagi ini, atau aku tak bisa membayangkan apa yang akan mereka pikirkan.”Simon tertegun, menyadari betapa konyolnya penampila
Wajah Simon merah padam karena panas yang membakar tubuhnya. Pikiran Simon berputar cepat, mencoba memahami apa yang terjadi. Sasha tampak bingung sejenak, lalu menggeleng. “Tidak. Itu hanya tonik herbal. Ayah bilang itu untuk kesehatan, bukan sesuatu yang mencurigakan.”Simon merasakan desakan di dalam dirinya semakin kuat, tapi dia berusaha mempertahankan kontrol. “Sasha, aku serius. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku merasa seperti ... kehilangan kendali atas tubuhku.”Sasha menatap Simon lebih dekat, akhirnya menyadari perubahan di wajah dan tubuhnya. &ldquo
"Sasha, sudahkah kamu menerima kiriman tonik kesuburan yang Emma belikan untuk kalian berdua?" tanya Robert dengan nada lembut, namun ada kegelisahan yang samar.Sasha menoleh, dan meskipun senyumnya tidak sepenuhnya cerah, dia mengangguk pelan. "Ya, Ayah. Saya sudah menerimanya, tapi belum sempat meminumnya," jawab Sasha, suaranya lebih datar daripada yang biasa.Robert tersenyum puas. "Bagus kalau begitu. Aku ingin kamu berdua meminumnya malam ini. Minumlah setengah botol, Simon, dan setengah botol lagi untuk Sasha. Itu akan menghangatkan tubuh kalian di musim dingin ini. Tonik itu benar-benar baik untuk kesehatan, Ayah sudah membuktikannya," tambahnya, tanpa mengerti betapa banyak rasa sakit yang terkandung di antara pasangan itu.Simon hanya mengangguk, merasa terjebak dalam percakapan yang seharusnya menjadi hal yang biasa, namun kini terasa penuh tekanan. Dia melihat ke arah Sasha, yang hanya membalas pandangannya dengan senyum tipis yang tidak mencapai ma
“Sayang, apa kau sudah bangun?” ujar Simon begitu memasuki penthouse.“Tuan Simon, Nyonya baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu,” jawab pelayan rumah dengan suara pelan namun jelas saat Simon melangkah masuk ke ruang tengah. Matanya mengamati Simon yang masih mengenakan setelan kerja kusut, menunjukkan betapa panjang dan melelahkannya hari yang baru saja dilalui majikannya.Simon berhenti di tengah ruangan, menatap pelayan dengan alis berkerut. “Pergi? Ke mana dia pergi?”“Saya tidak tahu, Tuan. Tapi Nyonya membawa ta
"Selamat pagi, Ayah!"Sasha menyapa ceria saat mengangkat telepon dari ayahnya, Harris. Suaranya penuh semangat, berbeda dari nada suram yang biasa terdengar belakangan ini."Selamat pagi, Sayang. Sedang apa pagi ini?" tanya Harris dari seberang telepon. Suaranya hangat, seperti selalu, membuat Sasha merasa nyaman."Aku sedang sedikit sibuk, Ayah," jawab Sasha sambil melirik kotak makan yang sudah dihias rapi di atas meja dapur. "Aku berencana mengantar makan siang ke kantor Simon. Aku ingin memberi kejutan untuknya.""Oh?" Nada suara Harris berubah penuh antusias. "Kejutan? Wah, Ayah yakin Simon pasti senang sekali, Sasha. Kau memasak apa untuknya?"Sasha tersenyum, bisa membayangkan wajah ayahnya yang penuh harapan. "Aku membuat pasta seafood favoritnya, salad segar, dan brownies cokelat untuk pencuci mulut. Aku pikir dia pasti butuh sesuatu yang menyenangkan di tengah pekerjaannya yang sibuk.""Hebat sekali!" puji Harris dengan tawa kecil
Sejak tadi, Sasha menghabiskan waktu di dapur penthouse mereka. Tangannya dengan cekatan menyiapkan hidangan spesial untuk Simon, mencoba menghidupkan kembali tradisi makan malam bersama yang sempat hilang karena kesibukan suaminya. Meja makan dihiasi lilin-lilin kecil, sementara aroma ayam panggang rosemary dan kentang tumbuk memenuhi ruangan.Namun, seiring malam semakin larut, Simon belum juga pulang. Sasha duduk di sofa ruang tamu, mengenakan gaun santai, sambil memandangi ponselnya yang tetap sunyi. Pelayan rumah berdiri di dekatnya, ragu-ragu ingin mengingatkan Sasha bahwa jam sudah hampir menunjukkan tengah malam.Akhirnya, rasa kantuk mengalahkan Sasha. Wanita itu tertidur dengan posisi meringkuk di sofa, sementara makan malam yang dia siapkan tetap terhidang di atas meja.Pintu penthouse terbuka perlahan, dan Simon masuk dengan langkah berat. Jasnya sudah dilepas, digantung di lengannya, sementara dasinya melonggar di leher. Wajahnya tampak lelah setela







