LOGINGadis buta ini baru mengetahui kalau bodyguard-nya ternyata seorang pewaris dari konglomerat paling berpengaruh di kotanya. Sasha Vanderbilt, yang kehilangan penglihatan dan ibunya dalam kecelakaan tragis, menjalani hidupnya dengan satu prinsip: jangan bergantung pada belas kasihan siapa pun. Namun kedatangan Simon, bodyguard dengan sikap dingin dan penuh perhatian, perlahan mengisi kehampaan dalam dunianya. Tanpa sepengetahuan Sasha, Simon Kingsley sebenarnya bukan sekadar pelindung. Pewaris Kingsley Corp itu menyamar demi memenuhi desakan keluarganya untuk segera menikah. Namun, rencana Simon berubah saat dia menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar kewajiban dalam diri Sasha—kehangatan yang selama ini dia cari. Ketika rahasia besar Simon terbongkar, Sasha merasa dikhianati oleh orang yang telah ia percayai sepenuhnya. Apakah perhatian Simon selama ini hanyalah bagian dari sandiwara? Atau ada perasaan tulus di balik kebohongan itu? Di tengah cinta, kebohongan, dan rahasia yang tak terduga, Sasha harus memutuskan: melanjutkan hubungan yang dibangun di atas kepalsuan atau pergi dan memulai kembali? Bisakah hati yang terluka menemukan kepercayaan lagi? Atau semua ini akan berakhir dalam kegelapan?
View More“Kau hampir saja ditabrak taksi, Sasha!” seru Harris, suaranya bergetar antara marah dan cemas. “Apa kau benar-benar baik-baik saja?”
Ruang tamu rumah keluarga Vanderbilt dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Harris Vanderbilt berdiri tegak di hadapan putrinya, Sasha, yang duduk tenang di sofa. Meskipun wajahnya pucat, Sasha mencoba tersenyum untuk menenangkan ayahnya.
Sasha mengangguk lembut. “Ayah, aku baik-baik saja. Aku memang terjatuh, tapi tidak terluka. Lagipula, aku tidak sendirian. Ada pria yang menolongku dan mengantarku pulang.”
Mendengar itu, Harris menoleh tajam ke arah pria yang berdiri di dekat pintu. Pria itu, Simon, membalas tatapan Harris dengan tenang, meskipun jelas dia tak mengira akan diselidiki seperti ini.
“Siapa kau?” tanya Harris dengan nada tegas. “Dan bagaimana kau bisa menemukan putriku? Apa yang sebenarnya terjadi pada Sasha?”
Simon menarik napas dalam sebelum menjawab. Dia tampak seperti pria berusia tiga puluhan yang tangguh, wajahnya keras tetapi penuh ketenangan, membawa aura misteri yang sulit dibaca. “Saya Simon Neels, kebetulan tadi saya sedang berada di dekat pusat kota ketika melihat kejadian itu. Seseorang … mencoba mendekati putri Anda. Awalnya dia hanya berpura-pura baik, lalu berbalik menjadi ancaman.”
Harris mengerutkan kening. “Ancaman?”
Simon mengangguk, nadanya mulai serius. “Pria itu mencoba menggoda Sasha, tapi saat dia menyadari bahwa Sasha tidak bisa melihat, dia memanfaatkan situasi untuk menjambret tasnya.”
Sasha menghela napas, meremas jemarinya. “Aku berusaha mempertahankan tasku, Ayah, tapi pria itu menariknya dengan kuat. Aku terseret … sampai aku hampir jatuh ke tengah jalan.”
“Apa pentingnya tasmu, Sasha. Astaga. Nyawamu lebih penting, Sayang.” Mata Harris membesar, sorot ketakutan jelas tampak di wajahnya. “Dan … taksi itu?”
Simon menunduk sejenak, lalu menatap Harris dengan tenang. “Ya, sebuah taksi melintas tepat saat Sasha hampir terseret ke jalan. Saya berlari dan menariknya ke tepi sebelum hal buruk terjadi. Dan maaf saya jika saya lancang, saya mengantar putri Anda pulang hanya ingin memastikan dia sampai di rumah dengan selamat.”
Sasha tersenyum kecil, berusaha meredakan ketegangan yang terasa di ruangan itu. “Dia sudah menyelamatkan aku, Ayah. Kalau bukan karena dia, mungkin aku takkan berada di sini sekarang.”
Harris menarik napas panjang, membiarkan ketegangan yang masih mengganjal di dadanya perlahan mereda. Rasa syukur dan lega kini memenuhi wajahnya, menggantikan amarah dan kecemasan yang semula terpancar di matanya.
“Terima kasih, Simon. Kau telah menyelamatkan putriku dan membawanya pulang dengan selamat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak datang tepat waktu,” ucap Harris dengan ketulusan yang jarang terlihat. Dia menatap Simon sejenak, lalu melanjutkan, “Katakan padaku, apa ada sesuatu yang kau inginkan sebagai imbalan? Aku bisa membelikannya untukmu, apa pun itu.”
Simon tersenyum samar, lalu menggeleng. “Sebenarnya, ada sesuatu yang lebih saya butuhkan, Tuan.”
“Oh?” Harris menaikkan alisnya, tertarik dengan jawaban Simon yang tidak biasa.
“Saya baru saja kehilangan pekerjaan sebagai bodyguard keluarga Walikota,” jelas Simon sambil menunduk sedikit. “Putri Walikota akan melanjutkan sekolah ke luar negeri, jadi mereka tidak membutuhkan perlindungan lagi. Saya ingin mencari pekerjaan baru yang tetap, dan ... sepertinya ini kesempatan yang pas untuk bertanya.”
Harris terdiam sejenak, memikirkan ucapan Simon. Sementara Sasha terkejut dengan arah pembicaraan Simon.
“Kalau begitu, kebetulan sekali.” Harris akhirnya tersenyum, tampak puas dengan arah pembicaraan ini. “Aku akan pergi selama beberapa bulan ke Texas. Akan sangat baik jika ada seseorang sepertimu untuk menjaga Sasha selama aku tidak di sini.”
Simon mengangguk, matanya beralih ke arah Sasha, yang kini terlihat syok dan penuh rasa tidak percaya. “Saya akan sangat senang bisa menjaga Sasha, Tuan. Saya pastikan dia akan aman.”
Harris menepuk pundak Simon dengan percaya diri. “Baiklah, Simon. Mulai hari ini, kau resmi bekerja untukku.”
Sasha merasakan wajahnya memanas saat mendengar keputusan ayahnya. “Ayah, aku tidak membutuhkan bodyguard,” katanya, mencoba untuk tetap tenang meski suaranya terdengar sedikit tajam. “Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Harris mendengus pelan. “Benarkah, Sasha? Apa kejadian tadi belum cukup untuk membuktikan bahwa kau tidak bisa menjaga diri?”
Sasha menggigit bibir, merasa sedikit terpojok. “Ayah, kejadian tadi hanya karena Annete sedang ke toilet. Kalau dia ada di sana, semuanya pasti baik-baik saja,” kilahnya. “Aku janji, aku tidak akan pernah sendirian lagi di tempat umum. Aku akan ikut ke mana pun Annete pergi.”
Harris memandangnya lama, jelas tidak terpengaruh oleh argumen Sasha. “Dan berapa sering Annete bisa menemanimu, Sasha? Kau tahu dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai fashion desainer. Sekalipun dia setia dan selalu meluangkan waktu untukmu sebulan sekali, itu tidak cukup.”
Sasha menghela napas dalam-dalam. Dia tahu ayahnya benar; Annete, sahabat yang dikenalnya sejak kuliah, memang sering kali terlalu sibuk untuk selalu bersamanya. Akan tetapi Sasha tidak ingin menyerah begitu saja. “Ayah, aku tidak suka diawasi sepanjang waktu. Aku tidak nyaman punya orang asing yang terus-menerus membuntutiku.”
Harris tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tegas. “Simon bukan orang asing lagi. Dia menyelamatkanmu hari ini, Sasha. Dan ini bukan tentang apa yang kau suka atau tidak suka. Ayah mempekerjakannya demi kebaikanmu.”
Nada suara Harris yang tegas membuat Sasha terdiam. Dia tahu ayahnya jarang membuat keputusan sepihak, tetapi sekali ayahnya mengambil keputusan, biasanya tidak ada ruang untuk penolakan.
“Jadi Ayah minta kau menerima keputusan ini,” lanjut Harris, tatapannya melunak sedikit. “Ayah hanya ingin memastikan bahwa kau aman, terutama saat aku pergi nanti. Demi kebaikanmu, Sasha.”
Sasha sangat mengenal sang ayah dan tahu bahwa tidak ada yang bisa dia katakan untuk mengubah pendapat Harris. Dengan perasaan yang campur aduk, dia mengangguk kecil, meskipun jauh di dalam hatinya ada perasaan tidak puas. Simon yang kini berdiri tak jauh dari mereka, hanya menunduk sopan, tampak tenang seolah sudah siap menjalankan tugas barunya.
Di balik rasa kesalnya, Sasha tak bisa menampik bahwa kehadiran Simon membuat perasaannya sedikit berubah, meskipun dia masih belum siap menerima kenyataan bahwa pria itu kini adalah pengawalnya.
---
Beberapa hari sebelumnya, Simon duduk di kantornya bersama sang asisten pribadi, Josie. Di meja, terhampar berkas-berkas tebal berisi profil para calon istri yang direkomendasikan ayahnya. Salah satu berkas menarik perhatian Simon, Sasha Vanderbilt.
“Sasha Vanderbilt,” gumam Simon sambil membaca profilnya. “Buta, tidak banyak bicara, dan putri tunggal dari konglomerat Vanderbilt. Sempurna.”
Josie mengangguk setuju. “Dia memang calon yang ideal, Tuan. Dia cantik, kaya, tidak banyak tuntutan, dan tidak akan mengganggu bisnis keluarga.”
Simon tersenyum sinis. “Tapi bagaimana caranya agar dia mau menikah denganku? Dia pasti sudah banyak menolak lamaran.”
“Kita bisa menggunakan pendekatan yang berbeda,” jawab Josie. “Misalnya, Tuan bisa berpura-pura menjadi bodyguard-nya. Kita bisa memanfaatkan rasa kesepian dan ketergantungan Nona Vanderbilt.”
Simon pun menyeringai. “Ide bagus, Josie. Kita mulai lusa.”
Simon menatap Sasha dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. Ada keraguan, kekhawatiran, dan sesuatu yang menyerupai rasa takut dalam tatapannya. "Sayang, ini bukan ide yang bagus," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.Sasha tetap berdiri teguh, meski hatinya berdebar-debar. "Kenapa tidak, Simon? Bukankah kau bilang tidak ada lagi perasaan untuk Lila? Kalau begitu, tidak ada alasan bagimu untuk menghindari pertemuan ini."Simon mengusap wajahnya dengan kedua tangan, frustrasi. "Karena aku tahu bagaimana Lila. Dia bukan seseorang yang bisa kau ajak bicara dengan damai. Dia akan mencoba memutarbalikkan segalanya, membuatmu ragu, dan aku tidak ingin itu terjadi."Sasha menatap Simon dalam diam, membiarkan kata-kata suaminya menggantung di udara. "Simon, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika kau mencintaiku dan percaya padaku, maka beri aku kesempatan untuk mendengar semuanya. Aku tidak ingin bayang-bayang ini terus menggantung di atas hubungan k
Sinar matahari menembus tirai tipis, membelai lembut wajah Sasha yang masih terlelap di atas ranjang besar mereka. Dalam keheningan pagi, Simon duduk di sisi tempat tidur, memandangi istrinya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan. Perlahan, dia menundukkan kepala, mulai menghujani Sasha dengan ciuman lembut di pipi, dahi, dan akhirnya di bibirnya.Sasha menggeliat kecil, bibirnya melengkung dalam senyum mengantuk saat matanya terbuka perlahan. "Simon," bisiknya, suaranya masih serak karena baru bangun. "Apa yang kau lakukan?"Simon tertawa kecil, nada suaranya rendah dan menggoda. "Membangunkan istriku yang cantik dengan cara terbaik."Sasha tertawa pelan, tubuhnya merespons dengan lemah lembut ketika Simon melanjutkan ciumannya. “Yang tadi malam itu sudah lebih dari luar biasa,” katanya dengan senyum malu-malu.Simon mengangkat alis, tatapannya penuh dengan kesenangan nakal. “Kalau begitu, bagaimana jika pagi ini aku membuatnya lebi
“Kemarilah, biar aku membantumu.”Suara Simon terdengar berat, namun lembut, saat dia berdiri di belakang Sasha yang tengah duduk di ujung ranjang besar kamar pengantin mereka. Tangannya terulur perlahan menuju pita di punggung gaun pengantin Sasha, namun gadis itu segera menoleh, menghentikan gerakannya dengan tatapan tegas.“Simon, tunggu.” Nada suara Sasha membuat Simon menghela napas pelan, meski wajahnya tetap tenang.“Apa lagi sekarang?” tanyanya, nadanya sedikit datar, namun tatapannya tetap hangat.
“Sha, coba pikirakan lagi….”Sasha duduk di depan cermin besar di ruang rias, mengenakan jubah satin putih. Jemari lentiknya sedikit gemetar saat perias mengoleskan sentuhan terakhir pada riasannya. Di sampingnya, Anette berdiri dengan tangan bersedekap, ekspresi tak puas jelas terpampang di wajahnya.“Jadi, kau benar-benar akan melakukannya?” Anette memulai, nada suaranya setengah berbisik namun tetap terdengar menyindir.Sasha menoleh, menatap sahabatnya dari sudut mata. “Melakukan apa?” tanyanya, meskipun dia tahu apa yang dimaksud Anette.“Menikah dengan Simon tanpa berpikir dua kali! Apa kau lupa semua rencana kita?” Anette mendekat, melingkarkan lengannya ke belakang kursi Sasha. “Kau bahkan belum mengujinya dengan semua ujian yang kita siapkan. Untuk apa semua itu kalau akhirnya kau menyerahkan dirimu begitu saja?”Sasha mendesah, menundukkan kepalanya sejenak sebelum menatap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.